Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Permainan Semesta


__ADS_3

Moskow, Rusia


Seorang pria mematikan puntung rokoknya ke dalam asbak, membiarkan sedikit asap mengepul sebelum musnah tersapu udara di sekitarnya. Rahangnya menegang demi mendengar laporan dari anak buahnya.


"Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya seorang pria asli Rusia dengan wajah mengerikan. Sebuah bekas luka sayat pernah bersarang di wajahnya, memanjang dari alis hingga menyeberangi kelopak matanya.


"Atur pertemuan dengannya." perintah pria dengan jambang tipis di dagunya.


"Aku disini." ucap Mone sembari berjalan mendekat ke arah ayah angkatnya. Ia mengisyaratkan dengan tangannya agar pria dengan bekas luka itu pergi dari ruangan ini.


"Dobryy vecher ser, miss." pamitnya sebelum pergi.


(Selamat malam tuan, nona.)


Tinggallah kini Mone berdua dengan ayah angkatnya, Takeshi Kaneshiro. Mereka duduk saling berhadapan dengan raut wajah yang serius.


"Aku mendapat datanya. Kamu ingin lihat?" tanya pria 47 tahun itu sambil membuka laci meja kerjanya. Beberapa lembar kertas ia hamparkan di meja, membuat Mone mengerutkan keningnya.


"Kapan proses pengambilan gambar untuk iklan kosmetik itu dimulai?" selidik pria itu.


"Lusa." jawab Mone masih meraba-raba apa yang ingin ayah angkatnya bicarakan.


"Yamazaki Kento akan menjadi partnermu dalam iklan itu?" tanya Takeshi lebih lanjut yang dijawab anggukan oleh putrinya.


"Kamu tahu siapa Yamazaki Kento? Dia adalah cucu seorang yakuza terbesar di Jepang. Dia membalut darah mafia dalam tubuhnya dengan gemerlapnya cahaya di atas pentas. Tidak ada yang tahu latar belakang keluarganya. Semua orang menganggapnya malaikat suci yang tidak berdosa, bahkan kamu juga terpesona padanya, benar 'kan?" Takeshi mengeluarkan tiga lembar foto kebersamaan Mone saat masih di Jepang dulu.





Mone menelan ludahnya dengan paksa. Tidak tahu jika ayahnya menyelidiki seluk beluk idolanya yang dua hari ke depan akan menjadi lawan mainnya di depan kamera.


"Kalian sedekat itu?" tanya pria berbaju hitam yang tampak tidak suka dengan interaksi putrinya dengan Yamaken.


"Itu... Maaf atas kecerobohanku waktu itu." jawab Mone dengan suara sedikit bergetar.


"Kamu masih menyukainya?" tebak Takeshi melihat raut wajah putrinya yang menegang.

__ADS_1


"Maaf.." Mone semakin menundukkan wajahnya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia masih mengidolakan pria yang tengah mereka bahas ini.


"Lupakan saja. Bukan itu fokus utamanya. Tapi kakaknya."


"Kakak Yamaken?" Mone mengangkat wajahnya demi mendengar penjelasan atas pertanyaannya.



"Yamazaki Kenzo. Mereka kembar identik. Dialah yang sekarang memegang kendali penuh atas Miracle Corps. Dia seorang yakuza muda yang disegani oleh semua orang di seantero Jepang. Sepak terjangnya tak bisa diragukan lagi. Dia lulusan terbaik akademi yang terkenal tidak segan menyiksa targetnya. Dia tidak akan membiarkan musuhnya mati dengan mudah."


"Aku tidak pernah mendengarnya." lirih Mone. Raut keheranan tampak jelas di wajahnya.


"Dia membersihkan semua jejaknya setelah beraksi. Tapi dia menghilang dari dunia gelap sejak kekasihnya meninggal karena bunuh diri."


"Apa?" Mone membulatkan matanya mendengar penjelasan pria yang berbeda 27 tahun lebih tua darinya.


"Dia menikah dengan seorang wanita awal tahun ini dan sekarang keduanya tinggal di Tokyo." Takeshi beranjak dari duduknya dan berdiri membelakangi Mone, "Dan ada sesuatu yang menggangguku tentang istrinya."


"Apa itu?"


"Dia adalah orang yang berhasil melacak keberadaanmu."


Mone seketika berdiri. Jantungnya berdegup kencang, alarm tanda bahaya seketika menyala. Mengingatkannya bahwa orang yang tengah mereka bicarakan bukan wanita biasa. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya, bahkan ahli IT yang Shun utus sekalipun. Bagaimana dia bisa tahu?


"Mark memastikannya berkali-kali. Alamat IP hackers itu ada di Jepang. Di dalam alamat IP terdapat beberapa bit alamat yang dipakai untuk mengenali jaringan, sedangkan angka dipakai untuk mengenali host serta berbagai kelas alamat IP. Bahasa pemrograman itu sedikit rumit. Aku sendiri tidak begitu memahaminya. Tapi satu yang pasti, dia berhasil mendapat datamu berdasarkan sidik jari. Dia menggunakannya untuk mendapatkan akun bank milikmu."


*IP : Internet protocol


"Sidik jari? Akun bank?" Mone masih belum bisa menangkap apa hubungannya dua hal itu.


"Sidik jari seseorang adalah data yang paling valid. Tidak ada yang bisa menyamai milik orang lain. Tuhan menciptakan setiap orang dengan sidik jari yang berbeda-beda. Dan dia membobol data bank dunia hanya untuk melihat alamat tempat tinggalmu. Dia punya nyali yang besar untuk melakukannya." ucap Takeshi sarkas. Ia tidak menyangka akan hal ini.


"Bagaimana dengan latar belakangnya? Dia tidak mungkin bisa menembus keamanan data bank dunia jika dia bukan ahli IT, kan?" tanya Mone rasional.


"Dia hanya seorang karyawan biasa di negara asalnya. Dia menikah dengan Yamazaki Kenzo dan sekarang ada di Jepang. Tidak ada informasi apapun sejak kedatangannya di Jepang selain dia sedang mengandung." jawab Takeshi dengan nada ketidakpuasan di akhir kalimatnya.


"Apa dia bisa menggunakan senjata?" tanya Mone khawatir. Entah kenapa ia mulai merasa gentar dan penasaran dalam waktu yang bersamaan. Ia yakin wanita itu bukan wanita biasa. Hanya orang-orang tertentu yang bisa terpilih menjadi pendamping seorang penguasa dunia gelap.


"Tidak. Dari data yang Mark kumpulkan, dia tidak pernah belajar bela diri. Dia beberapa kali masuk rumah sakit karena kesehatannya memburuk. Hal itu yang membuatku bertanya-tanya, apa hubungan si nyonya Yamazaki itu dengan iklan kosmetik yang akan kamu jalani."

__ADS_1


(Mark : asisten Takeshi Kaneshiro, pria dengan bekas luka sayat yang melewati kelopak matanya)


Mone menutup matanya sejenak. Mencoba merangkai potongan puzzle yang baru saja ia dengar dari ayahnya. Dari ribuan model di Rusia, kenapa Miracle justru memilihnya? Apa ia menjadi target utama disini? Atau ada kemungkinan lain yang luput dari pengawasan ayahnya?


"Dan satu fakta yang cukup mencengangkan. Dia berasal dari Indonesia, tempat ibu kandungmu berasal."


Deg


"Ibu kandung?"


Takeshi Kaneshiro kembali duduk dan memberikan selembar foto yang sedari tadi terletungkup di atas meja.



"Aira. Khumaira Latif. Dia anak tunggal pasangan Anita Maheswari dan Seno Aji. Ibunya memiliki nama belakang Maheswari, seperti ibumu Rosa Maheswari. Entah itu kebetulan atau memang kenyataan, satu-satunya saudara kandung ibumu juga bernama Anita. Jika itu benar maka Aira adalah kakak sepupumu."


Mone mengurut pelipisnya mendengar rentetan penjelasan ayah angkatnya. Fakta bahwa ibu yang merawatnya bukanlah ibu kandungnya sudah membuat Mone terkejut. Terlebih lagi fakta tentang wanita Indonesia yang kemungkinan adalah saudaranya.


"Bisakah paman ceritakan pelan-pelan. Dan dimana ibuku sekarang?" tanya Mone dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka kehidupannya sepelik ini.


Takeshi Kaneshiro menghela nafasnya sejenak. Ia harus pandai memilih kata agar gadis di depannya tidak semakin terluka.


"Rosa meninggal saat melahirkanmu. Dia kehilangan banyak darah dan nyawanya tidak tertolong saat itu. Ayahmu berusaha menghubungi keluarga ibumu di Indonesia, tapi dia tidak berhasil menemukannya. Satu-satunya yang ia tahu adalah ibumu memiliki kakak bernama Anita."


Mone menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa mempercayai kenyataan itu, terlalu klise dan seperti serial berseri yang ada di televisi.


"Ayah dan ibumu telah tiada, jadi aku memutuskan untuk membawamu kesini. Aku ingin melindungimu." pungkasnya dengan suara tercekat di tenggorokan. Sejujurnya ia juga tidak ingin mengungkapkannya, tapi itu fakta yang harus ia sampaikan.


"Apa dia (Aira) tahu?"


"Sepertinya tidak. Tidak ada orang yang mengetahui identitas ibu kandungmu kecuali aku dan ayahmu." Takeshi menyugar rambutnya dengan kasar, "Tapi kalian mirip satu sama lain."


Mone kembali menatap potret Aira dalam balutan jeans dan kain segi empat panjang yang menutupi kepalanya. Pipi chubby dan wajah bulat yang ia miliki hampir sama dengan Aira. Ya, dilihat sekilas keduanya memang mirip. Tapi, kenapa semuanya tiba-tiba muncul secara bersamaan? Permainan semesta sungguh tidak bisa ia tebak seperti apa alurnya.


Mone keluar dari ruangan itu dengan denyutan hebat di kepala. Langkah kakinya mengarah ke balkon lantai dua rumah ini. Rumah yang ia tinggali beberapa tahun terakhir bersama Anna dan Takeshi. Apa-apaan ini?


*******


Mohon maaf slow update, please like, vote & comment supaya author jadi makin semangat nulisnya. Arigatou 🤗

__ADS_1


Mata ashita ne (Sampai jumpa besok),


Hanazawa easzy ❤


__ADS_2