
Mone duduk di depan sebuah komputer layar datar. Kesepuluh jemarinya sibuk menari di atas keybord, sesekali meraih gundukan kecil berwarna hitam di sebelah papan ketik yang juga hitam itu.
Di belakangnya, tampak Yamaken dan Shun yang masih setia mengikuti arah pandang gadis ini. Keduanya menyimak setiap detail yang Mone jelaskan. Mereka mulai mempelajari trik yang akan Anna pakai.
"Ah, ini dia!" Mone berseru girang saat apa yang ia cari-cari satu jam ini akhirnya membuahkan hasil. Netra bulatnya memicing, mengenali jenis drone yang sempat ia lihat mengitari ruangan ini siang tadi.
"Bukankah itu hanya drone biasa?" Yamaken bersuara. Tidak ada yang aneh dengan pesawat kecil itu. Sama seperti yang lainnya.
"Umm! Bukan" Mone menggeleng, menyangkal pendapat calon suaminya ini. Apa yang mereka lihat sebelumnya bukan hanya drone biasa seperti yang lainnya. "Itu drone pengintai."
"Hah? Drone pengintai?" Yamaken yang memang awam di dunia seperti ini tidak tahu ada alat canggih seperti yang Mone katakan tadi. Dia pikir semua drone sama saja, untuk melihat penampakan udara. "Apa bedanya?"
"Tentu saja berbeda." Mone menjawab singkat sebelum kembali sibuk menekan tuts hitam di hadapannya. Dia masih harus mencari detail informasi sebanyak mungkin tentang benda mungil itu.
"Diamlah. Aku akan menjelaskannya nanti."
Shun mengangkat sudut bibirnya, dia suka melihat Mone seperti ini, mengabaikan calon suaminya dan fokus pada satu hal di hadapannya. Sejak awal pria ini memang tidak terlalu cocok dengan Yamaken yang notabene-nya aktor layar kaca. Dia dekat dengan semua orang dan kamera menyorot kehidupannya.
Sebagai seorang kakak yang tahu identitas rahasia adiknya, dia tidak ingin ketenaran Yamaken menjadi bumerang bagi Mone. Jika publik tahu bahwa gadis itu Black Diamond yang dielu-elukan para geng kriminal, bisa dipastikan itu akan mengundang bahaya baginya.
Itulah sebabnya Mone juga tidak memberitahu calon suaminya. Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan para fans yang mungkin akan mengulik identitas pribadinya. Mereka lebih berbahaya dibandingkan para yakuza yang menghunuskan senjata. Kekuatan publik bahkan bisa meruntuhkan seorang penguasa tertinggi sebuah negara, apalagi ia yang hanya seorang gadis tak berdaya.
"Kakak ipar, apa kamu pernah mendengar hal ini sebelumnya." Yamaken meminta pendapat Shun. Dia yakin pria ini tahu banyak karena dia sudah berkecimpung di dunia mafia selama bertahun-tahun, sama seperti kakak kembarnya.
Shun bungkam. Dia hanya melirik Yamaken sekilas sebelum pergi mengambil minuman ringan dari dalam lemari pendingin yang ada di dapur.
"Mone-chan," panggil Shun tiba-tiba.
Hap!
Sebuah kaleng berisi minuman karbonasi Shun lemparkan dari kejauhan. Dan Mone berhasil menangkapnya tanpa melihat lebih dulu ke arah kakak angkatnya. Hal itu membuat Yamaken terheran-heran. Bagaimana gadisnya memiliki kemampuan seperti itu? Apa telinganya memiliki mata? Jelas-jelas atensinya terfokus pada monitor di depannya.
"Oeyy!" Shun melakukan hal yang sama. Dia melempar sekaleng minuman pada Yamaken, dan berhasil pria itu tangkap dengan sedikit tergeragap. Hampir saja dia gagal menangkapnya. Dan bisa dipastikan Shun akan semakin meremehkannya jika hal itu terjadi.
"Lain kali jangan sibuk sendiri dengan isi otakmu. Sesibuk apapun mata dan pikiranmu, biarkan telingamu tetap stand by." Mone mengingatkan Yamaken, meski jemarinya masih sibuk menekan kombinasi berbagai huruf yang kemudian muncul di layar monitor.
Yamaken menarik kursi dan duduk di belakang Mone. Dia ingin tahu seperti apa seorang Mone bekerja menyelidiki Anna, ibu angkatnya sendiri.
"Ini bukan drone biasa." Mone menunjuk drone warna hitam yang ada di layar. "Alat ini biasa digunakan untuk memandu helikopter yang akan menyerang target di luar jangkauan. Kebanyakan target mereka berada di atas lautan."
"Bagaimana mungkin? Itu bisa dikendalikan dari jarak yang cukup jauh?"
Mone mengangguk. "Benar. Mereka memanfaatkan alat canggih ini, meluncurkannya dari darat kemudian mendeteksi, mengidentifikasi, dan melacak target maritim dari ketinggian ribuan meter di udara. Dalam hitungan detik, benda itu akan mengirimkan data kembali ke pusat komando secara real time."
Kedua netra sipit Yamaken membola. Dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
"Setelah menerima perintah, beberapa helikopter serang akan lepas landas dan dengan cepat menuju target di ketinggian tertentu. Tidak perlu mengonfirmasi dengan mata telanjang, pilot heli itu justru akan langsung meluncurkan rudal ke target berdasarkan titik koordinat yang dikirimkan oleh drone tersebut."
"Tung-tunggu..." Yamaken kembali dibuat tercengang oleh penjelasan wanitanya. "Maksudmu mereka bisa mengintai apa saja? Baik benda bergerak atau tidak bergerak sekalipun?"
Mone mengangguk mantap. "Tentu saja bisa. Fungsi awalnya hanya seperti drone biasa, menangkap penampakan visual melalui kamera yang tertanam di bawah tubuhnya. Tapi, dia disempurnakan dengan pembacaan peta yang lebih akurat. Termasuk titik koordinat sebuah benda atau bahkan seseorang. Jika itu benda bergerak, dia akan membaca kecepatan dan arah geraknya juga."
"Teknik ini sangat efektif mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan serangan. Dan penyerang itu bisa pergi secepatnya setelah rudal itu ia lepaskan. Bukankah itu keren?" Mone menatap Yamaken sekilas. Senyum lebat terpatri di wajah bulatnya. Dia tertarik dengan hal-hal seperti ini.
Yamaken bungkam selama beberapa detik, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh gadisnya. "Jadi, itu sangat berbahaya. Drone itu bisa membaca pergerakan kita dalam hitungan detik saja. Dan kita tidak bisa melakukan apa-apa."
Shun kembali mendekata, kali ini lengkap dengan permen karet yang ada di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Siapa bilang? Apa kamu sebodoh itu?" Lagi-lagi Shun meremehkan calon adik iparnya ini. "Apa otakmu tumpul?"
Mone melirik kakak angkatnya, tapi tidak berkomentar apapun. Dia sudah paham tabiat pria satu ini. Mulutnya pedas, tidak enak didengarkan jika memang berbicara dengan orang yang tidak sefrekuensi dengannya.
"Teknologi semakin canggih. Kita bisa membuat apa saja sesuai keamuan kita." Mone tidak ingin kakaknya meremehkan Yamaken lebih jauh lagi. Dan gadis ini sangat tahu, Yamaken selalu low profile, tidak mudah terprovokasi pada kata-kata orang lain.
"Di dunia militer, ada ancaman tersendiri untuk helikopter pembawa rudal ini. Jika mereka terlihat oleh musuh, maka musuh dengan mudah mengutus peluncur misil portable untuk mengacaukan titik koordinat dari drone itu tadi. Dengan begitu, rudal yang dilepaskan oleh helikopter itu tidak akan mengenai target. Bahkan, bisa saja rudal itu menghantam tuannya sendiri."
Kepala Yamaken mulai terasa berdenyut. Dia tidak yakin dengan yang Mone sampaikan. Itu benar-benar asing untuknya yang selalu sibuk di depan kamera dan layar kaca.
"Jika pilot heli itu pintar, dia tidak akan terlihat oleh musuh dan bisa kembali dengan selamat. Kelangsungan hidupnya tentu saja lebih besar." Shun ikut menjelaskan. Dia tahu Yamaken mulai memanas otaknya, jadi ingin membuatnya semakin pusing. Benar-benar calon kakak ipar yang luar biasa. Dia bahagia melihat Yamaken kebingungan.
"Bukan hanya heli yang menggunakan drone pengintai untuk bekerjasama. masih ada pesawat tempur, kapal serbu amfibi, dan artileri yang sering bermitra dengannya." Shun kembali menambahkan.
"Baiklah. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Yamaken tidak ingin mendengar penjelasan tentang senjata di medan perang itu lagi. "Bisakah kita menghalau drone itu?"
Shun mengangkat sudut bibirnya, tahu Yamaken ingin mengalihkan pembicaraan. "Kapasitas otakmu sungguh terbatas."
Mone tersenyum mendengar kalimat hinaan yang kakaknya lontarkan. Bukan kapasitas otak Yamaken yang terbatas, tapi memang penjelasan pelik itu yang terlalu berat untuk orang awam yang tidak memiliki kepentingan apapun terhadap dunia peperangan atau semacamnya.
"Monmon," panggil Yamaken. "Ada solusi?"
Mone mengangguk. "Tenang saja, Sayangku." Gadis ini mengelus puncak kepala calon suaminya. "Selama aku masih bernapas, aku akan melindungimu."
Shun menunjukkan ketidaksukaannya melihat Mone begitu menyayangi pria ini. Jika saja gadis kecilnya ini tidak jatuh cinta pada aktor tampan itu, Shun tidak segan-segan menyingkirkan sosoknya agar menjauh dari Mone. Tidak ada gunanya berhubungan dengan seorang pria yang justru menjadi beban, meminta untuk dilindungi, bukan sebaliknya.
Pria 29 tahun ini memilih menjauh. Daripada melihat kemesraan adiknya dengan pria tampan itu, lebih baik mengencek kondisi Kaori. Apakah dia sudah bangun dari tidurnya atau belum. Punggung Shun menghilang tertelan pintu, meninggalkan Mone dan Yamaken di ruang tengah kediaman Kaori ini.
"Bagaimana?" tanya Yamaken, kembali memperhatikan layar monitor setelah menangkap tangan Mone dari atas kepala. Dia tidak suka diremehkan seperti itu. Sebagai seorang pria, Yamaken ingin melindungi wanita kesayangannya.
Layar komputer berubah, menampilkan susunan paralel yang tidak bisa Yamaken pahami. Juga huruf dan angka dalam bahasa Rusia.
"Teknologi ini memiliki jangkauan sampai beberapa kilometer dan menggunakan empat radar untuk memeberikan deteksi 360 derajat untuk mengidentifikasi dan melacak drone yang mendekat. Tidak hanya tahu drone jenis apa yang tertangkap anti-drone itu, tapi kita juga bisa tahu dari mana operator atau pengendali drone itu berasal."
"Bisa seperti itu?"
Lagi-lagi Mone mengangguk. "Aku akan mencari tahu dimana Anna bersembunyi. Dia tidak mungkin menampakkan batang hidungnya di depan kita."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Yamaken ikut berpikir. Bagaimana cara dia bisa membantu gadisnya ini. Semuanya terasa belum terang, masih samar-samar.
Mone tersenyum simpul, menatap kekasihnya dengan penuh cinta. "Tidak ada yang perlu kamu lakukan. Aku akan baik-baik saja. Selama kamu ada di sisiku, itu sudah cukup."
"Tapi-"
"Aku bisa menangani ini semua. Percayalah."
Yamaken tersenyum, menarik gadis ini ke dalam pelukan. "Terima kasih. Aku akan selalu mendukungmu."
"Ah, kalau begitu, bisa tolong buatkan sesuatu untukku? Aku lapar." Mone memegangi perut ratanya yang mulai merasa kelaparan. Otaknya bekerja keras, membuat makanan di dalam pencernaannya mudah terkuras.
"Baiklah. Mau makan apa, Sayangku?" Yamaken beranjak bangun. Dia berdiri dan menatap kekasihnya, menunggu jawaban yang terlontar dari mulut mungilnya.
"Apa saja. Lihat saja apa yang ada di dalam lemari. Kaori-chan sering menyimpan makanan beku. Tidak masalah memakan itu asalkan ada nasi hangatnya."
Yamaken menggeleng tegas. "Frozen food itu tidak sehat. Aku akan membuatkan makanan lain untukmu. Nantikan yaa."
Mone tersenyum, mengangguk mantap. Dia bukan orang yang pemilih, bisa makan apa saja yang ada.
__ADS_1
Yamaken berjalan menuju dapur. Dia membuka kulkas dua pintu di hadapannya dan mendapati dua bungkus daging sapi segar, jamur, dan beberapa jenis sayuran hijau di dalam plastik wrap.
"Monmon, bagaimana kalau kubuatkan beef teriyaki dan onigiri?" tanya Yamaken dari kejauhan.
"Boleh. Aku suka semua itu."
"Baiklalh." Yamaken mulai sibuk dengan kegiatannya di dapur, sementara Mone masih berkutat dengan teknologi anti-drone yang tengah di pelajarinya.
"Jika kamu belum memahaminya, minta tolong saja pada Aira. Dia itu agen pengintai yang hebat. Bukan masalah yang besar sekadar mengurus hal sepele ini." Shun kembali mendekat. Dia berdiri, sedikit membungkukkan badan di belakang Mone.
"Jangan meremehkanku. Bukan hanya kak Aira yang bisa, aku juga bisa melakukannya. Lihat saja."
Srukk sruukk
Shun mengacak puncak kepala adiknya, membuat surai panjangnya sedikit berantakan. "Kamu belum bisa dibandingkan dengan kakakmu itu. Dia itu memiliki mata dewa. Kamu harus banyak belajar padanya."
"Heih?" Mone tertarik dengan pernyataan Shun ini. "Mata dewa? Apa itu?"
Shun tersenyum, kembali mengacaukan puncak kepala di depannya. "Tanyakan saja sendiri pada wanita itu. Dia tidak akan keberatan membagi ilmunya denganmu."
Mone mengangguk. Dia setuju dengan pernyataan Shun barusan. Aira orang yang terbuka, dia bisa berbagi apa saja, asalkan bukan suaminya.
"Hubungi dia begitu kamu menemui kesulitan."
Kali ini Mone menggeleng. "Tidak akan. Aku tidak ingin mengganggu kakak dan kakak ipar. Biarkan saja mereka berlibur untuk sementara waktu. Bisa saja mereka memberikanku keponakan yang lucu-lucu lagi sekembalinya dari sana."
Plakk
Shun menepuk kepala adik angkatnya dengan cukup keras, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Sakit kak!"
"Otakmu itu sudah terkontaminasi. Darimana kamu memiliki pemikiran seperti itu, huh?" Shun menoyor pelipis adiknya. "Daripada memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik pikirkan kontra-drone itu secepatnya!"
Shun melenggang pergi, menginggalkan Mone yang menunjukkan bibir cemberutnya. "Ish, dasar pria tua. Kamu sudah seharusnya jadi seorang ayah!" lirihnya sambil merapikan jalinan rambut hitamnya.
Yamaken tersenyum di kejauhan. Dia ikut senang karena wanitanya itu masih memiliki seorang Shun yang sangat memperhatikannya. Meski tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tapi hubungan keduanya begitu erat. Bahkan lebih dekat dibandingkan dengan Aira. Mungkin karena keduanya jarang bertemu akhir-akhir ini. Terlebih lagi, wanita berjilbab itu dipaksa pergi oleh suaminya.
"Ah, apa kabar mereka? Sudah lama aku tidak melihat ketiga jagoan kecil menggemaskan itu," lirih Yamaken seorang diri. Tangannya sibuk mencuci beras yang ada di dalam panci, tapi pikirannya berkelana kesana kemari.
Tiba-tiba aktor tampan ini ingat pada baby triplets dan merindukan mereka. Setelah makan bersama Mone nanti, dia harus menghubungi saudar kembarnya untuk melihat malaikat-malaikat kecil itu.
"Akari, Ayame, Azami, bagaimana kabar kalian? Apa ayah dan ibumu sedang membuat adik baru untuk kalian?" gumamnya sambil tersenyum.
* * *
Aish, Author senyum-senyum sendiri baca gumaman Ayang tampan ini. Bisanya dia sama Mone kepikiran kalo Ken sama Aira lagi bikin baby? Daripada mikirin mereka, kenapa kalian nggak nikah sendiri aja? Kan bisa langsung bikin baby buat sendiri tuh.
Siapa tahu anak Yamaken dan Mone nanti bukan triplet, langsung kembar empat, lima, atau enam. Kan mantap tuh. Ahahahahaaaa. Enaknya pagi-pagi menghalu.
Dah ah, see you...
Ada yang kangen Ken-Aira? Mau kasih scene mereka lagi? Atau mau konflik-konflik kecil sama Anna lagi? Pusing Author-tuh bikin konflik. Ngebul otaknya. Haha.
Bai-bai,
Hanazawa Easzy
__ADS_1