Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : The Queen


__ADS_3

Ken mendekatkan wajahnya pada Aira. Ia bersiap mencium istrinya yang kini telah memejamkan matanya. Jarak mereka hanya tersisa beberapa centimeter, hingga terdengar suara...


"Kakak ipar, apa yang terjadi?"


'Sial! Suara ini!' batin Ken ingin berteriak. Berbagai sumpah serapah muncul otomatis dalam kepalanya. Ia tidak percaya setan kecil ini datang mengganggu waktu berharganya dengan Aira. Ken menyesal karena menghubunginya beberapa saat yang lalu.


"Mone-chan," Aira menyibak selimut yang menutupi kakinya demi menghampiri adik sepupunya. Keduanya berpelukan dengan mesra, bahkan mencium pipi masing-masing.


"Huffh," Ken menghembuskan nafas kesalnya dan bersiap pergi dari tempat ini. Ia meraih tongkat yang ada di lantai dan berdiri dengan susah payah. Seperti janjinya pada Aira beberapa waktu lalu, dia tidak akan berdebat dengan Mone. Dan pergi dari sana adalah satu-satunya cara agar janji itu terpenuhi.


"Oh, kakak ipar. Apa aku mengganggumu?" tanya Mone basa basi yang benar-benar basi. Tanpa menanyakannya pun, jelas-jelas dia datang di saat yang kurang tepat.


Ken bersikap seolah tidak mendengar apapun dan memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia ingin mandi dan menyegarkan badannya dari segala hal yang membuatnya lelah. Pekerjaan di kantor berhasil menyita perhatiannya lebih dari delapan jam. Bukan hanya lelah fisik, hatinya juga lelah ingin disembuhkan.


BAMM


Ken membanting pintu di belakangnya yang kini menjadi penghalang ruang tengah dengan kamar pribadinya bersama Aira. Ia marah dan kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Aira benar-benar berhasil membuatnya berpikir ulang saat ingin melakukan sesuatu. Sebelum bertemu Aira, penguasaan emosinya benar-benar kacau. Sedikit saja seseorang menyinggungnya, esoknya akan ada kabar yang tidak mengenakkan. Entah orang itu kecelakaan, keracunan, diculik, atau apapun itu. Tapi sekarang? Ken tidak bisa melakukannya lagi, demi membuat istrinya nyaman dan tidak marah. Ia sungguh diperbudak cinta sekarang.


Dan sepertinya Mone memang sengaja merusak kebahagiaan pewaris yakuza paling berpengaruh di Jepang ini. Jika tidak, bukankah ia bisa bersuara saat 'kegiatan' Ken dan Aira sudah berhenti nanti? Kenapa harus menyela saat jarak keduanya hanya tersisa tiga centimeter?


Ckiit


"Aagh, Ita.. Itai..." tubuh Mone berjengit sebagai refleks cubitan yang Aira lakukan di pinggangnya.


(Sa... Sakit)


"Setan kecil, kamu sengaja melakukannya kan?" tanya Aira geram. Ia tahu adiknya ini tidak bisa membiarkannya dan Ken bahagia. Aira mencubitnya untuk membalaskan kekesalan Ken.


"Iya. Maaf, aku mengaku salah. Aku memang sengaja melakukannya. Kakak, tolong lepaskan tanganmu," Mone berusaha melepas cubitan Aira yang terasa semakin mengerat. Mungkin bekasnya besok akan terlihat membiru.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu melakukannya, aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman lain yang bisa membuatmu jera!" tegas Aira spontan. Ia melepas cubitannya dan menarik Mone ke dapur.


Sejujurnya ia juga kesal pada adiknya ini. Ia sangat merindukan Ken sepanjang hari. Terlebih mengenai kabar bahagianya ini, dia ingin Ken mendengar itu langsung dari mulutnya, tapi kenyataannya justru ia ketiduran.


"Sebagai hukumannya, kamu harus memasak makan malam untuk kami. Jangan coba kabur atau kamu tidak akan bisa menginjakkan kaki ke rumah ini lagi sampai kapan pun!"


"Haish, kenapa aku yang disalahkan?" Mone menggerutu lirih, menahan kesal karena Aira justru memarahinya. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah The Queen.


*the queen : sang ratu


Aira masuk ke dalam kamar dan tidak mendapati suaminya di sana. Hanya suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang terdengar sayup-sayup.


Ken keluar dari kamar mandi beberapa menit setelahnya. Ia heran saat kamarnya gelap gulita. Hanya pantulan cahaya dari kamar mandi yang sedikit menerangi ruangan ini. Padahal Ken ingat betul bahwa ia sudah menyalakan lampunya sebelum mandi. Ken menengadah, menatap lampu kristal mini yang menggantung di tengah ruangan pribadinya bersama Aira.


Grep


Aira memeluk Ken dari belakang, membuat pria itu seketika terdiam dan mengurungkan niatannya menghidupkan penerangan ruangan ini.


"Aku merindukanmu." Aira berucap sembari terus melangkah maju, membuat Ken kewalahan karena harus berjalan mundur dengan bantuan tongkat di ketiaknya.


"Ap... Apa yang kamu lakukan?" tanya Ken tergagap. Ia menatap Aira dengan heran. Tidak biasanya istrinya ini berinisiatif lebih dulu untuk menggodanya. Ken bahkan merasa malu saat ini karena lagi-lagi Aira mendominasi saat mereka hanya berdua saja. Jika lampunya nyala, bisa dilihat wajah Ken sekarang merah padam karena malu dan gugup di saat yang bersamaan.


Akhir-akhir ini Aira begitu manja padanya dan terkadang begitu bar-bar seperti sekarang. Dimana Aira-nya yang dulu selalu tersipu malu saat ia menggodanya? Kenapa sekarang berbalik Aira yang suka menggodanya? Apa ini ulah anak-anaknya? Ini aneh. Ken menggelengkan kepalanya menepis prasangka buruk yang mulai menyabotase otaknya. Aira baik-baik saja. Dia hanya sedang ingin diperlakukan sebagai seorang ratu. Ya, ratu di dalam hatinya.


"Apa lagi? Anak-anak kita merindukanmu." Aira mengerlingkan matanya membuat jantung Ken berdegup kencang.


"Hah? Tapi..."


Krakk

__ADS_1


Tongkat penyangga yang terbuat dari aluminium chrome itu jatuh tergeletak di lantai setelah Aira merebutnya dengan paksa. Wanita hamil itu bahkan melemparkan tongkat satunya ke sembarang arah, membuat Ken kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh terduduk di tepi ranjang. Aira melumpuhkan Ken dengan mudah. Pemiliknya sudah tumbang lebih dulu, membuat benda itu tak lagi di butuhkan.


...****************...


Waktu hampir tengah malam saat Mone memutuskan untuk pergi dari kediaman Ken. Ia sudah menyelesaikan tugas yang Aira berikan yaitu memasak hidangan makan malam untuk mereka. Namun kenyataannya, baik Aira atau Ken tak kunjung keluar dari kamar.


Mone tidak berani mengetuk pintunya, takut mendapat hukuman yang lain dari Aira. Kakak sepupunya itu sungguh berubah. Ah, tidak. Mungkin itu memang sifat aslinya. Dia lembut dan perhatian, tapi di sisi lain dia juga otoriter dan pemaksa seperti Ken.


Kata-kata dokter Kaori masih terngiang-ngiang saat Mone menghubunginya beberapa saat yang lalu. Ia mengadu karena Ken dan Aira tak muncul setelah 3 jam berlalu. Ia juga mengeluh karena Aira menjadi bar-bar seperti Ken.


"Mungkin sifat itu adalah bawaan dari anak-anak di dalam kandungannya. Setelah lahir nanti, kita bisa lihat apa dugaanku benar atau salah. Jika Aira berubah kembali menjadi lembut dan penyayang seperti yang ku katakan, bisa dipastikan itu 'ulah' keponakanmu yang sekarang ada di dalam perutnya. Tapi jika Aira masih sama seperti sekarang, mungkin dia sudah terkontaminasi oleh suaminya."


"Terkontaminasi? Heh, bagaimana mungkin sifat seseorang berubah karena terkontaminasi oleh orang di dekatnya?" Mone meragukan penjelasan Kaori.


Ia menendang angin di depannya untuk melampiaskan kekesalan. Jika tahu Ken dan Aira tidak akan keluar, Mone pasti pergi dari sana secepatnya setelah ia menyelesaikan hukumannya. Menyebalkan.


Langkah kaki Mone terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal kini berdiri di depannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.


"Aku merindukanmu," ucapnya sebelum tumbang di bahu Mone.


...****************...


Hwaaaa..... Aira bar-bar yaa 😂😂


Btw, mohon maaf kalau ada typo. Ini mood lagi baik jadi up 2 episode sekaligus hari ini. Please enjoy it...


Semoga bisa baik terus nih hati, jadi pendapatan bisa naik *upss 🙊


Ok, see you bye bye... 😘😘

__ADS_1


Hanazawa Easzy 💃


__ADS_2