Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Menyatukan Kepala


__ADS_3

Sebelumnya Ken menggila dengan menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya. Dia bahkan sengaja makan makanan pedas untuk menarik perhatian Aira. Namun semuanya nihil. Wanita Indonesia itu malah tidak memperhatikan suaminya, sengaja menguji batas kesabarannya.


Dan aksi Aira masih berlanjut hingga saat ini. Dia membantu Ken mengeringkan rambutnya, namun dengan wajah datar tanpa ekspresi. Aira menuntut jawab kenapa suaminya loss control lagi setelah sekian lama berhasil meredam iblis yang tersembunyi di dalam dirinya.


"Kenapa kamu marah dan menghancurkan semua barang yang ada? Apa kamu pikir itu semua datang sendiri tanpa uang?" ketus Aira.


"Emm ... itu. Aku ...." Ken kesulitan memilih kata yang tepat. Emosinya meletup-letup saat tahu Aira tidak hamil. Dia merasa 'usahanya' beberapa minggu ini sia-sia saja. Padahal ingin sekali melihat istrinya ini kembali berbadan dua. Dia terlihat lebih menggemaskan.


"Kenapa?" Aira menuntut jawab pada suaminya. Beberapa detik telah berlalu tapi belum ada satu pun alasan yang pria ini kemukakan.


"Itu karena kamu tidak hamil. Jadi aku kesal." Ken menundukkan kepalanya. Matanya terpejam, menandakan bahwa dia takut melihat wajah murka istrinya. Sudah cukup lama wanita ini tidak pernah memarahinya. Jika sekarang dia murka, maka Ken akan menerimanya. Dia sudah menyadari kesalahannya. Dan dia menyesal. Ah, selalu saja seperti ini. Penyesalan selalu datang di akhir.


"Hanya karena aku tidak hamil seperti harapanmu, kamu menghancurkan semua barang-barang itu?" tanya Aira memastikan.


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, pria penguasa dunia bisnis itu mengangguk-angguk beberapa kali. Tidak ada alasan lain. Dia marah karena itu. Hanya karena itu.


"Astaga. Yamazaki Kenzo!!" geram Aira. Tangannya terkepal erat, ingin sekali meninju pria satu ini. Tapi detik berikutnya, Aira sadar bahwa dia tidak boleh menyakiti ayah dari anak-anaknya ini. Dia hanya harus memberi perhatian lebih padanya. Menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan hanya boleh dilakukan terhadap orang-orang yang jahat dan tidak mau bertaubat. Sedangkan kasus ini, Ken tidak merugikan siapapun kecuali dirinya sendiri.


Aira mendudukkan diri di tepi ranjang. Dia harus bisa berpikir dengan kepala dingin dan jangan sampai terpancing emosi. Semua yang terjadi hari ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kelakuan ajaib pewaris keluarga Yamazaki ini. Dan sebagai salah satu metode untuk meredam kemarahan yang mulai ia rasakan adalah dengan duduk dan mengambil napas dalam-dalam.


"Berapa harga semua barang-barang yang kamu hancurkan?" tanya Aira setelah ruangan ini diselimuti keheningan beberapa saat.


Ken mendongak, menatap istrinya yang kini berjarak beberapa langkah darinya.


"Mungkin ..., satu juta yen," jawab Ken meragu. Dia tidak yakin dengan pernyataannya barusan. Mungkin saja kerugian yang ia timbulkan lebih dari itu. Semua properti yang ada di rumah ini adalah barang-barang terbaik di kelasnya, tentu saja sebanding dengan harga yang harus ditebus untuk itu.


Aira membulatkan matanya. Otak yang ada di kepalanya otomatis berhitung. Satu juta yen, berarti sekitar 134 juta rupiah. Itu pun jika kurs saat ini bernilai 134 rupiah per 1 yen-nya. Jika lebih?


Ken mendekat ke arah Aira, menggenggam kedua tangan wanitanya dengan erat. Dia tahu pernyataannya barusan pasti akan kena omelan istrinya.


"Maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi." Ken berjanji. "Lagipula aku bisa mengklaim asuransi semua barang-barang itu. Kamu tidak perlu khawatir. Semua akan dibereskan besok pagi."


Aira masih bungkam. Dia tidak ingin berkomentar.


"Ai-chan. Aku tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi."


"Janji? Apa kamu pikir aku sebodoh itu?"


"Eh?" Ken tidak tahu kemana arah pembicaraan wanita kesayangannya ini.

__ADS_1


"Berapa banyak janji yang sudah mulutmu ucapkan? Dan akhirnya kamu sendiri yang mengingkarinya." Aira menolehkan wajahnya ke samping, menatap tirai yang menggantung di jendela. Ia mengembuskan napas beratnya, sengaja menghindari tatapan Sang Suami.


"Sudahlah. Aku lelah membahas masalah uang dengan pria yang terlahir dengan sendok emas di mulutnya." Aira menyindir Ken yang merupakan bagian dari keluarga berada, berbanding terbalik dengannya yang hanya berasal dari strata menengah ke bawah.


Aira berusaha melupakan hal ini. Perbedaan latar belakang mereka terlalu jauh. Ken tidak akan memahami betapa pentingnya uang satu sen baginya.


"Sendok emas di mulut? Apa maksudmu?" Ken tidak tahu apa yang ingin istrinya sampaikan. Istilah itu tidak pernah dia dengar sebelumnya. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu bicarakan."


"Kamu terlahir dengan segala kemewahan yang ada. Bahkan mungkin ibu memakai sendok yang terbuat dari emas untuk menyuapimu ketika kecil. Dan itu membuatmu tidak tahu jerih payah seseorang untuk mendapat uang satu sen."


Ken mencoba mencerna pendapat istrinya.


"Kamu mungkin bisa mengklaim semua kerugiannya pada pihak asuransi. Tapi, apa kamu bisa mengembalikan keringat jerih payah semua karyawanmu?"


Ken diam. Ia mengerutkan keningnya cukup dalam, memikirkan kata demi kata yang istrinya ucapkan.


"Bagi orang-orang yang terlahir di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah sepertiku, melihatmu menghancurkan barang-barang itu sama seperti kamu membakar uang cuma-cuma."


"Ai-chan. Apa yang kamu bicarakan? Apa hubungannya barang-barang yang rusak itu dengan keringat para karyawan Miracle? Mereka sudah mendapat gaji sesuai kemampuan mereka. Aku tidak berhutang apapun pada orang-orang itu." Sikap bossy Ken kembali mendominasi, membuat Aira kembali menatap wajah suaminya.


"Sudah cukup. Aku tidak ingin melanjutkan pembahasan ini." Aira terlihat putus asa. Percuma beradu pendapat dengan pria keras kepala ini. Jelas-jelas latar belakang mereka berbeda bagai bumi dan langit.


"Lain kali jangan pernah menghancurkan barang-barang seperti ini lagi. Itu mubazir, tak ada gunanya."


"Kenapa kamu selalu mengalah padaku? Tidak bisakah kamu menunjukkan sikap keras kepalamu dan menentangku?"


"Menentangmu? Membangkitkan iblis di dalam dirimu?" Aira tersenyum sarkas. "Aku tidak ingin kita bertengkar." Wanita pipi bulat ini mengakhiri percakapan. Dia beranjak bangun dari duduknya.


"Tunggu!" Ken menahan jemari istrinya. "Kamu mau kemana? Apa kamu marah padaku?"


Huft!


Aira mengembuskan napasnya. Semakin lama ia bersama pria ini, maka semakin banyak sisi negatif yang ia dapati ada padanya. Dari luar, monster bisnis ini terlihat begitu sempurna. Dengan wajah rupawan, perawakan yang tegap seperti model profesional, mata tajam yang siap membuat jatuh cinta semua wanita, siapa yang bisa menolak pesonanya?


Tapi di sisi lain, pewaris keluarga Yamazaki ini tetaplah manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Dia memiliki sisi negatif yang tidak banyak orang tahu. Bossy, keras kepala, pemaksa, diktator, otoriter, manja, kekanakan, pemilih makanan, dan berbagai tingkah polah lainnya. Benar-benar berbanding terbalik dengan image yang orang-orang sematkan padanya.


Ken berdiri di hadapan Aira, membuat wajah wanita itu hanya berjarak beberapa centimeter saja. Ken menangkup rahang istrinya, menatap manik mata warna coklat di hadapannya.


"Aku membuatmu marah lagi?" Suara Ken begitu lembut. Pria itu bahkan menempelkan keningnya, bertautan dengan Sang Istri. Menyatukan kepala. Ya, itu selalu mereka lakukan saat hampir bertengkar seperti sekarang.

__ADS_1


"Benar 'kan? Kamu marah, Sweety?"


Sikap manis Ken kembali meluluhkan pertahanan Aira, membuatnya berkaca-kaca. Bahkan satu dua bulir air tanpa warna itu berhasil lolos, menembus bendungan yang sedari tadi ibu tiga anak itu pertahankan.


"Hey hey hey, kenapa menangis?" Ken sigap menghapus air mata istrinya.


BUGH!


Aira meninju dada suaminya, membuat pria itu sedikit terkejut. Meski bukan pukulan penuh tenaga, namun Aira bergerak begitu cepat tanpa Ken sadari.


"Hey!" Dua tangan Aira kini ada dalam cekalan Ken sebelum tinju-tinju lain menyusul. "Katakan apa salahku. Jangan mendiamkanku seperti ini. Aku bukan peramal atau cenayang yang bisa membaca kata hati orang lain."


Aira diam. Dia masih enggan mengatakan apapun. Moodnya sedang buruk, terlebih lagi akibat perubahan efek hormon saat datang bulan seperti ini. Perasaannya semakin sensitif dan mudah menangis.


"Ada apa? Katakan padaku, hmm?" Ken masih setia membujuk istrinya.


Tok tok tok


Belum sempat Aira menjawab, terdengar ketukan pintu.


"Tuan, Nyonya, nona Yuzuki dan tuan Yoshiro sudah sampai. Mereka menunggu Anda di bawah." Seorang asisten rumah tangga datang melapor pada Ken dan Aira. Dia tidak tahu bahwa kedatangannya ini bisa menyelamatkan Aira dari tanggung jawab menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku akan segera datang," jawab Ken.


Melihat perhatian Ken yang sedikit teralihkan, Aira keluar dari kamarnya dengan cepat. Dia bahkan sedikit berlari saat menuruni anak tangga, seolah takut tangannya akan dicekal oleh Ken.


Pria 28 tahun itu tersenyum. "Kenapa dia terlihat semakin menggemaskan akhir-akhir ini?" gumam Ken lirih.


"Apa makan malam sudah siap?" tanya Aira pada asisten yang sedari tadi sibuk di dapur.


Di lantai bawah, Aira sudah sampai di dapur. Dia memeriksa hidangan di atas meja makan yang telah tersaji seluruhnya. Berbagai olahan makanan laut dan spaghetti carbonara permintaannya.


"Sudah, Nyonya. Tuan Besar dan Nyonya juga akan datang. Mereka masih ada di perjalanan dan akan sampai dalam beberapa menit."


"Baiklah. Aku tahu." Aira mengangguk. Dia bersiap menemui dua tamunya di ruang depan.


Makan malam ini khusus Aira siapkan untuk menyambut kepulangan Yu dan Yoshiro setelah misi luar biasa mereka kemarin. Seharusnya, Shun dan Kaori juga bergabung di sini, tapi Aira belum tahu bahwa keduanya masih tertahan di Thailand. Dan kedatangan kakek Yamazaki dan nyonya Sumari adalah atas permintaan Yoshiro. Mereka ingin berterima kasih pada kakek atas imbalan besar yang sudah masuk ke dalam rekening miliknya.


...****************...

__ADS_1


Akhirnya bisa up. Maafkan yaa karena ngga bisa up tiap hari. Sampai jumpa di episode berikutnya. Bye,


Hanazawa Easzy


__ADS_2