
"Sayang, bertahanlah!" Ken berseru tanpa memperlambat langkahnya. Ia khawatir karena kondisi Aira terlihat tidak baik-baik saja.
"Dokter! Dokter! Tolong periksa istriku!"
Sementara itu di lantai dua rumah sakit ini, dokter Tsukushi baru saja sampai di ruang pribadinya saat ponsel di sakunya bergetar.
"Nyonya Yamazaki?" ucapnya saat melihat panggilan telepon masuk berasal dari nyonya Sumari.
"Selamat siang, dengan dokter Tsukushi disini. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan, meski itu pada sahabatnya sendiri.
"Tsukushi-san, tolong putraku. Menantuku sepertinya akan melahirkan," ucap wanita 52 tahun itu dengan panik, suaranya bergetar dengan napas memburu.
"Hah? Melahirkan? Siapa?" Dokter Tsukushi linglung sepersekian detik, sebelum menyadari siapa yang sedang mereka bicarakan, nyonya muda keluarga Yamazaki. "Astaga! Melahirkan?! Dimana dia sekarang?"
Dokter Tsukushi segera beranjak dari duduknya dan mengambil jas kerjanya yang berwarna putih. Ia memakainya sembarang sambil berjalan meninggalkan ruangan pribadinya, melupakan waktu istirahat yang seharusnya ia nikmati saat ini.
"Dia ada di IGD. Kami terlalu panik dan tidak tahu harus pergi ke mana," ungkap wanita berpakaian oranye itu. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat, menyusul anak dan menantunya.
"Baiklah. Aku akan pergi ke sana sekarang."
Dokter Tsukushi naik ke dalam lift yang akan membawanya menuju lantai di bawahnya. Sebenarnya hanya berbeda satu lantai saja, ia biasa menempuhnya dengan berjalan kaki menuruni tangga agar lebih sehat. Tapi sekarang tidak ada banyak waktu, ia harus segera menemukan pasiennya itu sebelum terlambat.
Tadinya ia tidak berpikir bahwa Aira akan melahirkan hari ini, karena ia belum menampilkan tanda-tanda akan melahirkan kecuali sering buang air kecil dan kesulitan tidur semalam. Tapi, kondisi itu tidak bisa dikatakan sebagai tanda utama menjelang kelahiran karena kebanyakan wanita hamil di trimester akhir pasti mengalaminya, meski masih jauh dari hari perkiraan kelahirannya.
Ting
Kotak segi empat itu sampai di lantai yang dituju. Dokter Tsukushi segera berlari menuju ujung koridor, bagian depan rumah sakit, tempat dimana pasiennya berada. Ia mengabaikan pandangan orang-orang yang menatapnya dengan heran. Bagaimana tidak? Seorang dokter terburu-buru seperti itu, pasti ada hal yang sangat genting terjadi.
"Dimana dia?" tanya dokter Tsukushi pada nyonya Sumari yang berdiri di depan ruang operasi.
"Dia ada di dalam." Nyonya Sumari menunjuk pintu hijau di depannya.
"Ada apa, Bibi? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Kaori yang kebetulan melewati koridor yang cukup lebar itu.
"Kaori-chan, bantu aku. Sepertinya dia akan melahirkan." Dokter Tsukushi segera menarik Kaori untuk masuk ke ruangan operasi yang ada di dalam Instalasi Gawat Darurat rumah sakit ini, mengabaikan pertanyaan gadis itu pada nyonya Sumari.
Sebelumnya dokter wanita itu melihat bercak air kemerahan yang terlihat sepanjang koridor menuju ruangan ini, mungkin itu berasal dari pasiennya.
"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Kaori sembari membersihkan diri dan memakai pakaian khas operasi yang berwarna hijau. Ia melepas semua aksesoris di badannya dan menyimpannya dalam loker yang ada.
__ADS_1
"Air ketubannya pecah. Dia harus segera melahirkan bayinya," terang dokter Tsukushi yanh juga sibuk memakai setelan pakaian hijau, lengkap dengan topi yang membungkus kepalanya. Itu untuk memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang akan rontok saat operasi berlangsung.
*Pecah air ketuban umumnya terjadi menjelang persalinan. Hal ini bisa dirasakan bersamaan dengan tanda-tanda persalinan lain, seperti kontraksi yang makin lama makin kencang dan keluarnya lendir disertai darah dari ******.
"Sudah siap?" tanya dokter senior itu pada juniornya di dunia medis.
"Umm, aku siap!" Kaori mengangguk mantap.
"Ayo!"
Kedua orang itu masuk melalui pintu kecil yang diperuntukkan khusus bagi dokter dan perawat yang akan ikut melakukan operasi. Bahkan staf yang tidak berkepentingan dilarang masuk, terlihat dari papan peringatan yang terpasang di sana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya dokter Tsukushi pada dokter yang telah memeriksa keadaan Aira lebih dulu sebelum dia datang.
"Ketubannya pecah. Saya sudah memasangkan fetal scalp clip pada kepala bayi pertama untuk memantau aktivitas jantungnya."
"Baik. Siapkan peralatan operasi!" perintah dokter senior itu.
"Istri saya ingin persalinan normal, Dok!" bantah Ken spontan.
"Saya tahu. Sebaiknya Anda tetap tenang dan menenangkan istri Anda." Dokter Tsukushi menatap Ken dan Aira bergantian.
"Anda tidak perlu khawatir, alat ini aman digunakan bagi ibu dan bayi selama proses melahirkan bayi kembar." Kaori menepis tangan Ken yang seolah tidak percaya pada para. dokter di sana, sepertinya ia terlalu panik.
"Ken, Aira, kalian harus tetap tenang. Sekarang ambil napas perlahan, embuskan melalui mulutmu," pinta Kaori yang segera dilakukan oleh Aira.
"Baiklah. Kita akan bantu nyonya Khumaira melahirkan dengan normal. Apa kalian siap?" Dokter Tsukushi menatap kelima rekannya di ruangan ini.
"Siap!" jawab mereka bersamaan.
"Tuan, tolong genggam tangan istri Anda," pinta seorang wanita yang berdiri di samping Kaori. Ken segera menyrutinya.
"Anda siap, Nyonya?" tanya dokter Tsukushi memastikan.
Aira mengangguk.
"Sekarang tahan napas Anda sejenak, rasakan pergerakan bayi Anda di dalam sana. Saat Anda sudah merasakan ia ingin keluar, Anda bisa mengejan sekuat mungkin. Kaki bayi Anda akan menjejak keluar dengan sendirinya."
Aira lagi-lagi hanya bisa mengangguk, menuruti perintah orang yang lebih faham tentang dunia medis ini. Ia merasakan pergerakan satu bayinya yang seolah ingin menembus jalan keluar.
__ADS_1
Momen ini cukup mendebarkan bagi para dokter dan tenaga medis yang membantu jalannya persalinan. Sama seperti Aira, para dokter dan tenaga medis ini juga mengharapkan terdengarnya satu suara yang akan menenangkan hati : tangisan bayi baru lahir.
Aira mempererat genggamannya di tangan Ken, sementara tangan yang lainnya meremas sprei dengan kuat di sisi badannya. Dalam hati ia berdzikir, 'Laa hawla wa laa quwwata ila billahil 'aliyyil 'adzim.'
(Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)
Kalimat “laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah SWT.
(https://rumaysho.com/14840-arti-laa-hawla-wa-laa-quwwata-illa-billah.html)
"Eaaa ... eaaa ..." Suara tangis bayi memenuhi ruangan steril ini. Aira mengembuskan napas lega kala mendengar nyanyian paling indah di dunia ini. Ia tersenyum menatap Ken yang menciumi keningnya berkali-kali.
"Selamat, Sayang. Kamu sudah menjadi ibu." Ken mengelus air mata yang keluar dari ujung mata istrinya.
Aira mengangguk lemah, mengiyakan ucapan suaminya.
"Tuan, bayi Anda." Seorang perawat mendekat dan memberikan bayi kemerahan itu pada Ken. "Dia laki-laki."
Ken menerimanya dengan suka cita, menyambut buah hatinya dengan kebahagiaan yang menjalar memenuhi segenap perasaannya. Ia sudah menjadi ayah sekarang.
Ken mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya dan membisikkan iqomah di telinga kirinya. Itu adalah ritual wajib seorang muslim, tugas pertama seorang ayah pada buah hatinya.
Para dokter dan tenaga medis yang lain ikut merasakan haru meski tidak tahu apa yang sedang Ken lakukan itu pada putranya. Nyatanya alunan adzan dan iqomah itu menggugah hati mereka, membuat beberapa orang meneteskan air mata, termasuk Kaori.
Dokter cantik itu yang paling tahu seperti apa perjalanan pahit yang harus Aira tempuh sampai hari ini. Itulah sebabnya ia memilih tetap ada di rumah sakit ini sampai sahabatnya itu melahirkan. Meninggalkan tugasnya di Tokyo untuk sementara waktu. Lagi pula, masih ada ayahnya dan dokter lain di sana. Ia ingin memastikan Aira melahirkan ketiga buah hatinya dengan selamat.
Setelah bayi pertama lahir, Aira bisa beristirahat sebentar sembari dokter memeriksa posisi bayi kedua dan melakukan pemeriksaan v*gina.
"Tak lama setelah kelahiran bayi pertama, leher rahim Anda akan membuka lagi untuk memberi jalan bagi bayi berikutnya." Dokter Tsukushi menjelaskan. "Namun, bila Anda tak kunjung mengalami kontraksi atau bukaan, kami akan memberikan infus berisi obat hormon. Obat tersebut digunakan untuk memicu kontraksi dan bukaan leher rahim (serviks). Kami juga akan memberikan obat khusus untuk mencegah perdarahan hebat setelah melahirkan bayi kembar nantinya."
Aira mengangguk, pasrah pada perlakuan tenaga medis yang mengurusnya.
"Jika ternyata bayi kedua atau ketiga posisinya sungsang, saya harus membenarkan dulu posisinya sebelum dikeluarkan. Dalam kasus yang sangat langka, bayi selanjutnya akhirnya harus dilahirkan lewat operasi caesar untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi."
...****************...
Akhirnya lahir juga 😍😍😍
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy ⚘