
Setelah Chataline dan Zaidan meninggalkan ruangannya, Vionita akhirnya bisa bernafas lega meski kekhawatirannya pada perempuan itu belum sepenuhnya sirna.
"Kak Bian... Hiks... Hiks..." Isaknya dengan dada naik turun.
"Tenanglah, aku di sini." Ucap Bian menepuk pelan pundak perempuan itu.
"Aku mau pulang ke apartemen," ucap Vionita.
"Baiklah kita pulang sekarang." Kata Bian lalu menggendong Vionita keluar dari ruangannya.
Di atas mobil Bian kembali memperhatikan Vionita, perempuan itu tidak menangis lagi, tapi hanya termenung menatap ke luar jendela.
Hal itu membuat hati Bian menjadi sakit karena melihat kekasihnya yang tampak murung jadi dia mengulurkan tangan kirinya dan membelai kepala Vionita.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya.
Vionita langsung menghela nafas lalu dia melihat ke arah Bian.
"Kalau masih belum bisa menceritakannya, tidak apa-apa," ucap Bian sembari tersenyum dan memindahkan tangannya ke Vionita lalu mencubit pelan pipi perempuan itu.
Vionita mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Bian yang ada di pipinya.
__ADS_1
"Terima kasih karena Kak Bian selalu mengerti aku," ucap Vionita.
"Jangan kahawatir, aku selalu di sisimu." Ucap Bian menggenggam erat tangan Vionita.
Akhirnya keduanya terus berpegangan sampai mereka tiba di apartemen.
Berdiri di dalam lift dalam rangkulan Bian, Vionita menggigit bibir bawahnya.
'Sekarang alasan apa yang harus kukatakan? Tidak mungkin aku menyebut nama Loren.' Pikir Vionita merasa sangat cemas.
Kalau dia mengatakan tentang Loren, maka Bian mungkin akan menyelidiki semuanya, lalu bisa terbongkar kalau Loren sebenarnya tidak tersesat di luar negeri, melainkan di buang!!
Akhirnya kedua orang itu tiba di ruangan apartemen, Vionita langsung diantar Bian ke kamar perempuan itu.
"Tunggu di sini dan aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Bian memperhatikan penampilan Vionita yang tampak berantakan.
"Terima kasih." Jawab Vionita duduk di pinggir ranjang.
'Apa yang harus ku jadikan alasanku? Loren menggigit bibir bawahnya sembari menunggu Bian yang pergi ke kamar mandi.
'Ahh,, aku tahu,, sebaiknya aku katakan saja kalau Cahtaline memfitnah aku sudah menghasutnya untuk tidak menggunakan gaun darinya hingga membuatnya dipermalukan.' pikir Vionita.
__ADS_1
"Sebentar lagi air hangatnya siap, Aku akan pergi membuatkan teh hangat untukmu." Ucap Bian pada Vionita ketika pria itu keluar dari kamar mandi.
Ucapan Bian dijawab anggukan Vionita lalu pria itu segera keluar menuju dapur.
Sementara ia menunggu air mendidih, pria itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi asistennya.
"Cari tahu apa yang terjadi antara Vionita dan selebriti bernama Cahtaline," ucapnya pada orang di seberang telpon.
Vionita yang mengikuti dan mengintip Bian langsung berwajah pucat saat mendengar perkataan Bian.
Kalau pria itu menjadi dirinya, maka bisa jadi pria itu akan mengetahui tentang identitas Loren.
'Apa yang bisa ku lakukan untuk mencegahnya?' Wajah Vionita memucat, Sudah beberapa kali dia mengatakan pada Bian untuk tidak menyelidiki masalahnya kalau kali ini dia masih melarang pria itu maka bisa dipastikan Bian akan mencurigai nya.
'Ini semua karena Loren!! Seharusnya perempuan itu mati saja!!!' Vionita meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya dengan kepala yang terasa ingin meledak.
@Interaksi
Maaf ya,, hari ini otor super sibuk,,,,,, jadi gak sempet ngetik,, semoga kalian blm pada tdr pas bab ini rilis ya....
__ADS_1