
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul tiga sore saat bu Anita membuka pintu geser di depannya. Netranya menangkap sosok Sakura yang tengah membenahi selimut di atas tubuh Aira.
"Silakan, Nyonya," ucap gadis 26 tahun itu dengan bahasa Indonesia yang terasa sedikit aneh pelafalannya.
Bu Anita tampak agak terkejut mendapati gadis di depannya bisa melafalkan bahasa yang ia pakai sehari-hari.
"Bisa bahasa kami?" tanya wanita berjilbab itu sembari melirik putrinya yang masih terpejam.
Sakura tersenyum sambil mengangguk. Ia mundur beberapa langkah, mempersilakan bu Anita mendekat ke arah Aira.
"Ayah saya belajar," jawabnya sedikit canggung.
Bu Anita mengerutkan kening. Ia sedikit berpikir dengan maksud kalimat pengasuh cucunya ini. Kalimat itu terasa sedikit aneh, mungkin maksud yang ingin dikatakannya adalah ayah dia belajar dari ayahnya.
"Bu... " panggil Aira lirih, menatap ibunya yang fokus memperhatikan putri tuan Kobayashi itu.
"Khumaira?" Bu Anita mendekat ke arah Aira dan duduk di tepi ranjang. "Alhamdulillah. Kamu sudah siuman, Nak?" tanyanya sembari mengelus kepala berbalut jilbab itu dengan sayang. Ia mengecup kening putrinya sekilas. "Kamu masih pusing?"
Aira mengangguk lemah.
"Mual?"
Aira hanya menggeleng sekilas. Ia tak lagi merasa mual, namun tubuhnya begitu lemah, bahkan mengangkat badan saja terasa begitu berat.
"Mau duduk?" tanya wanita 48 tahun itu saat melihat putrinya berusaha bergerak.
Lagi-lagi Aira bungkam, hanya menggunakan bahasa isyarat, yakni dengan mengangguk. Ia memegangi lengan ibunya yang bersiap membantunya bangun dari posisinya saat ini. Sakura dengan sigap meletakkan bantal sebagai penopang tubuh puannya di kepala ranjang.
"Saya akan siapkan makanan," pamit Sakura sebelum pergi. Ia memastikan bahwa posisi duduk Aira terasa sudah nyaman sekarang.
Bu Anita menatap putrinya dengan pandangan sayang. Ia begitu khawatir saat mendengar bahwa Aira pingsan. Tangannya mengulurkan segelas air putih hangat yang ia terima dari Sakura sebelum pergi. Aira meneguknya sedikit.
"Lain kali, kamu tidak boleh memaksakan diri. Kalau memang lemas atau sakit, segera katakan pada suamimu. Ya?" pinta ibunya serius. Ia kembali mengambil gelas kaca tanpa warna itu dari tangan putrinya dan meletakkannya di atas nakas.
Aira menggigit bibirnya, terpaksa mengulas senyum di depan wanita yang telah melahirkannya 26 tahun yang lalu itu. Ia terlalu enggan untuk mengangguk, tapi takut mengecewakan wanita yang sangat ia hormati ini jika mengatakan ia sedang marah pada suaminya.
"Kamu marah pada suamimu?" tebak bu Anita tepat sasaran.
Aira sedikit tersentak. Dari mana ibunya tahu? Tidak ada seorang pun yang tahu tentang kemarahannya kecuali ia sendiri dan Ken. Apa memang penolakannya pada Ken begitu kentara? Atau ibunya memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengannya? Bahkan tanpa berucap pun, ibunya sudah tahu apa yang tengah disarakannya.
"Mulutmu mungkin bisa diam, tapi bahasa tubuhmu mengatakan kebenarannya." Lagi-lagi bu Anita tersenyum. Ia tahu benar seperti apa perasaan putrinya saat ini. Kelelahan yang menderanya dalam mengurus si Triplets, menuntut fisik sehat dan juga emosi yang selalu positif. Tapi, depresi yang dipicu faktor hormonal seringkali muncul secara tiba-tiba. Dan itu yang mengacaukan hubungannya dengan sang Suami, menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil yang tak terelakkan.
Ada dua hormon yang paling banyak terdapat pada tubuh seorang ibu menyusui (busui), yakni prolaktin dan oksitosin. Hormon tersebut berguna agar tubuh dapat memproduksi ASI sebanyak mungkin, sesuai yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Selain itu, hormon ini jugalah yang bertugas memperkuat ikatan emosional antara si Ibu dengan buah hati mereka.
Meski berperan begitu penting, nyatanya hormon itu justru bisa membuat seorang wanita stres atau depresi. Kenaikan oksitosin justru menjadi kontraproduktif bagi stabilitas suasana hati, mengacaukan good mood busui. Akibatnya, beberapa dari mereka jadi mengalami depresi, kecemasan, mudah marah, tidak lagi bersikap hangat, dan berbagai imbas negatif lainnya.
__ADS_1
"Nak, boleh ibu bicara? Ada sesuatu yang harus ibu katakan padamu." Suara lembut wanita ini masuk ke relung hati Aira yang terasa gersang.
Aira hanya mengangguk.
"Tapi sebelumnya, apa ibu boleh tahu apa yang terjadi? Kenapa kamu marah pada suamimu?"
Lidah Aira begitu kelu untuk sekadar menjawab pertanyaan ibunya. Ia merasa malu jika harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan suaminya.
"Nak... " Bu Anita menggenggam jemari putri semata wayangnya, menyalurkan kehangatan di tangannya yang tak lagi kencang. Gurat-gurat halus tampak di sana, termakan usia. "Katakan saja. Itu akan membuatmu lega."
Aira menghela napasnya, matanya terpejam sepersekian detik, mengingat kembali kejadian tiga jam yang lalu.
"Ken menggigit lidahku," jawabnya dengan wajah cemberut. "Dia selalu saja memaksakan kehendaknya, egois, semaunya sendiri, dan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan."
Bu Anita melebarkan matanya saat mendengar penuturan Aira bahwa Ken menggigit lidahnya. Ia bisa membayangkan seperti apa rasanya, pasti ngilu. Menantunya satu itu memang tidak seperti orang kebanyakan, bu Anita tahu itu sejak awal pertemuan mereka di Indonesia setahun yang lalu.
"Masih sakit?" tanyanya penuh perhatian. Ia mengelus pipi tembam di depannya dengan sayang.
Aira menggeleng. Memang lidahnya tak sakit lagi, tapi seolah kebas, mati rasa di bagian yang tergigit. Mungkin itu hanya sugestinya saja, membuatnya tak bisa memaafkan Ken.
"Kamu berhak marah untuk itu, Nak. Tapi alangkah baiknya jika kamu memaafkannya. Ibu yakin dia khilaf, lupa untuk mengendalikan dirinya."
Aira menundukkan kepala. Sejujurnya hati kecilnya sudah memaafkan Ken sejak awal, tapi logikanya bertentangan. Otaknya menanamkan prinsip bahwa jika ia tidak marah, Ken tidak akan merasa bersalah atas kesalahannya.
"Kamu sudah hidup bersamanya selama setahun ke belakang. Ibu yakin kamu hafal tabiatnya dari yang baik sampai yang belum baik. Terlebih lagi, latar belakang keluarganya ini tergolong tidak biasa. Dia lahir di tempat yang seperti ini, dimana pertumpahan darah bukan lagi hal yang mustahil. Dia memiliki sisi lain yang berbeda denganmu. Ibu tahu," tukasnya mencoba membuka hati Aira kembali.
Aira tak menjawab apapun. Semua yang ibunya ucapkan benar, tak ada yang keliru.
"Tapi ada yang harus ibu luruskan sedikit. Kamu tahu hakikatnya ijab kabul saat sebuah pernikahan terjadi?" pancing bu Anita membangkitkan semangat putrinya yang terlihat terpuruk.
"Saat seorang pria mengucapkan 'Saya terima, nikah dan jodohnya... ' di depan penghulu, saat itulah ia bertanggung jawab penuh pada istrinya. Pun begitu bagimu dan wanita-wanita yang lainnya, sudah seharusnya kalian menyerahkan jiwa raga pada pria asing yang berjodoh dengan kalian itu. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, itu haknya. Semuanya."
Aira berkaca-kaca mendengar nasihat yang ibunya sampaikan. Ia merasa bersalah pada Ken.
"Kenzo begitu luar biasa, Nak. Dia sangat mencintaimu. Tahukan kamu betapa menderitanya dia menahan hasrat sebulan ini?" Ibu ingat perbincangannya dengan Ken pagi ini. Menantunya itu tanya kapan bisa menyentuh istrinya. Itu artinya ia sudah tidak sabar lagi menunggu. Kenyataannya, Ken masih muda. Pantas hasratnya menggebu-gebu.
"Lain kali saat ada masalah, kamu harus menceritakannya pada orang lain. Itu untuk meluapkan berbagai ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Tak hanya itu, kamu juga harus menjaga waktu istirahatmu dengan baik. Sebab, kurang tidur dapat membuat kesehatan fisik dan psikis terganggu."
Aira mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Aira memeluk ibunya dengan erat, berterima kasih padanya atas pencerahan yang ia rasakan ini.
"Perlakukan suamimu dengan baik," pesannya sambil menepuk-nepuk punggung putri kesayangannya. Ia harus mendukung Aira sebaik mungkin, menjadi support terbesar untuk keluarga kecilnya itu.
Aira dan ibunya berbincang hal-hal lain. Saling melempar senyum dan tawa satu sama lain. Kondisi Aira sudah lebih baik sekarang. Ia meminum jus segar yang Sakura siapkan dan menghabiskan satu mangkuk bubur sebelum memakan obatnya.
__ADS_1
"Sakura, bisa panggilkan Ken kemari? pinta Aira pada pengasuh bayinya yang kini justru sibuk mengurusnya.
Sakura pergi melaksanakan perintah itu. Bu Anita juga berpamitan. Ia tidak ingin mengganggu waktu Aira dan Ken
"Ai-chan," panggil Ken lirih di ambang pintu. Ia menatap istrinya yang duduk bersandar di kepala ranjang. Rasa bersalah dan penyesalan tampak jelas di wajahnya.
"Ken, aku merindukanmu," ucap Aira sambil membentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut suaminya dalam pelukan.
Mata Ken berbinar melihat sambutan dari istrinya. Ia berlari dengan cepat, memeluk istrinya dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi," janji pria itu dengan sungguh-sungguh.
Aira mengangguk. Tangannya semakin erat melingkar di punggung suaminya. Wajahnya tersembunyi di dalam dekapan Ken, membuat aroma lavender tercium jelas oleh hidungnya.
"Aishiteru," ucap Aira saat pelukan mereka terlepas. Ia menatap manik mata suaminya dengan mata berkaca-kaca, seolah begitu lama mereka berdua terpisah.
(Love you)
"Motto itoshi teru," balas Ken. Ia kembali memeluk istrinya. Hatinya buncah oleh rasa bahagia yang tak terkira.
(Love you more)
Ken melepas pelukannya. Ia duduk di depan Aira, memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sedikit pucat.
"Masih pusing atau mual?" tanya Ken khawatir.
Aira menggeleng. Ia merasa lebih baik sekarang.
"Aku bersalah. Aku siap menerima hukumanku," cetus Ken serius.
Aira tersenyum. Ia memiliki rencana tersendiri untuk menghukum suaminya.
Srett
Aira menarik dasi hitam yang melingkar di leher Ken, membuatnya tertarik ke depan. Jarak mereka begitu dekat sekarang.
Cup
Aira mencium sudut bibir Ken sebelum mendorong dada suaminya itu menjauh. Ia segera berbaring dan menyembunyikan diri di dalam selimut, menghindar dari tatapan suaminya yang terbelalak.
...****************...
Uwuuu tipis-tipis... Baper dah Author ini, hiks hiks 😭😢😢😢😢😢
See you
__ADS_1
Hanazawa Easzy