Gadis Kecil Milik CEO

Gadis Kecil Milik CEO
S2. 75


__ADS_3

Loren berada di ruang kerjanya sambil mendesain, perempuan itu belum mengetahui keputusan apa yang di pilih Christian.


Apakah datang ke pesta penyambutan CEO atau tidak datang.


Apakah ia akan dibawa oleh pria itu, atau mungkin tidak.


'Hah,, aku tidak bisa bekerja,' ucap Loren dalam hati sembari berjalan ke arah pintu.


Perempuan itu membuka pintu dengan pelan lalu menyisihkan lubang yang cukup untuk mengintip suaminya.


'Dia sangat fokus bekerja, sepertinya dia tidak terbebani dengan undangan Abimanyu,' ucap Loren dalam hati memperhatikan suaminya yang sibuk menandatangani tumpukan dokumen yang telah di periksa oleh pria itu.


Perempuan itu hendak menutup pintu secara diam-diam ketika Christian meliriknya.


Tatapan mereka bertemu beberapa detik, lalu Christian berdiri menghampiri Loren yang kini diam menatapnya.


"Ada apa?" Tanya Christian membuka lebar pintunya lalu menarik perempuan itu ke pelukannya.


Dia tahu benar masalah apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya.


"Tidak apa, aku hanya merindukanmu sebentar," ucap Loren mempererat lingkaran tangannya di pinggang suaminya.


"Aku juga," ucap Christian mendaratkan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala Loren.


Loren menikmati sentuhan lebut di kepalanya, "terima kasih, aku merasa lebih tenang," ucap permepuan itu merasa bersyukur memiliki suami yang selalu bertindak tepat di waktu yang tepat.

__ADS_1


"Baguslah," ucap Christian tetap memeluk istrinya selama beberapa menit lalu mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk fokus bekerja.


Sementara di ruangan yang lain, Gerson merasa begitu lelah karena pekerjaan yang menumpuk ketika dia baru saja masuk bekerja.


Pria itu menyisihkan berkas di hadapannya lalu mencari ponselnya.


"Di mana benda itu?" Ucapnya membuka laci-laci di meja kerjanya.


Saat itu juga Sekertaris nya masuk ke ruangan.


"Ada apa tuan?" Tanya sang Sekertaris.


"Aku mencari ponselku," ucap Gerson.


"Oh," ucap Gerson dengan singkat lalu pria itu berdiri mengambil ponselnya.


Berusaha menyalahkannya, Gerson mengeryit menatap ponselnya yang terus mati.


"Ada apa tuan?" Sekretaris berpura-pura bertanya.


"Apa kau yakin ini terhubung?" Tanya Gerson mengangkat charger hp.


"Oh, apakah itu rusak?" Sang sekretaris mendekat memeriksa charger hp.


"Ah,, sepertinya ini memang rusak," ucap perempuan itu ketika di mencobanya pada ponselnya lalu mendapati charger itu juga tak berpengaruh pada pengisi dayanya.

__ADS_1


"Tidak apa, tolong bawakan aku charger lainnya," ucap Gerson.


"Baik Tuan," jawab sang sekretaris lalu meninggalkan ruangan Gerson.


Berdiri di tempat nya, Gerson mengerutkan keningnya menatap sekretarisnya, 'Mengapa dia masuk ke sini dan hanya mengurus charger ponselku?' pikir pria itu merasa aneh pada sekretarisnya yang masuk tiba-tiba tanpa alasan apa pun.


Jadi pria itu kembali duduk menunggu Sekertaris nya.


"Tuan, ini charger yang tuan minta," ucap sekretaris memberikan charger lain pada Gerson.


"Hm," jawab Gerson dengan singkat sambil mengambil charge itu.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Sekretaris hendak melangkah pergi ketika langkahnya di tahan oleh suara Gerson.


"Tunggu sebentar," ucap Gerson.


"Ya Tuan," ucap sang sekretaris kini menatap Gerson.


"Tadi, ada keperluan apa aku masuk ke ruanganku secara tiba-tiba?" Tanya Gerson.


Sang sekretaris terdiam beberapa detik lalu berkata, "Ah,, saya lupa, saya kemari untuk mengatakan pesta penyambutan tuan sebagai CEO baru di perusahaan ini, akan diadakan besok malam. Segala persiapan sudah yang kerjakan, dan Tuan hanya perlu bersiap."


Gerson mengangguk, "Kalau begitu aku harus pulang untuk istirahat, kebetulan pekerjaan ini hampir selesai," ucap Gerson.


"Uh,, maaf Tuan, tapi sepertinya tuan harus lembur lagi, karena beberapa waktu lalu saya baru mendapat beberapa berkas baru yang harus di periksa oleh Tuan. Saya akan segera membawanya kemari," kata sang sekretaris meninggalkan Gerson yang kini tak berdaya di kursinya.

__ADS_1


__ADS_2