Gangster Boy

Gangster Boy
Aku adalah milikmu, propertimu


__ADS_3

Ken meletakkan tas berisi baju ganti Aira di ujung brangkar, "Pakailah. Kita pulang sekarang," ungkap Ken seraya membereskan obat-obatan yang barusan ia gunakan untuk mengoles luka Aira.


"Maafkan aku," ucap Ken lirih.


Aira tak menggubrisnya dan berlalu ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Ibu dan Naru masuk ke kamar perawatan tepat saat Aira keluar dari kamar mandi.


"Ayo kita pulang, ibu masak seafood kesukaanmu" ucap ibu seraya menggamit lengan Aira.


"Aku tidak lapar," jawab Aira melepaskan tangan ibu mertuanya.


Sumari terpaku di tempatnya. Menantunya benar-benar berubah sekarang. Ia bersikap dingin pada semua orang dan membuatnya sedih. Seketika wanita paruh baya itu duduk bersimpuh di depan Aira yang tengah memakai kaos kakinya.


"Ini salahku. Aku yang memaksamu menikah dengan Ken. Aku yang membawamu pada lingkaran keluarga kami yang menyeramkan. Aku yang dengan egois memaksa kalian bersama. Aku yang bodoh ini berpikir putraku bisa berubah jadi hangat setelah bersama denganmu. Aku tidak menyangka kamu akan mengalami hal seperti ini. Tolong maafkan aku yang bodoh ini," ibu menitikkan air mata penyesalannya.


"Apa yang ibu lakukan?" Ken mencoba membawa ibunya untuk berdiri.


"Aku tidak akan berdiri sebelum Aira memaafkanku," ungkapnya dengan pandangan memelas.


"Kakak, tolong maafkan kami," Naru ikut bersimpuh di samping ibunya.


"Naru.." Ken menarik tangan adiknya untuk berdiri, tapi ia tetap di tempatnya.


"Aku tidak peduli," ucap Aira berdiri siap pergi dari ruangan berwarna putih itu.


Sampai di depan pintu langkahnya terhenti. Ken menarik lengannya, "Apa yang kamu inginkan agar bisa memaafkan kami?"


Aira berbalik "Sesuai perjanjian itu, aku hanya alat untuk kalian mendapatkan keturunan. Jadi lanjutkan saja rencana kalian dan lepaskan aku setelahnya" wajahnya datar tanpa ekspresi. Menatap lurus manik mata coklat di depannya.


Ken melepaskan cengkeramannya perlahan. Aira mendekati ibu mertua dan adik iparnya. Membantu mereka berdua berdiri.


"Anggap saja aku tidak pernah tahu tentang perjanjian itu," ucapnya menatap Sumari dengan pandangan serius, "Ibu, di masa yang akan datang tolong jangan mempersulit dirimu sendiri. Aku akan menjadi menantu yang baik untukmu, tolong perlakukan aku seperti putrimu sendiri. Saat waktunya tiba, aku akan pergi dan tidak akan mempersulit kalian" Aira membungkuk 90° membuat Sumari mundur selangkah. Ia takut dengan sikap Aira yang terlihat sangat tenang.


'Kenapa sikapnya cepat sekali berubah? Apa dia berkepribadian ganda?" gumam ibu dalam hatinya.


Ken mengerutkan kening melihatnya. Bukan kali pertamanya Aira seperti ini. Saat bertemu di apartemen gadis itu, ia juga bisa menguasai emosinya dengan cepat dan bersikap tenang seperti tidak ada yang terjadi.


"Bisa kita pulang sekarang?" bibir pucat itu menyunggingkan senyum pada 2 wanita di depannya. Senyum di bibir yang pucat itu tak dibarengi dengan kerutan di matanya. Ah benar, ia hanya tersenyum untuk menunjukkan kesopanannya.


Sumari menatap Ken tak percaya, seolah ingin bertanya 'gadis macam apa dia?'

__ADS_1


Ken menggandeng lengan Aira keluar kamar setelah menyambar tas yang berisi perlengkapan dan obat-obatan Aira. Ia membukakan pintu mobil ketika sampai di tempat parkir. Di belakangnya, ibu dan Naru mengekor tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


*******


Matahari bersinar cerah saat Aira turun dari mobil Ken. Kakinya menjejak tanah dan netranya melihat sekeliling yang tampak sunyi.


"Ayo masuk," ajak Ken pada Aira. Mereka berjalan bersisian menuju bangunan megah bergaya eropa di depan sana. Keduanya melalui jalan yang membelah lapangan dengan rumput yang menghijau.


"Selamat datang di sekolah kami. Jadi ini nona Khumaira yang kemarin Anda ceritakan?" tanya seorang pria berkacamata.


"Dia istriku," ucap Ken dingin.


Pria itu tampak terkejut, tapi kemudian menormalkan mimik wajahnya seolah ia tak terpengaruh dengan pernyataan Ken.


"Baik. Nyonya, silahkan isi data diri Anda,"


"Aku sudah mengirimkannya padamu lewat email," ucap Ken seraya menahan lengan Aira yang akan menerima kertas itu.


"Eh, ah iya.. Maaf saya lupa. Baiklah, akan saya cetak sekarang juga."


"Tidak perlu, saya bisa mengisinya sekarang. Maaf merepotkan Anda, Watanabe-san" Aira mengambil kertas yang ada di tangan pria itu seraya membaca name tag yang ia kenakan.


"Eh... Tidak perlu nyonya," Watanabe-san hendak mengambil kertas itu lagi.


"Bisakah Anda jelaskan seperti apa sistem pendidikan di sini? Saya masih awam," pinta Aira setelah menyerahkan selembar kertas yang telah terisi penuh pada pria 50 tahunan itu.


"Ekhmm..." Ken memberikan kode tentang keberadaannya di sana. Atau lebih tepatnya agar Aira menyadari statusnya sebagai istri Ken.


"Tuan Yamazaki yang lebih mengetahuinya," pria berjas hitam itu menunduk tak berani menatap Ken.


"Watanabe-san, tidak peduli siapa yang ada di belakangku, aku tetaplah orang awam. Dan sudah menjadi tugas anda untuk menjelaskannya kan? Entah itu rakyat jelata atau bahkan jika itu putri perdana menteri sekalipun, anda harus bersikap profesional,"


"Baik. Mari, akan saya jelaskan sambil berkeliling ke area sekolah,"


Ketiganya berjalan menuju halaman belakang. Terlihat 3 orang di sana, seorang terlihat sedang memegang pedang bambu, dan 2 orang lainnya sedang mendengarkan penjelasannya.


"Ah disana. Itu kelas kendo. Kendo dianggap sebagai seni bela diri modern Jepang. Seni bela diri ini menggunakan pedang bambu yang disebut “Shinai” dan baju pelindung yang disebut “Bogu”. Penerapan dengan menggunakan pedang bambu ini awalnya digunakan pada era Shotoku," jelasnya singkat.


Mereka melanjutkan ke tempat lain.


"Setelah Nyonya masuk ke asrama ini, nama dan identitas anda otomatis disembunyikan. Jadi tidak ada yang tahu latar belakang atau kepentingan anda. Semua murid disini tidak diizinkan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi masing-masing" Aira hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ah, hampir lupa. Anda baru akan mulai belajar besok. Jadi hari ini Anda bisa beristirahat dulu. Ini name tag anda. Setiap orang akan memanggil anda 'nona'. Apa anda merasa keberatan?" Watanabe menyerahkan sebuah papan nama bertuliskan 'Rara'.


"Tidak masalah," jawab Aira tegas.


2 jam berlalu


"Ini kamarmu Nona. Jika ada yang anda butuhkan, silahkan menemui saya di depan," ucap seorang wanita penjaga asrama.


"Terima kasih," Aira masuk ke dalam ruangan berukuran 4x6 meter bernuansa coklat itu. Di belakangnya Ken mengekor membawa sebuah koper dan meletakkannya di depan lemari.


"Aku akan kembali ke Indonesia. Jaga dirimu baik-baik. Kita akan bertemu lagi 3 bulan ke depan. Aku akan datang menjemputmu," Ken memeluk Aira dengan erat. Ia melepas pelukannya dan sesekali menciumi puncak kepalanya.


Dengan berat hati Ken melepas pelukannya dan beranjak pergi. Tangannya menarik kenop pintu saat langkah kakinya terhenti. Sepasang tangan mungil melingkar di perutnya. Punggungnya juga terasa hangat karena Aira memeluknya dari belakang.


"Aku akan merindukanmu," ucapnya dengan nada sangat datar.


Ken tersenyum dan seketika berbalik menatap istrinya yang bertubuh mungil. Namun senyumnya hilang ketika mendapati wajah Aira tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Bukankah aku harus bersikap profesional? Bahkan jika aku sangat membencimu sekalipun, tubuhku harus terbiasa dengan keberadaanmu,"


Ken membatu di tempatnya. Gadis ini benar-benar berubah sekarang.


"Apa kamu sangat membenciku?" tanya Ken pada akhirnya karena Aira tak bergeming saat dia mendekatkan wajahnya pada Aira.


"Apa kamu menginginkanku sekarang?" tanya Aira berbisik di telinga Ken yang sekarang sedikit menundukkan badannya.


Ken semakin heran, menatap Aira dengan berbagai pertanyaan di batinnya.


"Aku adalah milikmu, propertimu. Kamu berhak mengambilnya kapan saja," ucapnya kemudian.


Glek


Ken menelan ludahnya dengan susah payah. Parfum Aira menggoda indera penciumannya sejak tadi. Ia laki-laki normal. Ya, sangat normal. Sekali hidup ia langsung menyukai aroma istrinya ini, tapi dia harus tahu diri dan menjaga batasannya. Ia tidak mau Aira mendapat masalah sekarang. Karena dia akan langsung dikeluarkan dari sekolah jika ia hamil. Dan itu artinya, Aira kemungkinan besar akan kakek singkirkan karena dirasa belum layak menjadi ibu dari keturunannya.


"Lupakan !" Ken berbalik dan segera keluar.


Aira mengekor, hendak mengantar suaminya ke tempat parkir.


"Jangan mengantarku, mungkin seseorang bisa melihatmu. Belajarlah dengan baik, nona." Ken mengelus puncak kepala Aira perlahan.


"Aku akan memberi salam pada ayah dan ibumu. Ada pesan?"

__ADS_1


Aira menggeleng dua kali dan langsung masuk ke kamarnya tanpa menunggu ucapan Ken berikutnya.


"Berjuanglah istriku," ucapnya sendu. Ia tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2