
Kaori dan Shun masih tertahan di Thailand. Seharusnya mereka kembali ke Jepang siang ini demi memenuhi undangan makan malam dari Aira. Akan ada bonus besar yang akan kakek Yamazaki berikan atas keberhasilan misi mereka dalam memusnahkan tuan Harada dan geng Naga Hitam itu. Keberadaa mereka sudah dipastikan musnah hingga ke akar-akarnya.
Namun, kondisi Kaori tiba-tiba memburuk. Dia pingsan dan harus istirahat di rumah sakit ini sampai kondisinya membaik. Dokter tidak mengizinkan pasien khususnya ini ikut penerbangan jarak jauh, demi kebaikannya sendiri.
"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?" tanya Shun, khawatir dengan keadaan Kaori yang terlihat pucat seperti mayat hidup.
"Kami akan mengambil sampel darahnya sekali lagi. Dari pemeriksaan awal, sepertinya dia hanya kurang istirahat. Mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak bisa tidur semalam." Dokter mengungkapkan diagnosa awalnya.
"Saya akan segera mengatakan hasilnya pada Anda. Setidaknya butuh waktu satu jam untuk memeriksa secara detail."
"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk istri saya." Shun menunduk dalam, memohon bantuan dokter di hadapannya. Ia bukan praktisi medis, jadi tidak paham harus bagaimana menyikapi hal ini. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mempercayakan perawatan Kaori pada orang-orang ini.
"Saya sudah memberikan obat tidur dosis rendah pada istri Anda. Dengan begitu, dia bisa istirahat dengan tenang."
Shun mengangguk, patuh pada perlakuan yang dokter ini berikan pada Kaori.
"Saya permisi. Jika ada yang Anda butuhkan, saya berada di ruangan depan sepanjang malam. Anda juga bisa menekan tombol darurat ini." Pria berkacamata itu menunjuk tombol warna merah yang ada di setiap kamar. Itu terhubung langsung ke ruangan perawat..
"Umm. Terima kasih, Dok."
Pria berpakaian putih yang membawa stetoskop di lehernya itu mengangguk sekali. Detik berikutnya, dia beranjak pergi, meninggalkan Shun bersama Kaori yang terlelap di atas ranjangnya.
"Istirahatlah, Sayang."
Cup
Shun mendaratkan kecupan sayangnya tepat di kening Kaori. Dia benar-benar memusatkan perhatiannya pada wanita ini. Wanita yang sempat ia patahkan hatinya beberapa bulan yang lalu. Bahkan ia sempat mengatakan kata-kata yang tidak pantas untuk didengar saat itu.
Dan baru sekarang Shun menyadari betapa berharganya Kaori dalam hidupnya, sama seperti anggapan Ken terhadap Aira. Pantas saja Ken begitu murka saat tahu Shun menjadi dalang dalam tragedi yang mencelakai istrinya. Pria itu bahkan hampir membunuhnya yang saat itu melakukan hal tidak senonoh pada Aira.
Cup
Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Kaori. Shun menatap wajah istrinya dalam diam, merapal doa dalam hati agar dia baik-baik saja. Jemarinya menyingkirkan helai rambut Kaori kebelakang telinga.
Tok tok
Kegiatan pribadi Shun terjeda oleh suara ketukan pintu. Seorang pria berpakaian hitam tampak berdiri di depan sana, terllihat dari bagian tengah pintu yang transparan.
"Ada apa?" tanya Shun begitu mereka berdiri berhadapan.
"Tuan Besar ingin berbicara dengan Anda." Pria yang merupakan orang suruhan kakek Yamazaki itu menyerahkan sebuah ponsel khusus miliknya.
Itu adalah teknologi terbaru yang dikembangkan Miracle Corporation, dimana tidak ada satupun piranti yang bisa menyadap benda pipih ini. Jumlahnya masih terbatas, hanya dimiliki orang-orang tertentu. Dengan begitu, apa yang akan kakek Yamazaki bicarakan, tidak bisa didengar oleh orang lain.
Shun menatap ke belakang, menilik keadaan istrinya yang masih terlelap dalam damai.
__ADS_1
"Jaga dia!" titah pria 30 tahun ini.
"Baik."
Shun beranjak pergi, meninggalkan ruang perawatan Sang Istri. Dia tahu, pasti ada hal penting yang ingin pria tua itu bicarakan dengannya.
"Selamat malam, Yamazaki-san," sapa Shun saat dia tinggal seorang diri di koridor yang lengang ini.
Pria berbaju hitam itu sudah lebih dulu pergi. Dia tahu batasan untuk tidak mengganggu privasi percakapan kakek Yamazaki dengan salah satu agen kepercayaannya ini.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Bagaimana keadaan istrimu?"
Shun tersenyum meski kakek Yamazaki tidak bisa melihatnya. Dia merasa tersanjung karena pria lanjut usia itu memperhatikan keadaan Kaori.
"Dia istirahat di kamarnya."
"Berhati-hatilah. Jangan sampai terjebak."
"Eh?" Shun terhenyak di tempatnya berdiri, tidak mengerti apa yang kakek bicarakan.
"Yuki mulai bergerak." Kakek mengatakan satu dua kata ambigu, membuat Shun semakin bingung.
"Maksud-"
"Tuan, bisakah Anda menjelaskannya? Saya benar-benar tidak tahu apa yang Anda bicarakan."
Hening
Tak ada yang bersuara di antara dua pria beda usia ini. Hanya helaan napas yang terdengar jelas, menandakan ada hal serius yang kakek pikirkan.
"Jaga istrimu baik-baik. SIsanya biarkan aku dan Kenzo yang akan mengurusnya."
"Tunggu!"
Tut tut tut
Panggilan dua arah itu telah terputus. Kakek mematikan sambungan secara sepihak, menyisakan berbagai tanya di dalam kepala Shun. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit koridor ini.
'Aneh. Ganjil. Ada apa ini?'
* * *
Di sebuah rumah mewah di kawasan Shibuya...
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya pria dengan pakaian serba hitam. Dia adalah Yuki Harada, putra sulung tuan Harada dan nyonya Sumari. Prosesi pemakaman ayahnya berakhir dua jam yang lalu,
Pria yang ditanya menggeleng pelan. Dia tidak bisa menemukan apa yang tuannya inginkan.
Bukk
"BAKA!"
(BODOH!)
Sebuah tendangan melesat begitu saja, mengenai tulang kering pria ini, membuatnya harus bersimpuh di lantai. Untung saja lututnya masih bisa berdiri menahan beban tubuhnya. Jika tidak, bisa dipastikan wajahnya terjerembap di lantai saat ini.
BRAKK
PRANGG
Yuki menendang meja yang ada di hadapannya, membuat vas bunga di atasnya mendarat di lantai. Pecahan kacanya tersebar ke berbagai penjuru. Dia kesal karena semua orang-orang ayahnya tak tersisa satupun. Bahkan tubuh mereka hilang bak ditelan bumi.
"Apa yang 'orang itu' katakan?" Yuki menuntut jawab dari pria kepercayaannya ini. Wajahnya merah padam, menandakan bahwa dia tengah berada di ambang batas kesabaran yang dimilikinya.
"Harakiri. Itu yang ahli fisum ucapkan. Hasil pemeriksaan dokter juga mengatakan hal yang sama. Tidak ada luka lain, tuan mengambil nyawanya sendiri."
BUGH
"Tidak mungkin!"
Kali ini kepalan Yuki yang mendarat di wajah pria ini, membuatnya sedikit oleng. Kepalanya berputar tanpa dia minta. Mengerikan.
Yuki mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Dia tidak bisa memercayai begitu saja sebab kematian Sang Ayah. Jelas-jelas pria itu memiliki ambisi yang kuat untuk menguasai dunia bawah tanah.
'Bagaimana mungkin ayah memilih cara ini?'
Yuki benar-benar tidak percaya pada siapapun sekarang. Tidak ada alasan kenapa ayahnya tiba-tiba memilih mengakhiri hidupnya bagaikan seorang samurai sejati. Jelas-jelas ada begitu banyak ambisi geng Naga Hitam yang ingin dia wujudkan.
Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada satupun anggota kelompok itu yang bisa memberikan keterangan atau laporan padanya. Apa yang terjadi sebenarnya?
Yuki menatap foto mendiang ayahnya yang terpampang di depan altar penghormatan. Ada satu nama yang Yuki curigai sebagai dalang dibalik kematian ayahnya.
"Selidiki sekali lagi. Cari apa saja yang berhubungan dengan ayah saat di Thailand. Kamu memiliki waktu 1 x 24 jam untuk melapor padakku!" titah Yuki.
"Baik, Tuan."
* * *
Hollaaaaa..... Ada bau-bau baku hantam lagi nih.
__ADS_1
See you next episode. Bye,
Hanazawa Easzy