
Ken dan Aira mendatangi kediaman Shun untuk membuat kesepakatan. Disana juga ada Yoshiro, Yu dan juga Kaori. Shun yang masih membawa perasaan dari masa lalu saat di Thailand, membuatnya tidak fokus.
"Berdasarkan sidik jari nona Kamishiraishi, aku melacaknya di Italia tapi tidak ada satupun informasi yang membantu. Dia terakhir meninggalkan Italia empat tahun yang lalu dan tidak pernah kembali kesana." jelas Aira. Shun tidak bisa menatapnya lebih lama lagi, ia meletakkan keningnya di atas meja.
"Oguri-san, Anda baik-baik saja?" tanya Aira membuat Ken, Yoshiro, Yu dan Kaori menatap ke arah yang sama. Seketika Shun mengangkat wajahnya dan berpura-pura tersenyum di hadapan semua orang.
"Aku akan segera kembali." pamit Shun sambil berlalu.
"Ada apa dengannya?" tanya Kaori pada Yoshiro yang duduk di sebelahnya. Yoshiro menggeleng, ia tidak tahu kenapa Shun bersikap aneh kali ini.
"Aku akan berbicara dengannya." bisik Aira meminta izin pada suaminya. Ia keluar dari ruangan itu setelah mendapat anggukan dari Ken sebagai tanda bahwa permintaannya disetujui.
Hal itu berhasil membuat semua orang semakin bertanya-tanya apa yang akan wanita hamil itu lakukan. Namun semua hanya tersimpan dalam hati mereka, tidak mungkin menanyakan itu pada Ken secara langsung 'kan?
"Oguri-san..." panggil Aira dengan sedikit berlari. Ia mempercepat langkahnya untuk menyusul laki-laki itu.
"OGURI-SAN..." panggil Aira dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, berhasil membuat pria dengan kemeja krem itu berhenti melangkah namun tak langsung berbalik. Ia hanya menolehkan sedikit wajahnya, menandakan ia mendengar panggilan Aira.
"Oguri-san, bisa kita bicara sebentar?" tanya Aira sambil mengatur nafasnya.
"Aah, tunggu di ruangan itu." ucap Shun tanpa ekspresi sambil menunjuk sebuah ruang di sebelah kamar pribadinya. Melewati koridor sempit dengan berbagai hiasan kertas yang tergantung di atasnya. Aira sedikit terkagum melihatnya, mungkinkah Shun yang memasangnya? Atau itu buatan adiknya? Entahlah, Aira tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Bukan urusannya saat ini.
"Silahkan nona.." seorang pengawal wanita dengan sigap membimbing Aira memasuki sebuah ruangan dengan kaca transparan sebagai dindingnya, menampilkan hamparan salju yang mengelilingi rumah ini. Lantai kayu dibawahnya memberikan kesan hangat di cuaca yang dingin itu. Kursi dan meja berlapis bulu-bulu halus yanh akan membuat siapa saja betah berdiam diri di sini. Ah, terkecuali bagi Aira. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Shun dan kembali bergabung dengan yang lain.
Netra Aira terpaku pada gambar bintang bercahaya yang dibuat menggunakan lampu tumbler. Lampu itu dibiarkan menyala meskipun malam telah berlalu. Bintang yang bercahaya. Meski sederhana tapi itu terlihat cantik. Ia selalu menyukai hal-hal berbau astronomi, seperti langit, bintang dan tentu saja saturnus.
Aira kembali menggenggam liontin yang tersembunyi di balik sweaternya sambil tersenyum. Kehidupannya dengan Ken sudah sangat baik sekarang ini, tak ada waktu lagi untuk meratapi masa lalu. Entah itu masa lalu dengan Yudha atau pertemuan singkatnya dengan Shun waktu itu, dia harus melepaskannya. Dia tidak ingin merasa berhutang pada siapapun.
"Kamu suka dekorasinya?" tanya Shun begitu masuk ke ruangan itu, membuat Aira berbalik badan. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya seketika menghilang dan Shun menyadari itu.
'Apa dia kecewa aku melepaskan baju pemberiannya? Haruskah aku memakainya lagi?' tanya Shun dalam hati.
"Baju itu lebih cocok untuk Anda." puji Aira kembali menampilkan senyum di bibirnya, namun garis matanya tak berkerut. Itu tandanya Aira tengah menunjukkan fake smile terbaiknya. Senyum kesopanan, bukan senyum karena bahagia. Dan Shun menyadari hal itu, membuat perasaannya sedikit tidak nyaman.
"Benarkah?" ucap Shun mengangkat sebelah alisnya sambil mempersilahkan Aira duduk dengan isyarat tangannya. Keduanya duduk berhadapan.
"Untukmu." Shun meletakkan sebuah kotak persegi panjang di depan Aira. Kotak hitam yang tampak kontras dengan meja berwarna krem di bawahnya.
'Sepertinya pria ini menyukai warna krem dan hitam.' itu yang ada dalam pikiran Aira, tanpa tahu bahwa ialah penyebab Shun menyukai warna pucat itu. Seperti warna kemeja yang ia berikan saat di Thailand.
"Untukku?" tanya Aira tidak yakin. Ia diam selama dua detik, menerka-nerka apa isi di dalam kotak itu. Ia juga mengeluarkan sesuatu dari saku paltonya yang berwarna krem.
(Palto : baju hangat khas musim dingin)
"Aku juga ingin mengembalikan sesuatu." ucapnya sambil meletakkan sebuah amplop berwarna putih di sebelah kotak hitam dari Shun.
"Kita bertukar hadiah?" tanya Shun sambil memegang tengkuknya, merasa canggung berhadapan dengan gadis yang berhasil menyita perhatiannya.
__ADS_1
"Itu bukan hadiah." jawab Aira singkat.
Shun mengambil amplop itu bersamaan dengan Aira yang membawa kotak hadiah darinya ke atas pangkuan. Keduanya diam dan fokus pada benda yang ada di tangannya.
Sebuah hairstick (tusuk rambut) berwarna silver dengan aksen bunga plum di atasnya terlihat dengan jelas setelah Aira membuka penutupnya.
'Tusuk rambut? Saat seorang pria memberikan tusuk rambut pada wanita, bukankah itu berarti bahwa wanita itu berhasil mencuri perhatiannya? Atau bisa juga berarti bahwa si wanita adalah orang yang sangat berharga untuknya? Apa yang aku lakukan sampai membuat Oguri...' ungkapan batin Aira terhenti seketika. Ia menyadari ada yang salah disini.
'Mungkinkah orang ini menyukaiku?' Aira terhenyak dengan pemikirannya sendiri.
"Maaf jika itu tidak sesuai seleramu. Aku tidak tahu apa yang disukai oleh para wanita dan berharap kamu mau menerimanya."
"Aku tidak bisa..."
"Kamu tidak harus memakainya. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku, atau mungkin bisa memakainya di rumah saat melepas penutup kepalamu." Shun menyela ucapan Aira, "Ken suka kupu-kupu kan? Aku pernah melihat ada tato kupu-kupu di punggungnya." lanjut Shun menjelaskan.
Aira tak menjawab. Netranya terpaku pada kupu-kupu yang seolah terbang itu. Sejujurnya ia tidak nyaman melihat benda di depannya. Bentuk kupu-kupu mungil itu mengingatkannya pada tato di punggung Ken yang dibuat oleh Erina. Jika ia memakai benda itu di depan Ken pasti akan membuat suaminya kembali mengingat Erina. Ah, kenapa dia tidak bisa menghilangkan rasa cemburunya bahkan pada mendiang kekasih suaminya itu?
"Ah, apa yang kamu siapkan sebagai hadiah untukku?" tanya Shun antusias. Namun senyumnya memudar seketika. Alih-alih mendapatkan surat cinta atau semacamnya, justru yang ia lihat adalah beberapa lembar uang pecahan seratus baht. Mata uang Thailand seperti yang pernah ia titipkan pada wanita pemilik kamar sewa.
"Aku tidak mengharap apapun saat itu. Jujur harga diriku terluka saat bibi pemilik kamar itu memberikan uang darimu. Aku kecewa karena orang yang ku anggap sebagai temanku justru menilai ketulusanku dengan uang." jawab Aira tanpa menatap Shun. Ia menundukkan pandangannya, terpaku pada tusuk rambut di tangannya.
Shun terkejut mendengar penuturan Dewi Penyelamatnya itu. Dia tidak bermaksud seperti itu. Shun hanya tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada gadis yang membersamainya selama kurang lebih seminggu itu.
"Hontou ni arigatou Oguri-san. Kami menikmati liburannya dengan baik. Aku dan Ken datang kemari untuk membuat kesepakatan denganmu." ucap Aira dengan suara lirih. Ia meletakkan kotak berisi tusuk rambut itu kembali di atas meja dan menutupnya.
"Kesepakatan apa lagi? Bukankah aku sudah membuat kesepakatan dengan suamimu sebelumnya?" tanya Shun dengan suara datar. Sangat datar seolah tak ada ketertarikan dalam dirinya untuk mendengar penuturan wanita yang duduk dua langkah darinya.
"Apa yang kamu tawarkan dan apa yang kamu inginkan?" Shun menyembunyikan perasaan kecewanya dan mulai berbisnis dengan Aira. Ya, ia tidak boleh mencampuradukkan perasaan pribadi dengan urusan pekerjaan. Entah kesepakatan seperti apa yang wanita ini ajukan, ia harus memandangnya dari sisi bisnis. Ia harus mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.
"Aku punya detail informasi tentang adik angkatmu. Seperti yang ku katakan sebelumnya, dia tidak ada di Italia." Aira menyuarakan fakta yang ia peroleh sebelumnya.
"Apa maksudmu?" Shun tidak bisa menerka apa yang Aira inginkan.
"Aku akan memberitahu dimana Kamishiraishi-san berada dengan syarat kami harus ikut pergi bersama Ken dan Yoshiro." ungkap Aira tanpa ragu.
"Kami?" tanya Shun penasaran.
"Aku, Yu dan dokter Kaori." jawab Aira.
Shun terpaku mendengar permintaan Aira itu. Bagaimana mungkin ia akan mengizinkan ketiga wanita itu bergabung dengan Ken dan Yoshiro? Bukankah wanita selalu merepotkan?
"Itu tidak akan terjadi." jawab Shun. Sejujurnya ia tidak rela jika Aira ikut bergabung, itu terlalu berbahaya apalagi dengan kondisinya yang sedang berbadan dua sekarang.
"Apakah Anda meragukan kemampuan kami?" tanya Aira dengan tatapan yang tajam. Ia berbicara dengan bahasa formal karena nampaknya sulit membuat Shun setuju jika berbicara dengan bahasa santai. Ini negosiasi, bukan sharing time.
'Anda?' batin Shun kembali bergejolak. Aira seolah membuat batasan yang jelas bahwa mereka sedang berbisnis sekarang. Itu semakin menguatkan fakta bahwa mereka berdua hanya orang asing, bukan teman apalagi sahabat.
"Apa yang Anda ragukan? Aku dan Yu akan membobol kemanan di gedung tempat adik Anda berada. Dengan begitu ia akan ikut pulang bersama kita. Jika kami tidak boleh pergi, maka baik Ken maupun Yoshiro juga tidak akan pergi."
__ADS_1
"Apa kamu gila?" tanya Shun sarkas. Ia tidak menyangka dengan permintaan konyol Aira, "Nyawamu terancam setiap waktu disana."
"Mungkin." jawab Aira sambil tersenyum, senyum mematikan yang membuat Shun terbelalak.
"Bukankah aku juga hampir kehilangan nyawaku sebelumnya? Apa bedanya dengan sekarang? Jadi apa kita bersepakat?" ungkit Aira. Ia tidak ingin terlalu lama berhadapan dengan orang ini.
Shun diam cukup lama. Ia menggertakkan giginya menahan emosi. Sejak awal ia ingin menahan Rara di sisinya selama Ken pergi, setidaknya ia bisa bersama dengan gadis pujaannya. Tapi kesepakatan sialan ini mengacaukan semua rencananya.
"Ah, aku sudah menyiapkan tiket pesawat untuk kami bertiga, jadi tidak perlu merepotkan asisten Anda. Apa keterdiaman ini berarti Anda setuju?"
Shun masih diam.
"Ah, untuk hari ini..." ucapan Aira menggantung, "Aku menghargai pemberian Anda, tapi sayang sekali aku tidak bisa menerimanya. Selain antivenom (obat penawar racun) yang Anda miliki, kita tidak punya hubungan lain lagi. Setelah menyelesaikan misi ini dan pengobatanku selesai, mari kita tidak bertemu lagi. Aku dan Ken memiliki kehidupan pribadi yang ingin kami lanjutkan, jadi bisakah Anda melepaskanku dan suamiku setelahnya?"
Deg
Hati Ken patah mendengar permintaan wanita hamil di depannya. Berbagai bayangan manis tentang pertemuan mereka di kepalanya seketika sirna. Aira yang kini berdiri di hadapannya sama sekali berbeda dengan Rara yang ceria dan murah senyum. Bunga-bunga yang bersemi di hati Shun, gugur berjatuhan tak bersisa.
"Karena Anda tetap diam, aku anggap kita sudah bersepakat tentang dua hal ini. Kami akan mengembalikan nona Mone Kamishiraishi pada Anda, dan Anda akan memberikan antivenom itu sebagai balasannya seperti kesepakatan awal suamiku. Benar begitu kan, Oguri-san?" tanya Aira memastikan. Ia berdiri dengan tenang, menganggap pembicaraannya sudah selesai.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" Shun berucap dengan aura devil yang terpancar dari matanya.
Brukk
Shun menerjang tubuh Aira, membuat wanita itu terkejut seketika dengan mata membulat. Jantungnya berdegup kencang mendapat serangan tak terduga dari Shun. Ia terbaring di kursi yang semula ia duduki dengan Shun berada di atasnya, mengunci pergerakannya agar tidak bisa pergi.
"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Aku menginginkanmu." ucapnya sebelum mencium Aira. Tangannya menahan kedua tangan Aira di sisi kepalanya.
Aira berontak namun tenaganya tak bisa mengalahkan pria yang tengah dikuasai oleh iblis saat ini. Shun menggila dan kehilangan akal sehatnya.
"TOLOONG KEN!!!" Teriak Aira saat Shun melepaskan tautan bibirnya. Sebulir air mata mengalir dari ujung mata bulatnya. Ia sangat ketakutan dengan perlakuan Shun padanya.
BRAKK
Ken menendang pintu di hadapannya dan segera menyingkirkan Shun dari atas istrinya. Ia menarik krah baju seniornya itu dengan penuh emosi.
Bugh
Sebuah tinju mendarat di wajah Shun, membuatnya terkapar di lantai kayu yang terasa hangat. Yu dan Kaori yang menyusul di belakang Ken segera membantu Aira berdiri dan menjauhkan wanita hamil itu dari dua orang yang tengah berkelahi. Atau lebih tepatnya Ken yang sedang menghajar Shun.
Yu memeluk Aira, menyembunyikan wajahnya agar tak melihat Shun lagi. Kaori dengan sigap melepaskan baju hangatnya untuk menutupi punggung Aira. Tubuhnya bergetar hebat dengan keringat dingin yang membasahi wajah menandakan ia sangat ketakutan.
"Cari mati denganku, senior?" tanya Ken dengan aura pembunuh yang melingkupinya. Ia tidak akan memaafkan orang yang bertindak tidak senonoh pada istrinya barusan. Ken bisa membunuhnya saat ini juga.
"Bunuh aku dan istrimu juga akan kehilangan nyawanya!!" jawab Shun tanpa ragu.
*******
Hwaaaa.... Gomen ne Ai-chan 😢😭😭
Author kejam banget sama kamu😣😣
__ADS_1
Hontou ni gomenasai 🙏
Hanazawa easzy