
Ken hampir saja lepas kendali pagi itu, menyergap istrinya dan ingin menguasainya. Untung saja, dia bisa mengendalikan dirinya di detik-detik akhir dan hanya mengecup keningnya sebelum pergi.
Namun, kegelisahan di hati pria itu nyatanya tak jua hilang. Ia tidak bisa tenang sebelum mendapat jawaban kenapa ia belum bisa menyentuh istrinya. Dia sudah bersabar selama satu bulan ini dan rasa-rasanya tak sanggup menahannya lagi.
"Kapan aku boleh menyentuh istriku?" tanya Ken pada akhirnya. Ia menatap wanita yang telah melahirkan istrinya 26 tahun yang lalu.
Ibu Anita tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan menantunya. Ia tahu betul perasaan pria di hadapannya ini. Bagaimanapun juga ia pernah muda dan menjalin hubungan yang baik dengan ayah Aira. Kehidupan pernikahannya dulu cukup harmonis, meski hanya bertahan beberapa tahun, sebelum badai memporakporandakan biduk rumah tangganya bersama seorang pria bernama Seno Aji.
"Bu," Ken memanggil ibu mertuanya yang tampak termenung.
"Berjanjilah kamu tidak akan pernah meninggalkan putriku apapun yang terjadi," pinta wanita berjilbab merah marun itu. Tatap matanya sayu, penuh harap.
Ken agak terkejut dengan permintaan itu, namun ia menganggukkan kepalanya dengan mantap. Ia tidak akan meninggalkan Aira apapun yang terjadi, itu prinsip yang ia pegang sejak ia menikahi gadis Indonesia itu setahun yang lalu. Apapun yang menjadi miliknya, takkan ia biarkan menjadi milik orang lain.
"Ah, apa pertanyaanmu tadi, Nak?" bu Anita lupa apa yanh tengah mereka bicarakan sebelumnya. Ia terlalu larut dalam luka masa lalunya.
Ken merasa canggung dengan pertanyaan itu. Lidahnya kelu untuk kembali menanyakan hal yang cukup sensitif itu. Ia malu dan tidak percaya diri saat ini untuk mengakui bahwa ia menginginkan Aira.
"Aku menginginkan Aira," ucap Ken. Ia akhirnya membuat pengakuan itu juga.
"Ah, ibu ingat," ucap wanita itu membuat Ken lega. "Jadi, kamu merindukan istrimu?" lanjutnya.
Lagi-lagi Ken hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi pertanyaan ibunya ini. Ken adalah laki-laki normal yang harus dicukupi kebutuhan biologisnya. Ia sudah mencoba bersabar, menahan dirinya selama ini dengan menyibukkan diri di kantor. Tapi entah bagaimana, hasratnya memuncak pagi ini.
"Nak, kamu pernah dengar istilah nifas?" tanya bu Anita lemah lembut. Ia mencoba memberikan pengertian pada menantunya yang seorang mualaf ini.
"Nifas? Aku pernah mendengarnya, tapi tidak begitu memahaminya, Bu," jawab Ken ragu-ragu.
__ADS_1
"Nifas adalah darah yang keluar dari rahim seorang perempuan setelah melahirkan. Perdarahan biasanya akan berlangsung selama empat hingga enam minggu setelah persalinan. Dalam agama Islam, masa nifas ini terjadi dalam kurun waktu kurang lebih 40 hari."
Ken ingat penjelasan yang disampaikan oleh dokter Tsukushi tentang masa pemulihan setelah Aira melahirkan. Dokter itu juga meminta Ken bersabar setidaknya selama lima atau enam minggu untuk tidak menyentuh istrinya. Karena pada masa itu, organ reproduksi wanita masih dalam masa pemulihan.
"Nak Kenzo, kamu tahu? Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat seorang wanita sedang dalam masa nifas antara lain salat dan puasa. Selain itu, dia juga tidak boleh membaca Al Qur'an, berdiam diri di masjid, dan dilarang berhubungan badan."
Ken mendengarkan dengan seksama penjelasan dari wanita paruh baya di hadapannya. Ia pernah mendengar hal-hal itu sekilas, tapi belum memahaminya dengan jelas.
"Perempuan yang mengalami nifas, maka ia diharamkan untuk melakukan ibadah salat dan tidak perlu mengganti salat yang ditinggalkannya. Tapi, jika darah yang keluar sudah berhenti maka dia harus segera mandi wajib, lantas menunaikan salat di waktu itu. Kamu sebagai suaminya juga wajib tahu hal itu dan mengingatkan istrimu jika masa nifasnya telah berakhir."
Ken menundukkan kepalanya, merasa malu karena belum bisa menjadi suami yang baik seperti yang bu Anita harapkan.
"Aira juga tidak boleh menjalankan puasa sampai ia suci. Nantinya setelah suci, jika ia meninggalkan puasa wajib, maka ia harus mengganti puasanya sebanyak hari yang ditinggalkan. Jadi, bukan berarti istrimu itu terbebas dari kewajibannya yang satu ini. Tapi karena dia tidak melewati bulan Ramadan, jadi dia tidak punya hutang puasa. Ibu mengatakan ini sebagai pengingat untukmu, mungkin di tahun-tahun yang akan datang, bisa saja istrimu melahirkan saat bulan Ramadan."
Ken tersenyum kecut, merasa begitu bodoh karena ada begitu banyak hal yang belum ia ketahui tentang Islam. Selama ini terlalu sibuk mengurus bisnis sampai tidak sempat mempelajari ilmu agama. Padahal ilmu itu yang seharusnya menjadi petunjuk dalam hidupnya.
Ken mengembuskan napas beratnya, menyadari begitu kompleksnya ajaran agama yang kini dianutnya. Sebelumnya, ia tidak menyangka akan menjadi seorang muslim. Ia menjadi mualaf hanya untuk menikahi Aira, tanpa tahu sama sekali seperti apa Islam itu. Dan kini ia bertekad untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi, memperlajari hukum-hukum Islam, demi menjadi suami dan ayah yang layak untuk Aira dan ketiga buah cinta mereka.
"Larangan terakhir yang ibu sebutkan di awal yakni wanita nifas tidak diizinkan berhubungan badan. Pada dasarnya larangan ini tidak jauh berbeda dengan perempuan yang mengalami haid. Tidak diperkenankan istimta’ (berhubungan s*ks dan bersenang-senang) antara pusar dan lutut seorang yang sedang haid dan nifas. Larangan ini berlaku sampai masa menstruasi atau nifas berakhir."
"Ibu tidak tahu apa alasan medis kenapa hal itu dilarang. Tapi ibu yakin itu juga untuk kebaikan perempuan itu sendiri," pungkas wanita itu sambil tersenyum. "Jadi, bisakah kamu bersabar sedikit lagi?"
Ken mengangguk pasrah. Ia benar-benar tidak boleh lepas kendali demi kebaikan Aira. Ia tidak ingin istrinya berada dalam bahaya.
"Kalau sekadar peluk dan cium, ibu rasa itu tidak masalah. Tapi hanya sebatas itu saja, ya?"
Ken tersenyum mendengar izin sekaligus peringatan yang disampaikan oleh ibu mertuanya. Wanita ini menatapnya dengan pandangan keibuan, auranya terasa damai dan menenangkan. Bahkan Ken belum pernah melihat nyonya Sumari, ibu kandungnya sendiri, menatapnya dengan pandangan selembut ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." Ken mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya. Ia menunjukkan rasa hormatnya, memperlakukannya lebih mulia dari sebelumnya. Ya, Ken memang tidak terlalu sering berbincang dengan ibu mertuanya ini. Mereka hanya sesekali bertegur sapa, namun tak pernah bicara empat mata dari hati ke hati seperti sekarang.
"Sama-sama, Nak. Ibu senang karena kamu begitu mencintai Khumaira. Tadinya ibu sempat khawatir karena pernikahan kalian yang terkesan mendadak dan dipaksakan. Ibu takut dia akan mengalami hal yang buruk. Pernikahanku dan ayah Khumaira yang terkesan harmonis di awal, kami saling mencintai satu sama lain, akhirnya harus berpisah juga. Bagaimana dengan pernikahan kalian yang... kamu tahu dengan jelas seperti apa keadaannya."
"Itu semua salahku, Bu. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putrimu dan melakukan begitu banyak kesalahan di masa lalu. Tapi, aku tidak akan melakukan hal-hal bodoh itu lagi. Aku akan membahagiakan Aira sepanjang sisa hidupku. Aku akan menghukum diriku sendiri jika sampai membuatnya menangis. Aku janji, Bu," ucap Ken berapi-api, menggenggam erat jemari ibu mertuanya.
"Aku percaya padamu," tukas bu Anita sembari mengelus puncak kepala menantunya. "Sekarang temui Khumaira, kamu boleh memeluknya, boleh menciumnya. Tapi ingat, jangan melewati batasmu, apalagi sampai membuatnya ketakutan."
Ken agak terhenyak mendengar kalimat terakhir yang wanita ini ucapkan.
'Apa ibu tahu apa yang terjadi sebelumnya?' batin Ken sangsi.
"Pergilah," usirnya halus. Ia menyelesaikan tugasnya untuk memberikan pengertian pada menantunya.
Ken tersenyum. Ia menaiki anak tangga dengan semangat, kembali ke kamar tempat istrinya berada, ingin memeluknya dan meminta maaf dengan tulus. Tadi ia pergi begitu saja tanpa mempedulikan kondisi psikis istrinya yang sepertinya cukup terguncang dengan kelakuannya yang hampir dikuasai monster.
Bu Anita hanya tersenyum menatap punggung lebar Ken yang menghilang di ujung tangga. Ia menyeruput teh hijau di depannya, menikmati pagi di musim semi yang menenangkan ini. Ia tenang karena melihat Ken begitu mencintai Aira.
"Aku juga pernah muda," lirihnya pada diri sendiri.
...****************...
Love dah sama ibunya Aira 😍😘😘
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1