
Sebuah mobil keluaran terbaru terhenti di ruang parkir bawah tanah milik Miracle Corporation. Seorang pria dengan pakaian serba hitam segera berlari, membukakan pintu untuk tuannya.
"Selamat pagi, Tuan," sapa pria itu sambil menundukkan kepala. Ia tak berani menatap anak muda yang disegani hampir seluruh Tokyo ini. Bahkan sepak terjangnya mulai merambah ke luar negeri seperti Indonesia, Thailand, bahkan Singapura. Tangan dinginnya membuat kerjasama yang ia pilih tak pernah mengalami kerugian. Perhitungannya tepat, tak akan rugi berbisnis dengan mafia Jepang satu ini, Yamazaki Kenzo.
Semua orang tahu betapa ganasnya pemuda ini. Sekali saja seseorang membuatnya marah, ia tidak akan bisa hidup tenang. Mereka akan mendapat kesulitan di berbagai bidang, termasuk keterbatasan akses kesehatan, pendidikan, dan tentu saja keuangan.
Ken menapakkan kakinya, keluar dari kendaraan roda empat yang membawanya pergi dari kediaman kakek Yamazaki satu jam yang lalu. Dengan kecepatan maksimal, mereka sampai tepat waktu di perusahaan berskala internasional ini. Tidak terlambat satu detik pun.
Ken menatap sekeliling. Setidaknya ada dua puluh orang kepercayaan kakeknya di sini. Sepertinya pria tua itu sungguh ingin memusnahkan dalang di balik kejadian ini. Kejadian beruntun yang telah membuat perusahaannya rugi jutaan yen dan sempat membuat harga saham turun.
Untung saja Ken sigap memblokir berita itu, mengembalikan kepercayaan para investor dan sebagian besar konsumen yang sempat meragukan keaslian produk Miracle.
"Semua sudah siap, Tuan." Kali ini terdengar suara yang sangat familiar di telinga Ken. Siapa lagi jika bukan Kosuke Murasawa? Pria yang menjadi tangan kanannya ini, selalu mengerjakan tugasnya dengan baik. Cukup satu kata dari Ken, maka ia akan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh tuannya ini. Tak ada kesalahan sedikit pun. Tugas yang ia tangani, semuanya sempurna.
Ken mengangguk. Ia mengikuti arah yang Kosuke tunjuk dengan tangannya. Mereka masuk ke dalam lift khusus yang ada di pojokan tempat ini, dan melesak masuk ke ruangan lainnya di bawah sana.
Lift terus bergerak, membawa Ken, Kosuke dan dua orang lainnya menuju ruang rahasia bawah tanah yang tidak diketahui orang lain. Ken segera menerima masker khusus yang Kosuke berikan dan memakainya. Hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang di belakangnya.
Ting
Pintu mengilap itu terbuka, menampilkan ruangan serba putih yang terasa sedikit pengap. Kosuke segera menghidupkan exhaust fan yang ada di langit-langit agar udara dari luar bisa masuk ke dalam ruangan.
Ken menengadahkan kepalanya, menatap kipas yang kini tengah berputar searah jarum jam. Ia masih merasa sedikit pengap di sini, artinya kadar oksigen yang ada di dalam ruangan tidak terlalu baik. Tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Basement yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik dan benar akan terasa lembap dan pengap. Dan itu bisa berimbas pada barang-barang berharga miliknya yang tersimpan di sini.
"Tambah ventilasinya lagi!" titah Ken sembari melanjutkan langkahnya.
"Baik," jawab Kosuke. Ia segera mengirim pesan pada Minami, meminta istrinya itu mengatur orang untuk menambahkan lubang ventilasi di ruangan rahasia bawah tanah ini. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa gedung Miracle Corporation yang terlihat begitu mewah ini, menyimpan rahasia besar di bagian bawahnya. Rahasia yang tak tersentuh oleh media mana pun. Bahkan para tetua di keluarga Yamazaki, juga tak mengetahuinya.
"Dimana pesananku?" tanya Ken saat mereka berempat terhenti di sebuah koridor yang begitu lengang.
"Sebelah sini, Tuan." Kosuke menunjuk pintu hitam di sebelah kiri Ken. Warna hitam dan putih kembali mendominasi tempat ini. Terkesan misterius dan dalam, namun terasa bersih dan suci. Perpaduan yang cantik, baik itu dari segi dekorasi maupun dari sisi psikologi seorang yakuza yang temperamental seperti Yamazaki Kenzo ini.
Mereka berempat menuju ke arah yang Kosuke tunjuk, melesak masuk ke arah yang lebih jauh dari lift yang telah membawa mereka beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
Kosuke membuka sebuah lemari besi yang menampilkan dua belas senjata laras panjang di dalamnya. Lagi-lagi warna hitam mendominasi senjata itu, membuatnya terlihat begitu gagah dan kokoh.
"Hanya ini?" tanya Ken, tampak tidak puas. Ia memesan banyak senjata, tapi hanya ini yang Kosuke tunjukkan padanya.
Tak perlu menjawab, Kosuke segera membuka pintu yang berjarak beberapa langkah darinya. Sebuah pemandangan yang membuat siapa saja terkejut, kecuali mafia berdarah dingin ini.
"Apa ini cukup, Tuan?" tanya Kosuke ketar-ketir. Ia melirik rak senjata yang ada di dalam sana. Ia takut tuannya belum puas atas kinerjanya ini.
Ken segera masuk ke dalam. Ia tersenyum setelah melihat hasil kerja personal assistan-nya ini. Benar-benar memuaskan. Enam buah rak besar terisi penuh oleh puluhan, atau bahkan ratusan senjata berbahaya yang ada di dunia ini, sama seperti yang Ken inginkan.
Di rak bagian atas, ada berbagai bahan peledak yang siap meruntuhkan gedung pencakar langit dimana saja. Sementara di bagian bawah, dalam satu rak tampak sembilan pucuk senjata laras panjang dan pistol dengan jumlah yang sama.
Ken mendekat ke salah satu rak di bagian tengah. Ia mengambil salah satu senjata itu dan memeriksanya sekilas. Merk dan tipenya, sama seperti yang ia tuliskan di dalam daftar.
"Tuan Besar meminta saya menambahkan beberapa lagi. Apa Anda ingin melihatnya?" Kosuke berucap setelah Ken kembali ke ambang pintu, dua langkah dari calon ayah ini.
Ken terbelalak saat melihat pemandangan di depannya. Ia tidak menyangka kakek akan ikut campur sampai sejauh ini. Tangannya terkepal erat di sisi badan, antara senang, marah, dan tak percaya.
Ia senang karena stok senjata miliknya bertambah banyak. Terlebih lagi, selain mahal, senjata ini adalah senjata yang sangat sulit untuk di dapatkan. Biasanya hanya ada dua atau tiga buah saja di dunia ini. Tapi di sisi lain, ia marah karena kakek selalu ada di belakangnya, seolah belum sepenuh hati memberikan kepercayaan pada Ken sebagai penerusnya. Egonya memberontak, ingin diakui oleh kakeknya sendiri.
"Beliau meminta ini semua?" tanya Ken meragu.
"Benar. Tuan Besar mengatakan bahwa ini adalah hadiah atas perayaan ulang tahun pernikahan Anda dengan nyonya Aira." Kosuke menundukkan kepala, merasa canggung menatap tuannya yang terlihat tidak senang.
"Hadiah anniversary dari kakek?"
"Benar, Tuan." Kosuke kembali menundukkan kepala setelah menjawab pertanyaan dari Ken. Ia tidak memiliki andil untuk menjelaskan apapun di sini. Nyatanya, ia hanya ditugaskan untuk mempersiapkan segalanya, tidak lebih.
"Anniversary, heh?" Ken menarik satu ujung bibirnya ke atas. "Ada lagi?" tanya Ken sarkas.
__ADS_1
Kosuke beralih ke bagian lain ruangan luas ini. Ia membuka sebuah pintu besi yang menampilkan ruangan serba hitam, sangat kontras dengan ruangan yang Ken pijak saat ini yang didominasi oleh warna putih.
Glek
Kali ini Ken sampai menelan ludahnya dengan paksa. Ruangan ini, membuatnya tak bisa berkata-kata. Orang-orang mengatakan itu dengan istilah speechless.
Sebuah meja panjang ada di tengah ruangan. Tentu saja dilengkapi dengan kursi eksekutif di sekelilingnya. Sebuah tempat khusus, semacam meja panjang yang dilapisi kain flanel berwarna hitam, memanjang dari arah pintu masuk sampai ke dinding di ujung sana. Jangan abaikan puluhan shotgun yang tertata rapi di atasnya.
Yang lebih mencengangkan lagi, ada lebih dari enam puluh senjata laras panjang yang menempel di dinding. Ken tidak bisa menghitungnya satu per satu. Tapi, melihatnya sekilas saja, ia tahu kakeknya pasti mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit.
Seketika kemarahan yang ada di dalam dadanya sirna, berganti dengan senyum lebar di wajahnya. Ia tidak percaya kakeknya menyiapkan ratusan senjata sebagai hadiah untuknya. Jelas-jelas beliau begitu menyayanginya dan Aira, tapi tak pernah menunjukkannya secara terang-terangan.
"Tuan, ini sudah waktunya." Kosuke menatap jam tangannya. Ia mengingatkan Ken akan agenda sebenarnya mereka datang ke tempat tersembunyi ini.
"Dimana mereka berdua?" tanya Ken menatap sekeliling.
"Aku disini," Shun mengangkat tangannya. Sebuah senyum terukir di wajah putihnya. Ia bersandar di pintu, menatap lurus pada ayah tiga anak yang bersiap duduk di kursinya.
"Kamu bisa memusnahkan Jepang dengan seluruh senjata ini, Tuan Muda Yamazaki Kenzo," sindir Yoshiro. Pria itu tiba-tiba muncul dan langsung duduk di kursi yang ada di dekat Ken.
"Benar. Dan kalian adalah eksekutor yang akan aku tugaskan untuk melakukannya. Jadi mari kita buat dunia yang baru!" Ken membalas sindiran partner in crime-nya ini dengan candaan. Ia tidak marah sama sekali dengan cibiran yang Yoshiro tujukan padanya. Justru itu menjadi lecutan semangat di dalam dirinya.
"Baiklah. Ayo kita mulai." Shun memutar-mutar pistol yang ada di tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk membantai target mereka hari ini.
...****************...
Ugh akhirnya bisa up juga 😭😭😭
Pen nangis author tuh bayangin punya kakek kek gitu, hiks hiks
Ngga sabar buat adegan action mereka selanjutnya🕴💃
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy