
"Senang bertemu denganmu lagi, Mone-chan." ucap Yamaken sambil tersenyum hangat.
Mone mengangguk demi menjaga kesopanannya. Sejujurnya ia kecewa tidak mendapati Aira di sana, tapi ia juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan Aira. Wanita Indonesia itu bahkan tidak tahu jika mereka bersaudara, jadi apa yang ia harapkan darinya?
'Kakak, aku ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu.' lirih Mone dalam hati. Tapi logikanya justru berkata sebaliknya, Aira tidak ada urusan apapun dengan proses pemotretan ini. Lagi pula jarak Tokyo-Moskwa begitu jauh, rasanya mustahil wanita itu untuk datang kemari.
"Sayang.." Anna mengingatkan putrinya karena tidak menjabat tangan Yamaken yang terulur sejak beberapa detik yang lalu.
"Maaf." ucapnya sembari berusaha mengumpulkan fokusnya kembali. Ia harus bekerja dengan baik tanpa terganggu perasaan pribadinya.
"Apa anda sakit?" tanya Kosuke hati-hati.
"Aku baik-baik saja." ucapnya sebelum duduk di samping Yamaken. Ia mencengkeram ujung baju dengan erat, berusaha menenangkan diri atas hatinya yang bergejolak tanpa alasan.
"Baiklah, mari kita mulai." cetus PD Simon, "Ini daftar produk yang akan digunakan dalam pemotretan besok."
"Ah, mohon maaf. Ada beberapa produk kosmetik yang kami ubah dari rencana sebelumnya. Tapi karena terburu-buru jadi saya tidak sempat mencetaknya. Nona, apa Anda berkenan melihat detail produk kami sebelum saya menyerahkan blueprint terbarunya nanti?"
*blueprint atau cetak biru adalah kerangka kerja terperinci sebagai langkah-langkah atau implementasi yang harus dilaksanakan terkait dengan suatu pekerjaan.
"Dimana aku bisa melihatnya?"
"Saya akan mengirimkan soft copynya pada anda."
*soft copy secara bahasa berarti “salinan yang lembut” yaitu data/file yang dikelola dengan mengoperasikan media elektronik.
Mone mengangguk menyetujui gagasan pria yang berasal dari Jepang itu. Ia tidak tahu ada agenda tersembunyi dari proses pengiriman data yang Kosuke lakukan.
"Maaf jika hal itu membuat anda kurang nyaman." ucap Kosuke berusaha menyamarkan tindakannya yang sedang meretas ponsel Mone. Ia mengirim file sekaligus virus silent dalam waktu yang bersamaan. Jadi saat Mone membuka file itu, secara otomatis virusnya juga mulai aktif bersemayam di ponsel pintar gadis itu.
"Tidak masalah." jawab Mone tanpa kecurigaan sedikitpun. Ia sedikit hilang fokus jadi tidak memperhatikan ponselnya yang berkedip beberapa kali, menandakan virus itu sedang menyusup ke dalam gawai miliknya.
*gawai \= ponsel
"Silahkan dilanjutkan." Kosuke tersenyum pada PD Simon, mempersilahkan pria Rusia itu memimpin pertemuan kali ini. Misinya berhasil dengan mudah. Ia mengirim pesan pada Ken :
"Mission accomplished."
__ADS_1
*mission accomplished : misi selesai
*******
Aira keluar dari kamar dengan wajah pucat. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan sedikit berat. Aroma salju yang tercium dari hidungnya menandakan mereka sudah turun dari pesawat. Ia bahkan tidak tahu kapan mereka turun. Seingatnya ia tidur setelah Shun menyuntikkan antivenom itu padanya. Apa mungkin ia tidur hampir 24 jam?
"Ken.." panggilnya lirih saat melihat seseorang mendekat ke arahnya. Penglihatannya buram, ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu.
"Tidur nyenyak dewi penyelamatku?" tanya suara bariton milik pria yang kini menahan lengan Aira.
'Ini bukan suara Ken.' bisik Aira dalam hati. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan akhirnya bisa melihat dengan jelas sosok pria yang ada di depannya. Tanpa menunggu waktu lama, wanita hamil itu langsung mundur beberapa langkah. Menjauh dari pria tak tahu diri itu, Shun Oguri.
"Dimana Ken?" tanya Aira dengan nafas yang memburu.
"Tenanglah. Dia akan segera kembali." ucap Shun seraya mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Aira.
Plakk
Kaori menampik tangan Shun dan segera berdiri di depan Aira, melindungi sahabatnya dari pria gila di hadapannya. Pria yang sangat ingin Kaori usir dari tempat ini jika saja keselamatan Aira tidak bergantung padanya. Ia benar-benar kesal karena Yoshiro justru mengajak Shun tanpa meminta persetujuan yang lainnya.
Dan sepertinya bukan hanya ia yang marah pada Yoshiro. Yu bahkan mendiamkan kekasihnya itu sejak dalam pesawat. Semua pertanyaannya Yu abaikan begitu saja sebagai bentuk protes atas keputusan sepihak yang Yoshiro ambil.
"Berikan tanganmu." pinta Shun pada Aira.
Aira tak bergeming, ia merasa ada yang lain dengan tubuhnya. Seperti ada gejolak di dalam sana, membuatnya memegangi perut. Detik berikutnya ia berlari setelah menabrak Shun yang menghalangi jalannya.
"Uekk.." Aira menunduk di depan wastafel yang ada di dalam kamar mandi, "Uekk.."
Kaori segera mendekat dan memijat tengkuk wanita hamil itu, berharap bisa membantunya mengeluarkan isi perutnya. Dengan cekatan ia memberikan tisu pada Aira yang baru saja selesai membasuh mulutnya dengan air mengalir.
"Dimana Ken?" pertanyaan itu yang pertama kali Aira ucapkan saat tidak mendapati suaminya.
"Dia sedang melihat lokasi pemotretan besok. Sekarang istirahatlah." pinta Kaori setelah keduanya keluar dari kamar mandi.
"Sebegitu takutnya kamu kehilangan suamimu itu?" tanya Shun sarkas, nampak sekali ia sangat tidak menyukai Ken.
"Shun!! Hentikan omong kosongmu. Jika Ken tahu kamu memberikan obat tidur pada Aira, tamatlah riwayatmu." ucap Kaori memperingatkan temannya.
__ADS_1
"Aku tidak takut padanya." ucap Shun menantang, "Lagi pula aku hanya ingin dewi penyelamatku beristirahat agar kondisinya segera membaik. Jika aku tidak datang membawa antivenom itu, apa kamu bisa menghentikan racun di tubuhnya saat ia mulai kesulitan bernafas seperti kemarin?"
Kaori terdiam. Ia tidak memiliki alasan yang bisa digunakan untuk membantah fakta yang Shun jabarkan barusan. Ini sungguh di luar kendalinya.
"Kaori, berapa lama aku tertidur?" tanya Aira ingin tahu.
"Hampir 24 jam." ucap Kaori lirih sambil menunduk. Ia merasa bersalah karena tidak bisa diandalkan untuk menjaga Aira sepenuhnya. Lagi-lagi Shun yang mendominasi perawatan Aira.
Aira tampak termenung mendengar jawaban Kaori. Lidahnya kelu, mulutnya seolah terkunci tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun saat ini. Semuanya mengejutkan.
"Berikan ini setelah ia makan." Shun memberikan sebuah botol kaca mungil pada Kaori. Di dalamnya berisi cairan berwarna biru pekat, lebih gelap dari sebelumnya. Sesaat Kaori ragu, ia takut Shun mempunyai maksud lain pada Aira.
"Aku tidak sepicik itu untuk merebut wanita sakit yang tidak berdaya. Lebih menyenangkan jika merebutnya langsung dari Ken dengan perlawanan sengit." ucapnya sambil berlalu. Antivenom itu ia letakkan begitu saja di meja.
Akhirnya Kaori menyuntikkan penawar racun itu setelah Aira selesai makan. Makanan yang baru masuk setelah berjam-jam wanita hamil itu tidur panjang.
Di tempat lain, Ken tampak mengamati studio foto yang akan digunakan besok. Tidak ada yang berbeda dari tempat ini, semuanya aman terkendali.
"Saya sudah menyelesaikannya." ucap Minami menghampiri tuannya.
Ken mengangguk dan pergi dari tempat itu secepatnya. Tanpa ia tahu, seseorang mengamati mereka dari gedung lain. Sebuah teropong menjadi penyambung indera penglihatannya.
"Mereka memasang kamera pengawas tambahan di tempat itu. Haruskah kita merusaknya?" tanya Mark pada tuannya.
"Biarkan saja. Kita lihat apa yang akan mereka lakukan." ucap Takeshi Kaneshiro setelah mengangkat kakinya ke atas meja, "Lanjutkan pekerjaanmu. Pastikan bersih seperti sebelumnya!"
"Baik." jawab pria dengan bekas luka sayat yang melewati mata cekung miliknya. Ia undur diri setelah Takeshi mengibaskan tangannya di udara.
"Kamu ingin bermain-main denganku, Yamazaki Kenzo? Kita nantikan siapa yang akan menang." ucapnya percaya diri.
*******
Hari ini up dikit dulu. Author lagi diburu kerjaan jadi cuma bisa ketik segini dulu. Bye...
With love,
__ADS_1
Hanazawa easzy