
Hampir saja Ken termakan adu domba yang diucapkan oleh nyonya Hanako. Untung saja Aira mengungkapkan fakta yang sebenarnya tentang Yu yang melindunginya dengan bertaruh nyawa. Jika tidak, Ken benar-benar tersesat dan menganggap Yu mengkhianati kepercayaannya.
Malam semakin larut. Seorang pria berdiri di atap gedung sambil menghisap rokok di mulutnya. Ia menghembuskan asap putih yang kemudian naik ke atas sebelum menghilang tanpa jejak.
"Kenapa tiba-tiba ingin menemuiku?" tanya Ken saat langkahnya terhenti. Ia berdiri beberapa langkah dari pria yang sudah memanggilnya tengah malam begini.
"Siapa orang itu?" tanya G setelah mematikan rokoknya dengan ujung kaki. Ia menatap manik mata Ken dengan tatapan tajam. Bau alkohol yang sangat kuat menyeruak dari mulutnya yang terbuka.
"Pergilah. Jangan datang menemuiku dalam keadaan mabuk. Apapun itu, kita bisa membicarakannya besok," Ken mengabaikan orang itu dan memilih pergi dari sana.
"Kenapa kamu terus menggangguku?" tanyanya lirih. Ia mendekati Ken yang terhenti setelah pergi beberapa langkah.
"Aku tidak akan mengusikmu jika kamu tidak menggangguku lebih dulu!" Ken bersiap pergi saat sebuah tangan menahan bahunya.
"JANGAN BERLAGAK PINTAR DI DEPANKU!" teriak G dengan emosi.
BUGH!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Ken, membuatnya tersungkur di lantai. Ia baru saja berbalik saat tiba-tiba kepalan tangan G mendarat di wajahnya tanpa bisa ia hindari.
"Kau?!" geram Ken.
Tadinya Ken tidak berniat meladeni orang ini, tapi dia yang memulai lebih dulu. Jangan salahkan dirinya jika akhirnya G yang babak belur di tangannya.
Ken mendekat ke arah G, bersiap memukulnya untuk membalas perlakuan yang telah ia terima barusan. Namun gerakan tangannya terhenti saat melihat bulir air tanpa warna yang keluar dari mata G. Ia menangis.
BRUKK
Tubuh atletis itu terkapar tak berdaya di lantai, membuat Ken terdiam di tempatnya berdiri. Ia berbalik dan melangkah pergi dari atap gedung apartemennya ini.
"Jangan pergi, bu ... " lirih G setengah sadar. Ia menanggap bayangan Ken yang pergi meninggalkannya sebagai ibunya yang telah lama tiada. Membuat Ken berhenti dan meliriknya, merasa iba pada pria menyebalkan ini.
"Jangan pergi ... "
Suara pria mabuk itu terdengar begitu menyesakkan di telinga Ken. Ia kembali dan memilih menyelamatkan pria malang ini dengan menggendongnya seperti karung beras. Dia tahu rasanya merindukan orang yang telah tiada, dan semua orang tahu bahwa nyonya Kwon yang asli, ibu kandung Kwon Ji Yong meninggal saat pria ini masih berusia sepuluh tahun. Pasti kehilangan orang yang paling ia sayangi akan menorehkan luka yang sangat dalam di dalam hatinya.
Terlebih lagi, ibu pengganti yang datang setelahnya telah mengkhianati kepercayaannya. Dia begitu lemah dan rapuh. Dari cerita Aira sebelumnya, ia menduga bahwa masalah G dengan Yu tidak berakhir dengan baik. Entah G kecewa karena berhasil mengungkap keberpihakan Yu, atau mungki karena hal lain. Entahlah, Ken tidak ingin memikirkannnya lebih jauh. Itu bukan urusannya.
BRUKK
Ken membaringkan tubuh G di atas kursi sofa yang ada di ruang tengah kediamannya. Ia sedang merenggangkan bahunya yanh terasa sedikit pegal saat sebuah suara terdengar.
"Siapa dia?" tanya Aira.
Ken terlonjak kaget saat mendapati istrinya berdiri tiga langkah di belakangnya. Wanita itu berusaha melihat wajah pria yang terkapar tak berdaya di atas kursi.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang mabuk yang tergeletak di atap. Aku membawanya pulang karena udara malam bisa membuatnya sakit. Ah, bukankah kamu tidak suka saat ada pria mabuk? Ayo kembalilah ke kamarmu," Ken berusaha membawa Aira kembali ke kamar.
"Ibu ... " panggil G dengan suara lirih yang menyayat hati, membuat Aira berhenti melangkah. Wanita hamil itu menatap suaminya dengan pandangan tajam, menuntut penjelasan.
Ken terpaksa melepas cengkeraman tangannya di lengan Aira. Ia membiarkan istrinya itu mendekat ke arah G yang terus mengigau tak jelas.
Grep
G meraih tangan Aira dan menggenggamnya dengan erat, "Ibu, jangan pergi."
Aira berusaha melepaskan genggaman G, tapi nihil. Pria itu semakin mengeratkan tangannya, menganggap Aira sebagai ibunya karena tangannya yang terasa hangat. Sama seperti tangan ibunya yang selalu menggenggamnya sambil membacakan dongeng sebelum tidur.
"Ibu, bacakan satu dongeng untukku. Aku janji tidak akan nakal lagi," ucapnya seperti anak kecil. Bulir air mata G kembali berjatuhan membuat Aira merasa iba. Ia mendekat dan menggenggam tangan pria yang tak sadar akan kelakuannya ini.
"Ai-chan!!" protes Ken. Ia cemburu karena Aira justru menyambut tangan G.
"Sstt," Aira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta Ken untuk diam.
__ADS_1
Bukannya melepaskan genggaman G, Aira justru ikut duduk di kursi yang sama dengan pria itu berbaring. Tentu saja hal itu membuat Ken cemburu (lagi).
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ken sembari menarik Aira dari sana, membuat G meronta-ronta mencari sosok ibunya.
Aira meraih tangan Ken dan mendekatkannya pada G yang langsung memeluknya. Ia menganggap itu sebagai tangan ibunya.
"Jangan pergi," rengeknya lagi. G benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia lakukan ini. Sosoknya yang begitu kejam dengan tatap mata yang tajam, berubah menjadi manja dan kekanak-kanakan. Hal itu membuat Ken merasa jijik. Ia berusaha melepaskan tangannya.
"Jika kamu melepasnya, aku yang akan menggenggamnya seperti tadi!" ancam Aira.
"Huh!" Ken menghembuskan nafasnya melalui mulut, mengekspresikan kekesalannya. Wajahnya ditekuk, merasa kesal dan marah sekaligus.
"Usap kepalanya," pinta Aira.
"Hah?"
"Apa aku yang harus mengusapnya?" tanya Aira.
Ken terpaksa menuruti perintah istrinya. Daripada ia melihat istrinya mengelus kepala pria mabuk ini, lebih baik dia yang melakukannya.
"Saat aku mabuk, kamu marah. Kenapa sekarang tidak? Apa dia lebih penting untukmu?" tanya Ken dengan suara ketus. Jangan lupa wajahnya yang menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak senang sekarang. Ia menatap istrinya yang kini tengah mengaduk teh buatannya, menimbulkan suara dentingan sendok yang beradu dengan cangkir keramik di depannya.
"Apa kamu cemburu? Jadi aku harus marah padanya juga? Aku marah karena orang itu begitu berarti untukku. Apa kamu berharap dia menjadi seseorang yang berarti di dalam hatiku? Apa tidak masalah jika aku menduakanmu?" pancing Aira, sengaja memprovokasi suaminya. Ia meletakkan teh buatannya di atas meja.
"Tidak boleh!" Ken melepas tangannya dengan paksa dan segera membawa Aira kembali ke kamar sambil bersungut-sungut kesal. Dia tidak ingin istrinya berinteraksi lebih lama dengan G.
Klek klek
"Ayo istirahat. Sudah malam!" Ken mengunci pintu dan memaksa Aira naik ke atas ranjang.
"Kamu sungguh cemburu padanya 'kan?" goda Aira sembari menjawil dagu Ken. Tangannya menahan lengan suaminya agar tidak pergi.
"Mana mungkin aku cemburu pada orang itu!" ketus Ken sambil memalingkan wajah. Pipinya yang putih merona merah karena malu.
Ken membalikkan badan, enggan menatap istrinya yang kini sedang mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Berhenti menggodaku!" ketus Ken sebal.
Aira menahan tawanya melihat Ken yang merajuk. Ia memijat pundak suaminya yang tertutup sweater biru dongker.
"Jangan marah. Aku hanya bercanda." Aira mengecup pipi suaminya sekejap sebelum kembali melanjutkan pijitannya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Otot-otot punggung Ken yang tadinya terasa tegang kini sedikit mengendur. Kemarahannya juga sirna tak berbekas.
"Kenapa kamu terbangun?" tanya Ken. Ia membalikkan badan, meraih lengan Aira dan menariknya dengan cepat membuat wanita hamil itu terkejut.
"Ken?!" pekik Aira. Jantungnya berdetak lebih cepat karena perlakuan suaminya barusan.
"Apa kamu mencariku?" tanya Ken sembari membelai pipi Aira yang kini ada di pangkuannya.
"Mana ada! Aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil," sangkal Aira. Ia tidak ingin suaminya over confidence jika ia mengiyakan tuduhan suaminya itu.
*over confidence : terlalu percaya diri
"Sejak kapan pergi ke kamar mandi harus melewati ruang tengah?" kali ini Ken yang asik menggoda istrinya, membuat wajahnya memerah seketika.
Srett
Aira menarik syall yang melingkar di leher suaminya membuat pria itu tercekik seketika.
"Ai-chan!" Ken menahan pergelangan tangan istrinya agar melepaskan tarikannya, "Kamu ingin membunuhku?"
Aira tak menjawab, memilih beranjak dari pangkuan suaminya dan berbaring membelakanginya. Ia akan pura-pura marah agar Ken meminta maaf padanya. Pria itu pasti akan kesulitan mengucapkannya, menurunkan egonya demi sebuah kata maaf. Aira menahan senyumnya, membayangkan wajah suaminya yang memohon-mohon pasti sangat lucu.
__ADS_1
Tik tik tik
Jarum jam mengantarkan detik demi detik yang berlalu tanpa ada interaksi dua orang berlainan jenis itu. Ken merasa kesal karena Aira menarik syal yang dipakainya. Sementara Aira bertekad tidak akan minta maaf lebih dulu. Jelas-jelas Ken yang memprovikasinya barusan.
Ken keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia melirik G yang kini tidur tertelungkup, menyembunyikan wajahnya.
Klik
Ken mematikan sakelar lampu yang ada di dinding, membuat ruangan itu seketika gelap. Hanya bias lampu dari ruang makan yang menyebar hingga ke ruang tamu yang juga terlihat temaram.
Ken kembali ke kamarnya dan mendapati istrinya masih ada di posisinya semula, tidak bergerak sama sekali. Ia bahkan tidak bergeser seinchi pun, membuat Ken merasa heran.
"Sudah tidur?" tanya Ken sembari memasang selimut pada tubuh istrinya yang tidak bergerak sedikitpun.
Wushh
Aira menyingkap selimut yang menutupi setengah badannya. Ia ingin Ken minta maaf padanya, tapi tampaknya tidak akan semudah itu. Bukannya membenahi selimut itu lagi, Ken justru keluar menuju balkon dan bersiap menyalakan rokok di tangannya.
"YAMAZAKI KENZO!!" teriak Aira sambil menatap suaminya. Ia mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protes karena Ken mengabaikannya. Bukannya memanjakannya atau minta maaf, pria itu justru akan melanggar larangannya yakni merokok.
"Apa?" tanya Ken dari arah balkon. Ia tetap menyalakan rokok di tangannya, namun tidak menghisapnya.
"Aku membencimu!" ucap Aira sambil beranjak bangun. Ia akan pergi ke kamar tamu dan tidur di sana sebagai bentuk protes karena marah pada suaminya. Langkahnya terhenti tiba-tiba dan memegangi perutnya. Ia sampai harus menundukkan badannya dan mundur kembali untuk duduk di ranjang.
Ken segera membuang rokok di tangannya dan berlari menghampiri istrinya yang lagi-lagi tampak kesakitan.
"Ai-chan!" Ken menggoyang-goyangkan lengan istrinya yang kini berbaring di atas ranjang mereka.
"Ai-chan! Ai-chan!!" Ken panik karena istrinya memejamkan matanya, tak merespon sama sekali atas panggilannya.
"Sayang, jangan bercanda. Ini tidak lucu," Ken tampak semakin panik, "Maaf. Aku janji tidak akan merokok lagi. Aku hanya pura-pura untuk membuatmu marah dan tidak mendiamkanku lagi. Ku mohon buka matamu!" Ken meraba pergelangan tangan Aira, guna mengecek denyut nadi istrinya itu.
"Sayang, aku akan melakukan apapun yang kamu minta nanti. Tapi ku mohon, buka matamu." Ken menciumi tangan istrinya berkali-kali. Ia khawatir Aira tiba-tiba pingsan seperti yang terjadi di awal-awal kehamilannya dulu.
"Benarkah?" tanya Aira yang kini tiba-tiba duduk. Ia menatap Ken dengan mata berbinar.
"Apa kamu membohongiku?" tanya Ken menuntut penjelasan karena tiba-tiba istrinya sadar dari 'pingsan'nya.
"Bohong apanya? Aku hanya memejamkan mataku dan kamu panik. Tapi janji tetaplah janji. Kamu akan menuruti semua yang aku minta 'kan?" tuntut Aira.
Ken mengepalkan tangannya, menahan amarah karena telah dipermainkan oleh istrinya.
"Apa kamu marah?" Aira meraih tangan Ken yang terkepal dan menempelkan ke perutnya yang sedang berkedut pelan.
"Kalau ingin marah, marah saja pada putramu. Jangan memarahiku!"
Kemarahan Ken kembali sirna saat merasakan gerakan para jagoannya. Ia memeluk pinggang Aira dan menciumi perutnya dengan sayang.
"Awas saja kalian. Jika sudah besar nanti, daddy akan menghukum kalian tanpa ampun!" ucapnya di depan perut sambil tersenyum, membuat hati Aira kembali menghangat. Ia mengelus surai hitam suaminya dengan penuh perasaan.
"Hoamm," Aira menutup mulutnya yang menguap dengan tangan. Ia merasa kantuknya datang lagi.
"Ayo tidur," ajak Ken. Ia menaikkan kaki istrinya kembali ke atas ranjang dengan hati-hati. Mereka melanjutkan istirahat hingga pagi menjelang.
...****************...
Gomen telat update, hehe
Jan bosen nunggu up berikutnya yaa. Nanti kalo author happy semoga bisa crazy up kaya kemarin. Gimana gimana? Suka ngga kalo author sering-sering crazy up? Hehe
Maaf yaa kalo masih ada typo. See you,
Hanazawa Easzy 😄
__ADS_1