Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Jebakan Tak Terduga


__ADS_3

BRUMM


BRUMM


BRUUMM


Iring-iringan sepuluh buah kendaraan berwarna hitam memasuki sebuah pelataran gudang tua yang masuk dalam teritorial kota Iida, Prefektur Nagano. Daerah yang sepenuhnya terkunci daratan ini merupakan titik terjauh dari lautan manapun yang ada di Jepang. Kota terpencil ini ada di wilayah Chūbu di pulau Honshu.


Daerah ini didominasi oleh dataran tinggi yang mengesankan di Pegunungan Alpen-Jepang, termasuk sebagian besar Pegunungan Hida, Pegunungan Kiso, dan Pegunungan Akaishi. Meski terdengar seperti kota yang tak menarik, nyatanya tempat ini pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin pada tahun 1998 silam.


Udara di tempat ini terasa begitu segar, tanpa polusi asap sama sekali. Berbanding terbalik dengan udara Tokyo yang menyesakkan paru-paru. Itu sebabnya angka harapan hidup di prefektur Nagano adalah yang terpanjang secara nasional dengan angka harapan hidup rata-rata 87,18 tahun untuk wanita dan 80,88 tahun untuk pria.


Pegunungan di prefektur ini membuat daerah-daerahnya menjadi relatif terpencil. Gundukan bukit di setiap sisinya, berhasil menyembunyikan markas geng Naga Hitam yang terkenal buas dan kejam.


Base camp mereka terletak di sebuah gudang tua yang terlihat kusam dan tak layak huni. Namun, siapa sangka jika bangunan hampir roboh itu menjadi rumah dari empat ratus orang yang ada di bawah naungan geng ini? Atau bahkan mungkin lebih dari itu. Tidak ada yang pernah menulis data anggota mereka satu-per satu secara terperinci. Dialah Hayato Harada, seorang politikus elit yang berdomisili di Tokyo, yang kini memegang kendali atas kelompok kriminal ini.


Selama ini, tuan Harada tidak pernah muncul di hadapan publik dengan identitas sebenarnya. Ia memakai topeng malaikat untuk menutupi wajah busuknya. Sama seperti politikus lain, pria ini selalu menampilkan wajah tersenyum nan ramah dan santun di mata umum. Bahkan ada begitu banyak acara sosial yang ia datangi setiap bulannya demi membuat orang lain terkagum-kagum akan sosoknya. Pada kenyataannya, ia hanyalah seorang iblis yang bersembunyi di balik tubuh manusia. Atau bisa juga digolongkan sebagai manusia berhati iblis.


Lima puluh orang yang berada di bawah kepemimpinan Yamazaki Kenzo sudah berjajar rapi di depan mobil yang mereka tumpangi sampai tempat ini. Wajah tanpa ekspresi yang mereka tunjukkan, benar-benar menegaskan bahwa tidak ada pilihan untuk mundur saat ini. Mereka siap bertempur hingga titik darah penghabisan.


"Heh, hanya puluhan orang saja?" Tuan Harada terkekeh geli, melihat barisan orang yang ada di depannya. Tanpa menghitung pun, ia tahu jumlah mereka tidak sebanding dengan orang-orang yang berdiri di belakangnya sekarang. Setidaknya ia memiliki 200 prajurit siap tempur, melawan penantang mereka yang datang jauh-jauh dari Tokyo.


"Dimana pemimpin kalian? Apa dia sedang bersembunyi di balik ketiak ibunya? Hahaha." Suara tawa kembali menggelora, menyisakan gema di kejauhan. Gelak tawa saling bersahutan mewarnai tempat lapang itu.


Wung


Wuung


Canda tawa mereka terhenti saat menangkap adanya suara yang datang dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas, membawa hawa dingin yang seketika bertiup menelisik punggung semua orang, termasuk nyonya Hanako yang bersembunyi di dalam gedung.


"Ap... apa yang terjadi, Mai-chan?" tanyanya gagap saat melihat orang-orang di bawah sana diam seketika saat melihat sebuah helikopter mendekat.


Sebuah kendaraan besi menyerupai capung itu mendarat di padang ilalang liar di sebelah kanan gudang. Baling-baling raksasa di atasnya yang masih terus berputar, membuat debu beterbangan ke segala arah. Orang-orang di belakang tuan Harada menutup mata masing-masing dengan tangan, berusaha menyelamatkan indera penglihatan mereka dari kontaminasi partikel kecil yang akan terasa begitu mengganggu.


Hap


Drap drap drap


Seorang pria melompat turun dari dalam helikopter. Langkah kakinya tegap dan mantap, terus melaju di bawah tarian cahaya mentari di sekelilingnya. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Yamazaki Kenzo, pewaris klan yakuza terbesar di Jepang. Jejaknya diikuti oleh tiga orang pria yang berjarak beberapa langkah di belakangnya, yakni Yoshiro, Shun, dan Kosuke.


Empat orang itu berdiri di depan pasukannya, menatap barisan dua ratus orang di pihak tuan Harada.


"Selamat datang, Yamazaki-san," sambut tuan Harada mencibir anak muda ini.


"Dimana dia?" tanya Ken dingin dan tajam. Ia mencari sosok nyonya Hanako yang ia yakini ada di tempat ini. Pihak kepolisian mengatakan bahwa seseorang membebaskannya pagi ini.


"Siapa? Kamu mencari seseorang?"


PYARR


Sebuah anak panah melesat dengan begitu cepat menembus udara. Dinding kaca di lantai empat gudang tua itu pecah tepat saat Ken mengarahkan pandangannya ke sana. Ia terkejut, sama seperti ratusan orang yang segera berbalik, menatap markas mereka. Tampak nyonya Hanako jatuh terduduk di kursi dengan wajah pucat pasi. Sebuah anak panah menancap di meja yang ada di depannya.

__ADS_1


Ken mengerutkan kening, melirik padang ilalang yang ada di sekitar mereka. Tidak tampak ada pergerakan sama sekali membuat Ken semakin curiga. Ia yakin seseorang bersembunyi di antara semak belukar itu, tapi siapa? Dari kemampuan memanah yang orang itu tunjukkan, pasti dia seorang profesional.



Tanpa mereka ketahui, satu sosok wanita menajamkan telinga dan matanya. Dialah sang Rajawali yang bersiap kembali mengincar mangsanya.


"Aira, kaukah itu?" terdengar suara Yu dari earpiece yang menempel di telinga Aira. Mereka berpencar, bersembunyi di tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapapun.


*earpiece : alat bantu dengar yang menempel di telinga, sering digunakan oleh agen khusus dalam satu misi tertentu.


"Umm," jawab Aira bergumam dibalik cadar yang menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan identitasnya dengan baik. Alih-alih memakai helm atau masker seperti yang Yu dan Kaori kenakan, wanita 26 tahun ini memilih sebuah jilbab dan cadar berwarna hitam, senada dengan pakaian yang menempel di tubuhnya.


"Hati-hati!" Kali ini suara Kaori yang terdengar.


"Umm!" jawab Yu dan Aira bersamaan.


Sementara itu di depan sana, tuan Harada mengepalkan tangannya. Ia marah saat melihat markasnya diserang oleh seseorang yang misterius. Satu yang pasti, orang itu ada di pihak Yamazaki, ia yakin itu.


Ken segera menetralkan wajahnya. Ia bersikap setenang mungkin, menepis berbagai pertanyaan yang menghantui pikirannya. Ia pikir pemanah itu mungkin saja pengawal bayangan yang kakek kirimkan untuk membantunya.


"Saya memberi Anda satu kesempatan. Menyerahlah dan serahkan wanita itu!" ucap Ken lantang, menunjuk nyonya Hanako yang saat ini gemetar ketakutan di atas sana. Wanita itu memegangi lengan asistennya dengan sangat erat.


"Menyerah? Kamu pikir aku takut padamu, heh?" Politisi paruh baya itu mengangkat sebelah bibirnya.


Krek krekk


Tuan Harada merenggangkan otot lehernya, bersiap menghabisi penantangnya. "Mari buktikan, siapa yang bisa bertahan sampai akhir!" ucapnya mengambil pistol yang sedari tadi ia siapkan di pinggang.


Dor


Dor


Dor


Hujan peluru terjadi di tempat itu. Para anggota geng Naga Hitam merangsek maju dengan pistol yang ada di tangan mereka masing-masing. Mereka menembak membabi buta, menyasar apa saja yang ada di depannya.


Berbanding terbalik dengan orang-orang Naga Hitam yang begitu bernapsu, Ken dan pasukannya tetap diam di tempatnya. Mereka memasang perisai baja setinggi dua meter. Gerakan mereka begitu cepat, menyatukan kepingan anti peluru itu sebelum tembakan sampai ke arah tuannya.


Rentetan bunyi pistol masih terdengar di depan sana, sementara Ken masih menatap arloji di pergelangan tangannya. Ia dan pasukannya siap menyerang beberapa detik lagi, saat mereka kehabisan peluru. Orang-orang bodoh itu tidak memakai tak tik sama sekali, hanya asal menembak saja. Mereka bukan orang-orang terlatih seperti pasukannya ini.


"Sekarang!" perintah Ken tajam dan menukik.


DUARR


Shun melempar dua buah granat tepat di tengah pasukan orang-orang yang tetap bergerak maju, membuat puluhan dari mereka bergelimpangan di tanah.


Swuuushhh


Yoshiro melempar dua bom asap, membuat pandangan orang-orang kabur dan berhenti menembak.


Dor

__ADS_1


Dor


Dor


Belum habis keterkejutan mereka atas ledakan tiba-tiba dari dua bom yang berbeda jenis itu, Ken bersama orang-orangnya menghujani mereka dengan serangan tak terduga. Puluhan orang tumbang detik itu juga, menyisakan beberapa orang yang kini melindungi tuan Harada.


"BAKA!" maki pria itu, merasa marah karena ratusan orangnya sudah tumbang dan belum ada satu pun bawahan Ken yang terluka.


(Bodoh!)


"Sudah puas, Harada-san?" tanya Ken dingin dan tajam.


"Sial! Kenapa kalian diam saja? Bunuh orang itu!" hardiknya pada sepuluh pengawal di sekelilingnya. Pistol di tangannya ia buang sembarang, kehabisan peluru.


Kesepuluh orang itu merangsek maju, bersiap menyerang Ken.


Dak


Duk


Bruk


Hanya butuh beberapa detik bagi para pengawal Ken untuk menumpas sepuluh orang itu, membuat mereka terkapar tak berdaya dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.


"Hanya sebatas ini kemampuan Anda?" Ken menatap pria yang kini berdiri tanpa pengawalan sama sekali.


"Hahahaha..." Bukannya takut atau meminta ampun, pria itu justru tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.


Hal itu membuat Ken memicingkan mata. Ia menajamkan semua inderanya, membaca situasi yang tiba-tiba hening ini. Ia tahu ada sesuatu yang tidak biasa di sini. Mungkin ada jebakan yang mengintai mereka.


"Nikmati pertunjukannya, Yamazaki-san!" Tuan Harada mengambil sebuah batu dan melemparnya beberapa. langkah di depan Ken.


DUARR


Sebuah ranjau meledak membuat Ken terlempar beberapa meter ke belakang. Ledakan-ledakan yang lain segera terdengar, membuat para pengawalnya tumbang detik itu juga.


Dari arah gudang tua itu, dua ratus orang keluar bersamaan, membawa berbagai senjata di masing-masing tangannya. Jebakan ini sudah tuan Harada siapkan sejak awal dan Ken tidak memperhitungkannya.


Sial!


Ken menatap sekeliling, menghitung para pengawalnya yang hanya tersisa beberapa orang saja. Kebanyakan dari mereka terluka karena menginjak ranjau yang tertanam di bawah tanah.


Orang-orang dari pihak tuan Harada semakin mendekat, membuat Ken mau tak mau harus melawan. Ia berdiri tegap, siap menghadapi pertarungan antara hidup dan mati ini. Darah yang mengalir di wajahnya, tak membuat semangat perlawanannya surut. Tak ada kata menyerah dalam kamusnya. Inilah pertarungan yang sebenarnya!


...****************...


Hwaaa.... Abang 😢😭😭😭


Pertarungan belum usai, see you next episode. Gomen kalo masih ada typo sana sini 🙏


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2