
Loren duduk di kursi sembari memperhatikan Adriana yang memilih beberapa pakaian untuknya.
Keringat di telapak tangannya sudah berkumpul karena dia benar-benar gugup berduaan dengan Adriana.
"Aku dengar kau juga pandai merancang busana, Christian bahkan menanyakan beberapa ajang fashion week, katanya dia ingin mengikutkan mu dalam acara itu." Tiba-tiba kata Adriana membuat Loren tersentak kaget.
Christian memikirkannya untuk mengikuti ajang fashion week?
Bukankah ajang-ajang seperti itu membutuhkan persiapan yang sangat banyak?!
"Itu,, ya, Saya memang senang membuat desain tetapi saya tidak terlalu pandai. Saya membuatnya hanya sekedar coba-coba saja." Ucap Loren dengan suara yang rendah.
Di depan Adriana dia merasa sangat malu, dia dan Adriana seperti langit dan bumi, memiliki perbedaan yang sangat jauh!
"Aku yakin kau bisa. Aku sudah melihat beberapa rancanganmu dan semuanya terlihat unik, kalau Christian mengizinkan Aku bahkan ingin menjadikanmu sebagai muridku." Kata Adriana berjalan ke arah Loren membuat Loren semakin gugup di tempatnya.
Dipuji oleh seorang Adriana, di tawari menjadi murid, keberuntungan dari mana ini?!
Kapan juga Christian mengambil sketsanya dan memperlihatkannya pada Andriana?
Pipi Loren langsung memerah karena merasa malu desainnya yang berantakan dilihat oleh Andriana. Ia tertunduk pelan "Terima kasih atas pujiannya."
"Haha,, ternyata kau gadis yang sangat polos." Ucap Adriana yang merasa gemas dengan tingkah Loren.
__ADS_1
"Ikuti aku," ucap Andriana berjalan pergi kearah ruang make-up diikuti oleh Loren dengan hati yang meledak-ledak.
Mereka segera tiba di ruang tata rias dan seorang penata rias yang telah menunggu Loren di sana langsung memandangi Loren dari atas sampai bawah.
"Jadi ini gadis itu? HM,, ini akan menyenangkan, ayo duduk di sini." Ucap pria bertubuh gemuk yang terlihat ramah.
Loren hanya mengikuti mereka lalu Loren mendengar Adriana dan penata rias itu berdiskusi beberapa waktu sebelum sampai nata rias mendekati Loren.
Setelah beberapa saat beberapa cairan di aplikasi kan ke wajah Loren lalu rambutnya juga di atur sedemikian rupa.
Dia tidak diizinkan melihat cermin sampai dia selesai ditata lalu Adriana memberikan pakaian padanya untuk dikenakan.
'Kenapa pakaian ini terlihat seperti pakaian yang digunakan ke acara pesta?' Loren bertanya-tanya dalam hatinya saat salah satu staf membantunya menggunakan pakaian itu.
"Tuan Christian memang tidak salah memilih," komentar Adriana dengan senyum puas di bibirnya.
"Tuan Christian pasti akan puas melihat mahakarya kita."
"Ayo kemari," Adriana menuntun Loren ke sebuah cermin besar yang diletakkan di sisi lain ruangan.
Begitu melihat dirinya di balik cermin, Loren terkejut dengan bayangannya sendiri.
"Ini,, ini aku?" Loren merasa tak percaya.
__ADS_1
Perempuan di cermin terlihat lebih segar dan lebih dewasa. Sangat cantik...!!!
"Haha,,, kau terkejut dengan dirimu sendiri? Kau memang gadis polos!" Adriana terkekeh tak percaya dengan Loren, kalau perempuan itu bisa meluluhkan hati Christian maka tidak mungkin perempuan itu terlalu polos hingga ke level yang seperti ini bukan?
"Ini,, tapi,, Kenapa saya didandani seperti ini?" Akhirnya Loren menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal dalam hatinya.
Gaun dan penampilannya hari ini terlalu fantastis hanya untuk sekedar coba-coba saja!
"Masalah itu kami juga tidak tahu, kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Christian." Ucap Adriana lalu seorang pria yang merupakan pengawal Christian memasuki ruangan.
"Saya akan membawa Nona Loren." Ucap pengawal itu.
"Ya, tentu, perlakukan dia dengan hati-hati. Aku tidak mau gadis polos dan lugu ini dirusak oleh seseorang!" Ucap Adriana menggoda Loren.
Loren hanya tersenyum kikuk, dia tidak mengerti dengan ucapan Adriana.
Di rusak oleh seseorang?
@Interaksi
Haha,, otor puasa pas lagi tidur ajah....
__ADS_1