Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Hati yang Lembut


__ADS_3

Angin malam berembus lembut, membawa hawa dingin yang membuat siapa saja enggan jauh-jauh dari penghangat ruangan. Jika pun ada, pastilah mereka membalut tubuhnya dengan dua atau tiga lapis pakaian. Meski sudah berada di ujung musim semi, dimana menandakan udara jauh lebih hangat dari dua bulan yang lalu, nyatanya seluruh kota ini masih terasa dingin.


Sinar bulan berpendar di langit, menunjukkan pesona cantiknya yang tak banyak disadari oleh para manusia di kota metropolitan yang super sibuk ini. Kaki mereka melangkah cepat, menapaki jengkal demi jengkal jalanan beraspal warna hitam. Sesekali mereka harus naik turun trotoar, menyeberang di persimpangan jalan, dan tentu saja naik turun tangga saat masuk ataupun keluar dari stasiun.


Ya, di negara empat musim ini, moda transportasi darat, laut, dan udara berkembang pesat. Dan yang menjadi primadona semua kalangan adalah kereta cepat atau Shinkanshen. Sesuai namanya, kereta cepat berarti deretan gerbong yang melaju di atas rel dengan cepat. Bahkan beberapa kendaraan besi itu diklaim sebagai moda transportasi paling cepat yang bisa bersaing dengan pesawat jet pribadi. Kecepatan tertingginya bisa mencapai 300 km/jam. Mencengangkan.


Karena kecepatannya, shinkansen juga sering disebut kereta peluru. Jalur kereta api cepat di Jepang dioperasikan oleh empat perusahaan dalam grup Japan Railways. Shinkansen sendiri merupakan sarana utama untuk angkutan antar kota di negeri sakura, selain pesawat terbang. Ratusan bahkan ribuan kereta cepat siap mengantar penumpangnya sampai ke stasiun yang dituju, salah satunya seperti Yamaken ini.


Dengan memakai topi hitam dan masker yang menutupi sebagian wajahnya, pria 28 tahun ini duduk tenang di salah satu kursi yang ada di sana. Sekali dua dia menatap arloji di tangannya. Kakinya menghentak-hentak ke lantai, tak sabar ingin segera berlari menuju apartemennya di sisi lain kota ini.


Tak berapa lama kemudian, kereta yang membawa ratusan penumpang ini terhenti di salah satu stasiun besar di kota ini, yakni stasiun Shinjuku. Tempat ini adalah stasiun tersibuk di dunia, dimana ada begitu banyak perjalanan kereta cepat dari atau menuju kota ini. Tak sedikit orang yang tersesat karena begitu padatnya mobilitas setiap orang di sini. Bukan hanya pengunjung atau wisatawan, bahkan warga lokal juga seringkali tersesat dan akhirnya meminta bantuan pada petugas untuk menunjukkan jalan yang tepat.


Bagaimana tidak? Stasiun ini melayani setidaknya 3,4 juta pengguna setiap harinya. Hal itu disebabkan karena Shinjuku merupakan distrik bisnis dan hiburan terbesar di Jepang. Dan stasiun Shinjuku adalah jantung distrik ini.


Stasiun Shinjuku menjadi stasiun terminal yang berfungsi untuk menghubungkan kota dengan daerah pinggiran kota. Di sini selalu dipenuhi banyak orang, terutama di jam-jam berangkat dan pulang kerja. Jangan harap mendapat kursi kosong di dalam kereta, bisa masuk dan berdiri saja sudah merupakan suatu keberuntungan. Ratusan orang terpaksa menunggu kereta berikutnya dan kembali siap berdesakan dengan penumpang yang lainnya agar tidak terlambat masuk kantor.



Untunglah hari ini sudah cukup larut, jadi Yamaken bernapas lega karena bisa berjalan bebas tanpa takut bertabrakan dengan penumpang yang lainnya.



'Husbu sejuta umat' itu segera berlari menaiki tangga, menuju pintu keluar sebelah selatan yang akan membawanya melihat dunia luar. Ia semakin mempercepat langkahnya, berharap tak lagi menyia-nyiakan waktu untuk menemui Sang Kekasih.


Hosh


Hosh


Langkah kaki Yamaken berhenti sejenak, melepas masker abu-abu yang sedari tadi menutup mulut dan hidungnya. Ia mencoba mengambil napas sebanyak mungkin tanpa melepas pandang dari keadaan sekitar yang masih ramai. Ya, dia ada di depan Kabukicho, satu kawasan khusus yang tak pernah tidur 7/24. Ada begitu banyak manusia yang menghabiskan waktunya di tempat ini 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Sungguh tak mengenal jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun.



Kabukicho yang tidak pernah tidur ini selalui dihiasi cahaya-cahaya lampu, tidak peduli seberapa malam waktu yang ditunjukkan. Tempat ini adalah distrik hiburan terbesar di Jepang, dan berjarak hanya sekitar lima menit dari stasiun. Restoran robot di sini menawarkan hiburan yang sangat mengagumkan dan telah mendapatkan popularitas di kalangan turis asing.

__ADS_1


Bahkan ada begitu banyak wanita yang menjajakan dirinya di tempat ini. Mereka berharap bisa menggaet pelanggan dan mendapat keuntungan materi yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini tentu saja memudahkan para pria hidung belang dalam mencari mangsa. Seperti adanya lalat yang mengerumuni sampah, keduanya tak terpisahkan satu sama lain. Sungguh itu hanyalah permainan dunia yang bisa membuat siapa saja lupa akan keberadaan Tuhannya.


Yamaken harus menyusuri kawasan ini sebagai jalan pintas menuju apartemennya di ujung sana. Begitu melewati deretan pertokoan kerlap kerlip ini, hanya cukup berjalan 200 meter lagi dan Yamaken akan sampai di salah satu gedung pencakar langit yang ia huni sejak beberapa tahun yang lalu. Jika melalui jalan lain, setidaknya memakan waktu tiga puluh menit. Dan Yamaken tidak memilih opsi itu. Ia ingin segera bertemu gadisnya.


Pukk


Sebuah tepukan mendarat di bahu kanan Yamaken, membuat pria lesung pipi itu menoleh. Keningnya berkerut saat melihat seorang pria dengan pakaian serba putih kini berdiri di sebelah kanannya. Penampilannya begitu kontras dengan keadaan sekitar, membuatnya seolah terlihat bersinar dalam kegelapan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yoshiro.


Yamaken menoleh ke kanan dan kiri, mencari tahu respon orang-orang di sekitar mereka. Ia bisa bernapas lega karena tidak ada satu orang pun yang mengenalinya. Tadinya ia khawatir jika orang-orang menyadari keberadaan aktor sepertinya berkeliaran di jalan tanpa pengawalan.


"Kamu mengagetkanku, Yoshiro-san." Yamaken kembali memakai maskernya dan menghadap pria yang lebih tua setahun darinya. Dia adalah sahabat baik Ken, tentu saja mereka saling mengenal satu sama lain.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Untuk apa kamu kemari?" ulang Yoshiro, memastikan alasan Yamaken berada di tempat ini. Tidak mungkin dia mencari 'mangsa' seperti para kupu-kupu malam yang bertebaran di sini. Jelas-jelas Yamaken seorang pria. Dan dia juga bukan orang yang terlihat ingin menjadi sugar daddy. Sama sekali bukan.


"Tidak ada. Aku hanya ingin kembali lebih cepat ke apartemen. Satu-satunya jalan pintas adalah melalui tempat terkutuk ini." Yamaken mulai berjalan, bersisian dengan putra angkat keluarga Ebisawa ini.


"Kamu sendiri? Apa Yu tahu kamu datang ke tempat seperti ini?"


"Aku sedang mencari 'semut'," jawabnya lirih, sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Yamaken, takut ada orang lain yang mendengarnya. Bagaimanapun juga, pekerjaan ini tidak mudah. Ia harus selalu berhati-hati dalam setiap langkahnya.


"Jangan katakan itu tugas dari kakakku. Kamu benar-benar patuh padanya." Yamaken mencibir kesetiaan Yoshiro pada saudara kembarnya yang hanya berbeda beberapa menit saat lahir 28 tahun yang lalu.


"Bukan urusanmu!" ketus Yoshiro datar, tanpa ekspresi.


"Baiklah. Selamat bekerja!"


Yamaken melambaikan tangannya saat Yoshiro berjalan menjauh darinya. Pria itu mendekat ke arah beberapa wanita cantik yang memakai pakaian mini. Tampak dia mulai melancarkan aksinya, mencari tahu keberadaan semut buruannya. Semut yang dimaksud adalah orang yang sudah membantu pelarian tuan Harada ke Thailand. Menurut informasi, pria itu adalah salah satu pemilik club house di sini. Satu-satunya cara adalah masuk ke tempat ini dengan berpura-pura sebagai pelanggan.


Yamaken menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin memikirkan hal ini lagi. Bukan urusannya sama sekali. Dunia gelap dimana kakaknya berkecimpung sama sekali bukan tempat yang mudah dimasuki. Nyawa mereka menjadi taruhannya. Hidup dan mati hanya terhalang kedipan mata. Benar-benar mengerikan.


Pria tampan ini memilih mempercepat langkahnya, mengabaikan Yoshiro yang kini dikelilingi para wanita cantik. Itu benar-benar bukan urusannya dan dia tidak tertarik sama sekali. Hanya Mone yang membuat hatinya bergetar. Dan sekarang saatnya dia menemuinya demi memperbaiki hubungan mereka. Semoga saja gadis itu masih ada di apartemennya.

__ADS_1


Krekk


Yamaken mendorong pintu di depannya setelah menekan kombinasi angka yang menjadi password keamanan huniannya ini. Dia menukar sepatunya dengan sebuah sandal berbulu yang memang tersedia di depan pintu. Senyumnya merekah saat melihat sepatu milik Mone masih ada di sana. Itu berarti gadisnya masih ada dan hubungan mereka bisa diperbaiki secepat mungkin. Yamaken benar-benar menyayangi Mone. Mengabaikannya seperti sore tadi, nyatanya membuat hatinya sendiri sakit.


Aroma masakan tercium oleh hidung Yamaken, membuat keningnya berkerut dalam. Ia semakin masuk ke bagian dalam rumahnya dan mulai mendengar suara gaduh perpaduan sendok dan mangkuk. Sepertinya Mone sedang masak, memancing senyum di bibir Yamaken. Bukankah dia tidak bisa masak sama sekali?


"Garam, sedikit lada, lalu tambahkan bawang daun." Tampak Mone membaca resep dari layar ponselnya sambil memegang sebuah mangkuk berisi telur yang sudah ia kocok.


"Apa yang kamu lakukan?"


PRANG!


Mone tersentak, mangkuk di tangannya terjun bebas ke lantai dan pecah berkeping-keping. Suara Yamaken mengagetkan gadis menggemaskan ini, membuatnya kehilangan kendali atas keramik putih di tangannya.


"Kapan kamu datang?" tanya Mone salah tingkah. Ia berjongkok dan mulai memunguti pecahan keramik di lantai.


"Baru saja," jawab Ken canggung. Ia membantu Mone sambil sesekali menatap wajah bulat di hadapannya. Dengan cekatan Mone membersihkan lantai dengan kain pel yang ada di pojok ruangan.



"Masakan apa ini?" Yamaken menatap makanan di atas piring yang menampilkan dua lembar roti bakar yang gosong. Ingin sekali ia tertawa, tapi takut membuat gadisnya sakit hati. Jadi, dia hanya menyimpan tawanya dalam hati. Baik Ken maupun Yamaken, keduanya sama-sama memiliki hati yang lembut. Tak ingin mencela hasil kerja keras wanita yang mereka cintai.


"Ah, itu. Aku ingin membuat sandwich untukmu. Tapi...." Mone menundukkan kepalanya, merasa malu karena ia benar-benar tidak bisa diandalkan di dapur. Memalukan.


Yamaken tersenyum. Ia paham betul kekurangan yang dimiliki oleh Mone ini. Jangankan masak, membuat roti panggang saja sampai seperti ini. Sepertinya ia harus mengajarkan calon ibu dari anak-anaknya ini untuk memasak. Ia menarik tangan gadisnya untuk mendekat. "Aku akan mengajarimu masak besok. Sekarang, ayo kita makan di luar!"


Kedua mata Mone membola. Dia terkejut dengan perlakuan hangat calon suaminya ini. Mungkinkah dia sudah memaafkan kesalahannya? Dan terlebih lagi, Yamaken berjanji akan mengajarkannya memasak besok. Bukankah jadwalnya begitu padat akhir-akhir ini? Bagaimana bisa dia memiliki waktu luang untuk mengajarinya berkutat di dapur?


"Ayo!" Yamaken menarik tangan Mone. Keduanya keluar dari dalam apartemen dan menuju salah satu restoran favoritnya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ya, ini saatnya bagi Yamaken untuk memenangkan Mone. Membuat hati gadis itu penuh olehnya agar tak ada lagi orang lain yang akan menghuninya.


...****************...


Ugh so sweet mereka berdua. Ada yang kangen papa Ken sama mama Aira? Sabar yaa, hihihii 😁

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2