Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Tak Terduga


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 7.55 pagi saat sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan salah satu gedung pencakar langit yang ada di Tokyo.



Kosuke keluar dari balik kemudi dan segera membukakan pintu belakang dimana pimpinan perusahaan ini berada. Ken berpindah ke atas kursi roda yang telah Minami siapkan dengan bantuan istrinya.


"Sembunyikan dirimu sebaik mungkin!" Bisik Ken lirih saat Aira memapahnya keluar dari mobil.


"Siap laksanakan!" Jawab Aira sambil tersenyum, menyanggupi perintah suaminya.


Banyak hal yang Ken minta pada istrinya itu. Seperti misi menjemput Mone di Rusia, tidak ada yang tahu kemampuan Aira yang sebenarnya. Dan itu membuat nyawanya terselamatkan. Hal yang sama juga Ken tekankan lagi kali ini. Aira harus bersikap seperti gadis biasa, tanpa keahlian khusus sama sekali.


Ken tidak tahu apa yang direncanakan oleh pimpinan perusahaan yang ingin menemuinya kali ini. Dia berjaga-jaga jika mungkin saja ada rencana buruk yang mereka gunakan untuk memuluskan kerja sama kali ini. Terlebih dengan kondisi fisiknya yang terbatas sekarang ini, Ken harus membuat persiapan yang matang untuk melindungi keselamatan Aira.



Ken, Aira, Kosuke dan Minami masuk ke lobi kantor. Tepat saat itu lift terbuka menampilkan pria muda berbaju hitam yang terlihat tengah memperhatikan penjelasan pria berumur di sebelahnya. Ia bersama lima orang yang lain berjalan ke depan, semakin mendekat ke arah Ken dan rombongan kecilnya yang terpaksa berhenti.


"Selamat pagi, tuan Yamazaki," sapa seorang pria 50 tahun yang merupakan staff khusus Miracle di bidang marketing. Beliau menundukkan kepalanya, diikuti orang-orang di belakangnya.


*marketing : pemasaran


"Pagi." jawab Ken datar. Ia menampilkan wajah tanpa ekspresi yang membuat siapa saja tahu bahwa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.


"Tuan Yamazaki, ini adalah tuan G dari Circle K. Saya baru saja selesai mengajak tuan G melihat-lihat kantor kita. Ini pertama kalinya ... "


"Kembalilah bekerja!" tegas Ken, lirih namun penuh penekanan di setiap katanya.


"Ya?" tanya pria berkacamata besar itu. Ia belum menyadari kesalahannya yang telah lancang mengajak orang asing berkeliling di perusahaan milik keluarga Yamazaki ini. Ia tertegun karena ucapannya dipotong oleh Ken.


"Saya di sini sekarang. Saya yang akan mengurus tamu kita kedepannya," ujar Kosuke pada pria kacamata.


"Ba ... baik," pria itu langsung undur diri sebelum mendapat amarah dari atasannya.


Pria petinggi Circle K itu tersenyum melihat betapa berpengaruhnya Ken dan asistennya di sini. Nampaknya usahanya tidak akan mudah kali ini.


"Silakan sebelah sini, Tuan." Ujar Kosuke pada tamu mereka. Ia berada paling depan sebagai penunjuk jalan bagi tamu mereka. Ia mengarahkan tuan G ke ruang pertemuan yang ada di sebelah ruang kerja Ken.


Ken, Aira dan Minami masuk ke ruang kerja yang dominan berwarna abu-abu ini.


"Keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan dengan istriku."


"Baik," jawab Minami. Ia menunggu di luar pintu, memberikan ruang pribadi untuk tuan dan puannya.


"Ada apa?" tanya Aira seraya berpangku lutut di depan Ken. Ia menggenggam jemari suaminya sambil tersenyum.


"Tetap disini, jangan keluar!"


"Apa kamu cemburu? Atau kamu takut aku akan berpaling pada pria itu?" Aira sengaja menggoda suaminya yang memasang wajah kayu. Datar, dingin, lagi lagi tanpa ekspresi.


"Sigh," Ken menatap ke arah lain, enggan mengakui tuduhan istrinya.


"Hey, ada apa dengan wajah jelek ini?" Aira bangkit dan berpindah ke belakang kursi roda yang diduduki suaminya. Ia mengalungkan tangannya di depan dada Ken dan mengecup pipi suaminya dari samping.


Cup


"Aku tidak akan berpaling. Hatiku hanya milikmu seorang."


Dan wajah Ken merona sempurna, membuat pria itu kembali berpaling ke arah lain, menghindari tatapan istrinya.


"Hentikan omong kosongmu," ucap Ken sambil melonggarkan dasi yang mengalungi lehernya. Ia merasa sesak atas godaan yang dilontarkan istrinya.

__ADS_1


Cup


Aira mencium belakang telinga Ken yang berhasil membuat bulu kuduk pria itu meremang. Ada desiran halus yang menjalar di sekujur tubuhnya. Seperti sengatan listrik yang membombardir pertahanannya dan menghancurkan image yakuza yang sedari tadi ia tunjukkan.


"Ai-chan, hentikan!" Ken menjauhkan kepalanya dari wajah Aira. Ia lagi-lagi kewalahan mendapat serangan dari istrinya sendiri.


"Jelaskan padaku," bisik Aira, "Kenapa aku tidak boleh ikut pertemuan ini? Bukankah kita sudah sepakat bahwa aku akan bersamamu menemuinya?"


Ken menutup matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Tidak akan mudah menghindari keinginan istrinya ini. Dengan sifat keras kepalanya, dia tidak akan begitu saja menyerah. Terlebih sekarang Ken sedang ada di kursi roda, membuat wanita 26 tahun ini semakin menunjukkan tajinya.


"Dia berbahaya," ucap Ken pada akhirnya.


"Lalu kenapa? Bukankah kamu akan melindungiku?"


"Ai-chan, kamu yang paling tahu bagaimana kondisiku saat ini, apa yang bisa aku lakukan dan apa yang tidak bisa aku lakukan," Ken membawa istrinya ke hadapan, membuatnya duduk di pangkuan.


"Ken?!" pekik Aira, ia berusaha bangun dari duduknya. Takut membuat Ken terluka.


"Tetap seperti ini, jangan bergerak atau aku akan mengirimmu pulang sekarang juga!" ancam Ken pada Aira.


"Dengarkan aku," Ken meraih wajah Aira, membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku bisa merasakan ada hal-hal yang tidak baik dari sorot matanya. Dia menatapmu seolah menemukan mangsa baru. Kenyataan bahwa kamu adalah kelemahanku tidak terelakkan lagi. Aku tidak ingin dia menyasarmu jika keinginannya tidak terpenuhi."


"Kalau begitu, kamu hanya perlu menyetujui kerjasama ini dan aku akan aman," jawab Aira spontan.


"Tidak! Ada banyak pasal perjanjian yang masih ambigu, tidak jelas akan menguntungkan kita atau justru membuat perusahaan ini pailit. Kosuke mengatakannya padaku semalam. Aku masih harus menyelidikinya."


*pailit : bangkrut


"Ulur saja waktunya."


"Mengulur waktu? Seperti ini?"


"Aku serius," jawab Aira lugas, "Kamu hanya perlu menggantungnya. Buat kesepakatan yang baru."


"Tidak semudah itu," sanggah Ken.


"Itu mudah. Biar aku tunjukkan caranya."


Aira beranjak dari pangkuan Ken dan segera keluar dari ruangan 6x8 meter ini. Ia menghampiri Minami dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa Ken dengar. Ia hanya bisa menebak-nebak apa yang sedang istrinya rencanakan.


Detik berikutnya, Aira kembali dengan membawa surat perjanjian yang diajukan Circle K. Nampaknya itu dokumen yang Ken baca semalam.


"Ai-chan,"


"Sstt, tunggu sebentar." Aira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir meminta Ken untuk diam. Wanita itu membaca pasal-pasal dalam perjanjian yang kini ada di tangannya.


Minami masuk membawa sebuah laptop dan segera duduk di sebelah Aira. Ia tampak mempersiapkan komputer jinjing bawaannya dan menunggu titah berikutnya.


Aira menulis di atas kertas yang masih kosong dengan cepat. Ia membuat perjanjian berdasarkan perjanjian yang diajukan oleh Circle K. Ken hanya bisa memicingkan matanya, menantikan apa yang tengah dirancang oleh istrinya. Ini pertama kalinya Ken melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ekspresi wajah Aira yang berkutat dengan dokumen di depannya, sama seperti wajah yang ia tampilkan saat ujian akhir di akademi beberapa bulan yang lalu. Serius dan tak tertandingi.


Tak tak tak


Jemari Minami mulai sibuk menari di atas tuts laptop sambil sesekali menganggukkan kepalanya. Aira menunjukkan dokumen di depannya, melingkarinya dan menunjukkan hal itu pada Minami. Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang ditunjukkan oleh wanita 30 tahun itu. Ia mengerti apa yang diinginkan oleh nonanya.


"Selesai."


Aira tersenyum puas pada hasil yang ia dapatkan. Ia berjalan mendekati Ken dengan senyum terkembang.


"Bacalah. Apa ada yang kurang?"

__ADS_1


Aira menyerahkan dua lembar kertas putih yang kini menampilkan hasil cetak dari dokumen yang ia dan Minami geluti beberapa menit yang lalu.


Ken menerimanya dan membuat matanya membola detik itu juga. Ia tidak percaya pada kemampuan istrinya yang bisa membuat sanggahan dari perjanjian yang diajukan perusahaan kimia itu. Kemampuan istrinya sungguh tak terduga.


"Ai-chan ... " Ken tertegun, ia speechless dengan kenyataan yang kini ada di hadapannya. Aira yang terlihat pendiam dan tidak memiliki kemampuan bisnis, nyatanya telah berhasil memecahkan permasalahan yang Ken anggap rumit ini.


*speechless : kehabisan kata-kata


"Jangan lupa, aku juga punya otak." Aira menunjuk pelipisnya sambil mengerlingkan mata, "Aku belajar banyak saat bekerja di Miracle Indonesia. Meskipun hanya editor periklanan, nyatanya beberapa orang memintaku untuk mengedit pekerjaan mereka sebelum diserahkan pada pimpinan. Dan iklan yang muncul di website tentu tidak boleh melanggar perjanjian atau bahkan merugikan dua perusahaan yang terlibat. Oleh karena itu, aku mengerti beberapa hal seperti ini. Apa kamu terkesan?" tanya Aira percaya diri.


Ken tersenyum mendengar betapa narsisnya Aira. Dia benar-benar tidak menyangka dengan kemampuan yang ditunjukkan istrinya. Entah otaknya yang bebal atau istrinya yang terlalu cerdas.


Semalam Ken begitu frustasi karena Aira mengabaikannya, membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan mencari solusi atas masalah ini. Dan pagi ini, hanya dalam waktu tiga puluh menit, Aira dan Minami berhasil menyelesaikannya.


"Bagaimana?" tanya Aira karena Ken tak kunjung bersuara atas pertanyaannya.


"Minami, siapkan semuanya!" perintah Ken sembari mengembalikan kertas di tangannya pada Aira.


"Baik."


Minami kembali pergi dari ruangan ini guna melaksanakan perintah tuannya.


"Jadi, aku boleh ikut bergabung denganmu?" tanya Aira pada Ken.


Dan di sinilah ia sekarang menantikan kedatangan tamunya yang sedari tadi hanya duduk diam di ruang tunggu. Aira duduk berdampingan dengan Ken di ruang pertemuan.


"Selamat pagi," sapa G begitu bersitatap dengan Ken dan Aira.


"Selamat pagi. Apa yang membawa Tuan G datang begitu awal ke ruangan saya yang sempit ini?" tanya Ken sembari membalas jabat tangan yang diulurkan tamunya.


"Ah, Anda terlalu merendah." G melirik Aira sekilas.


"Silakan duduk." Ucap Ken, tangannya menunjuk kursi yang ada di depannya, terhalang meja berbentuk elips.


"Saya turut prihatin atas peristiwa yang menimpa Anda beberapa hari yang lalu," ucap pria itu menunjukkan rasa simpatinya.


Ken hanya tersenyum menanggapi simpati palsu dari pemilik Circle K ini. Ia harus bersikap setenang mungkin menghadapi rekan bisnisnya kali ini. Sebelumnya, Kosuke melaporkan bahwa pria ini pernah diperiksa pihak berwajib karena memasarkan bahan kimia ilegal. Namun, kasus itu menghilang begitu saja dan tuan G dinyatakan tidak bersalah.


"Mohon maaf Tuan, silahkan sampaikan tujuan Anda dengan jelas. Masih banyak agenda lain yang menunggu kami hari ini," terang Kosuke to the point.


"Ah, baiklah."


Pria itu menyerahkan sebuah kotak pada Ken. Di sebelahnya, seorang wanita cantik membuka tablet di hadapannya dan memberikan benda pipih itu pada atasannya.


"Baiklah, tidak perlu berlama-lama. Saya adalah penanggung jawab Circle K dan ingin membuat kesepakatan dengan Miracle. Saya yakin asisten Anda sudah menyampaikannya. Dan hari ini saya datang membawa sample produk yang ada. Saya yakin jika kita bekerja sama, produk yang dihasilkan pasti lebih baik dari ini. Seperti yang kita tahu, semua wanita tidak bisa berlepas diri dari perawatan wajah dan rambut. Oleh sebab itu, saya ingin mengajak Anda membuat produk perawatan yang belum pernah ada sebelumnya. Pangsa pasar kita adalah remaja berusia 11 tahun hingga wanita di bawah usia 50 tahun. Perihal pembagian keuntungan dan lain-lain, saya sudah menuliskan semuanya dalam kontrak perjanjian yang saya serahkan pada asisten Anda. Jadi, bisakah kita bekerja sama, Tuan Yamazaki Kenzo?"


"Tunggu. Ada beberapa hal yang ingin kami perbaiki terkait dengan perjanjian yang Anda ajukan kemarin," ucap Ken menyela.


Kosuke mendekat dan menyerahkan dokumen yang telah disiapkan oleh Minami.


"Ini ... " pria bernama G itu mengeratkan rahangnya setelah membaca tulisan yang ada di hadapannya. Meskipun tidak banyak yang berubah, tapi pasal-pasal ambigu yang sengaja ia ajukan kini berubah menjadi begitu jelas. Salah satunya pelimpahan tanggung jawab kegagalan produk yang seharusnya ditanggung oleh Miracle, kini berubah ditanggung bersama.


"Anda bisa memikirkannya lebih dulu. Maaf, saya masih ada agenda lain. Tolong buat janji temu lebih dulu sebelum Anda datang," ucap Ken sebelum pergi.


Aira menundukkan kepalanya sebelum mengikuti Ken ke luar ruangan, meninggalkan pria yang kini mengepalkan tangannya dengan erat.


...****************...


See you next day, jangan lupa like, vote dan komen yaa 😉


With love,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2