Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kemampuan Iblis


__ADS_3

Hubungan Yamaken dan Mone belum juga membaik. Mone masih mendiamkan kekasihnya itu, bahkan meninggalkannya di pelataran rumah seorang diri.


Sementara itu, Aira masih asik bercengkerama dengan ketiga buah hatinya saat Mone sampai di dapur. Dia bertemu dengan dua orang pelayan yang ada si sana.


"Nyonya, ada nona Kamishiraishi di bawah. Dia membawa banyak ikan, sayur dan buah segar. Sepertinya ingin masak sesuatu. Mohon Anda memeriksanya." Seorang pelayan terpaksa melapor.


Aira mengerutkan keningnya. Dari wajah asisten rumah tangganya, terlihat raut khawatir yang begitu jelas, menandakan ada sesuatu yang tidak benar dengan keadaan adik sepupunya. Tapi, sepertinya wanita paruh baya ini tidak berani melakukan apapun.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Aira memaksakan diri bangkit dari ranjangnya meski wajahnya masih sedikit pucat. Ia beralih mengambil sweater dan jilbab instan dari dalam lemari sebelum memutuskan untuk turun.


Aira menciumi wajah anak-anaknya satu per satu. "Ibu pergi dulu yaa. Jaga adik-adikmu dengan baik," ucapnya pada Akari yang masih asik menghisap jempolnya. Bayi merah itu mengedipkan matanya dua kali, seolah mengiyakan permintaan ibunya.


"Sakura-chan, tolong jaga mereka," pesannya pada pengasuh bayi yang kini berdiri di hadapannya.


"Baik, Nyonya."


Aira melirik ketiga putra putrinya yang masih asik bermain sendiri di atas ranjang. Rasanya berat meninggalkan ketiga bayi menggemaskan ini, tapi pesan yang Yu kirimkan padanya beberapa saat lalu membuatnya tidak tenang. Kekasih Yoshiro itu mengatakan bahwa Mone terus diam sejak pembantaian berakhir, sama seperti beberapa bulan yang lalu saat Takeshi Kaneshiro mereka musnahkan di Moskow, Rusia. Sepertinya kondisi psikis adiknya ini tidak terlalu baik sekarang. Bahkan mungkin Yamaken yang menjemputnya di bandara, juga menjadi korban keterdiaman gadis mungil itu.


Dengan langkah yang tetap tenang, Aira keluar dari kamarnya. Dia segera menuruni anak tangga di depannya, bersiap menemui adik sepupunya di bawah sana.


Tak tak takk


Dukk


Takk


Dari kejauhan terdengar suara benturan yang cukup keras antara pisau dengan tatakan kayu yang biasanya Aira gunakan saat memasak. Suara itu terdengar dari arah dapur.


Langkah Aira terhenti di anak tangga terbawah. Dia mengambil napas dalam-dalam, menyiapkan stok kesabaran untuk menghadapi satu monster yang kini tengah menguasai mental adiknya.


Bagaimana tidak? Dari kejauhan Aira bisa melihat Mone tengah memotong-motong ikan di hadapannya dengan gerakan barbar. Gadis itu tidak memedulikan darah segar yang menciprat kesana kemari, bahkan sampai menodai baju putih yang dikenakannya. Belum lagi wajah tanpa ekspresinya yang begitu datar, ikut terkena darah ikan di beberapa bagian.

__ADS_1


Pantas saja asisten rumah tangga tadi tidak berani menyela adik sepupunya ini. Nyawa mereka akan berada dalam bahaya jika tetap bersikeras menghentikan Mone dan sikap luar biasanya ini.


Grep


Jemari Aira sigap mencengkeram pergelangan tangan kanan Mone yang memegang pisau dapur. Aira tahu benar, adiknya ini tidak bisa memasak sama sekali. Jadi, yang dia lakukan sekarang adalah sebagai bentuk pelampiasan emosinya saja.


"Hentikan itu!" Aira merebut pisau di tangan Mone dengan hati-hati dan memberikannya pada asisten yang tadi memanggilnya.


"Kamu mengotori wajah cantikmu." Detik berikutnya, Aira mengambil tisu dan mulai membersihkan wajah Mone dari noda darah ikan. Sebuah senyum hangat bak malaikat menghiasi wajah chubby wanita Indonesia ini, berbanding terbalik dengan wajah iblis yang ditampilkan oleh adiknya.


"Bibi, tolong bereskan dapurnya. Masak semua bahan makanan yang ada. Aku akan mengundang beberapa teman-temanku untuk makan malam di sini." Aira menatap wanita paruh baya yang berjarak beberapa langkah darinya.


"Baik, Nyonya."


"Ayo, ikut denganku." Aira menarik tangan Mone menjauh dari meja dapur. Dia harus mengamankan gadis ini sebelum tempat favoritnya ini menjadi korban. Ya, salah satu hobi Aira adalah memasak. Dia bertekad, lain kali akan mengajak adiknya masak bersama sekaligus mengajarinya, tapi tidak sekarang.


"Sudah aku siapkan air hangat di dalam bath tube. Kamu bisa berendam di sana sambil mengistirahatkan tubuhmu. Kamu pasti lelah 'kan?" Aira mendorong tubuh adik sepupunya ke dalam kamar mandi yang ada di salah satu kamar tamu. Ruangan itu sering Mone tempati saat menginap di rumah ini, jadi sudah seperti kamar pribadinya.


"Apa kakak sakit?" tanya Mone saat tiba-tiba berbalik. Dia melihat wajah pucat Aira dengan ekspresi khawatir. Aura iblis segera menghilang dari gadis ini, berganti dengan hawa malaikat yang berasal dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Aira tersenyum. "Aku baik-baik saja. Sudah waktunya memandikan anak-anak. Setelah kamu selesai, naik saja ke kamar mereka di lantai atas. Ketiga bayi kecil itu juga pasti merindukanmu, auntie." Aira mengerlingkan sebelah matanya, mencoba mengakrabi adiknya yang sedang memasang mode iced-nya.


Mone terdiam. Dia tahu Aira tidak baik-baik saja, tapi tetap terlihat tegar di hadapannya. Itu membuatnya merasa malu. Pasti ada hal lain yang telah membuat kakaknya kesusahan. Tidak seharusnya dia menambahkan beban itu padanya.


Suara pintu yang tertutup menandakan bahwa Aira sudah pergi dari kamar ini. Mone mengunci pintu kamar mandi dan menyandarkan punggungnya di sana.


"Kak Aira terlihat begitu tenang meski harus menghadapi kakak ipar yang seperti monster. Dia bahkan hampir mati untuk itu. Pantas saja kakek tetap mempertahankannya sejak awal dan tidak mengizinkannya lepas dari keluarga ini. Mata orang tua itu sangat tajam," gumam Mone lirih.


Gadis ini kembali mengingat cerita nyonya Sumari padanya tempo hari. Beliau menceritakan semua yang terjadi, bagaimana sepak terjang Aira dalam menghadapi Ken yang menggila. Pernah satu waktu Ken hampir mencekik Aira, jika saja Yamaken tidak datang menolongnya. Itu terjadi di awal-awal keduanya menikah, beberapa waktu setelah Aira dinyatakan lulus dari akademi.


Logikanya, Aira yang menguasai ilmu beladiri, bisa menepis atau bahkan melawan suaminya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Aira membiarkan lehernya menjadi sasaran kemarahan pria itu. Tangan Minami sampai retak karena mendapat pelintiran saat berusaha melawan Ken.

__ADS_1


Bahkan Aira tidak menangis sekalipun meski mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Waktu itu Ken kehilangan akal sehatnya, menyiksa Aira sehari semalam saat usia kehamilan anak-anak baru empat minggu. Kejadian luar biasa itu sampai membuat Yoshiro terpaksa melarikannya dari apartemen. Dan nyatanya Aira bisa membuat Ken berubah menjadi lebih manusiawi seperti sekarang, bukan lagi monster mengerikan yang mencabik-cabik mangsanya yang lemah. Aira berhasil menjadi pendamping Yamazaki Kenzo, menjadi pelengkap untuk kekurangan yang dimiliki oleh pria itu.


"Lalu bagaimana denganku? Jangankan menjadi pendamping yang baik untuk 'orang itu'. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri, menjadi wanita lemah atau tetap mempertahankan kemampuan iblis ini?" Mone menatap telapak tangannya yang gemetar. Ini selalu terjadi padanya setelah melakukan pembantaian. Dia membenci kemampuan ini tapi juga tidak bisa melenyapkannya begitu saja. Seolah ada dua kepribadian yang dia miliki.


Ini semua berawal dari peristiwa kematian ayahnya, Kamishiraishi Shu, hampir enam tahun yang lalu. Dua bulan lagi, saat ulang tahunnya yang ke 21, maka tepat saat itulah peringatan kematian ayahnya.


Dan selama bertahun-tahun, Mone terjebak oleh hasutan Takeshi Kaneshiro. Pria itu menyuruh Mone memasuki sekolah mafia di Italia, guna mempelajari berbagai trik menggunakan senjata dan bahan peledak. Di sana pula dia dicuci otaknya, diberi doktrin sedemikian rupa sampai tidak memiliki rasa belas kasihan lagi. Dengan begitu Mone bisa menjadi monster pembunuh paling berbahaya di dunia ini tanpa merasa takut ataupun iba pada mangsanya. Itu terjadi saat Mone disakiti oleh lawannya seperti yang terjadi beberapa jam yang lalu, saat pecahan lampu kristal melukai wajahnya.


Karena kejadian kecil itu, sisi iblis di dalam dirinya bangkit, minta dipuaskan. Dan untungnya Mone bisa mengendalikan dirinya, membiarkan tuan Harada memilih caranya sendiri untuk mengakhiri hidup. Namun, meskipun sudah ada sedikit perubahan, nyatanya Mone tetaplah monster mengerikan yang dijuluki Black Diamond atau Berlian Hitam.


Kemampuannya tak diragukan lagi. Dia begitu berkilau di tengah dunia gelap, membuat siapa saja ingin merekrutnya. Entah itu para pebisnis untuk menyingkirkan saingannya, atau para mafia yang ingin memusnahkan musuh bebuyutannya. Seperti halnya dua mata pisau yang berbeda, kemampuan Mone ini akan berbahaya jika dia ada di pihak yang salah seperti sebelumnya.


Takeshi Kaneshiro, penjahat kelas kakap itu memanipulasi Mone selama bertahun-tahun dan membuatnya menjadi mesin pembunuh yang dahsyat. Syukurlah Ken, Aira, dan kawan-kawan berhasil membebaskannya dari orang itu.


Mone berhasil menguasai dirinya setelah beberapa menit. Dia memutuskan untuk berendam seperti yang Aira sarankan. Mungkin itu bisa membuat kepalanya sedikit dingin, menurunkan tensi pertikaian di dalam dirinya.


Blub


Blub


Mone menenggelamkan diri di dalam bak mandi, membuat seluruh tubuhnya berada di bawah air. Mungkin lain kali dia bisa coba berenang untuk membuat pikirannya sedikit lebih segar. Dan sepertinya dia harus mengajak seseorang untuk menemaninya berenang, Yu, Kaori atau bahkan Aira misalnya.


...****************...


Kasian Mone. Dia bingung sama dirinya sendiri 😢😭😭


See you next episode. Jangan lupa berikan dukungan kalian yaa dengan like, komen, vote, share, bintang lima, dan sebagainya. Big love buat para pembaca setia Gangster Boy. Teruntuk silent readers, terimakasih sudah mampir. Semoga kalian semua sehat selalu.


Bye,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2