Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Untold Story


__ADS_3

Langit berwarna gelap sempurna saat Mone keluar dari kamarnya. Makan malam bersama kakek Yamazaki, nyonya Sumari, Yu, dan Yoshiro sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Tak ada acara lain, mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Dan sejak saat itulah Mone menyadari bahwa Yamaken tak ada di manapun.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aira pada adik sepupu kesayangannya ini. Keduanya tidak sengaja berpapasan di dekat dapur. Aira berniat mengambil air putih karena merasa haus.


"Apa kakak melihat Yamaken?" Mone masih menatap sekeliling, berharap pria lesung pipi itu ada di sekitar sini.


"Yamaken? Kapan dia datang?"


"Aku meninggalkannya di halaman sebelumnya."


"Di halaman?" Aira mengerutkan keningnya. "Dia menjemputmu dari bandara? Apa kalian datang bersama?"


Mone tak bisa berkata-kata. Dia mengangguk dengan raut wajah penuh penyesalan.


Aira memutar otaknya. Dia harus mendengar kronologi kejadiannya sebelum menyimpulkan apa yang terjadi pada sepasang kekasih ini.


"Ayo duduk. Katakan sejak awal, dimana dan bagaimana kamu meninggalkannya."


Mone mulai menceritakan apa yang terjadi pada ia dan calon suaminya itu.


"Dia menjemputku di bandara. Kami berbelanja buah, sayur, dan semua makanan laut itu."


"Lalu?" tanya Aira, tak sabar menantikan penjelasan gadis 20 tahun ini.


"Aku mendiamkannya sepanjang jalan. Bahkan aku menolaknya saat dia ingin membantuku membawa belanjaan."


Aira mengembuskan napas beratnya. Tanpa melihatnya sekalipun, Aira bisa membayangkan apa yang terjadi. Dia tahu kenapa saudara kembar suaminya itu pergi tanpa mengatakan apapun.


"Dia baik-baik saja." Aira memberi pernyataan.


Mone mengerutkan keningnya. "Darimana kakak tahu?"


Aira tersenyum. Dia paham tabiat Yamaken. "Ibu banyak menceritakan perbedaan Ken dan Yamaken, termasuk temperamen mereka yang sangat berbeda, bagai bumi dan langit."


"Bagai bumi dan langit?" Mone membeo.


"Benar." Aira memutar kembali memori percakapannya dengan Sang Ibu Mertua, beberapa bulan yang lalu saat Aira menginap di kediaman kakek Yamazaki. Saat itu kandungannya baru memasuki usia enam bulan.


FLASHBACK


Nyonya Sumari mengelus perut Aira yang tampak semakin besar. Beliau terlihat begitu bahagia, bersiap menyambut kedatangan ketiga cucunya beberapa pekan kedepan.


"Apa kamu lelah? Biar ibu memijat kakimu." Wanita itu bersiap meletakkan tangannya di kaki Aira.


"Tidak, Bu. Jangan lakukan itu. Aku akan merasa bersalah jika ibu memijatku. Seharusnya aku yang melayani ibu, bukan sebaliknya." Aira tak enak hati.


"Tak apa. Aku melakukan ini untuk cucu-cucuku, bukan untukmu."


Aira tersenyum canggung, merasa tak enak hati pada wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.


"Apa mereka menyusahkanmu?" tanya nyonya Sumari sambil memijat kaki Aira yang tampak semakin berisi. Meski tidak mengalami bengkak, nyatanya tetap terlihat perbedaannya dibandingkan saat Aira belum mengandung.


"Tidak sama sekali. Justru ayah mereka yang menyusahkanku, Bu." Aira mengungkapkan keluh kesahnya.


"Ken manja padamu?"


Aira sedikit tertegun. "Bagaimana ibu bisa tahu?"


"Dia putraku. Aku melihatnya tumbuh dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak memahaminya?"


Aira mengigit bibir bawahnya, tak tahu harus berkomentar apa.

__ADS_1


"Sebenarnya, Ken dan Yamaken benar-benar berbeda. Yamaken yang lebih pantas menjadi kakak, bukan sebaliknya."


"Maksud ibu?"


"Yamaken, anak itu tidak pernah mendapat kasih sayang dari kakek sejak kecil. Dia di abaikan."


"Eh?" Aira benar-benar terkejut. "Dia diabaikan?"


"Umm. Kakek tidak mengizinkan siapapun memanjakannya. Sejak dokter mengatakan bahwa dia memiliki kelainan, kakek tak lagi mempedulikannya."


Aira menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak pernah menyangka ada cerita pahit seperti ini tentang Yamaken.


"Saat usianya enam tahun. Dia kesulitan bernapas setelah berlatih menunggang kuda selama tiga puluh menit. Dokter Hugo mengatakan bahwa ada kelainan dengan jantung Yamaken. Dia mengalami lemah jantung, tidak diizinkan melakukan olahraga berat. Satu-satunya aktivitas lapangan yang boleh ia lakukan hanya memanah."


Aira menutup mulutnya rapat-rapat dan memperhatikan penuturan wanita ini. Ada untold story yang akan ia dengar tentang Yamaken, adik iparnya. Pantas saja kakek Yamazaki pernah menguji kemampuan memanah Yamaken saat itu. Hanya itu satu-satunya yang bisa pria itu lakukan.


"Awalnya, ayah (kakek) menyayangi kedua anak itu tanpa membedakan mereka sedikitpun. Tapi, sejak Yamaken dinyatakan mengidap kelainan itu, ayah seolah tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Tahun berikutnya, dia tinggal di akademi bersama Ken. Ada bibi Tsu yang mengurus mereka."


"Sejak saat itu, Yamaken merasa dia tidak lagi dibutuhkan. Ia melakukan apapun sendiri, mencari 'dunia lain' dimana ia diakui keberadaannya. Dan akhirnya membawa langkah kakinya menuju dunia layar kaca seperti sekarang."


"Ibu tidak bertanya pada kakek, kenapa beliau mengabaikan Yamaken?"


Nyonya Sumari menggeleng. "Aku tidak berani. Yang bisa aku lakukan hanyalah mendukung putraku secara diam-diam, menyingkirkan onak berduri yang menghalangi jalan kesuksesannya. Hanya dengan begitu, aku harap ayah akan melihat Yamaken."


"Apa dia pernah mengeluh pada ibu karena kakek mengabaikannya?"


"Tidak. Tidak sama sekali." Nyonya Sumari menghapus air mata yang lolos begitu saja membasahi wajahnya. "Dia menutupi lukanya dengan senyuman. Bukankah dia selalu tersenyum? Apa kamu pernah melihatnya murung? Tidak pernah, 'kan?"


Deg!


Aira tidak menyadari hal itu. Yang ia tahu, Yamaken memang enerjik dan selalu tersenyum. Dia tidak tahu bahwa di balik senyum manisnya itu, ada luka begitu dalam yang ia tutupi.


"Berbanding terbalik dengan Ken yang selalu mendapat apresiasi dari ayah, Yamaken tak pernah sekalipun mendapat pujian. Itu membuatnya semakin tegar. Dia tidak pernah menahan siapapun di sisinya, berbeda dengan suamimu."


Pantas saja Yamaken tak pernah memaksakan perasaannya pada Mone, dia terbiasa diabaikan. Pria itu tidak pernah berharap ada orang yang berdiri di sampingnya, menemani setiap langkahnya.


"Bahkan jika seseorang mengabaikannya lagi, dia hanya pergi dari hadapan orang itu, melakukan hal lain yang bisa membuatnya tersenyum."


Hati Aira mencelos. Dia ikut sedih mendengar hal ini.


"Apa yang aka dia lakukan, Bu? Dia tidak terlihat seperti memiliki teman dekat untuk berbagi keluh kesahnya."


"Kamu benar. Dia tidak berteman dekat dengan siapapun. Satu-satunya orang luar yang ia percayai adalah manajernya sendiri. Tidak ada orang lain."


"Apa dia memiliki satu tempat favorit saat seseorang mengabaikannya?"


Nyonya Sumari mengangguk. "Ada."


FLASHBACK END


Mone segera beranjak dari duduknya. Dia siap mencari belahan hatinya. Sudah cukup kakek mengabaikan Yamaken selama bertahun-tahun. Mone tidak ingin melakukan hal yang sama dan membuat pria itu kembali tersakiti.


...****************...


Ctakk


Sebuah peluru manancap di atas papan target, tepat di lingkaran terdalamnya yang bernilai sepuluh poin.


"Aah," gumam pria yang kini memegang senjata laras panjang di tangannya.


"Apa-apaan itu? Kamu bahkan hanya mengatakan 'Aah' saat mengenai target. Tidak adakah ekspresi atau kata lain yang lebih baik?" tanya wanita dengan kacamata kotak di atas hidungnya. Dia tak lain adalah manajer Yamaken. Wanita ini bertugas menyiapkan segala macam keperluan aktor ini yang berkaitan dengan dunia showbiz.

__ADS_1


Yamaken tersenyum simpul, merasa tak perlu menanggapi komentar wanita empat puluh tahunan ini.


"Ada masalah apa?" tanya wanita yang kini berkutat di depan laptopnya. Ia tahu artisnya ini sedang mengalami masalah. Jika tidak, untuk apa dia berlatih menembak seperti sekarang? Yamaken hanya berlatih menggunakan senjata berbahaya ini saat pikirannya sedang kacau.


"Tidak ada."


Ctakk


Yamaken kembali melepaskan satu tembakan, namun kali ini hanya berhasil mendarat di angka enam. Jauh dari pencapaian sebelumnya.


"Pergi dari apartemenku jika tidak ingin mengatakannya! Aku dengan senang hati akan melihat wajah kusutmu besok. Biarkan saja sutradara berteriak kencang mengritik penampilanmu, aku tidak peduli!"


Ctakk


Dan Yamaken juga tidak peduli. Dia kembali melesatkan peluru. Kali ini sedikit lebih baik, tujuh poin.


Manajer menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika Yamaken sudah memasang mode iblis seperti ini, tak ada yang bisa ia lakukan. Di balik wajah tampan nan menggemaskan ini, tersembunyi monster yang tidak banyak orang ketahui. Bahkan mungkin keluarganya sendiri juga tidak tahu.


Ctakk


Delapan poin. Konsentrasi Yamaken perlahan membaik, terlihat dari progres bidikannya ini. Hanya dengan cara ini, mood buruk Yamaken bisa dihilangkan.


Ting tong


Terdengar bunyi bel, menandakan ada tamu yang datang berkunjung ke apartemen ini. Manajer menatap jam dinding di atas pintu, sudah jam sembilan malam.


"Apa kamu memesan makanan?" tanya manajer karena dia merasa tak memiliki janji temu dengan siapapun malam ini.


Yamaken menggeleng. Dia memasukkan kembali empat buah peluru ke dalam senapan laras panjang yang sudah dimodifikasi tanpa suara itu.


Manajer mengerutkan keningnya, namun tetap berjalan ke arah pintu dimana terdengar bunyi bel yang kedua. Mata wanita ini memicing tajam saat mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya.


"Mone-chan? Ada yang bisa aku bantu?"


Swushh


Alih-alih menjawab pertanyaan wanita ini, Mone justru langsung masuk dan berlari ke satu arah. Dia yakin orang yang ia cari ada di dalam sini.


Grep


Mone memeluk Yamaken yang tengah berdiri sambil membidik target. Ia menempelkan pipinya di punggung bidang pria ini.


"Gomenasai. Hontou ni gomenasai."


(Maaf. Aku sungguh minta maaf)


Ctakk


Yamaken terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang, membuat konsentrasinya buyar seketika. Peluru yang ia lesatkan entah menyasar kemana, bahkan tak mengenai papan target sama sekali.


"Aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Yamazaki Kento, ayo kita menikah."


Deg!


...****************...


Eh gimana gimana? Nikah?


Waah si mbak Mone gercep amat yaa. Ahaha...


Jangan lupa like, komen, vote, share cerita ini yaa, biar semangat authornya. Bye,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2