Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Pria yang Licik


__ADS_3

"Kapan ibu datang?" tanya Aira saat sampai di anak tangga terbawah rumahnya. Matanya menangkap bayangan sesrorang yang sangat ia rindukan, ibunya.


"Khumaira!" panggil wanita berjilab hijau itu. Beliau segera mendekat ke arah putri semata wayang yang berhambur memeluknya.


Kedua wanita Indonesia itu saling berpelukan, melepas kerinduan satu sama lain. Anita mengurai pelukannya sebelum menciumi wajah Aira dengan membabi buta. Ini adalah pertemuan mereka kembali setelah beberapa bulan berpisah.


Saat kepulangan Aira beberapa bulan yang lalu, mereka tidak sempat bertemu karena tiba-tiba kondisi kesehatannya memburuk dan harus dibawa kembali ke Jepang untuk mendapat penanganan yang lebih baik.


"Okaa-san ga koishii?" tanya nyonya Sumari saat melihat menantunya kembali memeluk wanita yang telah melahirkannya 26 tahun yang lalu.


(Apakah kamu merindukan ibumu?)


"Umm. Totemo!" Aira mengangguk dengan mantap.


(Sangat sangat (merindukannya))


Nyonya Sumari ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Aira. Begitu juga dengan Ken, ia senang bisa memberikan kejutan untuk istrinya.


"Jadi, kapan ibu sampai di sini?" tanya Aira antusias. Ia ingin mendengar cerita dari mulut ibunya secara langsung, bagaimana beliau bisa sampai di tempat ini. Tempat yang sangat jauh daei indonesia, melewati ribuan kilometer perjalanan udara.


"Semalam, sekitar jam dua belas malam. Pesawat delay dua jam karena ada kendala teknis katanya."


"Jam dua belas?" Aira beralih menatap suaminya.


Plakk


"Kenapa tidak mengatakannya padaku?" tanya Aira setelah menepuk lengan suaminya cukup keras. Ia kesal karena Ken tidak mengatakan kedatangan ibunya, padahal jelas-jelas ia belum tidur di jam-jam itu. Aira baru bisa tidur lewat jam lima pagi tadi.


"Surprise," jawab Ken tanpa beban. Ia menghindar dari pukulan kedua yang hendak istrinya layangkan.


(Kejutan)


"Sudah sudah. Ibu yang menyuruh ibumu untuk langsung istirahat. Dia pasti lelah setelah perjalanan panjangnya. Nanti kamu bisa mengobrol sepuasnya dengan ibumu tanpa gangguan." Nyonya Sumari melirik putra sulungnya yang kini duduk manis di meja makan.


Ken tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sindiran yang nyonya Sumari tujukan padanya. Ia dengan enteng membuka stoples di depannya yang berisi makanan semacam keripik yang berwarna merah.


Ibu Aira tidak memahami apa yang besannya katakan, tapi dari bahasa tubuh yang wanita itu tunjukkan, ia tahu nyonya Sumari sedang mengatakan sesuatu untuk menyindir anaknya sendiri.


"Sekarang ayo makan. Ibumu membawa banyak makanan khas Indonesia, aku tidak sabar mencobanya." Nyonya Sumari tampak begitu antusias melihat sajian berbagai makanan khas dengan aroma yang menggugah selera ini.

__ADS_1



Ada gudeg, makanan khas Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg biasanya dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tempe, tahu dan sambal goreng krecek.


Setidaknya ada tiga varian masakan ini yakni gudeg kering, gudeg basah, dan gudeg Solo. Gudeg kering disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang. Yang kedua ada gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Sedangkan gudeg Solo sama dengan gudeg basah namun arehnya berwarna putih. Ibu Aira sengaja membawa gudeg kering agar tidak takut kuahnya bercecer di perjalanan.



Masakan lain yang bu Anita bawa adalah rendang daging sapi. Ia sengaja menambahkan telur ayam dalam makanan olahannya itu karena ingat putrinya adalah penggemar telur sejati. Dia tidak akan bosan dengan asupan kaya protein hewani yang satu ini.



Dan tidak lupa, satu buah stoples berisi balado kentang yang dipotong bulat tipis semacam keripik menjadi pelengkap masakan Indonesia yang tersaji di meja makan kali ini, membuat seolah-olah mereka sedang sarapan di Indonesia, bukan di Jepang.


Nyonya Sumari tersenyum lebar. Meski bukan yang pertama kalinya mengecap makanan sarat rempah ini, nyatanya beliau terlihat begitu senang dengan hidangan makan pagi kali ini.


"Ayo duduk, Bu," ajak Aira. Ia mempersilakan ibunya duduk di sebelah Nyonya Sumari. Ia sendiri duduk di sebelah Ken yang sedang memakan balado keripik kentang di piringnya.


Aira hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah suaminya satu ini. Memang akhir-akhir ini napsu makannya naik drastis, selalu makan lebih banyak dari biasanya.


"Ken?!" Nyonya Sumari menatap Ken dengan pandangan tidak suka. Putranya itu terlihat tidak sopan karena mulai makan lebih dulu saat yang lain belum memulainya.


"Ah, benarkah? Bagaimana bisa kamu membiarkan suamimu menjadi gemuk? Apa bagusnya dia kalau gemuk? Aku akan meminta ahli gizi khusus untuk suamimu mulai besok."


Nyonya Sumari beralih menatap pria yang berdiri tak jauh dari meja makan mereka, "Kosuke, urus semuanya! Pastikan orang itu mengatur diet ketat untuk putraku. Aku tidak ingin melihatnya gemuk seperti ayahnya!" titah nyonya Sumari ketus.


"Baik, Nyonya." Kosuke menundukkan kepala, siap pada perintah nyonya besar di keluarga tempatnya mengabdi ini.


Ken diam saja, tidak peduli pada komentar ibunya. Memang benar seperti yang Aira katakan, berat badannya naik cukup signifikan dua minggu terakhir. Tapi ia juga selalu menyempatkan diri olahraga setiap malam. Bahkan ada ruangan khusus olahraga yang ia siapkan di lantai atas, persis di sebelah kamarnya dan Aira.


Ken banyak menghabiskan waktu di ruangan itu sebelum tidur. Ia sengaja melakukannya agar tidak selalu menempel pada Aira. Bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal yang masih mempunyai kebutuhan biologis. Namun, selama masa penyembuhan istrinya, Ken tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Satu-satunya cara adalah membuatnya berkeringat dengan olahraga minimal satu jam, entah itu angkat beban, push up, sit up, atau pun yang lainnya. Setelahnya Ken akan mandi dan bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memenuhi kebutuhan biologisnya.


Aira meletakkan sesendok gudeg di depannya ke atas mangkuk nasi milik Ken. Ia juga melakukan hal yang sama pada piring nasi milik ibunya dan ibu mertuanya. Mereka berempat menikmati makanan lezat itu dalam diam. Sudah menjadi etika wajib di keluarga Yamazaki bahwa tidak ada yang boleh bersuara saat menyantap makanan.


Perpaduan berbagai bumbu dalam masakan bersantan itu semakin nikmat dipadukan dengan nasi hangat. Nyonya Sumari bahkan sampai mengambil nasi lagi untuknya sendiri. Ia merasa belum puas menikmati hidangan seenak ini. Hal itu membuat semua orang tersenyum, termasuk Kosuke.


Kosuke tahu jelas seperti apa sifat wanita itu. Ia begitu memperhatikan penampilannya dan ingin terlihat perfeksionis dengan tubuhnya yang tetap proporsional di usianya yang sudah menginjak separuh abad lebih. Tapi agaknya pagi ini nyonya Sumari tidak peduli atau pura-pura lupa pada prinsipnya itu. Mungkin bukan hanya Ken yang akan memerlukan nasihat ahli gizi, nyonya Sumari juga membutuhkannya.


...****************...

__ADS_1


"Aku harus berangkat. Jaga dirimu baik-baik." Ken berpamitan pada istrinya. Aira membantu memakaikan jas hitam pada suaminya. Keduanya kembali ke kamar setelah menyelesaikan sarapan tadi.


"Umm," jawab Aira saat Ken mencium keningnya di depan pintu.


"Tidak berpamitan pada anak-anak?" tanya Aira.


"Umm, aku akan kesana sekarang." Ken beranjak menuju kamar ketiga putranya. Mereka semua terbaring di masing-masing tempat tidurnya, menunjukkan kedamaian yang akan membuat siapa saja kagum pada ciptaan Tuhan paling sempurna ini.


"Aya-chan, daddy berangkat kerja dulu ya," bisik Ken pada Ayame. Ia mencium pipi dan kening putrinya berkali-kali, merasa gemas pada bayi yang sudah membuat Aira begadang sampai pagi. Ya, sama seperti hari-hari sebelumnya, putrinya ini yang paling aktif menyusu pada ibunya dibandingkan dua saudaranya yang lain.


"Akari-kun, jaga kedua adikmu dengan baik selama ayah tidak di rumah." Ken mengucapkannya setelah mencium puncak kepala putra sulungnya selama satu detik. Ia segera beralih pada Azami yang sedang menggerak-gerakkan tangannya di udara.



"Hey, Jagoan Papa! Kenapa tidak tidur seperti kakak-kakakmu yang lain?" Ken mengusap-usap perut Azami dengan gemas membuat bayi merah itu tersenyum. Ah, entah itu hanya kebetulan atau memang ia merespon perlakuan dari ayahnya.


Di antara tiga bersaudara itu, memang Azami yang paling ceria. Ia lebih banyak tersenyum dibandingkan dua kakaknya. Mungkin itulah sifatnya saat besar nanti. Ken sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana tumbuh kembang ketiga anak-anaknya. Ken menempelkan hidungnya pada Azami dan menciumnya sekilas.


"Sudah?" tanya Aira yang berdiri di sisi Ken. Ia menyaksikan interaksi suaminya dengan ketiga kesayangan mereka itu.


"Umm, aku akan terjebak di sini jika tidak menyudahinya dengan cepat. Aku pasti akan sengat merindukannya sepanjang hari."


Ken dan Aira mulai menapaki tangga satu per satu. Tak lupa pria itu memegangi pinggang Aira, menjaga wanita miliknya tetap dalam jangkauan teritorialnya. Ya, selain manja setelah menjadi ayah, Ken semakin posesif pada istrinya itu. Ia tidak mengizinkan Aira melakukan hal lain selain mengurus anak-anaknya.


Ken tidak ingin Aira kelelahan dan membuat masa pemulihannya menjadi lebih lama. Ia ingin segera mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Dua minggu bisa ia lewati dengan baik, tapi entah minggu-minggu berikutnya nanti. Sepertinya semakin lama perjuangannya akan terasa semakin sulit. Ken tetaplah Ken. Pria ambisius dengan segala otak bisnis di kepalanya. Ia akan membuat pertimbangan yang matang bahkan untuk urusan pribadinya bersama Aira. Benar-benar pria yang licik.


...****************...


Dududududu.... Emang licik nih abang lesung pipi! 😥


Btw, itu makanan kesukaan author semua. Jadi laper kaan kaan kaan 😣 Ada yang mau traktir author? Ehehe 😁


Beberapa hari ini siklus tidur author lagi agak kacau, eh tapi bukan kacau juga sii, cuma lagi belajar atur waktu lagi. Tidur lebih awal biar bisa bangun tengah malem kaya sekarang. Karena emang di jam-jam segini tuh bikin tenang, ide jadi cemerlang, jadi makin halu juga sii 😂😂


Tapi risikonya adalah kelaperan tengah malem & makanan emak udah abis 😭😭 Jadilah kaya anak kos, makan mie instan. Padahal ngga boleh sering-sering kan yaa, takut melar juga nih badan. Udah item, pendek, gemuk, duh jangan deh. Penampilan itu penting lho gaess, terutama buat jomblowati seperti author ini 😂😂 Kan kan kaaan halunya makin menjadi. Sudah sudah 🤗


Terima kasih author ucapkan karena kalian masih menyempatkan baca tulisan unfaedah ini. Maaf kalo masih ada typo-typo dikit. Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE & SHARE yaa biar makin banyak orang yang halu kaya kita, hahaha... See you, 😙


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2