
Berjalan ke belakang lewat samping aula, Loren terkejut saat ia melihat Chataline dan Heryani sedang bertengkar hebat di tempat sepi itu.
"Pasti kau yang merencanakan semuanya 'kan?! Kau sengaja melakukannya karena kau tidak mau jatuh sendirian!" Teriak Heryani pada Chataline.
"Apa maksudmu? Apa yang kulakukan?!" Kesal Chataline yang sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan Heryani.
"Kotak itu,, kotak yang berisi namaku semua!! Kau pasti sengaja mengaturnya agar aku dipermalukan di depan semua orang!!!" Teriak Heryani.
Cahtaline mengeryit, "Sepertinya kau sudah salah menuduh orang. Lagi pula aku tidak punya alasan untuk melakukannya." Ucap Chataline.
"Benarkah? Bukankah kau marah karena kau tidak menjadi model terbaik hingga tidak bisa masuk dalam undian. Jadi kau membalasku dengan cara mempermalukan ku agar--"
"Tutup mulutmu!! Aku tidak pernah serendah itu!" Gerutu Chataline berjalan meninggalkan Heryani.
Dia sudah lama tahu kalau Christian tidak menyukainya, jadi buat apa dia masih melakukan hal konyol?
Heryani yang ditinggalkan tidak puas dengan pembicaraan mereka, jadi perempuan itu dengan cepat mengulurkan tangannya menarik rambut Chataline.
__ADS_1
"Ah! Sial!!" Cahtaline mengumpat dengan keras karena rasa sakit pada kepalanya.
"Jallang, rasakan ini!" Teriak Heryani semakin keras menjambak rambut Chataline hingga perempuan itu hampir saja terjatuh ke lantai.
Cahtaline tidak ingin di kalahkan, jadi perempuan itu ikut menarik rambut Heryani hingga keduanya saling mengumpat satu sama lain.
Loren yang melihat kejadian itu merasa tak berdaya, antara membantu atau mengabaikan.
Bagaiman pun, keduanya bisa seperti itu karena memperebutkan suaminya. Sesuatu yang seharusnya tidak mereka perebutkan.
'Tapi sayang juga jika wajah mereka rusak, bagaiman pun, kecantikan mereka adalah modal utama dalam perkejaan mereka,' pikir Loren menghela nafas lalu memanggil beberapa orang untuk melerai.
Tapi tak satu pun dari mereka yang mau mengalah, jadi perkelahian terus terjadi membuat semua orang tak berdaya.
'Kalau mereka terus berkelahi begini, bagaimana aku akan lewat?' Loren menghela nafas.
Sebenarnya ada jalan lain, tapi tempat itu terlalu ramai, jadi akan sulit menghindari banyaknya pasang mata.
__ADS_1
Untungnya seseorang yang di utus Christian kini menemui Loren.
"Tuan menyuruh saya menjemput Nyonya." Ucap Pria itu diangguki Loren lalu mereka pergi bersama.
Melewati jalan yang cukup ramai, Loren tidak merasa takut, sebab pria yang bersamanya terus menjaganya.
Sembari berjalan, Loren mendengarkan gosi-gosip dari mulut-mulut orang-orang yang ia lewati.
"Lihat ini!! Aku sudah memutarnya beberapa kali, dan aku yakin kalau Tuan Christian berkata 'I Love U' pada desainer itu! Dan lihat ini,, Desainer Loren juga melakukan hal yang sama." Ucap sala seorang membuat Loren melirik dua orang yang bergosip.
Tampak dua orang itu tidak menyadari keberadaan Loren, karena mereka fokus pada layar ponselnya.
"Tidak!! Aku tidak bisa percaya itu! Jelas Desainer Loren telah bersuami, jadi ini pasti kesalahan. Mungkin saja mereka berbicara dalam bahasa lain." Sala seorang kembali berbicara.
"Atau mungkin yang dimaksud Loren sebagai suaminya adalah Tuan Bhaltazar, jangan -jangan mereka berdua sudah menikah secara diam-diam!" Sala seorang kembali berasumsi.
"Heh,, mustahil!!!" Jawab yang lainnya, sungguh tak dapat percaya dengan asumsi konyol itu.
__ADS_1
Loren menghela nafas lega mendengarnya, 'Meski agak menyakitkan kalau semua orang berpikir aku tidak bisa bersanding dengan suamiku, tapi paling tidak pikiran mereka membuat hubungan kami tetap aman.' ucap Loren dalam hati.