Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Lencana Rajawali


__ADS_3

Aira ada di taman belakang bersama Aya. Ia mengingat percakapannya dengan Ken beberapa jam yang lalu, tentang identitasnya sebagai salah satu agen intelijen yang tergabung dalam satuan Pasukan Khusus Rajawali.


"Burung rajawali adalah burung yang ikonik. Dengan segala kelebihannya, ia sering di jadikan 'brand image' sebuah produk." Terdengar suara berat, membuat Aira tersadar dari lamunannya. Ia menolehkan kepala ke kiri, demi melihat siapa yang datang.


"Kakek," lirih Aira, berdiri sambil mendekat putrinya ke dalam pelukan. Ia menundukkan kepalanya, memberi hormat pada pria pemilik kekuasaan tertinggi di rumah ini.


"Apa yang kamu pikirkan sampai tidak menyadari putrimu yang kembali terlelap?" tanya kakek Yamazaki sembari mengelus kepala bayi merah yang ada di dekapan Aira.


"Ah? Oh.." Aira tergagap, menatap putrinya detik itu juga. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, membuatnya tidak sadar kapan Aya memejamkan matanya.


"Duduklah."


Aira duduk di bangku besi yang ada di bawah pohon sakura, kakek mengisi tempat kosong di sisi yang lainnya. Satu dua kelopak bunganya mulai gugur, jatuh bersama hembusan angin di pagi menjelang siang ini.


"Jadi kamu sudah mengaku pada suamimu?" tanya kakek to the point.


"Maaf?" Aira tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka ini.


"Kamu mungkin bisa membodohi semua orang, termasuk suamimu. Tapi kamu tidak bisa menyembunyikan fakta itu dari pria tua sepertiku. Aku bahkan sudah mengetahuinya sebelum kamu menikah dengan Kenzo"


Deg!


Mata Aira membola sepersekian detik, sebelum berusaha menetralkan ekspresinya. Ia tersenyum hambar, tidak menyangka akan membicarakan topik yang cukup sensitif itu. Sejauh ini, selain teman-temannya sesama agen khusus, tidak ada yang tahu kemampuannya. Bahkan ibunya saja tidak Aira beri tahu tentang identitas rahasianya ini.


"Rajawali memang dikenal sebagai 'The King of Bird'. Ketangguhannya untuk terbang, membuat burung ini menjadi penguasa langit. Matanya mempunyai kemampuan visualnya yang tajam, bisa melihat pergerakan mangsanya meski berjarak ratusan atau bahkan ribuan meter jauhnya." Kakek menatap langit biru, bernarasi sendiri tanpa mempedulikan raut wajah tegang Aira.


"Dia salah satu pemangsa dan pendeteksi yang akurat selain elang dan serigala. Di antara berbagai kelebihannya, rajawali di nilai memiliki sifat yang peka namun tenang membaca situasi, berbeda dari dua hewan lainnya yang cenderung terburu-buru.


"Burung ini memiliki aerodinamika yang sempurna. Dengan sayap yang lebih besar dari tubuhnya, rajawali memiliki kestabilan saat melayang di udara. Karena kerja sayap lebih banyak untuk melayang di bandingkan untuk mengepak-ngepak, maka rajawali tidak pernah lelah saat berada di langit. Bahkan dia bisa menghindar dari guncangan dan mampu terbang dalam keadaan badai sekalipun. Untuk dapat terbang tinggi dan melayang-layang di udara, rajawali harus sabar menunggu hawa panas. Seperti seorang agen khusus yang hanya akan bergerak saat ia sudah terdesak. Kamu pasti lebih tahu tentang hal itu." Kakek menatap Aira tepat di matanya.


Swushh


Semilir angin membuat ujung jilbab Aira beterbangan, membuat pemiliknya sedikit tergeragap menangkapnya. Ia merasa canggung mendengar narasi yang kakek jabarkan. Wanita ini tidak menyangka ada orang yang bisa mengendus identitasnya, bahkan memahami karakternya begitu dalam.


Aira segera menundukkan kepala, berusaha tetap tenang di depan yakuza berumur tujuh puluh tahun lebih ini. Ia memejamkan matanya, mencoba meredakan gemuruh di hati yang menunjukkan seberapa besar rasa keterkejutannya. Hal itu tak lepas dari perhatian kakek Yamazaki.


"Bukankah itu semua sesuai dengan sifat seseorang? Gadis muda pemimpin Pasukan Khusus Rajawali yang berhasil meretas sistem keamanan puluhan negara di dunia kala itu, membuat mereka panik atas gangguan monster yang tak terlihat. Seperti filosofi burung rajawali tadi, dia akan mengawasi mangsanya dari kejauhan sebelum mencabik-cabik mereka. Entah itu tikus, ular, atau hewan yang begitu kecil sekalipun, akan ia lahap tak bersisa.


"Dan tidak ada yang menyangka bahwa unit paling berbahaya itu dipimpin oleh seorang gadis muda berlatar belakang keluarga yang broken home. Kamulah si Monster Hacker itu. Benar 'kan?"

__ADS_1


Aira mengembuskan napas beratnya. Ia tidak bisa mengelak lagi dari sangkaan pria di sampingnya ini. Tidak ada gunanya lagi menutupi identitasnya. Topengnya terungkap, Aira hanya bisa mengangguk tanpa suara. Ia mengakui tuduhan kakek barusan. Dia memang ditunjuk menjadi pemimpin agen khusus itu selama satu periode, yakni satu tahun jabatan.


"Benar. Itulah saya," jawab Aira formal.


"Tidak perlu berbicara formal padaku." Kakek terkekeh, merasa geli mendengar respon Aira yang seolah tiba-tiba berubah menjadi sosok yang lain, berbeda sama sekali dengan wanita muda seusianya. Sorot matanya yang tegas dan dalam, menunjukkan ia memiliki kemantapan dan percaya diri yang tinggi.


"Lihat wajahmu. Itu ekspresi yang sama seperti yang kamu tampilkan saat kita pertama kali bertemu di aula, setahun yang lalu. Bahkan para tetua yang lain tidak ada satupun yang berani melihatku dengan tatapan seperti itu," sindir kakek.


"Maaf," ucap Aira, menunduk dalam.


"Kamu melupakan sesuatu." Kakek Yamazaki merogoh saku kimono yang dipakainya.


"Ya?" tanya Aira.



"Kenapa kamu menolaknya saat itu? Ini milikmu." Kakek menyodorkan sebuah lencana bergambar burung rajawali ekor putih. Benda itu berhasil membuat mata Aira membola sempurna. Jantungnya berdegup kencang, seolah siap lari dari tempatnya.


Hap


Aira menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan, menatap lencana itu dan wajah kakek bergantian. Ia tidak menyangka akan melihat benda mungil ini lagi. Benda yang ia tolak beberapa tahun lalu, sebagai penghargaan atas dedikasinya mengungkap kasus besar yang berkaitan dengan penggelapan dana seorang pengusaha di Indonesia.


'Darimana kakek bisa mendapat lencana ini? Beliau tidak mungkin beliau memalsukkannya 'kan?' batin Aira bertanya-tanya.


"Ini asli. Emas 24 karat. Langsung dari tempat kelahiranmu, Indonesia." Kakek seolah bisa mendengar suara hati Aira. "Terimalah. Ini milikmu."


Aira mengambil lencana itu dan menggenggamnya dengan erat. Matanya berkaca-kaca mengingat semua kenangan saat ia masih bertugas meretas jaringan komputer berbagai negara, beberapa tahun yang lalu.


"Darimana kakek mendapatkannya?" tanya Aira. Ia penasaran bagaimana bisa benda langka ini sampai di tangan kakek Yamazaki. Hanya orang-orang tertentu di Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki akses untuk menangani lencana emas ini.


Pria bermarga Yamazaki itu hanya tersenyum tipis, mengelus puncak kepala cucu menantunya. Hal itu membuat ibu tiga orang anak ini mematung di tempatnya. Ini pertama kalinya ia melihat kakek tersenyum. Dan ini juga pertama kalinya, pria tua ini mengelus puncak kepalanya.


"Terima kasih," lirih Aira sambil menundukkan kepala, menahan rasa haru di dalam hatinya.


Keduanya diam cukup lama, membiarkan cicit burung kecil yang hinggap di ranting, mengisi suara taman belakang ini. Hembusan angin berpadu dengan keindahan bunga sakura, perpaduan yang sempurna. Inilah musim semi terindah yang pernah ada.


"Kakek, bolehkah aku bertanya satu hal?"


"Umm." Tangan kakek terangkat, mempersilakan cucu menantunya untuk bertanya.

__ADS_1


"Sejak kapan kakek tahu identitasku? Bahkan Ken saja tidak tahu." Aira bertanya dengan hati-hati.


Lagi-lagi kakek Yamazaki tersenyum. Sebuah kelopak bunga sakura mendarat di punggung tangannya yang mulai tampak keriput.


"Apa kamu menyamakanku dengan anak bodoh itu?" Sindiran kakek berhasil membuat Aira tersenyum.


"Kobayashi-san, bawa kemari!" titah kakek pada pria yang selalu setia mengikutinya. Sakura ikut berjalan di belakangnya.


"Saya disini, Tuan." Tuan Kobayashi menundukkan kepala di sisi kiri kakek Yamazaki.


"Nyonya, izinkan saya membawa nona Ayame kembali ke kamar," pinta Sakura.


"Hati-hati," pesan Aira pada salah satu orang kepercayaan Ken ini. Ia kembali duduk sambil menatap punggung Sakura yang mulai menjauh.


"Berikan benda itu padanya! Anak itu semakin bodoh akhir-akhir ini. Tanpa bantuan istrinya, dia bisa mati disana." Kakek berucap dengan nada meremehkan.


"Baik."


Tuan Kobayashi menyerahkan sebuah koper kecil berwarna hitam pada Aira, membuat wanita itu mengerutkan keningnya. Pernyataan sarkas dari kakek semakin membuatnya bertanya-tanya, apa yang beliau rencanakan?


"Bukalah!" titah kakek detik berikutnya.


Klek klek


Aira membuka kunci di sebelah kanan kiri pegangan koper kecil itu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia bisa menduga apa yang ada di dalam sana. Mungkinkah kakek akan memintanya membantu Ken dalam misi kali ini?


"Ini?!" Aira menatap kakek Yamazaki dan tuan Kobayashi bergantian, tidak percaya dengan benda di hadapannya.


"Terbanglah seperti Rajawali. Tunjukkan kemampuanmu!"


...****************...


Amazing Aira 💃🎉🎉


Siap-siap gelud nih 😂😂 (Dan Author siap-siap guling-guling jungkir balik mikir gimana adegan actionnya) 😭😭😭😖😖


Dah lah. See you n baibai 😘


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2