Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Mati pun Mau?


__ADS_3

Shun kembali masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Kaori. Dia tidak tega melihat istrinya bersedih, tapi juga tidak ingin membangunkannya meski matahari telah tenggelam seluruhnya di ufuk barat.


"Kaori-chan, maaf karena tidak menjagamu dengan biak." Shun mengelus puncak kepala wanitanya sebellum menghadiahkan satu kecupan hangat di kening. Dia sangat menyayangi wanita yang tiga minggu ini resmi menjadi tambatan hatinya. "Istirahatlah."


Shun menarik diri dan menjauh beberapa langkah dari istrinya. Dengan mata terpejam, pria itu menghidupkan pemantik api untuk menyalakan gulungan tembakau di tangannya. Dia terbiasa merokok saat merasakan tekanan batin serperti sekarang ini. Rasanya zat nikotin itu akan bisa membantunya meredam stres yang mulai menumpuk menjadi beban.


Langkah kakinya mengarah ke balkon, menatap langit luas yang mulai menggelap. Lampu-lampu berbagai warna terlihat berpendar di kejauhan, menghias malam yang beranjak larut.


Di belakang sana, tampak Kaori mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia merasa tidak nyaman setelah tertidur lebih dari lima jam. Kepalanya terasa penuh dan berat. Terlalu banyak istirahat nyatanya juga tidak baik.


Perlahan, wanita kepala tiga ini mulai membuka matanya. Langit-langit kamar yang berwarna putih bersih menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Aroma lemon samar-samar terhirup hidungnya, sungguh membuat napasnya segar.


"Apa yang dia lakukan di sana?" lirih Kaori, menatap punggung Shun di depan sana. Pria itu menengadahkan kepalanya, mengembuskan asap berwarna putih ke udara.


"Dia merokok lagi?" gumam Kaori. Dia juga tahu kalau Shun sudah memutuskan untuk berhenti merokok sebelumnya. Jadi, kenapa sekarang dia merokok lagi? Apa dia memiliki masalah serius sampai butuh pelampiasan seperti dengan satu hal itu?


Deg!


Kaori kembali mengingat kejadian siang ini dimana seorang kurir pengantar bunga mengirimkan buket lili dan mawar putih padanya. Seketika tubuh ramping dokter wanita ini kembali gemetar. Dia belum bisa menghilangkan traumanya karena kehilangan buah hati dan suaminya di saat yang bersamaan. Selain itu, sikap kasar mendiang tuan Harada juga masih membekas dalam ingatan meski bertahun-tahun sudah berlalu.


Gregg


Kaori segera membuka laci nakas di samping ranjang dan mengambil obat penenang dari dalam sana. Dia tidak ingin rasa gugup ini semakin menguasainya dan bisa membuatnya histeris seperti sebelum-sebelumnya. Dengan bantuan segelas air putih, pil mungil warna putih itu berhasil masuk ke dalam kerongkongan wanita 30 tahun ini.


Shun yang mendengar ada suara dari kamar Kaori, segera menolehkan kepala tanpa berbalik badan. Matanya membola begitu melihat Kaori tengah memasukkan obat ke dalam mulutnya. Dengan tergesa, pria ini mematikan rokoknya dan membuang benda itu ke tempat sampah. Dia segera berlari menghampiri wanita kesayangannya.


"Kao-chan, apa yang kamu lakukan? Obat apa itu?!" Shun khawatir istrinya mengonsumsi obat berbahaya. Padahal dua menit yang lalu, dia masih terlihat tenang dalam tidur lelapnya.


Karena tidak mendapat jawaban, Shun meraih laci dan mellihat sendiri apa yang Kaori konsumsi barusan. Napasnya terbuang percuma saat mengetahui itu hanya obat penenang dosis rendah.


Meskipun bukan dokter, tapi dia tahu berbagai obat dan fungsinya. Bukan hanya jenis obat tertentu, dia bahkan bisa menggabungkan beberapa kandungan dalam obat itu dan mengubahnya menjadi racun. Benar-benar pria yang mengerikan.


Kaori yang mulai tampak tenang, kini menatap Shun dengan pandangan sendu. Detak jantungnya yang semula begitu cepat, kini perlahan berubah teratur seperti sedia kala.


"Maaf sudah membuatmu panik." Kaori meraih tangan Shun, menggenggam jemarinya erat-erat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya."


Shun mengambil napas dalam-dalam. Dia harus mengatakan apa yang terjadi pada istrinya. Siapa yang tengah membidik mereka dan apa masalah utamanya. Tapi, melihat kondisi psikis wanita ini yang terlihat begitu rapuh, Shun tidak tega mengatakannya.


"Berjanjilah kamu akan tetap percaya padaku dari awal hingga akhir."


"Apa maksudmu?" Kaori menatap manik mata kecoklatan milik suaminya. Dia tidak tahu apa yang ada di dalam kepala pria ini. Kenapa dia memintanya untuk percaya dari awal hingga akhir? Apa dia akan melakukan misi berbahaya esok lusa atau bahkan hari ini.


Shun tersenyum canggung. "Cukup percaya saja padaku, ya?"


Meski dengan berbagai tanya yang belum juga terjawab, Kaori terpaksa mengangguk. Dia tahu suaminya ini pembunuh yang kejam.  Dia tidak segan melakukan hal keji dan berbahaya terhadap orang yang tidak disukainya. Bahkan Aira saja pernah menjadi korbannya.


Meski sudah berlalu, Kaori tetap tidak bisa melupakannya dan masih merasa bersalah pada wanita Indonesia itu. Tanpa tahu masalah mereka, Kaori mau-mau saja menyuntikkan racun bisa ular pada wanita yang saat itu tengah hamil. Untung saja nyawa Aira dan kandungannya masih terselamatkan. Jika tidak, tamatlah riwayatnya dan Shun. Ken pasti akan menghukumnya dan merasa lebih baik mati daripada hidup di dunia ini.


"Kaori-chan," panggil Shun yang melihat Kaori melamunkan sesuatu. "Ada masalah?"


Kaori menggeleng. "Aku lapar. Apa kamu punya sesuatu untuk dimakan?"


Shun mengerutkan keningnya. Dia tidak yakin jika Kaori lapar. Biasanya wanita ini tidak pernah membahas makanan.


'Apa dia mencoba mengalihkan pembicaraan?' batin Shun heran.


Tok tok tok


Di saat yang bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat dua sejoli ini menoleh ke sumber suara.


"Kak, makan malamnya sudah siap." Suara Mone begitu khas, melengking dan imut.


"Ayo makan." Kaori lebih dulu bangkit dari ranjang. Dia ingin membuat Shun yakin bahwa dia baik-baik saja. Buket bunga kematian itu tak membuatnya ketakutan lagi sekarang. Entah apapun misi yang akan suaminya ini lakukan, pria ini harus fokus dan tidak perlu memikirkannya lagi.


Shun menatap punggung istrinya menjauh hingga tak lagi tampak karena terhalang pintu. Entah kenapa dia justru jadi tidak tenang karena Kaori tidak menunjukkan kelemahan di hadapannya.

__ADS_1


"Semoga semuanya baik-baik saja," gumamnya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


Kaori sebisa mungkin menetralkan wajah sedihnya. Dia tidak ingin membuat Mone khawatir padanya.


"Harum sekali, apa yang kamu masak ini?" Kaori menghampiri Mone, memeluk pinggang adik iparnya ini dengan erat. Hubungan mereka berdua memang cukup dekat dan sering menghabiskan waktu bersama.


"Yamaken yang memasaknya. Tidak mungkin ini masakan buatanku." Mone memamerkan deretan gigi kelincinya. Dia mengakui kelemahannya yang satu itu, tidak bisa memasak.


"Yamazaki-san, maaf merepotkanmu di rumahku. Bukannya menyambut kalian, justru membuat kalian jadi sibuk menyiapkan makan malam untuk kami."


Yamaken mengulas senyum simpul di wajahnya. "Tidak masalah. Aku suka  melakukannya. Justru akan sangat menyenangkan jika kita bisa sering makan bersama seperti ini."


Tiga orang itu saling pandang dan kemudian tersenyum satu sama lain. Yamaken dan Mone terlihat imut di mata Kaori. Perbedaan usia mereka tidak begitu kentara karena wajah aktor tampan satu ini masih baby face.


Dari kejauhan, Shun melihat ketiganya sambil mengembuskan napas berat. Beban di dalam hatinya sedikit berkurang saat melihat interaksi Kaori dan Mone. Tampaknya dia harus sering-sering meminta Mone datang untuk menemani istrinya. Beberapa hari kedepan, dia harus fokus mengurus Yuki dan Anna. Tidak ada waktu untuk bersama istrinya.


"Kakak, ayo cepat kemari. Jangan sampai membuat makanannya dingin." Suara Mone kembali tertangkap telinga ahli kimia ini.


"Aku tahu. Untungnya itu bukan makanan buatanmu." Shun langsung duduk di salah satu kursi, "Jadi aku tidak khawatir akan keracunan setelah menyantapnya."


Tawa Yamaken dan Kaori terdengar detik berikutnya, menyisakan Mone yang menunjukkan wajah cemberutnya. Kedua bibirnya mengerucut, menunjukkan ketidaksukaannya pada pernyataan kakak angkatnya. Pria ini terlalu jujur, sampai tidak tahu menjaga perasaan adiknya sendiri.


Shun mengambil beberapa buah onigiri atau nasi kepal di atas piring dan melahapnya dengan antusias. Mungkin dia lapar, atau memang sengaja mencegah agar mulutnya tak lagi mengatakan hal-hal buruk pada Mone yang memang tidak bisa memasak sama sekali.


Mone mengepalkan tangan di sisi badan. Dia tidak suka Shun mencemoohnya, meski itu fakta.


"Sudah, sudah. Ayo makan." Yamaken memegang kedua puncak lengan Mone dan mendudukkannya dengan paksa di atas kursi. Dia tidak ingin wanitanya ini marah berlarut-larut.


"Coba ini." Yamaken dengan telaten meletakkan beef teriyaki buatannya di atas piring.


"Aku tidak lapar!" ketus Mone, menolak sikap baik calon suaminya.


"Kalau begitu, buka mulutmu. Hanya coba satu suap saja." Yamaken terus mencoba membujuk gadis manis ini untuk mencicipi masakan buatannya. Dia tahu Mone lapar, hanya saja dia menjaga image nya di depan Shun.


"Kebetulan kalau tidak lapar, aku dan Shun dengan senang hati akan menghabiskan makanan ini. Benar 'kan, Sayang?"


Mendengar hal itu, Mone membeliakkan mata. Mana boleh makanan buatan Yamaken dihabiskan oleh dua orang ini?


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Mone langsung melahap hidangan di hadapannya. Dia tidak ingin melewatkan makanan enak buatan kekasihnya. Dia sendiri yang akan rugi jika tidak ikut menikmatinya dan dihabiskan oleh kakak angkata dan kakak iparnya.


Yamaken tersenyum lebar melihat Mone memakan masakannya dengan lahap. Dia sendiri tidak lagi berselera makan. Melihat Mone bahagia seperti sekarang saja membuatnya puas dan kenyang.


"Yamazaki-san, setelah makan ikut denganku. Ada sesuatu yang harus kamu lakukan."


Yamaken terkejut, tapi langsung mengangguk mantap. "Baik. Aku akan melakukan apa saja untuk kakak ipar," ucapnya penuh semangat.


"Mati pun mau?" sarkas Shun, mengambil onigiri yang kedua. Dia bukan pemilih makanan, jadi tidak keberatan memakan olahan sederhana seperti ini.


. . .


Sementara itu, di tempat dan waktu yang sama, seorang wanita duduk di depan laptopnya sambil memakan sandwich di tangan. Rambut panjangnya tergerai bebas di belakang punggung, menunjukkan aura kecantikan tersendiri. Meski usianya hampir kepala empat, tapi wajahnya tampak jauh lebih muda. Hanya bekas luka di bawah matanya saja yang menjadi cela penampilan wanita ini.


"Bagaimana? Sudah menemukan sesuatu, Ann?" tanya bibi Maria sambil meletakkan segelas coklat hangat untuk nonanya. Dia sengaja membuat itu untuk menemani sandwich yang ia siapkan sebelumnya.


"Tidak ada pergerakan sama sekali. Rumah itu 'bersih'," jawab Anna sebelum kembali menggigit roti berlapis di tangannya. Rasa asam tomat dan segarnya sawi hijau berpadu dengan mayonais segar di antara dua keping roti tawar ini.


Bibi Maria ikut mendekat, menyaksikan rekaman kamera yang tertanam dari drone pengintai yang ia kirimkan siang tadi.


"Ini aneh. Apa bunganya ada?" Bibi Maria merasa ada sesuatu yang janggal. Kenapa kediaman Kaori bersih? Artinya tidak ada seorang pun di sana.


"Bunganya ada di tong sampah. Aku melihatnya." Sebelah tangan Anna memindahkan tampilan dari drone lainnya yang menyisir koridor apartemen Kaori.


"Apa wanita itu sudah melihat tulisannya?" Wanita hampir enam puluh tahun itu kembali bertanya. Dia tidak ingin rencana mereka gagal.


"Tentu saja. Aku sudah mengonfirmasikan hal itu pada orang yang mengantarnya."

__ADS_1


Hening sejenak. Baik Anna maupun Maria masih memperhatikan layar datar di hadapan mereka.


"Lihat ini, Bibi." Anna menjeda pemandangan balkon yang terbuka. Ada beberapa pot bunga yang tergantung di sana dan sebuah lampu hias menempel di dinding.


"Apa rencanamu?"


"Kita kirimkan 'hadiah' berikutnya untuk Kaori." Anna berkata sambil tersenyum penuh arti.


"Sama seperti biasanya?"


Anna mengangguk. Dia masih menggunakan cara lamanya, mengirimkan teror bertubi-tubi pada targetnya dan menyebut itu sebagai 'hadiah'.


"Hadiah seperti apa yang kamu inginkan, Ann? Biar aku menyiapkannya."


Anna kembali tersenyum, menampilkan wajah iblis yang menyeramkan.


"Tentu saja hadiah yang membuat Kaori begitu bahagia. Hahaha." Tawanya menggema memenuhi ruangan, membuat Maria tersenyum. Dia senang saat melihat nona yang diasuhnya ini bahagia. Dia rela melakukan apa saja asalkan itu bisa menyenangkan seorang Anna Vyatcheslavovna.


"Kapan kita akan mengirimkannya?"


Tawa Anna terhenti. "Secepatnya. Kita buat dia gila."


Bibi Maria semakin semangat. "Bagaimana kalau besok pagi?"


Anna menoleh ke arah wanita yang kini menatapnya. "Apa bibi bisa membuat hadiah itu dalam waktu sesingkat ini?"


"Tentu saja bisa. Wanita itu akan pingsan begitu pergi ke balkon pagi ini," ucapnya penuh keyakinan.


"Baiklah. Bibi siapkan saja semuanya. Aku percaya bibi tidak akan mengecewakanku." Anna mengangguk mantap. Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang petugas kebersihan apartemen yang tersenyum di belakang sana.


"Tuan, dugaan Anda benar. Dua wanita ini benar-benar licik," lirihnya hampir tanpa suara. Dia memegang alat perekam suara yang tersimpan di dalam sakunya.


"Hey, kau. Kemari!" Bibi Maria berbalik, menatap petugas kebersihan yang tengah sibuk menata tanaman di balkon.


Deg!


'Apa aku tertangkap basah merekam mereka?' bisiknya dalam hati. Dia segera menetralkan mimik keterkejutannya agar tidak memancing kecurigaan wanita Rusia ini.


"Ya, nyonya?" pria dengan topi dan masker di wajahnya mendekat ke arah Maria. "Ada yang bisa saya bantu?"


Maria mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada pria di hadapannya. "Tugasmu sudah selesai. Pergilah. Itu tips untukmu."


Pria itu menatap Maria dengan heran. "Tapi, Nyonya, saya belum selesai membenahi tanaman di balkon."


Maria melongok ke arah balkon yang masih berantakan karena pria ini memotong beberapa batang bunga yang sudah tampak mengering.


Di saat wantia ini lengah, pria misterius ini melirik ke arah Anna. Terlihat jelas bahwa wanita ini tengah memperhatikan setiap detail dekorasi di rumah Kaori. Dia pernah pergi ke sana beberapa kali, jadi paham betul siapa pemilik penthouse mewah yang sedang mereka targetkan.


Atensi Maria kembali. "Baiklah, kalau begitu selesaikan pekerjaanmu. Setelah itu kamu bisa langsung pergi."


"Baik, Nyonya. Saya mengerti."


Maria kembali ke arah Anna. "Ann, aku akan pergi keluar sebentar. Segera istirahat setelah kamu selesai melihatnya."


"Aku tahu," jawab Anna sambil meraih gelas kaca di sebelah laptop miliknya.


Tanpa kecurigaan sama sekali, Maria pergi meninggalkan Anna. Dia tidak tahu petugas kebersihan itu tersenyum saat punggungnya menghilang di balik pintu.


"Kesempatan bagus!"


Siapakah pria ini? Apa yang akan dia lakukan pada Anna? Pada siapa dia bekerja? Nantikan di bab berikutnya.


* * *


Penasaran? Sama Author juga. Jadi jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa dengan klik tombol like, rate, komen, dan kasih Author hadiah di depan. See you....

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2