
Setelah berbicara dengan sang pengacara, Bian segera menemui Vionita yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Perempuan itu langsung duduk saat ia melihat Bian memasuki kamarnya.
"Kak Bian,," Vionita berbicara sembari meneteskan air matanya menatap pria yang mendekat kearahnya.
"Bagaimana perutmu? Apakah masih sakit?" Tanya Brian mendekati Vionita mengusap air mata perempuan itu.
"Hiks,, hiks,," Vionita mengulurkan tangannya dan melingkarkan nya di pinggang Bian lalu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Aku sangat menyesal,, tolong ampuni aku,,,," Isak Vionita dengan begitu menyedihkannya membuat hati Bian tak mampu bertahan.
Bian menghela nafas, "Aku akan selalu memaafkanmu, tetapi masalah ini berkaitan dengan Loren.... Jadi kau sebaiknya meminta maaf padanya. Paling tidak Ayo kita bujuk dia supaya kita kembali bersama ke negara D.
"Memperbaiki hubungan kekeluargaan adalah hal yang paling penting di dunia ini, lagipula sekarang kau sedang mengandung anak kita, orang hamil harus menjaga hubungan dengan semua orang." Ucap Bian membuat Vionita yang masih berpura-pura terisak kini menggigit bibirnya.
Mana mungkin dia mau minta maaf pada Loren?!!
__ADS_1
Perempuan menjijikkan, dia tidak akan pernah mengatakan maaf pada Loren!!
Tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti seluruh keinginan Bian atau kalau tidak, pria itu akan mungkin akan murka dan menjadi marah padanya.
"Aku mengerti,, jadi aku akan minta maaf padanya." Ucap Vionita masih dengan suara sesegukan.
Bian menghela nafas lega.. Dia pikir Vionita tidak akan mau minta maaf pada Loren, tapi ternyata perempuan di depannya ini masih memiliki rasa bersalah.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Loren supaya mengatur pertemuan kalian untuk meminta maaf, lalu kita kembali ke negara D," ucap Bian.
"Baik,," jawab Vionita.
Setelah kepergian Bian, Vionita langsung mengelap air matanya dan melihat tangan dan wajahnya melalui pantulan cermin. .
Bekas luka cakaran masih tersisa di sana sehingga membuatnya terlihat sangat berantakan.
Meski hal tersebut bisa dihilangkan dengan bermacam obat ataupun operasi plastik, tetapi tentu saja akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
'Semua ini karena Loren,, seandainya perempuan itu tetap menjadi gelandang, aku tidak akan berakhir seperti ini!!! Sekarang aku harus kembali ke negara D dan tidak bisa lagi kemari,, semua karirku sudah hancur!!! Semua salah Loren!!!' Vionita menatap dirinya di cermin dengan wajah memerah penuh kemarahan.
Meskipun dia masih bisa mempertahankan hubungannya dengan Dian, tetapi karirnya,,, semua sudah hancur!!!
Namanya yang selama ini di puji-puji oleh semua orang sudah lenyap begitu saja!!!
"Sialan!!!" Vionita menggerakkan giginya.
Perempuan itu masih terus marah dan menyalakan Loren ketika Bian akhirnya kembali.
Dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya dan menatap nanar pada pria yang melangkah ke arahnya.
"Aku sudah menelpon Loren, dia bilang dia akan datang ke rumah sakit untuk menerima permintaan maafmu. Sebentar lagi dia akan tiba," ucap Bian.
Demi membuat Loren datang, dia harus mencari nomor baru untuk menelpon perempuan itu, bahkan saat mendengar suaranya, Loren hampir memutus hubung panggilan telepon itu.
Tetapi untunglah Bian berhasil membujuk Loren.
__ADS_1
"Terima kasih Kak Bian,," ucap Vionita kembali memperlihatkan wajah penuh penyesalannya.
Hal itu membuat Bian tak tahan lalu memeluk Vionita.