Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Titah Agung


__ADS_3

Matahari naik sepenggalah saat sebuah mobil berhenti di pelataran sebuah gedung pencakar langit di pusat kota Tokyo. Satu dua karyawan tampak berjalan melalui pintu masuk dengan tergesa. Hanya tersisa lima menit sebelum bel tanda masuk kerja berbunyi. Tentu saja mereka terburu-buru agar jangan sampai terlambat di ruangannya masing-masing.


"Kita sudah sampai, Tuan," ucap seorang pria yang sedari tadi duduk di belakang kemudi. Ia sedikit heran saat melihat pria di kursi belakang seolah tak beranjak sama sekali. Padahal biasanya dia akan segera turun dan memasuki perusahaan internasional ini begitu mobil yang ia tumpangi berhenti.


"Tuan Yamazaki." Paggilan Kosuke berhasil menarik perhatian Ken yang sedari tadi sibuk dengan dunianya sendiri. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya personal assistant ini pada tuannya.


"Tidak ada."


Ken segera keluar dari dalam kendaraan roda empat warna hitam itu dan bergegas masuk melalui pintu utama. Dua orang pria berpakaian hitam segera menundukkan badan saat mendapati pria paling berkuasa nomor dua di tempat ini melewati mereka.


Pria 28 tahun itu melangkah mantap menuju lift khusus yang ada di sebelah kiri lobi, berjarak cukup jauh dari lift karyawan yang ada di sebelah kanan.


"Panggil Yuzuki. Minta dia datang ke ruanganku sekarang juga!" titah Ken dengan wajah tanpa ekspresi.


Ya, Yuzuki Ebisawa atau yang lebih dikenal sebagai Yu, sejak beberapa bulan yang lalu memang bergabung dengan tim IT Miracle Corporation. Hal itu sengaja Ken lakukan untuk memperkuat ketahanan jaringan perusahaannya dari berbagai gangguan yang ada. Gadis itu memiliki kemampuan yang mumpuni, meski tidak semahir Aira, Sang Istri.


"Baik." Kosuke menundukkan kepalanya sejenak. Ia ikut naik ke dalam kotak besi itu bersama Ken dan berdiri di belakangnya.


Hening


Tak ada suara apapun selain deru halus mesin yang membawa kotak besi ini naik ke lantai dua puluh, tempat dimana ruangan Ken berada.


"Tuan," panggil Kosuke lirih namun diyakini terdengar oleh ayah tiga anak ini.


"Hmm," gumam Ken menjawab panggilan bawahannya.


"Anda sungguh tidak ingin memberitahukan hal itu pada Nyonya Muda?" Kosuke tampak meragu, terlihat dari tangannya yang mengepal. Ia memberanikan diri menanyakan satu hal ini pada tuannya.


"Untuk apa? Membuatnya khawatir?" tanya Ken sarkas. Ia melirik tajam asisten pribadinya yang berani mempertanyakan keputusan yang ia ambil ini.


"Maafkan saya. Saya hanya takut ... "


"Bukan urusanmu!" hardik Ken. Ia menunjukkan wajahnya yang terlihat garang. Aura iblis segera menguar di sekitar tubuhnya. "Buat janji dengan dokter Hugo sore ini!"


Ting


Perintah Ken terucap bersamaan dengan denting nyaring yang terdengar dari pintu lift, menandakan bahwa mereka sampai di lantai dua puluh hanya dalam hitungan menit.


Ya, lift ini diperuntukkan khusus untuk para eksekutif atau pimpinan perusahaan seperti tuan Tsuguri selaku Presiden Direktur, Ken sebagai Wakil Direktur, dan beberapa petinggi yang lain seperti manager dan penanggung jawab sebuah proyek besar. Tidak sembarang orang bisa berada dalam lift khusus ini.


Langkah Ken membawanya masuk ke ruangan khusus dimana terdapat ruang kerjanya di ujung sana. Di lantai ini ada ruang istirahat pribadinya dan sebuah ruang untuk Kosuke dan berbagai dokumen yang ada dalam pengawasannya.

__ADS_1


Ken masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Kosuke di belakang. Pria 28 tahun itu terlihat menahan emosinya dalam diam, membuat seorang wanita dengan perut buncit bertanya-tanya. Ia adalah staf khusus yang memiliki kedudukan sama pentingnya seperti Kosuke, yakni Minami. Pasangan suami istri itu kini menjadi penyokong utama kelancaran urusan bisnis Ken.


"Ada apa?" tanya seorang wanita yang sangat Kosuke sayangi ini. Ia tahu ada sesuatu yang membuat tuannya tidak senang.


Minami kini bertugas membantu tugas-tugas Kosuke yang semakin menggunung, meninggalkan Aira yang kini ditemani asisten baru sekaligus pengasuh para tuan dan nona Yamazaki yang masih begitu kecil.


"Tidak ada. Tolong buatkan janji sore ini dengan dokter Hugo. Tuan Muda mengabaikan jadwal check up-nya kemarin." Kosuke tersenyum pahit, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Minami membulatkan matanya. Ia mengangguk dan segera melakukan permintaan Sang Suami tanpa mengatakan apapun. Dari ujung matanya, ia melihat Kosuke yang kini tampak sibuk dengan ponselnya sendiri. Sepertinya pria itu menghubungi seseorang, terlihat dari gestur tubuhnya yang kini tengah melihat arloji bulat di pergelangan tangannya.


"Tolong bawa ini pada Tuan Yamazaki. Ini adalah draf yang beliau kirimkan semalam. Rapatnya akan mulai dalam satu jam." Minami menyerahkan sebuah file pada suaminya, memintanya membawa dokumen penting itu pada Ken.


"Umm," jawab Kosuke sambil mengangguk sekali.


Cup


Sebuah kecupan ia tujukan di kening Minami, membuat wajah wanita itu memerah. Dia masih saja terpesona saat suaminya bersikap manis padanya. Meski tak ada yang melihatnya, tetap saja Minami merasa malu.


"Baik-baik di dalam sana. Jangan menyusahkan ibumu," ucap Kosuke di depan perut buncit Minami. Ia mengelusnya dengan lembut sebelum masuk ke dalam ruangan khusus dimana Ken berada.


Minami menatap punggung suaminya dengan perasaan haru. Pria itu begitu menyayanginya, membuatnya merasa menjadi istri yang paling bahagia di dunia ini. Mereka tak pernah bertengkar sekalipun. Kosuke adalah pria yang sangat penyabar dan pengertian. Saat mereka memiliki perbedaan pendapat, maka Kosuke yang akan mengalah. Tak pernah sekalipun dia membentak atau memarahinya.


Ting


Minami menolehkan kepalanya saat mendengar denting lift di ujung ruangan. Ia melihat seorang gadis muda dalam balutan pakaian formalnya mulai mendekat.



"Ohayou, Minami-san," sapa Yu saat berhadapan dengan wanita hamil di depannya.


(Selamat pagi)


"Umm. Ohayou," jawab Minami sambil tersenyum.


"Apa dia ada di dalam?" tanya Yu, merujuk pada Yamazaki Kenzo.


"Ya. Silakan masuk." Minami menggunakan tangannya sebagai isyarat bahwa Yu diperbolehkan masuk ke ruang kerja Ken. Hanya beberapa orang penting saja yang pernah menginjakkan kakinya di sini. Para karyawan biasa sama sekali tidak ada kesempatan untuk melihat betapa mewah dan elegannya ruangan Sang Wakil Direktur ini. Bahkan mereka juga hampir tidak pernah bertemu dengan Ken.


Saat ada acara formal yang menghadirkan seluruh karyawan Miracle, tuan Tsuguri yang lebih banyak tampil. Ken sengaja menyembunyikan dirinya agar tidak menimbulkan rumor yang menghebohkan. Paras tampannya yang serupa dengan Yamaken, justru membuatnya khawatir. Ia takut karyawannya menjadi tidak fokus lagi bekerja demi mengurusi kehidupan pribadinya dengan Aira. Tentu saja itu akan mengganggu privasinya. Cukuplah Sang Adik yang membuat gadis-gadis di luar sana jatuh cinta, tapi hatinya hanya milik Aira seorang.


Yu masuk ke dalam ruangan Ken setelah mengetuk pintunya dua kali. Ia mendapati atasannya itu sedang sibuk dengan dokumen yang kemudian diberikan pada Kosuke.

__ADS_1


"Perbaiki poin yang ke lima. Aku tidak ingin membuat mereka memakan gaji buta!" titah Ken paksa. Dari nada bicaranya, Yu tahu bahwa pria ini sedang emosi.


"Baik. Saya permisi." Kosuke undur diri dan segera menghilang ditelan pintu, menyisakan Yu dan Ken dalam ruangan itu.


"Kamu memanggilku? Ada apa?" tanya Yu to the point. Pastilah ada hal yang sangat penting sampai membuat Ken memanggilnya sepagi ini.


"Siapkan aplikasi belanja online yang bisa diakses di luar Jepang. Minta data dari bagian perencanaan dan marketing tentang produk apa saja yang paling laku saat ini. Gunakan hasil survei ini sebagai pertimbangan lebih lanjut." Ken menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi data-data yang Aira kumpulkan sebelumnya. Ia sudah mencetaknya pagi ini, saat Aira sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Ken akan segera merealisasi saran dari istrinya semalam untuk memperluas pemasaran produk Miracle Cosmetics hingga ke Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.


"Minta satu orang sebagai penanggung jawab aplikasi itu. Dia akan menjelaskan detailnya dalam rapat pagi ini. Laporkan semuanya padaku lebih dulu. Waktu kalian 45 menit!" Ken mengucapkannya dengan begitu lancar, seolah mulutnya sudah begitu terlatih.


Yu tertegun di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka Ken akan memberikan tugas rumit sepagi ini. Bagaimana mungkin dia dan teman-temannya di departemen IT bisa membuat aplikasi penjualan dalam hitungan menit?


"45 menit? Apa kamu gila?" sindir Yu tajam dan menukik. Dia sungguh berpikir bahwa atasannya ini tidak waras. Ia menatap data-data yang kini ada di tangannya. Ada begitu banyak variabel yang menjadi pertimbangan seperti keunggulan aplikasi yang harus mereka buat dan tujuan dibuatnya aplikasi ini. Belum lagi tujuan pemasaran mereka yang akan menyasar negara-negara berkembang di kawasan ASEAN. Sungguh bukan hal yang mudah. Ini terlalu rumit untuk waktu yang terlalu singkat.


"Ada apa? Apakah aku terlalu memanjakan kalian?" Ken menatap Yu dengan aura kematian. Sungguh dia sedang ada dalam mood yang buruk sekarang.


"Sepuluh menit sebelum jam sembilan, pastikan drafnya sudah ada di sini. Kamu boleh pergi!" Lagi-lagi Ken menunjukkan sisi otoriternya sambil menunjuk meja di hadapannya. Ia mengusir Yu dengan isyarat tangan setelah mengatakan titah agungnya.


"Kamu gila!" umpat Yu sambil meremas kertas di tangannya. Ia benar-benar kesal berada di bawah kendali mantan calon kakak iparnya ini.


Jika saja Erina tidak mengakhiri hidupnya enam tahun yang lalu, mungkin Yu harus memanggil monster di depannya ini dengan sebutan kakak ipar. Menggelikan.


"Kamu begitu bersemangat. Selamat bekerja, Ebisawa Yuzuki-san," lirih Ken sambil memamerkan senyuman iblis miliknya.


BRAKK


Yu membanting pintu di belakangnya sekuat mungkin. Dia keluar dari ruangan Ken dengan wajah merah padam menahan emosi. Ia tidak merasa takut sama sekali pada Ken, tapi kebaikan hati Aira membuat Yu enggan menolak permintaan suami sahabatnya ini.


Yamazaki Kenzo adalah sosok bos yang kejam. Pantas saja orang-orang menganggapnya sebagai iblis di dunia bisnis. Ia akan membantai apa saja yang ada di depannya tanpa terkecuali dan tidak memikirkan kesulitan yang ada. Tak jarang ia menetapkan target yang seolah tak mungkin, membuat bawahannya harus berjibaku memeras otak untuk mencapainya. Meski begitu, ada begitu banyak bonus yang perusahaan ini berikan setiap tahunnya pada semua karyawannya karena sudah bekerja keras.


"DASAR GILA!!!" Umpatan Yu terus berlanjut meski tubuhnya kini berhasil menghilang dari pandangan Minami maupun Kosuke yang saling pandang. Ia segera pergi ke ruangan di lantai bawah dimana teman-temannya sesama ahli IT berada.


...****************...


Amazing Daddy Ken 😍😄😄


Sabar yaa mbak Yu 🤗


See you next episode....


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2