Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Terjebak Perangkap


__ADS_3

Ken terbangun dari tidurnya saat dini hari, namun tidak mendapati Aira di sisinya. Ia menyusul ke kamar anak-anak dan berbincang disana. Mereka membicarakan kasus kematian dokter yang pernah bekerja di salah satu klinik kecantikan Miracle di Osaka.


"Orang itu memakai nomor ponsel dokter Olivia. Apa mungkin ada satu nomor yang digunakan oleh dua orang? Atau seseorang meretasnya?" tanya Aira.


"Ini dia!" ucap Ken dengan mata berbinar, menatap layar monitor di depannya yang menampilkan riwayat panggilan dan pesan yang Yu dapatkan dari ponsel dokter Olivia.


"Lihat tanggalnya!" seru Aira sambil menunjuk salah satu deretan angka yang ada di layar.


"Lima bulan yang lalu?" gumam Ken lirih.


"Tidak ada panggilan yang ada sebelumnya. Bisa jadi ponsel ini baru dipakai, atau seseorang memang menghapus riwayatnya." Aira beropini. "Lihat nomor seri ponsel itu. Aku akan melacaknya. Pasti ada data yang menunjukkan kapan pertama kali ponsel itu diaktifkan."


Jemari Ken bergerak mencari informasi yang Aira minta. "Ini," ucapnya.


"Bagus. Berikan padaku!" Aira berkata sembari mengambil komputer jinjing itu dari penguasaan Ken.


"Memangnya bisa dilacak?" tanya Ken sangsi.


"Tentu saja bisa. Setiap ponsel yang baru diaktifkan, akan menyimpan informasi tertentu. Dan saat ponsel itu terhubung dengan jaringan internet, tanpa kita ketahui, mereka mengirim informasi itu pada server pusat. Aku akan mencarinya. Seharusnya data itu masih ada di sana jika seseorang tidak mengacaukannya. Kita hanya perlu mencatat tipe ponsel dan serinya, maka kita bisa mendapatkan informasi itu," jelasnya penuh keyakinan.


Aira menaikkan kakinya yang sedari tadi menjuntai di sisi ranjang yang didudukinya. Ia duduk bersila, meletakkan laptop itu di atas pangkuannya. Detik berikutnya ia memutar tubuh, membelakangi Ken.


"Ai-chan," panggil Ken. Ia masih shock dengan kesigapan istrinya yang tiba-tiba mengambil laptop dari hadapannya. Bahkan kedua tangannya masih terulur di udara, seperti saat kesepuluh jarinya menari di atas tuts berwarna hitam itu.


"Hmm," gumam Aira. Jemarinya sibuk berselancar di dunia maya, memasukkan berbagai bahasa pemrograman yang tersimpan di dalam otaknya.


"Dimana kamu mempelajari itu?" tanya Ken, melongokkan kepala di sisi kanan tubuh istrinya. Setengah monitor itu dalam sekejap saja sudah berisi deret huruf dengan berbagai simbol yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Aira kembali menunjukkan kemampuannya.


"Di akademi," jawabnya singkat.


Ken terdiam. Ia yakin akademi tidak mengajarkan kemampuan meretas sejauh itu. Yu dan Aira belajar bersama, ada beberapa hal yang tidak bisa Yu lakukan, tapi Aira menyelesaikannya seperti seorang profesional.


"Sebelum itu?"


Ctakk ctakk


Jemari Aira terangkat, tak lagi menyentuh deretan tombol di bawahnya, membuat kursor di layar mengedip beberapa kali. Ia melirik Ken, menantikan kalimat yang akan suaminya ucapkan. Aira yakin Ken pasti akan menanyakan sesuatu berkaitan dengan kemampuannya ini.


"Kamu seorang hacker atau programer sebelum masuk ke akademi, benar 'kan?" tebak Ken ragu.


Ctakk ctakk ctakk


Aira mengangkat sebelah bibirnya dan melanjutkan aktivitasnya tanpa menjawab pertanyaan Ken. Konsentrasinya kembali ia pusatkan pada layar bercahaya di hadapannya. Hal itu membuat Ken mengembuskan napas beratnya.


Keterdiaman Aira menunjukkan bahwa pertanyaannya tepat sasaran. Aira sudah menguasai 'bahasa planet' itu sebelum masuk ke akademi. Itu sebabnya ia belajar dengan cepat di sana dan bisa mengungguli murid-murid yang lainnya. Ken merasa, semakin lama ia bersama Aira, sosok istrinya menjadi semakin misterius. Entah rahasia apa lagi yang dimiliki oleh wanita ini. Ken sungguh menantikannya.


"Dapat!" cetus Aira dengan senyum terkembang di wajah. Ia puas setelah berhasil menemukan data yang dicarinya.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Ken penasaran. Ia menggeser duduknya, mendekati Aira. Ken menunjukkan senyum iblisnya. Ia melihat kesempatan untuk menggoda istrinya. Tangannya ia susupkan ke dalam pakaian tidur yang Aira kenakan, mengelus perut rata milik wanitanya ini dengan gerakan seduktif. Sensasi geleyar aneh segera menyergap busui ini, membuatnya berjengit.


"KEN?!" geram Aira. Ia tidak suka dengan perlakuan suaminya yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan seperti sekarang.


"Sebentar saja," bisiknya di telinga Aira. Ia bahkan tak segan-segan mencium daun telinga istrinya yang tak terhalang apapun.

__ADS_1


Aira memejamkan matanya, menekan emosi yang siap meledak dan mengaktifkan mode sabar tanpa batas untuk menghadapi kelakuan suaminya ini. Ia harus bisa mempertahankan kewarasannya dan menyelesaikan potongan puzzle di depannya.


"Ponsel ini baru diaktifkan lima bulan yang lalu. Hari yang sama dengan pertama kali panggilan telepon terjadi. Itu artinya ponsel ini masih baru," jelas wanita itu dengan menggertakkan giginya, menahan gejolak yang timbul akibat perlakuan Ken yang tengah mengecup lehernya berulang kali.


"Kamu lanjutkan pekerjaanmu, aku lanjutkan makan malamku," ucap Ken sebelum kembali 'memakan' hidangan di depannya.


DUKK


Aira menyikut perut suaminya cukup keras, membuat Ken membungkukkan badan di belakang Aira.


"Agh, perutku," ucap Ken sambil memegangi perutnya yang terasa ngilu akibat hantaman dari siku istrinya.


"Itu akibatnya karena kamu menggangguku! Aku tidak bersalah ya. Salahmu sendiri yang suka mencuri-curi kesempatan untuk berbuat mesum," ketus Aira. Ia memandang suaminya dengan tatap mata yang tajam, menunjukkan bahwa ia kesal dan marah pada pria lesung pipi yang meminangnya setahun yang lalu.


"Maaf," lirih Ken.


"Sudahlah. Aktingmu buruk sekali!" cemooh Aira pada pria yang ada di samping badannya.


Ken segera mengangkat badannya, menghadap Aira dengan senyum tanpa dosa di wajahnya.


"Kita lanjutkan pencariannya atau berhenti di sini saja?" tanya Aira dengan wajah datar. Aura dingin dan mencekam segera menyelimuti ruangan itu, membuat senyum di wajah Ken musnah seketika.


"Maaf. Ayo kita lanjutkan." Ken berdiri dari tempatnya dan mengambil meja kecil dari kolong ranjang. Detik berikutnya, laptop berwarna hitam itu sudah betengger di atas meja kecil yang Ken letakkan di atas ranjang.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Ken, menatap Aira di depannya.


"Apa Yu berhasil meretas ponsel nyonya Suzuki? Kita harus membandingkan keduanya untuk melihat aesthetician yang merawat nyonya Suzuki itu sungguh-sungguh penipu atau bukan."


Ken mengambil alih laptop itu dan membuka data yang ia dapatkan dari Yu. Disana tampak data panggilan telepon dan pesan yang masuk ke dalam ponsel wanita sosialita itu.


Ken menuruti permintaan istrinya, meski ia tidak tahu apa yang berbeda. Dua pesan itu sama seperti pesan-pesan yang lainnya.


"Tidak ada yang aneh," cetus Ken, masih belum mengerti.


"Coba perhatikan lagi baik-baik." Aira bersikukuh dengan pendapatnya, membuat Ken tak bisa membantah. Ia menuruti perintah istrinya, membali mengamati setiap kata yang tertulis di depannya.


"INI?!" Ken terhenyak mendapati perbedaan di antara dua pesan yang ditampilkan di layar.


"Benar. Yang mengirimkan pesan ini adalah dua orang yang berbeda. Lihat gaya penulisan yang dipakainya." Aira menunjuk keduanya bergantian. "Dokter Olivia yang asli, selalu menggunakan huruf kapital saat mengetik awal kalimat dan saat menyebutkan nama nyonya Suzuki. Tapi, penipu itu tidak. Meski terlihat serupa, nyatanya dua hal itu sangat berbeda."


"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan hal itu hanya dari data sepele seperti ini?" Ken tampak meragu.


"Sepele katamu?" Aira terkekeh mendengar pertanyaan suaminya. "Lewat tulisan seseorang, kita bisa mengungkapkan karakter dan kepribadian mereka"


Kening Ken berkerut, belum yakin dengan pendapat istrinya.


"Gaya penulisan yang seseorang gunakan bisa disebut sebagai 'cetakan otak' karena mampu menunjukkan cara berpikir dan keunikan dari kepribadian mereka. Seperti yang kita lihat ini. Dokter Olivia selalu memperhatikan penggunaan huruf kapital sesuai ejaan baku yang ada, seperti di awal kalimat, nama orang dan nama tempat. Itu artinya dia adalah orang yang memperhatikan detail dalam mengerjakan segala hal. Selain itu, ia pasti sangat hati-hati dan tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun. Sesuai dengan pekerjaannya. Salah sedikit saja, wajah orang lain bisa hancur, 'kan? Aku yakin kamu setuju dengan pendapatku ini." Aira menjelaskan keyakinannya panjang lebar.


"Sedangkan pesan yang ada di ponsel nyonya Suzuki, menunjukkan sifat orang tersebut terlalu buru-buru dalam bertindak dan tidak terlalu memperhatikan detail pekerjaannya."


Ken seperti mendapat pencerahan. Penjelasan Aira membuatnya ingat satu hal yang Kosuke laporkan padanya.


"Aku ingat. Suami dokter Olivia mengatakan bahwa ponsel istrinya hilang seminggu setelah ia pindah ke Tokyo. Saat itu ia naik kereta bawah tanah dan tidak menyadari ponselnya hilang."

__ADS_1


"Oh jadi begitu? Aku tahu apa yang terjadi," Aira siap menyampaikan hipotesanya. "Ken, tolong koreksi jika aku salah," ucap Aira. Ken menjawabnya dengan anggukan.


"Jadi, awalnya dokter Olivia bekerja di klinik kecantikan di Osaka dan Nyonya Suzuki adalah salah satu pelanggannya."


"Benar." Ken lagi-lagi mengangguk.


"Wanita itu berhenti bekerja dari sana dengan alasan akan melahirkan. Ia pindah ke Tokyo dan kehilangan ponselnya saat berada di dalam kereta. Dia tidak tahu seseorang mengincarnya, jadi tidak ambil pusing dengan hilangnya ponsel itu. Ia membeli ponsel yang baru dan fokus pada yayasan thalasemia itu.


"Di saat yang sama, pencuri ponsel itu mulai beraksi, menyamar sebagai dokter Olivia dan mengerjakan tugasnya, menangani perawatan wajah nyonya Suzuki. Dan kita sudah tahu kelanjutannya, orang itu akhirnya menyingkirkan dokter Olivia untuk menghilangkan jejak kejahatannya," pungkas Aira.


"Ya. Aku setuju dengan pendapatmu." Ken mengiyakan teori yang Aira sampaikan.


"Apa yang menyebabkan dokter Olivia meninggal?" tanya Aira ingin tahu.


"Racun sianida. Seseorang sengaja menaruh racun berbahaya itu pada makanan atau minuman yang wanita itu konsumsi. Sepertinya mereka juga tahu jelas jadwal kerja suami dokter Olivia yang selalu lembur sebelum akhir pekan. Mereka mengatur agar tak ada siapapun yang bersama dokter Olivia saat racun itu mulai bereaksi. Karenanya, pria itu menemukan istrinya sudah tewas saat ia kembali.


Deg!


Aira teringat satu kasus berkaitan dengan kopi sianida yang menghebohkan Indonesia beberapa tahun lalu. Pelakunya diduga adalah sahabat korban. Ia tidak menyangka akan terjadi hal yang sama di sini, dan korbannya adalah seorang wanita yang tidak bersalah. Bahkan ia meninggalkan seorang bayi berusia lima bulan.


Tapi Aira merasa ada yang aneh di sini. Ia merasa ada sesuatu yang terlewat.


"Ada apa?" tanya Ken mendapati ekspresi istrinya yang tampak belum puas juga meski satu dua kepingan puzzle berhasil mereka kumpulkan.


"Ada yang aneh," ucapnya menggantung.


"Aneh? Apa?"


"Apa pekerjaan suami dokter Olivia?" selidik Aira.


"Dia seorang teknisi di salah satu perusahaan. Aku tidak mencari tahu lebih lanjut tentang hal itu." Ken tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka. Apa atau siapa yang istrinya curigai.


"Selidiki dia!" titah Aira. Wajahnya terlihat begitu serius.


"Kenapa? Kamu mencurigainya?" tanya Ken, heran dengan pemikiran istrinya itu.


"Dokter Olivia orang yang sangat berhati-hati. Aku yakin dia tidak akan sembarangan mengonsumsi makanan atau minuman dari orang yang tidak dikenalnya. Kamu tahu maksudku?" tanya Aira.


"Jadi... " Ucapan Ken terhenti saat melihat Aira menganggukkan kepalanya tanpa ragu sama sekali.


"Orang yang paling dekat dengan kita, merekalah yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk mencelakai kita. Selain suami dokter Olivia, seharusnya ada beberapa nama yang lainnya. Kamu harus mengawasi mereka!"


Ken membulatkan matanya. Ia sama sekali tidak mencurigai orang-orang yang dekat dengan dokter Olivia. Pantas saja penyelidikannya seolah buntu selama ini. Ia terjebak dalam perangkap yang pelaku pembunuhan itu siapkan.


Sial!


...****************...


Author puyeng asli dah ini 😂😂


Big thanks buat kalian yang mau baca, vote, komen, like dan semua bentuk dukungan apapun itu. See you di episode-episode berikutnya. Kalo kalian pusing baca ini, skip aja gapapa kok 😅😆😆


Bye-bye,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2