
Shun harus merelakan acara bulan madunya bersama Kaori demi tugas yang Ken berikan, yakni memburu tuan Harada di Thailand. Awalnya dia menolak misi ini, tapi berkat bujukan Sang Istri, Shun terpaksa menyanggupinya. Agaknya benar kata orang zaman dulu, bahwa sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa justru akan membawa petaka.
Dan itulah yang terjadi pada pasutri yang baru menikah dua minggu yang lalu ini. Petaka menimpa keduanya tanpa bisa dicegah. Padahal biasanya Shun selalu hati-hati dan waspada. Dia akan mengulik semua informasi mengenai tempat yang akan dikunjunginya. Namun, dalam misi ini dia tidak melakukannya sama sekali. Entah dia yang terlalu percaya diri atau memang terlalu bodoh kali ini, sampai membuat Kaori diculik oleh para musuhnya. Shun mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan Kaori, termasuk melibatkan aparat kepolisian setempat dan menggunakan bantuan anjing pelacak.
Kali ini agaknya dewi fortuna sedang tidak berada di pihaknya. Meskipun berhasil menemukan jejak Kaori, tapi dia satu langkah lebih lambat dibandingkan para penculik itu. Shun berhasil menemukan jejak mobil yang membawa kabur Kaori, yaitu di sebuah lokasi konstruksi yang bersebelahan dengan gudang pakaian bekas.
Dalam pengejarannya, Shun berhasil melumpuhkan satu penculik dengan memberikan hadiah sebuah timah panas tepat di kepala, membuat orang itu meregang nyawa detik berikutnya. Tapi yang terjadi berikutnya sama sekali di luar dugaannya. Pengemudi mobil tampaknya lengah, membuat kendaraan yang dibawanya keluar jalur dan pindah ke sisi jalan yang lain. Dari arah berlawanan, ada sebuah truk kontainer yang melaju kencang dan tabrakan tak terhindarkan.
Mobil box yang membawa Kaori terpelanting cukup jauh, menabrak portal pembatas jembatan yang terbuat dari besi. Mobil itu terjun ke sungai di bawah sana, membuat Shun terbelalak. Pria 29 tahun itu berlari ke tepi jembatan dan langsung terjun detik itu juga untuk menyelamatkan istrinya.
BYURR
Shun membuka matanya lebar-lebar di dalam air. Keadaan di bawah sana cukup gelap, membuatnya harus bekerja ekstra demi menemukan mobil tempat istrinya terkunci.
DUK DUK DUKK !!!
Di saat yang bersamaan, Kaori berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, mencegah stok oksigen di dalam paru-parunya agar tidak dulu keluar. Dengan sisa tenaganya, Kaori berusaha membuka pintu di hadapannya. Tapi itu sia-sia saja. Pintu besi ini terkunci dari luar, membuatnya tak mungkin bisa dibuka dari dalam.
DUK DUK DUK !!!
Kaori mulai paknik. Ia tahu bahwa stok oksigen di dalam paru-parunya semakin menipis. Dia harus keluar dari sini secepatnya.
Di luar box, Shun semakin mendekat ke arah mobil yang sebentar lagi sampai di dasar sungai. Ia menggapai pintu dan berusaha membukanya, namun tidak berhasil karena terganjal dua buah gembok. Dengan menahan napas, ia mencari sesuatu yang bisa membukanya. Sebuah batu ia lihat tak jauh dari mobil ini.
Tak tak tak
Shun mencoba membuka gembok itu dengan batu di tangannya. Dengan sekuat tenaga, ia menghantam tautan besi di depannya dan tidak peduli pada air yang tak sengaja masuk melalui hidungnya.
CTAKK
Gembok besi itu terlepas setelah dipukul beberapa kali. Kaori yang melihat pintu berhasil terbuka, segera keluar detik itu juga. Dokter cantik itu menghambur memeluk suaminya sebelum naik ke permukaan.
"HUAHH!!" teriak Shun saat kepalanya muncul di atas air. Ia memeluk Kaori dengan erat, mengamankan wanitanya yang kini terlihat pucat dan lemah. Terlambat sedikit saja, mungkin wanita kepala tiga ini sudah pingsan di dalam sana.
Tim penyelamat dengan rompi warna oranye segera mendekat ke arah pasangan suami istri ini. Mereka dengan sigap menyelamatkan Kaori, mengangkatnya lebih dulu. Shun membantu istrinya naik, sebelum menaikkan tubuhnya sendiri ke atas perahu karet warna hitam ini. Seorang petugas wanita memberikan handuk dan minuman hangat untuk Kaori. Ia memastikan agar wanita ini tidak mengalami hipotermia. Pertolongan pertama sangat penting baginya sekarang.
Ketika seseorang tenggelam dan tidak segera mendapat pertolongan, maka tubuhnya akan mati lemas karena kehabisan oksigen. Kebanyakan kasus orang yang tenggelam, mulut dan hidungnya akan tertutup air. Pada saat seseorang yang tenggelam berusaha mencari udara, air kemungkinan akan mulai masuk dan memicu reaksi laryngospasm. Nah, reaksi inilah yang membuat pita suara mengencang dan menutup saluran udara demi melindungi paru-paru. Namun efek negatifnya adalah membuat korban tenggelam itu semakin sulit untuk berteriak minta tolong.
Seringkali banyak orang salah beranggapan tentang orang tenggelam. Mereka mengira orang tenggelam akan langsung meninggal. Padahal tidak. Saat tubuh ada di dalam air, entah itu karena sengaja berenang atau tenggelam, suplai oksigen pasti akan berkurang. Itu sebabnya, otak akan bekerja lebih cepat, yakni dengan menahan napas, membuat hidung atau mulut untuk berhenti mengembuskan udara keluar.
Dan kesadaran seseorang hilang saat terjadinya hipoksia, yaitu tidak adanya cukup oksigen dalam jaringan untuk mempertahankan fungsi tubuh. Pada saat itu, tubuh masuk fase relaksasi sehingga air bisa mengisi paru-paru. Jika lebih dari sepuluh menit tidak mendapat pertolongan, maka bukan hanya organ pernapasannya yang terganggu, bahkan otaknya pun akan ikut rusak.
Untunglah Shun bergerak dengan cepat. Dia melakukan apa saja untuk menyelamatkan istrinya, meski harus mengabaikan nyawanya sendiri. Dia terjun dari atas jembatan, sekitar 15 meter dari permukaan air, demi Kaori.
Tik
Sebulir air mata luruh begitu saja saat Kaori mengamati wajah suaminya. Seluruh tubuhnya basah dan dia terlihat begitu lelah. Ini semua salahnya yang tidak waspada dan begitu gampang percaya pada orang yang baru ditemuinya. Tanpa curiga sedikit pun, dia menurut saat wanita di panti pijat itu menyuruhnya berganti pakaian, membuatnya kehilangan senjata api mungil yang tersimpan di sakunya.
"Kenapa menangis?" Shun mendekat ke arah Kaori, duduk di samping istrinya tanpa jarak sama sekali. Tubuh keduanya menyatu, atau lebih tepatnya tangan Shun yang menarik pinggang istrinya untuk mendekat. "Ada yang sakit?"
Bukannya menjawab, air mata Kaori justru semakin deras mengaliri pipinya. Dia begitu tersentuh dengan perlakuan lembut Shun. Pria itu jelas-jelas menunjukkan kasih sayangnya yang tak terkira. Bahu dokter cantik itu bahkan sampai berguncang, menahan isak tangis yang membuat dadanya terasa sesak. Pria sebaik Shun, justru harus berjodoh dengannya, seorang wanita pembawa sial. Kaori merasa sebutan tuan Harada itu ada benarnya. Buktinya, Shun yang tak pernah terkalahkan, justru bisa menjadi kacau seperti sekarang. Dan semua ini karena keberadaan Kaori sebagai pendamping hidupnya.
__ADS_1
Berbagai pemikiran buruk segera menghampiri Kaori, membuatnya menundukkan kepala dalam-dalam. Dia merasa tidak pantas bersanding bersama pria sempurna ini. Ada begitu banyak wanita di luar sana yang lebih baik darinya. Kenapa Shun justru menikah dengannya?
Puk puk puk
Shun memeluk Kaori erat-erat sambil menepuk-nepuk punggungnya yang tertutup handuk. Dia tahu emosi istrinya masih labil. Wanita itu hampir saja kehilangan nyawanya beberapa menit yang lalu. Siapa yang tidak panik, gelisah, takut, dan depresi ketika berada di situasi yang sama sepertinya? Dan tangisan yang Kaori tunjukkan, Shun anggap sebagai sesuatu yang wajar. Dia tidak tahu alasan sebenarnya Kaori menangis.
Perahu karet yang mereka naiki sampai di tepi sungai, membuat beberapa petugas mendekat. Mereka segera mengganti handuk Kaori yang basah dan memberikan yang baru untuknya.
Seorang pria dengan earpiece di telinganya segera mendekat. Dia adalah salah satu pengawal bayangan yang Ken utus untuk membantu Shun mengurus misi ini. Pakaian hitam yang dikenakannya, terlihat mengilat terkena biasa cahaya lampu yang dinyalakan oleh regu penyelamat.
"Dimana mobilnya?" tanya Shun tanpa ekspresi.
"Sebelah sini, Tuan."
Shun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh rekannya ini. Sebuah mobil hitam terparkir beberapa meter darinya, siap membawa mereka berdua kemana saja.
"Antarkan kami kembali ke hotel!" titah Shun saat ia dan Kaori sudah duduk manis di kursi belakang.
"Baik, Tuan."
Pria dengan pakaian serba hitam, segera melajukan mobil yang dikendarainya membelah jalanan kota Bangkok yang mulai lengang. Shun terus menatap wajah istrinya, mengamatinya sejak tadi, seolah memandangnya tanpa berkedip sekali pun.
Dalam perjalanannya, Kaori tertidur di pangkuan Shun. Tubuhnya terlalu lemah, membuatnya ingin istirahat saat itu juga.
...****************...
Di saat yang sama, ribuan kilometer dari Bangkok, Aira tengah duduk di beranda bersama ibu mertuanya, nyonya Sumari. Mereka tengah membicarakan masalah yang terjadi pada Yoshiro, yakni dia menghilang di saat berusaha mencari petunjuk keberadaan tuan Harada di Thailand.
"Baiklah. Ibu tidak akan mengganggu kalian lagi." Nyonya Sumari memeluk menantu kesayangannya.
"Ingat, jangan memaksakan diri. Kamu juga punya hak untuk menolak saat Ken memintanya!" tegas wanita Yokohama ini, membuat Aira terpaksa mengulas senyum palsunya. Dalam aturan agamanya, disebutkan bahwa seorang istri tidak diperbolehkan menolak saat Sang Suami meminta haknya. Dan Aira tidak keberatan saat Ken melakukannya. Itu sudah menjadi bagian tugas dan tanggungjawabnya sebagai wanita yang sudah menikah.
"Kamu terlalu baik pada padanya!" ketus nyonya Sumari sedetik kemudian. Dia meninggalkan Aira seorang diri, menghadap taman belakang.
'Bukankah seharusnya dia senang saat putra sulungnya bahagia?' batin Aira. Ia mengangkat bahunya, tak mengerti pemikiran ibu mertuanya. Tampaknya wanita paruh baya itu lebih berpihak padanya dibandingkan Ken yang notabenenya adalah putranya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Aira masuk ke kamar tamu sambil membawa pakaian baru untuk suaminya. Dia baru saja mengambilnya dari kamar utama mereka.
"Ada apa?" tanya Ken begitu ia keluar dari dalam kamar mandi. Tubuh atletisnya tertutup kimono berwarna hitam yang diikat di bagian pinggang.
Tanpa sepatah kata pun, Aira mendekatkan ponsel berwarna hitam itu pada pemiliknya, membuat kening Ken berkerut dalam. Aira memperdengarkan rekaman suara Yu saat berbicara di telepon dengan nyonya Sumari.
'Yamazaki-san, Yoshiro hilang. Aku kehilangan jejaknya di salah satu club house di Kabukicho. Dari rekaman CCTV, tampak satu mobil hitam membawanya ke arah utara. Saat ini aku dan Mone sedang mencarinya. Segera kirimkan orang-orangmu untuk melacaknya. Aku khawatir nyawanya dalam bahaya.'
"Ai-chan, aku bisa menjelaskannya." Ken takut Aira marah karena dia tidak menjelaskan tentang misi kali ini.
Aira menatap suaminya dalam diam, menunggu kalimat berikutnya yang akan terdengar di telinga.
"Aku meminta Yoshiro menyelidiki club house di Kabukicho. Salah satu pemiliknya adalah orang yang sudah membantu tuan Harada kabur ke Thailand."
"Cukup. Aku percaya padamu." Aira coba menghentikan penjelasan dari suaminya. "Sekarang, pakai bajumu. Aku harus mandi."
__ADS_1
Aira masuk ke kamar mandi untuk menyucikan dirinya. Dia mengabaikan Ken yang memandangnya dengan ekspresi heran yang begitu kentara. Ada apa dengannya?
Ken segera memakai bajunya dan menghubungi Kosuke detik berikutnya. Sambil menunggu Aira selesai mandi, dia mengurus berbagai masalah yang ada. Keduanya bersiap makan malam bersama setelah menunaikan ibadah salat empat rakaat.
"Mau ku hangatkan dulu makanannya?"tawar Aira. Ia melihat hidangan di atas meja sudah dingin semua. Itu semua karena Ken yang tidak sabar melahap makan malam spesial kesukaannya.
"Tidak perlu. Ayo makan." Ken meminta Aira duduk di sebelahnya. Keduanya makan dalam diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Ken bahkan menyempatkan diri membantu istrinya mencuci peralatan makan yang telah mereka gunakan. Ia menyusul Aira di kamar anak-anak. Wanita itu sedang menyusui Azami, sementara Ayame ada dalam dekapan Sakura. Sepertinya kedua bayi merah itu kelaparan, sama seperti Sang Ayah sebelumnya.
"Pergilah. Aku ada di sini." Ken mengusir Sakura agar keluar dari ruangan tertutup ini. Ia mengambil penguasaan putrinya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Aira. Tentu saja agar bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan seperti yang sudah-sudah.
"Ai-chan," panggil Ken. Dia ikut duduk di tepi ranjang tempat istrinya berbaring setelah punggung Sakura menghilang tertelan pintu.
"Ada apa?" tanya Aira taktis.
"Apa kamu marah padaku?" Ken menatap wajah istrinya, mencari tahu perasaan wanitanya. Entah kenapa Ken merasa bersalah saat melihat Aira kelelahan setelah melayaninya.
"Marah? Kenapa aku harus marah?" tanya Aira, masih tetap tanpa ekspresi apapun. Wajahnya datar.
"Karena 'itu'," jawab Ken ragu-ragu. Dia mengalihkan pandangannya, menatap Azami yang kini tertidur setelah mendapat asupan gizi dari ibunya.
"Aku tidak marah, hanya sedikit lelah. Kamu selalu saja melewati batasanmu. Aku tahu itu memang hakmu, tapi kamu juga harusnya melihat kondisiku. Aku lelah dan lapar saat itu, setidaknya biarkan aku makan dulu. Setelahnya kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau."
Aira beranjak duduk dan mengambil Ayame dari tangan Ken. Ia meletakkan bayi cantik itu di sebelah Azami dan mulai menyusuinya.
"Sayang, maafkan aku," ucap Ken tulus. Dia menatap istrinya dengan sepenuh hati.
"Sudahlah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku baik-baik saja." Aira mulai fokus menyusui Aya-chan. "Tolong bawa Akari-kun kemari. Sudah malam, waktunya untuk istirahat."
Ken terhenyak mendengar permintaan istrinya. Membawa Akari yang tertidur dalam box bayi ke atas ranjang dan bergabung dengan kedua saudaranya? Apa itu artinya Aira akan tinggal di kamar ini sepanjang malam? Mungkinkah ini hukuman untuknya?
"Sayang, ... " kalimat Ken terpaksa ia telan kembali saat melihat mata bulat istrinya telah terpejam. Wajahnya terlihat sayu dan sedikit pucat. Sepertinya dia benar-benar kelelahan karena perbuatan Ken sebelumnya.
Serigala liar itu menuruti permintaan Aira. Ia membawa Akari ke atas ranjang, bergabung dengan ibu dan kedua adiknya.
Cup
Cup
Cup
Ken menciumi kening putra putrinya satu per satu. Tak lupa dia mengecup pipi istrinya setelah menyingkirkan beberapa helai rambut panjangnya. Kuncup bunga di dalam hati Ken kembali bermekaran. Dia merasa menjadi manusia paling bahagia sekarang. Semesta tampaknya ikut mendoakannya dengan mengirimkan titik-titik air yang membasahi bumi, membuat suasana semakin syahdu.
Pria paling menyeramkan di dunia bisnis itu kini telah menjelma menjadi seorang suami dan ayah siaga yang penuh cinta. Dia ikut berbaring di atas ranjang, bersiap istirahat dengan orang-orang kesayangannya.
...****************...
Ugh, abang Ken so sweet 😍😍
Maaf slow update, kerjaan lagi bener2 crowded ngga bisa ditinggalkan. See you next day,
__ADS_1
Hanazawa Easzy