Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Permaisuri


__ADS_3

Aira mengalami kram perut dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter Tsukushi mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja dan hanya perlu istirahat beberapa waktu.


Ken menemani Aira berjalan di lorong rumah sakit. Keduanya sampai di halaman belakang tempat ini dimana terdapat sebuah kolam ikan koi yang indah. Diiringi suara gemericik air yang mengalir dari pipa, ikan-ikan itu terlihat lihai berenang. Sesekali ada yang terlihat melawan arus, dan timbul ke permukaan air seolah sedang menyambut kedatangan dua sejoli ini.



"Cantik," puji Aira sembari menyapukan pandangannya ke sekeliling kolam di hadapannya.


"Di Jepang, ikan koi dinamakan Nishikigoi, kurang lebih bermakna ikan berwarna-warni. Di negeri ini, ikan koi menjadi semacam simbol cinta dan persahabatan. Konon, ikan ini berasal dari Persia, lalu dibawa ke Jepang lewat Cina dan Korea. Ikan ini mengalami perkembangan dengan pesat kurang lebih sekitar 160 tahun lalu," jelas Ken pada istrinya.


"Kakek tidak memeliharanya?" tanya Aira saat mengingat di kediaman mereka tidak ada ikan itu. Padahal biasanya, banyak dijumpai di pondok-pondok tradisional di Jepang. Setidaknya, itulah yang ia lihat di layar kaca atau mungkin di internet.


"Kakek tidak suka memelihara ikan. Dia lebih suka memancing di danau atau sungai. Katanya, memelihara ikan di kolam yang kecil sama saja dengan membunuh mereka secara perlahan." Ken membawa istrinya duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sana. Menikmati hembusan angin yang terasa sedikit hangat. Nampaknya musim semi akan segera datang.


Aira menganggukkan kepalanya sekilas. Setuju dengan pendapat kakek Yamazaki.


"Setahuku ikan koi masuk Indonesia sekitar tahun 1991 ketika Kaisar Jepang bernama Akihito memberi cinderamata puluhan ikan koi ke presiden kedua sejak kemerdekaan. Selain sebagai peliharaan, ikan koi juga bisa sebagai sumber penghasilan karena tingginya pangsa pasarnya dengan harga jual sampai jutaaan rupiah. Ikan koi merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar primadona di pasar internasional, dimana jumlah ekspor ikan hias di Indonesia masih yang tertinggi di dunia, dengan nilai eksopor US$ 27, 61 juta pada 2017 yang lalu."


"Whoaa, sugee!"


*sugee bahasa slang dari "sugoi" yang artinya keren, hebat, dan semacamnya sebagai bentuk pujian.


"Sebenarnya di Indonesia, ada dua versi sejarah yang menceritakan masuknya ikan koi. Pertama, ikan koi mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1991. Waktu itu, ketika Kaisar Jepang bernama Akihito memberi cinderamata puluhan ikan koi ke Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2. Seperti yang aku yakini selama ini.


Sedangkan menurut versi kedua, hewan berekor itu dibawa oleh seorang penggemar ikan koi bernama Hani Moniaga pada tahun 1981-1982. Entah mana yang benar, aku tidak tahu." Aira tersenyum sambil menatap wajah suaminya.


"Dari mana kamu tahu informasi itu?" Kerutan di kening Ken tampak dalam, ingin tahu bagaimana istrinya tahu begitu banyak hal tentang ikan warna-warni ini.


"Aku pernah bekerja di tempat pelelangan ikan," jawabnya lugas.


"Kamu bekerja di tempat pelelangan ikan?" Ken terlihat heran dengan penuturan istrinya. "Memangnya boleh?"


"Kamu belum mengenal Indonesia dengan baik, Ken. Semua pekerjaan bisa dilakukan oleh wanita di Indonesia. Bahkan ada begitu banyak pekerjaan yang lebih ekstrim dibandingkan tugasku yang sekadar berjalan-jalan di antara bau amis ikan."


"Kalian mengerikan." Kerutan di kening Ken semakin dalam, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?


"Kamu akan melihatnya nanti jika kamu datang ke Indonesia dan berkelana di sana. Lupakan saja. Ada satu masa dimana demam ikan hias itu melanda Indonesia. Jadi, mau tidak mau aku harus mencari informasi agar bisa menjawab pertanyaan mereka."


"Lihat ikan itu! Perhatikan pola, bentuk tubuh dan corak warnanya." Aira menunjuk salah satu ikan yang tengah membuka mulutnya seolah mengambil udara untuk bernapas.


Ken menurut, melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aira.


"Corak warna dan motif yang dimiliki ikan koi sangat beragam, maka tidak heran jika nama ikan yang hidupnya di air tawar itu dibedakan berdasarkan pola, bentuk tubuh dan corak warnanya. Diantaranya seperti jenis Shusui, Tancho, Shiro Utsuri, Matsuba, Ki Utsuri, Kumonryu, Asagi, Showa Sanshoku, Taisho Sanke, Kohaku, dan masih ada beberapa jenis lainnya."


"Semua itu berasal dari bahasa Jepang."

__ADS_1


"Benar. Maka dari itu aku percaya pada versi pertama yang mengatakan bahwa mereka berasal dari tempat ini (Jepang)."


"Otakmu itu terbuat dari apa?" tanya Ken, menatap tajam istrinya.


"Apa? Memangnya kenapa dengan otakku?" Aira tampak tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh suaminya.


"Kamu tahu banyak hal, bahkan mengingat dengan jelas setiap detailnya."


Aira tersenyum kecut mendengar pujian suaminya. "Tidak juga," ucapnya sedih.


"Eh? Ada apa dengan wajahmu, Ai-chan?" Ken menangkup rahang bawah istrinya, mengelus pipi chubby itu dengan sayang.


"Aku melupakan banyak hal. Semua yang tidak aku suka akan terlupakan dengan cepat."


"Bukankah itu bagus? Kamu tidak perlu menanggung beban atas luka masa lalu." Ken membawa kepala istrinya ke bahu bidangnya. Mengelus sisi kepalanya yang tertutup kain segi empat berwarna coklat seperti tanah. Sebuah jaket jeans dengan bulu-bulu di sekitar leher menutupi tubuhnya.


Aira memilih diam. Ia belum ingin menceritakan apa yang terjadi padanya. Lagi pula bukan sesuatu yang penting untuk saat ini.


"Ada apa?" tanya Ken yang mendapati istrinya mengembuskan napas kasar.


"Tidak apa-apa. Ayo kembali. Aku lelah." Aira bersiap berdiri saat Ken mencegahnya.


"Tunggu di sini. Akan ku ambilkan kursi roda." Ken segera berlari ke salah satu koridor rumah sakit ini dimana ada beberapa kursi warna hitam yang masih terlipat dengan roda bulat di kanan kirinya.


"Aku bisa jalan kaki," ucap Aira, enggan duduk di sana seperti pasien lainnya. Ia merasa ia masih sanggup berjalan sendiri menuju kamar perawatannya.


"Kamu terlalu memanjakanku. Aku tidak selemah itu." Aira masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Dasar keras kepala. Menurut saja apa susahnya?" Ken tampak geram dengan sifat istrinya satu ini.


"Siapa yang keras kepala? Aku hanya tidak ingin kamu terlalu memanjakanku. Kamu tidak mungkin ada di sisiku selama 24 jam, kan? Jadi aku akan melakukan apapun yang aku bisa tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain."


"Ai-chan, menurutlah demi anak-anak kita," bujuk Ken dengan lembut.


"Baiklah, aku naik." Aira terpaksa menurut. Tidak akan ada gunanya jika mereka berdua mempertahankan pendapat masing-masing. Itu justru akan mengulur waktu mereka lebih lama lagi di tempat ini.


"Anak pintar." Ken mengacak puncak kepala istrinya dengan gemas, membuat jilbabnya sedikit berantakan.


"Singkirkan tanganmu." Aira menepis jemari suaminya.


"Baiklah. Ayo kembali, Tuan Putri," goda Ken.


"Mana ada tuan putri hamil besar seperti ini? Para tuan putri di cerita dongeng adalah gadis-gadis cantik dengan tubuh kecilnya." Aira kembali mendebat pernyataan suaminya.


"Jadi, aku salah lagi? Semua yang Anda katakan benar, Permaisuri." Ken mulai mendorong kursi roda itu meninggalkan taman, memasuki koridor panjang yang akan membawakan mereka ke ruang perawatan Aira di lantai dua rumah sakit ini.

__ADS_1


Aira tersenyum mendengar sebutan yang Ken tujukan padanya. Pria ini menjadi begitu perhatian dan romantis seperti sekarang, sangat berbeda jauh dengan Yamazaki Kenzo yang ia temui hampir satu tahun yang lalu.



(pict hanya pemanis, diambil dari Pinterest)


Aira sampai di kamarnya dan Ken segera menggendongnya menuju ranjang perawatan yang ada di tengah ruangan ini.


"Terima kasih," ucap Aira setelah membenahi posisinya duduk. Tak lupa ia merapikan jilbab yang bertengger di kepalanya.


"Aku tidak menerima ucapan terima kasih dalam bentuk kata-kata. Harus ada bukti nyata." Ken duduk di tepi ranjang istrinya dengan wajah masam, pura-pura marah.


Cup


Cup


Cup


Detik berikutnya Aira menarik lengan suaminya untuk mendekat. Ia menghujani wajah tampan suaminya dengan kecupan, di pipi, hidung, mata, alis, kening, kembali ke hidung dan berakhir dengan mengecup sudut bibir suaminya.


"Apa itu cukup?" tanya Aira dengan wajah merona. Sebenarnya ia juga merasa malu saat melakukannya, seolah ia begitu bernafsu pada suaminya. Tapi jika tidak seperti itu, Ken akan terus mencari perhatiannya.


"Belum. Sama sekali tidak cukup!" Ken mendekatkan wajahnya, tangannya sudah mengunci kepala istrinya agar tidak bisa menjauh darinya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aira panik. Ia takut Ken akan lepas kendali dan melewati batasannya, lupa jika mereka sedang ada di rumah sakit.


"Bukankah kamu yang memulainya? Jadi terimalah akibatnya!" Ken semakin mendekat ke arah istrinya. Bersiap melahap hidangan manis di depannya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu di belakang Ken, membuatnya terpaksa melepas kunciannya. Ia cukup tahu diri bahwa mereka bukan berada di rumahnya sendiri. Terlebih pintu rumah sakit ini memiliki celah kaca di bagian tengahnya, dimana siapa saja bisa melihat aktivitasnya dan Aira jika ia tetap melanjutkan rencananya tadi.


'Sial!' umpat Ken dalam hati.


Aira tersenyum melihat suaminya yang menahan emosi karena keinginannya tidak terpenuhi. Ia menatap punggung suaminya yang mendekat ke arah pintu, bersiap melihat siapa yang telah mengganggu aktivitas manis mereka.


...****************...


Uwuuu lagi 💃💃


Kira-kira siapa yang dateng yaa? Kasian abang Ken 😆😆


Jangan lupa like, vote n komen yaa. Semoga bisa crazy up kaya kemarin-kemarin 😉 Eh tapi ngga janji ya, mau ke dokter hari ini agendanya (kalo ngga mager) 😂😂


Bai bai,

__ADS_1


Hanazawa Easzy 🌸


__ADS_2