Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Hampir Loss Control


__ADS_3

Kasus yang Ken hadapi mulai menemui titik terang. Hasil penyelidikan yang Yoshiro dan Yu lakukan mendapati fakta yang cukup mengejutkan, yakni dokter Olivia tidak pernah mendatangi kediaman nyonya Suzuki. Dia bahkan tidak pernah melayani perawatan kecantikan lagi sejak resign dari klinik tempatnya bekerja di Osaka.


Dokter wanita itu fokus mengurus yayasan sosial yang mengurus para penderita thalasemia bersama sahabatnya. Hal itu membuat Ken sedikir bernapas lega. Masih ada harapan untuk menyelesaikan permasalahan ini.


Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi saat Ken keluar dari ruang ganti. Ia memakai setelan jas lengkap dengan kemeja warna navy yang melekat di badannya. Ia harus berangkat lebih pagi demi mengurus pekerjaannya yang menggunung.


"Aku berharap kamu mengizinkanku membantu Yu," pinta Aira sambil memasangkan dasi di leher suaminya.


"Tidak. Kondisimu masih lemah. Bagaimana jika kamu sakit lagi? Aku tidak bisa memberikan ASI untuk jagoan-jagon kita," canda Ken. Ia mencubit hidung Aira dengan kedua jarinya.


"Tapi aku juga ingin membantumu." Aira memajukan bibirnya sebagai bentuk protes atas penolakan yang Ken lakukan padanya.


"Kamu bisa membantuku dengan ini."


Cup


Ken mencium bibir istrinya dengan antusias, menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar. Tangannya menahan pinggang ramping di depannya dan menariknya mendekat. Tidak ada jarak lagi diantara dua makhluk berlawanan jenis itu.


BUGH


Aira memukul dada Ken dengan kepalan tangan, berharap suaminya itu melepaskan pagutan mereka. Ia belum selesai memakaikan dasi di leher suaminya saat tiba-tiba pria itu menyergapnya, membuatnya tak bisa lari atau menghindar.


"KEN?!" pekik Aira saat Ken semakin brutal, mencium lehernya dan sengaja meninggalkan bekas disana. Hal itu membuat tubuhnya merasa seperti tersengat aliran listrik 1000 volt. Berdebar, terbakar dan menggelinjang dalam waktu yang bersamaan.


Srett


Aira menarik dasi yang melingkar di leher Ken. Hanya itu satu-satunya cara untuk membuat pria ini berhenti mencumbunya. Menghentikan aksi pria yang hampir loss control ini.


"Hkk... Ai-chan!!" lirih Ken dengan suara tertahan. Ia menahan pergelangan tangan Aira yang masih menyandera dasi di lehernya.


"KAMU GILA!" Aira mendorong dada suaminya. Wajahnya merah padam menahan marah. Ia kesal karena Ken memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bukannya membujuknya yang sedang merajuk, pria itu justru mencuri kesempatan untuk melancarkan aksi mesumnya.


"Kamu yang membuatku gila," ucap pria lesung pipi itu lirih. Ia menaikkan sebelah bibirnya, menatap Aira dengan pandangan yang terlihat seperti serigala kelaparan. Matanya berkilat tajam, menunjukkan kabut gairah yang kini menyelimutinya. Ia berjalan mendekat ke arah istrinya yang terus mundur ke belakang.


Dukk


Langkah kaki Aira terhenti, punggungnya menabrak dinding di belakangnya. Ia tersudut, tak bisa bergerak lebih jauh lagi. Hal itu membuat Ken merasa menang, mangsanya tak bisa menghindar lagi. Ia sudah cukup bersabar untuk menjaga jarak dengan istrinya satu bulan ini.


Ya, hari ini tepat tiga puluh hari sejak Aira melahirkan ketiga jagoannya. Itu artinya, dua minggu setelah kematian dokter Olivia. Dokter yang awalnya diduga memalsukan produk kosmetik dan perawatan kecantikan yang dikeluarkan oleh Miracle, tapi nyatanya dia tidak bersalah. Dia hanya korban. Bahkan kematiannya itu bukan karena bunuh diri, melainkan karena seseorang sengaja meracuni makanan yang dikonsumsinya.

__ADS_1


"Ai-chan, aku sudah mencoba bersabar selama ini." Ken terus mendekati istrinya, ia mengangkat dagu Aira ke atas, menatapnya dengan pandangan bergairah. Terlebih lagi pakaian yang dikenakan istrinya kini hanya baju tidur tanpa lengan yang hampir transparan, membuat libidonya naik seketika.


Ya, fakta bahwa ia laki-laki normal tidak bisa dipungkiri. Ia menginginkan istrinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang tertunda sebulan ini. Terlebih lagi rutinitasnya di kantor begitu padat, membuat jiwanya semakin merasa lelah. Salah satu cara untuk meredamnya adalah dengan bermanja-manja bersama istrinya, menghabiskan malam bersama. Namun, fakta bahwa masa nifas istrinya belum berakhir, membuatnya harus kembali menahan diri.


"Ken," panggil Aira lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan dengan napas tertahan.


Ken menatap manik mata istrinya dalam-dalam sebelum menarik wanita itu ke dalam dekapannya, memeluknya dengan erat, membuat Aira bisa mendengar detak jantungnya dengan sangat jelas.


"Gomen ne," lirih Ken. Ia berusaha meredam jiwa iblis yang sebelumnya mendominasi. Hampir saja ia kehilangan kendali.


(Maaf)


Cup


"Aku pergi," pamit Ken detik berikutnya. Ia meninggalkan Aira yang masih tertegun di tempatnya berdiri, bersandar pada dinding di belakang tubuhnya.


Seketika tubuh ramping itu melangsai, jatuh terduduk di lantai marmer yang terasa dingin. Ia bisa bernapas lega karena Ken berhasil mengendalikan dirinya di detik-detik akhir. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Monster di dalam diri Ken yang tertidur berusaha menyeruak keluar, mencari pelampiasan. Dan Aira tidak akan bisa melawannya.


Ingatannya kembali pada peristiwa beberapa bulan yang lalu, dimana Ken menyekapnya sepulang dari Disneyland. Pria itu memaksanya memenuhi kebutuhan biologisnya, bahkan mengikat tangannya dengan tali dan berlaku kasar padanya. Entah kenapa Aira tiba-tiba mengingatnya, membuat hatinya terasa sakit seolah sebuah belati tajam menghunjam jantungnya. Tatapan Ken pagi ini sama seperti tatapannya saat itu. Mengerikan.


"Nyonya... " panggil Sakura seraya menyentuh lengan wanita di depannya. "Apa Anda baik-baik saja?"


"Mari saya bantu." Sakura memapah Aira ke atas ranjang, membantunya naik dengan hati-hati.


"Tuan meminta saya menemani Anda," ucap gadis itu sambil tersenyum.


Aira tak menjawab. Ia masih sedikit shock dengan peristiwa yang terjadi padanya beberapa detik yang lalu. Ia terlalu sibuk mengurus ketiga bayinya dan melupakan suaminya. Seharusnya ia lebih perhatian pada kepala keluarganya itu, memberinya kasih sayang dengan tulus agar monster di dalam dirinya tak lagi keluar.


"Nyonya," panggil Sakura saat melihat puannya kembali termenung. "Ada yang bisa saya bantu?"


Aira mengangguk. Ia memiliki rencana khusus untuk meredam emosi suaminya.


"Bisakah kamu menghubungi tuan Kobayashi untukku? Ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Dan itu memerlukan bantuan dari ayahmu."


"Tentu saja, Nyonya," jawab Sakura. Ia segera mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menghubungi pria yang sangat ia hormati sepanjang hidupnya.


Sementara itu, di ruang tamu Ken tampak ragu di tempatnya berdiri. Ia belum ingin meninggalkan rumahnya, masih terlalu pagi untuk pergi ke kantor. Bahkan Kosuke saja belum datang menjemputnya. Ia berjalan kesana kemari dengan gelisah.


"Nak Kenzo, ada yang bisa ibu bantu?" tanya bu Anita saat mendapati menantunya seolah kebingungan.

__ADS_1


"Ibu... "


Kedua orang beda usia itu memutuskan untuk duduk di beranda rumah ini yang menghadap taman belakang. Ken duduk dengan gelisah, menyeruput teh hijau di cangkir dengan sembarang, membuatnya hampir tumpah.


"Hati-hati," bu Anita memperingatkan.


"Maaf," lirih Ken canggung.


"Ada apa? Kamu bertengkar dengan Khumaira?" tanya wanita 49 tahun itu dengan senyum terukir di wajahnya yang mulai tampak keriput.


Ken menggeleng. Ia membenahi dasinya yang belum rapi sembari menata emosinya. Ia bingung bagaimana cara mengungkapkan masalah pribadinya dengan Aira.


"Khumaira marah padamu?" tanya wanita berjilbab itu kemudian.


Lagi-lagi Ken menggeleng. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan bahwa ia menginginkan Aira di saat masa nifasnya belum berakhir.


Bu Anita mengerutkan keningnya, mencoba mencari tahu permasalahan apa yang tengah mendera menantunya ini.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan tentang istrimu? Katakan saja, ibu akan menjawabnya jika bisa."


Glek


Ken menelan salivanya dengan paksa, ingin sekali ia menanyakan hal itu, tapi rasanya terlalu memalukan.


"Tidak perlu sungkan, Nak. Kamu anakku, aku ibumu. Tidak ada yang perlu disembunyikan," terang wanita Indonesia itu sembari menggenggam punggung tangan menantunya.


Ken memantapkan diri, ia harus menanyakan hal yang terus mengganggu pikirannya sejak semalam. Jika tidak menanyakannya, ia tidak akan bisa fokus bekerja hari ini. Padahal ada begitu banyak urusan yang harus ia selesaikan.


"Bu... " panggil Ken.


"Ya?"


"Kapan aku boleh menyentuh istriku?"


...****************...


Jyaaaa.... si abang udah pengen banget berduaan sama Aira ternyata 😂😂 Pantesan hampir aja loss control tadi waktu di kamar *ups 😋😄


See you next part, ditunggu komen n like dari kalian semua😍😘

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2