
Ken menggila dengan mengambil haknya sebagai suami. Ia menyerang Aira hampir sehari semalam membuat gadis mungil itu kelelahan dan pingsan. Yoshiro membawanya pergi setelah menghajar Ken sampai babak belur.
Pria bersurai putih itu membawa Aira ke penthouse/apartemen mewah miliknya di wilayah Ikebukuro bagian timur yang dikelilingi department store, pertokoan, restoran, dan hotel. Sedangkan di area pintu barat, banyak tempat karaoke, izakaya (kedai minum), museum seni, dan kuil.
Yoshiro membaringkan Aira dengan lembut di kamar tamu dan membiarkan seorang dokter wanita memeriksanya. Ia menghubungi sahabatnya itu beberapa saat yang lalu dan memintanya datang ke apartemen sekarang juga.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya dokter itu saat melihat ada banyak luka kemerahan di sekujur tubuh wanita yang hanya terbungkus selimut putih ini.
Yoshiro tak tega melihatnya dan memilih berjalan ke arah jendela kaca yang menampilkan keadaan kota ini dengan segala kesibukan penghuninya di pagi hari.
"Ken menggila." jawabnya dengan suara tercekat di tenggorokan. Ia tidak bisa membayangkan apa saja yang telah Ken lakukan pada istrinya sendiri sampai membuatnya pingsan.
"Ken? Yamazaki Kenzo?" wanita dengan jubah putihnya itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Aira. Wanita di depannya ini terbaring tak berdaya. Gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya. Bibirnya yang pucat semakin terlihat mengenaskan.
Ya, ia pernah melihat gadis ini beberapa bulan yang lalu saat pesta yang digelar oleh keluarga Yamazaki. Ia hadir disana karena ayahnya mengenal Tsuguri-sama dengan baik.
'Gadis yang malang.' lirihnya dalam hati.
Minami masuk dan membawa pakaian milik Aira. Ia berdiri di belakang dokter yang tengah memeriksa keadaan nona-nya dengan seksama. Dokter itu menautkan alisnya dan kembali memeriksa nona-nya sekali lagi seolah tak yakin. Minami memperhatikannya dalam diam.
"Bawa ia ke rumah sakit." pinta dokter muda itu.
"Apa ada sesuatu yang membahayakan nyawanya?" Yoshiro berbalik dan segera menghampiri wanita berambut sebahu itu.
Minami memakaikan dress berwarna biru di tubuh nona-nya dengan hati-hati sesaat setelah dokter yang memeriksanya beranjak. Minami mengangkat tangan Aira dengan lembut, tidak ingin menyakiti wanita yang sudah membuat tuannya jatuh cinta. Ya, jatuh cinta sampai menggila. Gerakan Minami terhenti saat mendengar penuturan dokter yang memeriksa Aira beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak yakin, tapi mungkin dia hamil." jawabnya meragu.
Deg
Seperti tersambar petir di siang hari. Yoshiro membulatkan matanya. Dalam hati kecil, ia merasa senang mendengar berita bahagia itu. Tapi di sisi lain, ia takut Aira akan semakin depresi jika ia benar-benar hamil.
'Setelah apa yang Ken lakukan pada Aira terakhir kali, mungkinkah ia akan menerimanya? Lalu bagaimana reaksi Ken saat mengetahui kehamilan istrinya? Apa ia akan menjerat Aira dan tidak akan mengizinkannya pergi sejengkal pun darinya?' Yoshiro sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Dia tidak boleh mengetahui kehamilannya." ucap Yoshiro dengan menggertakkan giginya. Ia marah mengingat betapa bodohnya Ken yang telah menyakiti fisik dan batin Aira begitu parahnya.
"Apa maksudmu?"
"Rawat ia disini sampai sembuh. Setelahnya aku akan mengantarnya kembali ke Indonesia."
__ADS_1
"Kamu ingin menyembunyikan ini dari mereka?"
Yoshiro menceritakan kejadian yang sebenarnya, termasuk pil penyubur rahim yang dianggap sebagai obat pencegah kehamilan yang nyonya Sumari berikan.
"Meskipun bukan psikolog tapi sebagai seorang dokter dan seorang wanita, kamu pasti tahu seperti apa perasaan Aira saat ini?"
Wanita itu mengangguk, "Aku akan merawatnya."
Ken mengangguk dan beralih pada Minami di belakangnya, "Aku percayakan dia padamu."
Minami mengangguk mantap dan mengerti keadaannya. Ia akan menjaga Aira dengan segenap kekuatannya dan mencegah agar Aira tak mengetahui kebenarannya.
"Tapi aku harus memastikannya, apa dia benar-benar hamil atau itu hanya dugaanmu saja, Kaori."
"Aku akan memeriksanya saat ia siuman." janji wanita yang dipanggil Kaori itu.
*******
Ken masuk ke ruang kerjanya dan membuka laci paling atas tempat ia menyimpan foto-foto istrinya. Sebenarnya ia sendiri masih bimbang dengan keputusannya, apakah harus melepasnya atau tetap mempertahankan Aira di sisinya?
Perlahan ia membuka album foto yang berisi potret Aira yang pengawalnya ambil secara diam-diam. Ya, Ken terobsesi pada istrinya itu dan tak pernah melewatkan satupun momen saat dia ada di akademi. Memang saat itu ia tak ada di sisi Aira, tapi ia bisa melihat potret Aira dalam ponselnya yang dikirim pengawal setiap 3 atau 4 jam.
Ken mengelus potret Aira yang tengah membidik target, tampak Yu berdiri tak jauh darinya. Ah, sepertinya itu pertemuan pertama mereka.
Ken menangis sesenggukan melihat berbagai potret istrinya yang tak pernah tersenyum saat di akademi. Wajahnya terlihat tangguh seolah tak ada kebahagiaan sedikit pun di wajahnya. Ya, dia tidak pernah membuat Aira bahagia.
Wanitanya itu bisa menghadapi semua bahaya yang akan menyerangnya, kecuali satu orang. Pendapat Aira benar bahwa orang yang paling berbahaya untuk Aira adalah Ken. Tak ada orang yang bisa mencegah kehendaknya jika jiwa monsternya muncul. Mungkin memang ia harus merelakan Aira.
Sudah lebih dari 2 jam Ken menimang-nimang keputusan yang harus ia ambil. Ia harus memutuskannya sekarang juga. Ia ingin Aira bahagia.
Dengan langkah tertatih, Ken menghampiri meja kerjanya. Ia memasukkan pin yang ia atur untuk membuka laci paling bawah tempat ia menyimpan surat yang Aira tanda tangani beberapa hari yang lalu. Mata Ken membulat sempurna saat ia tidak menemukan apa yang dicarinya.
"Dimana suratnya?" Ken mengeluarkan semua dokumen yang ada di laci dan mencarinya dengan panik. Ia membuka laci yang lain dan mulai mengobrak-abrik semua file yang ada di filling cabinet. Nihil. Stopmap biru itu hilang.
Dengan tergesa ia menyalakan komputer di mejanya dan melihat rekaman CCTV dari seluruh penjuru apartemennya. Ia melihat rekaman sejak hari pertama ia menyimpannya di sana sampai hari ini. Tidak ada seorangpun yang masuk kesana membuat Ken depresi dan membanting monitor yang ada di depannya.
Seseorang meretas rekaman CCTVnya dan mencuri surat perceraian yang belum ia tanda tangani. Hanya ada satu orang yang bisa melakukannya. Orang itu.
Ken bergegas pergi setelah mengganti pakaian dengan tergesa. Tidak ada waktu lagi, ia harus mengambil dokumen itu sebagai permintaan maafnya pada Aira. Ya, dia akan menceraikan Aira jika itu bisa membuatnya bahagia.
__ADS_1
Ken bergegas naik lift menuju lantai 20 tempat dimana penthouse Yoshiro berada. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat tak ingin membuang waktunya sedetik pun.
Tepat saat itu Yoshiro keluar dengan seorang wanita yang memakai jas warna putih, sepertinya ia seorang dokter. Di belakangnya, Kosuke mengikuti keduanya dalam diam.
"Dimana kau sembunyikan dokumennya?" Ken menarik krah kemeja Yoshiro dan menekan tubuh seniornya itu ke dinding.
Yoshiro menghempas cengkeraman Ken dan memukulnya dengan brutal. Menambah luka lebam di wajah pucat itu.
"Hentikan !" ucap Kaori menengahi keduanya yang siap adu tinju detik berikutnya.
Yoshiro merapikan pakaiannya sambil membuang muka tak ingin menatap adik kelasnya saat di akademi dulu.
"Kembalikan surat itu padaku!" Ken menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak ingin berlama-lama melihat seniornya itu.
"Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Cepat pergi dari sini sebelum aku membunuhmu." balas Yoshiro tak kalah mengerikan.
"Tidak masalah jika kamu tidak ingin mengembalikannya. Aku bisa minta Aira menandatanganinya lagi." Ken menerobos Yoshiro menuju pintu masuk penthouse ini.
Tapi tanpa ia duga, Kosuke menghadangnya, "Anda tidak diizinkan masuk Tuan." ucapnya dengan rahang menegang terlihat dari urat lehernya yang menonjol.
"Kamu ingin melawanku?" Ken menampilkan senyum angkuhnya saat menyadari tangan kanannya sekarang memihak pada Yoshiro.
"Maaf atas kelancangan saya, ini demi kebaikan Anda." Kosuke tetap kokoh dengan pendiriannya. Ia takut Aira akan semakin depresi dan itu akan membahayakan nyawa janin dalam kandungannya.
Ya, Aira sadar 1 jam yang lalu dan Kaori berhasil mengambil sampel darah dan urine dengan bantuan Minami. Dan hasil tes urine menyatakan Aira positif hamil. Hasil analisa laboratorium yang memeriksa sampel darah Aira, diperkirakan usia kehamilannya sekitar 4 minggu dilihat dari banyaknya hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG). Hormon ini membantu menjaga dinding rahim dan merupakan hormon yang diukur dalam tes kehamilan pada umumnya.
Ken menyingkirkan asisten pribadinya dengan kasar dan tetap bersikeras ingin masuk ke apartemen Yoshiro sampai Kaori menahan lengannya.
"Dia baru saja istirahat. Kamu akan membuatnya ketakutan jika memaksakan diri untuk masuk. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita dengan depresi berat, mereka bahkan tidak takut kehilangan nyawanya," Kaori melepas cengkeramannya, "Jangan muncul di depannya sekarang, ia butuh waktu untuk sendiri." jelasnya dengan lembut.
"Aku tidak membawa apapun dari rumahmu, kecuali Aira." ucap Yoshiro menatap Ken yang terpaku di depannya.
Ken berbalik dan pergi meninggalkan ketiga orang yang membuatnya kesal sejadi-jadinya. Tapi dalam hatinya ia percaya Yoshiro tidak mengambil surat itu. Kemungkinan lainnya adalah kakek. Tapi terlalu berbahaya jika ia bertanya langsung pada pria tua itu. Ia takut akan membuat kakeknya terguncang dan penyakit jantungnya bisa kambuh jika mendengar cucu menantu kesayangannya itu akan dia ceraikan.
"Baka !!" sesalnya sambil memukul setir yang ada di depannya dan melajukan mobil sportnya menembus jalanan kota yang sedikit lengang.
(Bodoh !!)
*******
__ADS_1
Enjoy it, see you next episode 🤗
Hanazawaeaszy ^^