Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Ayah Siaga


__ADS_3

Matahari mulai kembali ke peraduannya, membuat semburat merah tampak di ufuk barat. Ken melepas peralatan ski yang ia pakai sejak siang tadi dan bergegas menemui istrinya di kafe. Langkah kakinya sengaja ia pelankan, berniat mengagetkan istrinya dari belakang. Kurang satu langkah lagi sebelum ia mencapai istrinya saat tiba-tiba Aira berbalik, membuat Ken salah tingkah.


"Ah, aku baru saja ingin.."


"Sudah selesai? Ayo pulang." ajak Aira dengan wajah murung. Ia menggamit lengan Ken dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mengatakan apapun. Keduanya sampai di stasiun kereta dan duduk bersama calon penumpang yang lain.


"Ai-chan, aku lapar. Apa kita punya seafood di rumah?" tanya Ken.


Hening


Aira tampak larut dalam lamunannya. Ia bahkan tidak mendengar sama sekali apa yang ditanyakan suaminya.


"Ai-chan, dou shimashita ka?" tanya Ken sembari menggenggam jemari mungil istrinya.


(Apa yang salah?)


Bukannya menjawab pertanyaan Ken, Aira justru menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Ai..."


"Sstt.." Aira meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, meminta suaminya untuk diam. Dia ingin tidak ingin mendengar apapun saat ini.


Tingkah aneh Aira berlanjut sampai di rumah. Ia tidak banyak bicara dan melakukan semua pekerjaan dengan mulut tertutup.


"AAGHH.." Aira tersadar dari lamunannya saat jari telunjuk tangan kirinya menjadi korban pisau dapur.


Ken yang baru selesai mandi segera menghampiri istrinya saat ia mendengar suara teriakan. Pria itu segera mencuci luka Aira di bawah air yang mengalir. Ia memberikan pertolongan pertama dengan membalut luka berdarah itu dengan perban.


"Dou shita?" tanya Ken penasaran. Ia menatap manik mata istrinya dengan intens, berharap Aira mau membagi masalahnya.


(Apa yang terjadi?)


Ken merasa bersalah karena terlalu asik bermain ski dan melupakan istrinya yang duduk sendiri di kafe. Ah, sebenarnya Aira tidak sendirian di sana. Ken diam-diam mengutus 5 orang pengawal rahasia di sekitar Aira. Tapi pengawal bayangan yang ia utus untuk melindungi Aira tidak melaporkan apapun. Tidak ada yang terjadi dengan wanita hamil itu kecuali berbincang dengan pengunjung kafe yang lainnya dan seorang pramusaji.


"Sayang... "


"Aku bertemu Rin." Aira berucap tiba-tiba saat Ken berniat membujuk istrinya untuk bicara.


"Rin?" Ken tidak tahu siapa yang dimaksud oleh istrinya.


"Temanku saat di Thailand."


FLASHBACK


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aira hati-hati. Ia menatap wanita di depannya dengan seksama. Ia tidak yakin mengenal wanita ini. Rasanya ini pertemuan pertama mereka.


"Kamu mungkin tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu." ucapnya penuh percaya diri.


Aira berusaha membuka memorinya yang lain, tapi dia benar-benar tidak ingat siapa wanita ini.


"Ternyata kamu benar-benar melupakanku." cetus wanita berambut sebahu itu.

__ADS_1


"Maaf." Aira berusaha menghindar secepatnya dari orang asing ini. Ia mengambil tasnya yang ada di atas meja dan bersiap pergi saat wanita itu mengulurkan tangannya.


"Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi seperti sepuluh tahun yang lalu. Namaku Tasanee Achara, Rin Tasanee Achara." ucap wanita itu menyunggingkan senyum hangatnya pada Aira.


"Achara? Sepuluh tahun yang lalu?" Aira merasa nama itu tidak asing, ia seperti pernah mendengarnya di suatu tempat. "Ah, Rin?" Aira membulatkan matanya saat menyadari bahwa gadis di depannya adalah sahabatnya saat pertukaran pelajar di Thailand.


"Akhirnya kamu mengingatku." ucap Rin antusias. Keduanya berpelukan setelah sekian lama tidak pernah berkomunikasi sama sekali.


"Hmm, maaf karena tidak mengenalimu." ucap Aira tak enak hati, "Penampilanmu terlihat sedikit berbeda dari waktu itu." ungkap Aira.


Rin yang ia kenal dulu berambut pirang tapi ia tidak pernah memakai riasan, hanya menampilkan kecantikan alaminya. Berbeda dengan sekarang, ia memotong rambutnya sebatas bahu, namun memakai riasan yang cukup tebal. Belum lagi bibirnya yang dipoles dengan lipstik warna merah menyala. Sungguh merubah imagenya yang dulu.


"Hmm, aku sengaja merubah gaya rambutku. Tuntutan pekerjaan." celoteh gadis berdarah Thailand itu. Ia tampak begitu bahagia bisa bertemu dengan Aira di tempat ini tanpa disengaja.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aira. Ia menatap Rin yang memakai apron hitam di dadanya.


"Aku bekerja paruh waktu." jawab Rin sambil menunjuk bagian dalam kafe, "Kamu sendiri?"


"Ah, aku sedang menemani suamiku bermain ski." jawab Aira sembari menggosok tangannya yang mulai terasa dingin. Ia melepaskan pelukan Rin beberapa detik yang lalu.


"Kamu sudah menikah?" tanya Rin penasaran. Aira menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya itu.


"Syukurlah. Kamu beruntung." ucapnya lirih hampir seperti bisikan, raut wajahnya berubah sedih saat itu. Ia menatap ke arah lain, seperti tengah mencari pelampiasan.


"Ya?" tanya Aira heran. Ia tidak yakin dengan kalimat yang dikatakan Rin tadi. Aneh. Ambigu. Aira masih bisa mendengar bisikan Rin itu, tapi ia tidak berhak menanyakannya lebih lanjut.


"Bukan apa-apa." Rin membawa helaian rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sengaja Aira melihat pergelangan tangan Rin yang tampak biru kehitaman, "Berikan nomor ponselmu. Aku akan menghubungimu lain kali." ucapnya sambil menyodorkan ponselnya pada Aira. Saat itulah Aira melihat ada luka sayat yang mulai mengering di punggung tangan Rin.


"Ah, aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa." Rin berlalu ke dalam kafe lagi, meninggalkan Aira yang kini berkutat dengan pemikirannya sendiri.


'Apa yang terjadi dengan Rin? Darimana ia mendapatkan luka itu?'


FLASHBACK END


"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Ken setelah istrinya selesai menceritakan kilas balik kejadian tiga jam yang lalu.


"Aku ingin tahu seperti apa kehidupan pribadinya. Dia terlihat sedikit berbeda. Mungkinkah seseorang melukainya?"


Ken tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Ia tidak bisa menyatakan opininya jika belum tahu informasi apapun tentang Rin. Ia menatap Aira yang tampak begitu khawatir, bahkan sampai membuatnya menggigit bibir bawahnya. Itu kebiasaan Aira saat gugup atau takut.


"Ai-chan..." Ken membelai kepala istrinya dengan lembut, "Jangan terlalu memikirkannya. Aku akan utus seseorang untuk menyelidikinya. Jadi, tenanglah." pinta Ken pada Aira.


"Terima kasih." lirih Aira, "Jangan ganggu Kosuke." Aira menahan lengan Ken yang bersiap pergi.


"Hmm, aku akan meminta orang lain." Ken tersenyum pada Aira dan mengecup keningnya sekilas.


"Tetap di sini. Kamu harus istirahat. Aku yang akan menyelesaikan masakannya." Ken berlalu ke dapur dan melanjutkan aktivitas Aira sebelumnya. Sesekali ia menatap istrinya yang kini duduk menghadap televisi layar datar yang menampilkan salah satu dorama yang dimainkan Yamaken, adik kembarnya.


30 menit berlalu, keduanya makan malam bersama. Ken menikmati cumi goreng tepung buatannya sementara Aira memakan sup ayam dengan tambahan jahe untuk menghangatkan badannya. Ken harus memastikan istrinya tidak kekurangan gizi.


...****************...

__ADS_1


5 minggu kemudian...


Ken berlari dengan tergesa menuju ruang perawatan pasien di lantai 3 Tokyo Women's Medical University Hospital. Ia langsung menghampiri Aira yang terbaring lemah di atas ranjang. Di belakangnya, ada Kosuke yang mengikuti dengan langkah cepat. Ia kembali bekerja sejak beberapa hari yang lalu setelah libur panjangnya bersama Minami.


"Ai-chan..." panggil Ken begitu Aira membuka mata. Ia terbangun dari tidurnya saat merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan erat.


"Apa yang terjadi? Minami mengatakan kamu pingsan saat ada di taman." Ken menatap istrinya dengan cemas. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya atau buah hati mereka. Ia meninggalkan rapat setelah Minami menghubunginya. Ia belajar menjadi ayah siaga untuk buah hatinya.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing." jawab Aira sembari menyentuh wajah suaminya yang kini tepat ada di depannya.


"Kosuke, panggil dokter kemari." pinta Ken tanpa menatap asistennya itu. Ia tak henti mengamati istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, memeriksa apakah ada luka yang dialami istrinya atau tidak.


"Saya disini." jawab seorang dokter wanita dengan kacamata tebal yang bertengger di atas hidungnya. Ia masuk ke ruangan ini bersama Minami. Asisten Aira itu memanggilnya saat mengetahui Ken sampai di lobby rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Ken.


"Nyonya Khumaira baik-baik saja, tidak ada yang serius."


"Dia pingsan dan Anda mengatakan tidak ada yang serius?" Ken agak emosi setelah mendengar jawaban singkat dokter.


"Pingsan bisa dialami oleh semua ibu hamil sejak awal kehamilan hingga saat menjelang persalinan, tergantung kondisi fisik masing-masing. Mereka hilang kesadaraan secara tiba-tiba, selama beberapa detik hingga beberapa menit. Sebelum pingsan, umumnya bumil akan merasakan sensasi seperti melayang dan berputar, pusing, lemah, atau mual. Setelah itu, suara-suara di sekelilingnya akan berangsur-angsur terdengar menjauh, hingga akhirnya bumil jatuh pingsan." jelas dokter spesialis kandungan itu.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Ken.


"Saat hamil, bumil akan mengalami perubahan kadar hormon dalam tubuh. Sejak awal kehamilan, hormon progesteron akan meningkat dan membuat pembuluh darah melebar. Hal ini menyebabkan tekanan darah menjadi lebih rendah dari biasanya.


Bila ibu hamil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darahnya juga akan menurun dengan cepat. Secara bersamaan, aliran darah ke otak mendadak berkurang dan membuat ibu hamil pingsan.


Selain itu, pingsan juga bisa terjadi ketika otak kekurangan oksigen. Salah satu penyebabnya adalah anemia. Anemia, atau kurang hemoglobin, merupakan masalah yang sering dialami ibu hamil. Padahal, hemoglobin sangat dibutuhkan untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh." jelas dokter wanita berusia empat puluh tahunan itu.


"Saya juga sering pusing setelah bangun tidur dok." ucap Aira setelah duduk bersandar dibantu oleh Ken.


"Itu hal yang wajar. Pada trimester kedua dan ketiga, rahim Anda menjadi semakin besar. Setelah tidur terlentang, tekanan dari rahim akan menghambat aliran darah dari tubuh bagian bawah yang seharusnya kembali ke jantung. Jika ini terjadi, darah yang dipompa jantung menjadi berkurang dan menyebabkan tekanan darah semakin rendah.


Jika tekanan darah semakin rendah, aliran darah ke otak bisa berkurang. Inilah yang membuat Anda kerap merasakan pusing dan mual jika tidur terlentang. Bila gejala ini dibiarkan, lama-kelamaan bisa menyebabkan pingsan."


"Apa ada penyebab lain dok?" Ken ingin mengetahui hal yang mungkin terjadi pada istrinya, jadi ia bisa mencegahnya sebelum Aira benar-benar pingsan.


"Pingsan juga bisa disebabkan karena dehidrasi. Kurang minum selama hamil bisa menyebabkan istri Anda mengalami dehidrasi. Kondisi ini ditandai dengan rasa haus yang berlebihan, urine yang berwarna lebih pekat, mulut kering, dan pusing. Pada dehidrasi yang berat, cairan dalam pembuluh darah juga akan berkurang, sehingga tekanan darah menjadi rendah. Faktor inilah yang dapat menyebabkan pingsan pada ibu hamil. Selain beberapa penyebab di atas, ibu hamil yang mengalami diabetes, gangguan kecemasan, dan yang melakukan olahraga berat juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pingsan." pungkas dokter itu mengakhiri penjelasannya.


"Bagaimana keadaan anak kami?" tanya Ken khawatir.


"Tidak ada gejala lain setelah istri Anda pingsan. Tapi kita bisa melakukan USG sekarang jika istri Anda tidak keberatan."


Aira mengangguk mengiyakan saran dari orang yang lebih berilmu ini. Ia juga ingin mengetahui perkembangan buah hatinya.


...****************...


Sekian dari author, ditunggu like dan komen kalian 😉🤗


Maaf kalo masih ada typo, see you..

__ADS_1


Hanazawa easzy 💜


__ADS_2