Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Produk Kecantikan Miracle


__ADS_3

"Jadi, Nyonya Harada, bisa kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Kosuke dengan percaya diri. Saatnya ia mulai mengusai medan perang.


Cklek


Ken masuk ke ruangan ini dan melihat dua orang asing yang ada di depan asisten pribadinya. Mereka bertiga sontak berdiri, menyambut kedatangan pria dengan kemeja berwarna merah marun yang tersembunyi di balik jas hitam yang dipakainya.


"Selamat siang, Nona, Nyonya. Saya Yamazaki Kenzo, penanggung jawab Miracle Cosmetics Japan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ken dengan senyum ramah terkembang di wajahnya. Ia berusaha memberikan kesan pertama yang baik pada tamunya ini. Sedikit banyak, kesan pertama akan berpengaruh pada interaksi yang akan terjadi selanjutnya.


"Jadi Anda pemilik perusahaan ini?" tanya nyonya Suzuki seraya mengamati penampilan Ken dari ujung kaki ke ujung kepala. "Wajah Anda tidak asing, sepertinya saya pernah melihat Anda di suatu tempat."


"Bu... Bu... Dia Yamaken, The Prince on Live Action itu," bisik gadis yang memakai dress sebatas lutut itu.


"Hah? Yama... Yamaken yang digilai oleh adikmu itu?" tanya nyonya Suzuki sambil menatap putrinya.


Gadis berkulit putih itu mengangguk mantap, kembali mengamati wajah Ken dengan seksama. Tidak salah lagi, dia yakin pria yang di depannya ini adalah wujud asli dari gambar-gambar yang memenuhi dinding kamar dan memori ponsel serta komputer milik adiknya. Bahkan wajahnya itu cukup banyak menghiasi baliho di pusat kota setelah serial yang dibintanginya meledak di pasaran.


"Apa Anda seorang publik figur?" tanya nyonya Suzuki meragu. Dia belum sepenuhnya yakin dengan pendapat putrinya, tapi juga tidak bisa menyangkalnya. Wajah tampan di depannya ini pernah ia lihat beberapa kali. Tapi, mungkin karena efek usia, ia tidak bisa mengingat dengan baik dimana pernah melihatnya.


"Maaf, bisa kita duduk? Mari saya dengar apa yang ingin Anda sampaikan." Ken mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mengakui ataupun menyangkal prasangka tamunya ini yang mengira ia sebagai Yamaken. Dan Ken tidak memiliki keharusan sama sekali untuk menjawab pertanyaan mereka. Tidak penting.


"Nyonya Suzuki Harada, silakan Anda sampaikan maksud kedatangan Anda kemari." Kosuke bersiap dengan pena dan buku di tangannya. Entah dari mana pria itu mendapatkan kedua benda itu, padahal sebelumnya ia tidak memegang apapun.


Nyonya Suzuki terdiam beberapa saat. Ia tampak berpikir darimana harus mulai bercerita. Ia seperti orang linglung dan melupakan poin penting yang ingin ia sampaikan pada pemilik perusahaan ini. Dan wajah Ken yang rupawan membuat perhatiannya terpecah, penasaran siapa sebenarnya pria di depannya ini, pebisnis atau artis? Atau keduanya?


Jiwa sosialita yang ada dalam dirinya memberontak. Jika benar pria ini adalah selebrita yang kini tengah naik daun seperti yang dikatakan oleh putrinya, artinya ini adalah kesempatan emas untuknya. Kesempatan langka untuk bertatap mata, bahkan mungkin bisa berfoto bersama. Ia bisa memamerkannya di laman sosial media dan membuat teman-temannya terkagum-kagum.


Namun seketika keinginan itu musnah saat mengingat betapa buruknya keadaan wajahnya saat ini. Noda merah dan keriput yang mendominasi, justru akan membuat mereka mencemoohnya.


"Bu," panggil Ayana mengguncang lengan ibunya yang masih saja diam meski beberapa menit telah berlalu.


"Apa kamu memainkan sihir di depanku?" tanya wanita sosialita itu, berhasil membuat Ken mengerutkan keningnya dalam-dalam.


Kosuke menundukkan kepalanya, menahan tawa dengan susah payah. Tuannya itu memiliki pesona yang tidak terkira, bahkan membuat wanita paruh baya ini tersihir dan kehilangan logikanya dalam sesaat. Jika tahu akan seperti ini kejadiannya, ia tidak perlu merendahkan dirinya seperti beberapa saat yang lalu. Hanya cukup menunggu tuannya datang dan semua terselesaikan dengan begitu mudah.

__ADS_1


Ken menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangannya melihat gelagat Kosuke yang tengah menertawakannya.


'Kamu berani menertawakanku?' tanya Ken dalam hati, memandang asisten pribadinya dengan tatap mata tajam seperti serigala yang siap mencabik-cabik mangsanya.


"Ehm," Kosuke berdeham, menetralkan wajahnya setelah melihat kemarahan tuannya. "Nona, bisa Anda jelaskan apa yang terjadi pada ibu Anda?" tanya Kosuke pada wanita muda di depannya.


Wanita itu tampak mengeluarkan napas dari mulutnya dengan kasar, tidak menyangka ibunya akan kehilangan jati dirinya seperti ini. Ia tahu betul, pasti ibunya sedang bergulat dengan dirinya sendiri di dunia paralel yang tak bisa ia jangkau.


"Baiklah. Kedatangan kami kemari adalah untuk mengajukan komplain atas produk kecantikan yang kalian keluarkan. Apa produk-produk itu telah melewati uji klinis sebelumnya? Atau ada oknum tertentu yang mungkin memalsukannya?" Ayana menatap Ken dan Kosuke bergantian.


"Semua produk kami teruji secara klinis dengan pengawasan yang amat sangat ketat," jawab Kosuke.


Ken mengangkat tangannya, meminta asistennya itu untuk diam. "Silakan lanjutkan, Nona," pinta Ken.


"Seperti yang Anda lihat, wajah ibuku sekarang menjadi kering, muncul bentol berwarna kemerahan dan terlihat begitu keriput. Itu semua setelah dia menerima perawatan khusus dari aesthetician yang bekerja untuk Miracle Cosmetics."


*Aesthetician (ahli kecantikan) merupakan sebutan bagi mereka yang terlatih dan terampil dalam melakukan perawatan kecantikan.


"Sejak kapan ibu Anda melakukan perawatan wajah menggunakan produk kami?" tanya Ken hati-hati.


Kosuke tampak sibuk mencatat di bukunya, Ken mendengarkan dengan seksama.


"Para ahli kecantikan disana memberikan konseling dan menyediakan program yang sesuai dengan kondisi ibuku, seperti mengurangi kelebihan lemak, selulit, ataupun warna kulit yang tidak merata." Ayana menatap ibunya dengan iba. Ia tidak tega menguak kejadian yang akan membuat ibunya sakit hati.


"Sejak ibu tinggal bersamaku di Tokyo, dia menjadi semakin sibuk dan tidak sempat mengunjungi tempat perawatan itu lagi. Akhirnya ibu mengundang salah satu ahli kecantikan yang dulu selalu melayaninya, untuk datang ke rumah."


"Maaf, kapan itu terjadi?" tanya Kosuke menyela.


"Itu sekitar lima atau enam bulan yang lalu," jawab Ayana menatap Kosuke sekilas.


"Awalnya semua baik-baik saja. Semua produk yang dipakainya sama persis seperti yang dipakai di klinik estetika itu. Bahkan dia memberikan harga yang lebih murah dibandingkan saat di Osaka," terang Ayana.


"Harga yang lebih murah?" Lagi-lagi Kosuke bersuara.

__ADS_1


"Umm. Benar. Itu yang membuatku curiga."


"Apa Anda membawa sampel produk kecantikan yang ibu Anda pakai? Tanpa sampel itu, kami tidak bisa menguji apakah itu asli atau palsu." Ken angkat bicara. Ia mulai geram, marah jika benar ada yang memalsukan barang-barang miliknya.



(gambar ilustrasi diambil dari pinterest)


"Ini adalah produk-produk yang ibuku pakai terakhir kali." Ayana mengeluarkan beberapa botol kecil dari dalam tas ibunya antara lain masker bubuk, toner, milk cleanser, facial wash, serum, day cream, night cream, dan beberapa benda lain yang entah apa lagi jenisnya. Ken maupun Kosuke tidak begitu memahaminya. Yang pasti, semua produk kecantikan itu berlabel Miracle.


"Bisakah Anda menguji keaslian semua produk ini? Bagaimanapun juga, ini masih tanggung jawab perusahaan Anda, 'kan?" tanya Ayana lugas. Sepertinya ia seorang wanita yang terpelajar, tidak memvonis bahwa keadaan ibunya ini murni kesalahan pihak Miracle.


"Baiklah, kami akan mengurusnya segera." Kosuke beranjak, mengamankan semua produk atas nama Miracle itu.


"Apa Anda tahu siapa ahli kecantikan yang menangani ibu Anda?" tanya Ken.


"Dokter Olivia," jawab Ayana. "Dia dokter kecantikan lulusan salah satu universitas di Singapura. Tapi sayang sekali, ternyata dokter itu tidak bekerja untuk Miracle Aesthetic Center yang ada di Osaka sejak tiga bulan yang lalu. Dan dia menghilang sampai sekarang. Aku takut ibuku bukan satu-satunya korban di sini."


"Kapan terakhir kali merek bertemu?" tanya Ken.


"Satu bulan yang lalu."


...****************...


Satu jam berlalu, Kosuke keluar dari ruangan Ken bersama dua orang tamunya. Ia mengantar keduanya sampai lobi. Mereka mencapai kesepakatan damai dimana nyonya Suzuki tidak akan melaporkan Miracle asalkan wajahnya disembuhkan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kosuke pada wanita yang berdiri di hadapannya. Ia terkejut saat melihat Minami sudah ada di sini.


"Ada masalah apa? Apa yang bisa ku bantu?" tanya Minami, tidak peduli pada pertanyaan yang keluar dari mulut Kosuke. Jiwa workaholic-nya meronta-ronta saat mendengar suara panik suaminya di telepon beberapa waktu yang lalu.


"Baiklah, ayo kita bekerja!" pasrah Kosuke pada akhirnya. Bagaimanapun juga, ada begitu banyak hal yang harus ia urus. Dan akan lebih baik jika ada seseorang yang membantunya.


...****************...

__ADS_1


Please enjoy it 😄😉


Hanazawa Easzy


__ADS_2