Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Menjadi Manusia Seutuhnya


__ADS_3

Ken masuk ke dalam perusahaan didampingi oleh Aira. Di belakangnya ada Minami dan Kosuke beserta beberapa staff khusus yang menyertainya. Beberapa karyawan yang kebetulan masih ada di lobi langsung menundukkan kepala begitu mengetahui petinggi mereka telah tiba.


"Sebelah sini, Nona." Minami menunjukkan jalan lain, merujuk pada koridor panjang yang cukup lengang. Ada lift khusus di ujung sana yang akan membawa mereka langsung ke ruangan Ken.


Sementara Ken dan para pengikutnya melalui koridor lain menuju ruang rapat di lantai tiga. Mereka layaknya serombongan serigala yang siap menerkam mangsanya. Tak ada gurat senyum sedikit pun.


"Mereka kemana?" tanya Aira yang kini berdiri di dalam kotak besi yang mulai berjalan naik melawan arah gravitasi bumi.


"Ada rapat terbatas dengan para pemegang saham berkaitan kerjasama dengan Circle K," jawab Minami.


Aira sampai di ruangan Ken. Seorang wanita empat puluh tahunan menundukkan kepalanya. Sepertinya ia sekretaris yang posisinya sejajar dengan Kosuke, terlihat dari pin berbentuk bintang yang melekat di dada sebelah kanannya.


"Selamat pagi, Nyonya."


"Pagi," jawab Aira sambil tersenyum.


"Silakan," wanita itu membukakan pintu di depannya untuk nyonya muda Yamazaki.


Aira duduk sejenak di kursi sofa yang ada di sebelah kiri pintu masuk. Ia mengatur napasnya yang terasa sedikit berat setelah berjalan beberapa puluh langkah.


"Saya akan menyiapkan minuman untuk Anda," ucap Minami.


"Terima kasih."


Aira menatap sekeliling ruang kerja suaminya. Ini ke-3 kalinya Aira masuk ke tempat ini. Pertama adalah ketika Ken memperkenalkan Aira sebagai istrinya kepada seluruh staff Miracle, beberapa bulan yang lalu. Dan yang kedua adalah saat Aira mengantarkan bento untuk Ken, dimana pria itu justru cemburu karena mencium parfum Shun yang masih melekat di bajunya. Setelahnya, Ken tidak pernah mengizinkannya ikut ke perusahaan. Jika tadi ia tidak marah, maka bisa dipastikan ia tidak ada di tempat ini.


Aira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tersenyum melihat dekorasi ruang kerja suaminya yang cukup simpel.



Sekilas dekorasi ruangan ini mirip dengan kediaman mereka, dimana hitam menjadi warna yang paling dominan. Tak ada hiasan berlebihan yang terpajang di sini, hanya kaligrafi bertuliskan aksara China yang tidak Aira ketahui artinya. Hiasan lainnya adalah sebuah lukisan alam dengan warna yang senada dengan tampilan ruangan ini secara keseluruhan, hitam, putih dan krem. Nampaknya ketiga warna itu sungguh merefleksikan sosok Ken yang terkesan gelap dan misterius di dunia bisnis. Hal itu tentu saja berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya dimana ia bisa begitu manja dan senang menggoda istrinya.


"Apa kabar, kakak ipar?" tanya seorang pria yang menunjukkan kepalanya dari balik pintu. Hanya terlihat kepalanya saja, membuat Aira terhenyak dan tidak bisa berkata-kata. Otaknya blank sepersekian detik, menatap pria yang kini tersenyum padanya. Lesung pipinya terlihat begitu jelas di kedua sisi wajahnya.



"Apa aku mengejutkanmu?" tanya Yamaken sok imut sambil memainkan jemarinya di dagu. Sebelah alisnya naik turun, sengaja menggoda kakak iparnya. Ia langsung masuk ke ruangan ini tanpa meminta izin lebih dulu.


"Oh, adik ipar. Ku pikir itu Ken," jawab Aira spontan. Ia mendekat ke arah adik kembar suaminya dan mengamati penampilannya dari atas ke bawah. Setelan kelabu yang melekat di tubuhnya tampak pas, nampaknya dibuat khusus oleh desainer kepercayaannya. Tentu saja untuk publik figur sepertinya, ia harus terlihat perfeksionis dimanapun ia berada.


"Jangan jatuh cinta padaku. Ken pasti akan membunuhku jika itu terjadi," gurau Yamaken karena Aira masih men-scanning-nya dari atas ke bawah, kembali ke atas lagi. Ia mengerlingkan sebelah matanya membuat Aira tersenyum.


"Nani sore?"


(Apa-apaan itu?)


Aira kembali ke tempatnya semula, sementara Yamaken duduk dua langkah darinya. Ia memperhatikan kakak iparnya yang terlihat semakin berisi dengan kandungannya.


"Triplets?" tanya Yamaken melihat perut buncit Aira yang tertutup dress panjang berwarna hijau lumut, salah satu warna kesukaannya. Ibu menghubunginya kemarin demi mengatakan kabar bahagia itu.


"Umm. Tidakkah kamu ingin menyapanya?" tanya Aira.

__ADS_1


"Eh?" Yamaken tampak kikuk mendengar pertanyaan Aira. Ia tidak tahu apa maksud kakak iparnya. Jelas-jelas mereka masih ada di dalam kandungan, bagaimana ia bisa menyapanya?


"Say Hi to your uncle," Aira berucap sambil mengelus perutnya dengan sayang. Ia berbicara pada ketiga anaknya untuk menyapa Yamaken.


(Katakan Hai pada paman kalian)


Seolah mendengar penuturan ibunya, janin di dalam perut Aira bergerak aktif menimbulkan kedutan yang terlihat dari luar gamis yang dipakainya. Tentunya itu membuat Aira harus menahan ngilu karena tendangan para jagoannya. Ia menggigit bibirnya agar tidak mengaduh, hal itu tak lepas dari pandangan Yamaken.


"Eh?" Lagi-lagi Yamaken terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya ia duduk bersama seorang ibu hamil. Meskipun ia pernah bermain dorama yang memerankan tokoh seorang ayah, namun itu hanya rekaan semata. Tentu saja ia tidak tahu rasanya melihat pergerakan bayi di dalam perut seorang wanita.


"Apa mereka hidup?" tanya Yamaken spontan. Ia speechless, tidak tahu bagaimana harus merespon para jagoan kecil kakaknya.


"Pertanyaan apa itu? Berhenti memasang tampang bodoh seperti itu. Menggelikan," cibir Aira sambil melempar bantal kursi yang ada di sampingnya.


"Jadi, mereka benar-benar hidup di dalam sana?" ulang Yamaken, masih dengan ekspresi keheranan yang tampak jelas di wajahnya.


"Apa kamu bodoh?" tanya Aira sambil menutup mulutnya. Ia tidak bisa menahan tawanya melihat Yamaken yang tampak shock. Adik iparnya itu tiba-tiba menjadi bodoh dan tidak rasional. Memangnya di sekolah dulu tidak ada pelajaran biologi? Ada-ada saja.


Tepat saat itu Minami masuk membawa nampan berisi sebotol air mineral dan cangkir berisi coklat hangat favorit nona-nya. Asap putih masih mengepul di atas minuman manis itu.


"Silakan diminum selagi hangat," pinta Minami.


"Arigatou," ucap Aira.


(Terima kasih)


Aira meletakkan gelas itu kembali ke atas nampan dan meminum air mineral yang Minami berikan. Yamaken memperhatikan aktivitas kakak iparnya dalam diam. Ia kagum pada sosok Aira yang terlihat begitu tenang dengan kehamilan kembar tiga-nya ini. Dari penuturan ibunya, Yamaken dengar bahwa kehamilan tunggal saja membuat kebanyakan wanita merasa kerepotan. Bagaimana rasanya mengandung tiga anak sekaligus? Itu pasti sangat sangat merepotkan.


"Ah, aku ingin mengantarkan ini." Yamaken meletakkan dua lembar tiket gala premier pemutaran film yang dibintanginya.


"Whoaa... Sugee!" ucap Aira terkagum-kagum. Ia mengambil lembaran putih yang tergeletak di atas meja dan mengamatinya.


*Sugee \= sugoi \= keren


"Akhir pekan ini?" tanya Aira setelah melihat tanggal yang tertera di sana.


"Umm, aku harap kakak dan kakak ipar bisa datang."


"Aku akan membujuknya. Dia tidak akan bisa menolak permintaanku," cetus Aira penuh percaya diri.


"Terima kasih," ucap Yamaken sambil tersenyum.


"Ada apa dengan rambutmu? Kenapa tidak memotongnya?" tanya Aira melihat rambut Yamaken yang sudah cukup panjang sampai menutupi telinganya.


"Aku akan memotongnya nanti. Ini demi kebutuhan peran saja," jawab Yamaken canggung.


Dukk


Perut Aira kembali berkedut, membuat wanita hamil itu terpaksa memegangi perutnya sambil menggigit bibir bawahnya. Tendangan putranya yang tiba-tiba membuat Aira sedikit tersentak.


"Kakak ipar," panggil Yamaken.

__ADS_1


"Ya?"


"Hontou ni arigatou ... " ucap Yamaken setelah berdiri. Ia bahkan menundukkan badannya 90° pada wanita hamil di depannya.


(Terima kasih banyak)


"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Aira, merasa tak enak hati karena Yamaken mengucapkan terima kasih dengan begitu formal.


"Terima kasih karena tetap ada di sisi Ken. Terima kasih karena keberadaanmu membuatnya menjadi manusia seutuhnya." Ucap Yamaken tulus.


Tukk


Sebuah ketukan mendarat di kepala Yamaken, membuatnya seketika berdiri dan mencari pelakunya. Ia hanya bisa tersenyum kecut saat melihat sosok di depannya, cerminan dirinya dalam balutan pakaian hitam nan formal, Yamazaki Kenzo.


"Manusia seutuhnya? Apa sebelumnya aku bukan manusia? Jadi, aku ini sejenis siluman atau iblis?" tanya Ken kesal.


"Mungkin dua-duanya," jawab Yamaken sambil tertawa.


Ken mengulurkan tangannya hendak mengetuk kepala adik kembarnya lagi. Yamaken hanya bisa memejamkan mata bersiap merasakan sakit yang sama seperti tadi, tapi pada akhirnya Ken hanya menempelkan jarinya pelan.


"Baka!"


(Bodoh!)


Yamaken segera merangkul Ken dan menepuk-nepuk lengannya dengan semangat, "Kamu bisa mengontrol emosimu, itu artinya sudah cocok menjadi ayah."


"Heh? Itu pujian atau hinaan? Siapa bilang aku bisa mengontrol emosiku? Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga!!" ucap Ken sambil menarik tangan adiknya. Ia bergerak cepat, menjepit leher Yamaken di bawah ketiaknya.


"Aaa... aa, yamete!!" Yamaken berusaha mengelak dari Ken yang memiting lehernya.


(Hentikan!)


"Ai-chan, tasukete kudasai." Teriak Yamaken sambil menatap Aira yang hanya tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik identik itu.


(Tolong aku)


"Siapa yang mengizinkanmu memanggil kakak iparmu dengan nama kesayangan itu? Hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu!" Ken semakin semangat menjepit adiknya. Ia kembali menunjukkan sisi kekanak-kanakan yang dimilikinya, membuat Aira dan Minami tersenyum.


...****************...


Whoaaa... Kek anak kecil yaa mereka 😆😆


Ada-ada aja sih abang Yamaken ini, pake ngatain jadi manusia seutuhnya. Kan jadi marah si abang Ken itu 🤗💃💃


Seperti biasanya, author tunggu like n komen dari kalian. Ini author lagi bagus feelnya jadi bisa cepet up. Maaf kalo masih ada typo atau diksi yang kurang tepat atau aneh, kadang teksnya ganti otomatis. Saking smartnya ini ponsel 😂 *author belum punya lappy jadi masih ketik pake ponsel. Mohon doanya yaa semoga pundi-pundi reseh dari mangatoon lancar jaya biar cepet kebeli itu laptop, biar bisa makin banyak lagi upnya 😄


Jaga hati, jangan lupa ibadah. Ingat kita hidup cuma bentar di dunia ini. Tetap jaga kesehatan kalian yaa memasuki musim kondangan ini, eh maksudnya musim ujan. Hehe..


Jangan lupa tap jempol di kiri bawah biar author makin semangat nulisnya. Buat para silent reader juga terima kasih karena masih menyempatkan waktu membaca karya unfaedah ini. Tanpa kalian, author bukan apa-apa.


Jaa mata ne,

__ADS_1


Hanazawa Easzy 💃


__ADS_2