Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Jangan Gegabah!


__ADS_3

Kosuke datang untuk melaporkan beberapa masalah yang diperintahkan oleh Ken.


"Jika benar Anna kembali. Kenapa kakek justru menyuruh kita pergi dari sini? Mungkinkah ada hal lain yang belum kita ketahui tentang wanita itu?"


Baik Ken maupun Kosuke tidak bisa menjawab pertanyaan wanita ini. Mereka berdua juga tidak tahu. Keputusan kakek seringkali di luar nalar. Atau lebih tepatnya nalar mereka yang belum bisa sejauh itu.


"Aku akan menanyakannya langsung pada kakek." Aira beranjak bangun dari duduknya, siap menghubungi penguasa yang ditakuti di sluruh Jepang ini.


Grep


Sepersekian detik kemudian, jemari Ken berhasil menangkap pergelangan tangan istrinya. Hal itu membuat Aira menoleh.


"Apa?"


Ken menggeleng. "Jangan gegabah!"


Jawaban Ken berhasil membuat kening Aira berkerut dalam. Kenapa suaminya ini mencegah niatannya untuk bertanya langsung pada kakek? Bukankah dengan begitu mereka tidak perlu repot lagi, mencari alasan yang hanya mungkin, mungkin, dan mungkin.


"Sesekali gunakan kebodohanmu."


"HAH? APA?!" Aira tidak mengerti apa yang suaminya katakan ini. 'Gunakan kebodohan? Yang benar saja?'


Aira siap melepaskan tautan tangan Ken, namun cengkeraman pria itu justru semakin erat.


"Duduk dan dengarkan dulu apa yang Kosuke dapatkan!" titah Ken dingin dan tajam. Ini pertama kalinya, setelah sekian lama Ken tidak menunjukkan sikap diktator dan otoriternya pada Aira.


Tanpa ingin berurusan lebih panjang, Aira menuruti perintah ayah dari anak-anaknya ini. Dia harus mengetahui duduk permasalahan yang ada lebih dulu sebelum bertindak.


"Lanjutkan penjelasanmu!"


Kosuke mengangguk sekali, kemudian meletakkan tablet miliknya di atas meja.


"Ini adalah peta kekuasaan Naga Hitam."


Tampilan layar sentuh itu memperlihatkan dataran Nagano, tempat kelahiran mendiang tuan Harada.


"Disana terdapat gudang senjata milik kelompok kriminal itu. Tuan Harada sudah menyiapkan hal ini sejak bertahun-tahun lalu, sepertinya siap mewariskan usahanya ini untuk putra sulungnya."


"Tidak! Kamu keliru!" Ken menyanggah pernyataan tangan kanannya ini. "Yuki tidak mengetahui apapun."


"Eh?" Kosuke tampak heran. "Apa maksud Anda?"


Ken menatap dua orang di dekatnya sekilas. "Yuki datang memintaku memberikan informasi tentang bisnis ayahnya selama ini. Dia tidak tahu sama sekali."

__ADS_1


Hening. Ketiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Aku berjanji padanya untuk memberikan informasinya pagi ini."


"Saya sudah menyiapkan laporan seperti yang Anda minta. Kita memang tidak pernah sekali pun berbisnis dengan tuan Harada. Justru nyonya Hanako yang selama ini menggantikan posisi kakek sebagai pabrik uang tuan Harada."


"Tunggu!" Lagi-lagi Aira menghentikan ucapan yang lainnya. "Kepalaku pusing mendengar penjelasan kalian." Aira memijat pelipisnya perlahan. "Bisakah katakan intinya saja?"


Kosuke dan Kenzo saling pandang.


"Ada pihak lain yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi ini. Dan kita belum tahu pasti siapa dia."


Aira diam, mendengarkan suaminya berbicara.


"Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk jangan gegabah." Ken meraih jemari istrinya, menggenggamnya dengan erat, memberikan dukungan moral agar wanita ini tidak mengalami stres berlebih atas masalah yang terjadi.


"Aku yakin kakek sudah tahu siapa orang itu. Makanya dia meminta kita untuk pergi, beliau yang akan mengurusnya."


"Mungkin ini sedikit mengejutkan, tapi Anda harus tahu." Sakura memberanikan diri menyela ucapan tuannya. Dia sedari tadi berdiri di belakang Aira, tidak bergerak, tidak berbicara. Kini langkahnya sedikit lebih dekat dengan Aira. "Saya mendengar ini dari ayah saya. Beliau meminta saya terus ada di samping Anda, Nyonya. Tuan Besar ingin


memastikan bahwa kita benar-benar pergi ke Indonesia."


"Ada apa?"


"Heih?" Kali ini bukan hanya Aira yang bereaksi, tapi juga pria 28 tahun itu. "Apa katamu? Jelaskan sedetail mungkin!"


"Tuan Yamaken dan nona Mone datang untuk meminta restu tuan besar. Tapi pertemuan itu berakhir dengan sebuah kesepakatan bahwa tuan muda harus bisa menyamai kemampuan nona, jika keduanya tetap ingin menikah."


"Itu tidak mungkin!" Ken sampai berdiri begitu mendengar informasi yang Sakura sampaikan.


"Ken?"


"Baiklah. Kita ikuti kemauan kakek." Suara Ken yang sedikit lebih tenang kembali menyapa indera pendengaran Aira. "Pura-pura saja tidak tahu apapun. Let's play the game!"


Tak ingin membuang waktu yang ada, Ken mengutus asisten pribadinya untuk mengantarkan dokumen tentang tuan Harada pada Yuki. Sakura kembali ke kamar, memastikan persiapan keberangkatan tiga bayi menggemaskan itu ke Indonesia.


Sedangkan Ken, masih berdua bersama Aira. Mereka ada di kamar utama yang terletak di sebelah kamar anak-anak. Tidak ada perbincangan diantara dua orang beda kebangsaan itu. Keduanya menghubungkan berbagai petunjuk yang ada dengan kemungkinan masa depan yang akan terjadi.


"Ken?" Aira akhirnya bersuara, memanggil pria yang kini sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Umm," gumam pria ini tanpa mengalihkan pandangan dari worksheet yang tertangkap retina matanya.


"Aku takut." Aira berucap lirih, namun masih bisa Ken dengar. Terbukti dari respon pria ini yang menghentikan gerakan jemarinya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa yang kamu takutkan?" Ken kembali bersuara, sedikit melirik istrinya sebelum memusatkan perhatian pada lembar kerja elektronik itu.


Aira diam. Dia ingin diperhatikan, bukan diduakan oleh pekerjaan seperti sekarang.


"Aku takut kamu bertindak di luar kendali jika kita salah mengambil keputusan."


Ken menghentikan aktivitasnya, menjauhkan jemarinya dari tuts laptop. Dalam sekali napas, pria itu sudah ada di samping Aira yang terduduk lemah di tepi ranjang. Sepertinya wanita ini masih memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi.


"Kenapa takut? Bukankah kamu sudah mendengar sendiri penuturan Sakura?"


Aira menggeleng. Bukan itu!


"Lalu, apa yang membuatmu takut?"


"Aku takut kamu akan lepas kendali dan bertindak gegabah. Aku tidak ingin berpisah denganmu."


Ken tersenyum, dia senang melihat Aira yang lemah seperti sekarang, bukan jagoan tangguh yang bisa memimpin pasukan rajawali.


"Aku tidak akan pergi tanpa izinmu." Pria ini membelai pipi mulus istrinya. Jemarinya bergerak aktif, membelai wajah tembam ini di segala sisi. Tanpa Aira sadari, keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Ken membelai rambut istrinya dengan sayang, sesekali mencium puncak dan kening kekasih hatinya ini.


"Aku akan selalu ada untukmu. Kapanpun. Dimanapun."


Aira memejamkan mata, merasa damai akan apa yang suaminya janjikan beberapa detik yang lalu.


"Aku lelah," gumam Aira lirih.


"Istirahatlah. Aku akan membangunkanmu nanti."


Cup


Ken mencium kelopak mata istrinya. "Tidurlah. Aku akan tetap ada di sini bersamamu."


Aira mengangguk lemah. Kantuk menderanya, bersamaan dengan rasa letih akibat  mengurus terlalu banyak hal yang berkaitan dengan putra putrinya. Persiapan mereka sudah 95%, siap berangkat ke tanah kelahirannya di


salah satu negara Asia Tenggara, Indonesia.


Dan pagi menjelang siang ini berlalu dengan damai. Aira kembali terlelap dalam mimpinya. Ken mendekap wanita ini erat-erat, penuh cinta. Kekhawatiran Aira tentang semua permasalahan ini, sedikit terobati karena Ken yang


memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.


* * *


See you next day,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2