
Mone dan Yamaken mendatangi kakek Yamazaki di kediamannya. Kedua muda mudi ini berniat meminta restu atas keberlanjutan hubungan mereka. Keduanya ingin menikah dan membina mahligai rumah tangga yang bahagia seperti yang terlihat dari Ken dan Aira.
Ketiga orang berbeda usia ini tengah berada di area latihan panahan. Masing-masing memegang satu busur di tangannya. Kakek yang berinisiatif melakukan ini.
"Kami ingin menikah," ucap Mone to the point. Dia membulatkan tekad, mengungkapkan niatan yang mulia itu.
Kakek melirik sekilas pada gadis bersurai hitam ini. Ada sesuatu yang berbeda dengan gadis ini. DIa memangkas rambutnya jadi terlihat lebih dewasa, menghilangkan poni yang biasanya menutupi sebagian wajah.
"Menikah?" Kakek menurunkan busur panahnya demi mengahadap calon cucu menantunya ini. Beliau menilik kesungguhan ucapan gadis ini. Masih ada sedikit keraguan di benak pria 77 tahun ini, berkaitan dengan perbedaan usia Yamaken dan Mone yang cukup jauh.
Tahun ini, kembaran Kenzo ini menginjak angka 29 tahun. Sedangkan Mone baru 21. Kakek khawatir jika kedepannya dua orang ini akan sering bertengkar karena berbeda pemikiran. Dan dilihat dari karakter mereka berdua, pastilah Yamaken yang akan mengalah.
Ctakk
Anak panah Mone menancap persis di sebelah anak panah kakek, membuat Yamaken terbelalak. Kemampuan gadis ini benar-benar mengerikan. Bahkan pria lanjut usia ini juga sedikit terhenyak.
Hasil bidikan yang Mone lesatkan, berhasil membuat kakek kembali tersadar dari dunia paralel termpatnya berpikir. Gadis ini belajar dengan cepat, mencoba memanah dengan tangan kiri dan hasilnya menyamai kemampuan kakek. Mengerikan.
"Kenapa aku harus merestui kalian?" Kakek menyerahkan busur panah seberat 12 kilogram miliknya pada tuan Kobayashi, menandakan bahwa beliau puas melihat kemampuan memanah pasangan muda ini. Latihan memanah cukup sampai di sini.
"Karena kakek menyayangi kami." Lagi-lagi Mone yang vokal bersuara, membuat Yamaken menutup mulutnya yang tadinya terbuka. Pria ini bersiap menjawab pertanyaan kakek, saat Mone mendahului.
"Kakak boleh menikah, kenapa Yamaken tidak? Bukankah mereka sama, sama-sama cucumu, Kek?"
Kakek menyeringai lebar, salut pada keberanian gadis mungil ini. Dengan tangan masih memegang busur panah yang terbuat dari kayu pilihan ini, dia mendekat ke arah kakek dan menatapnya dengan penuh percaya diri.
Seolah de javu, kakek melihat sosok Aira pada diri Mone. Keduanya sama, memilki kepercayaan diri yang luar biasa. Sama seperti Aira yang saat itu mengungkapkan bahwa dia tidak bisa menguasai senjata atau keterampilan apapun, gadis ini juga berani berbicara dengan lantang tentang pendiriannya.
"Kalian boleh menikah. Tapi ada satu syarat yang harus kalian lakukan."
Yamaken dan Mone saling pandang. Keduanya lega saat mendengar kakek membolehkan mereka menikah, namun kalimat berikutnya membuat mereka mati kutu.
"Apa itu?" tanya Yamaken dan Mone bersamaan. Mereka penasaran apa yang pria ini pikirkan dalam otak jeniusnya.
Kakek tersenyum penuh arti. Beliau siap mengejutkan dua sejoli yang tengah kasmaran ini. Ada rencana besar yang dia miliki pada pasangan muda mudi ini.
"Kalian baru boleh menikah saat memiliki kemampuan yang sebanding, terutama dalam hal penguasaan senjata."
__ADS_1
Hening. Baik Yamaken maupun nona Kamishiraishi ini bungkam. Keduanya berhasil menangkap titah yang kakek ucapkan. Itu sulit. Sama sekali sesuatu yang tidak mudah.
"Jika kalian gagal melakukan misi ini, maka jangan pernah memikirkan tentang pernikahan itu lagi."
Deg!
Yamaken dan Mone terpaku di tempatnya berdiri. Ini bukan candaan sama sekali. Dengan kondisi fisik Yamaken yang terkesan lemah, bagaimana bisa dia menguasai semua kemampuan hebat yang Mone miliki?
"Kakek, itu tidak mungkin." Kali ini Yamaken memberanikan diri berucap. Ada banyak alasan kenapa mereka bersama. Bagaimana mungkin hanya karena satu kata dari pria tua bangka ini, menghancurkan mimpi masa depan antara dia dan gadisnya?
Kakek mengangkat sebelah tangannya, tidak ingin mendengar alasan apapun dari cucunya.
"Kamu menyerah begitu saja? Dimana harga dirimu sebagai seorang laki-laki? Apa kamu tidak malu mendapat perlindungan dari istrimu kelak?" Kalimat tajam nan pedas itu berhasil menohok perasaan pria lesung pipi ini. Kakeknya benar, dia tidak boleh lemah sama sekali.
Beberapa menit berlalu dalam senyap, hanya suara kicau burung yang terdengar di kejauhan.
"Tukar pakaianmu. Mulai sekarang, kamu harus berlatih. Sudah cukup santai-santaimu selama ini!"
Ucapan kakek berbarengan dengan tuan Kobayashi yang mendekat ke arah Yamaken dan menyerahkan sebuah kotak berisi pakaian serba hitam yang biasa dipakai saat berlatih bela diri.
"Kek, ini... Aku--" Mone sedikit tergagap. Dia tidak siap jika harus menerima tugas besar ini. Berat rasanya memikul tanggung jawab yang kakek amanatkan ini.
"Selamat berlatih!"
Puk puk
Kakek menepuk bahu cucunya ini sebelum pergi. Beliau tidak menerima penolakan maupun bantahan, meninggalkan dua sejoli ini dalam keterkejutan. Yamaken dan Mone saling pandang dalam diam. Apa yang akan mereka lakukan?
Di saat yang bersamaan, Yuki tampak gelisah. Dia berjalan kesana kemari sejak satu jam yang lalu.
"Bagaimana? Sudah ada?" tanya pria kulit putih ini pada asistennya. Yang dia bicarakan di sini adalah laporan dari Ken tentang bisnis ayahnya selama ini.
"Belum, Tuan."
Yuki mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menunggu lagi, atau Anna akan kembali datang dan mengatakan berbagai hal yang membuatnya ragu.
"Segera siapkan mobil. Kita ke Miracle sekarang!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Yuki menyambar jas warna khaki yang ada di atas kursi. Dia tidak bisa mempercayai Anna begitu saja, maka dia harus mendapatkan data pembanding. Apakah benar yang Anna sampaikan, atau itu hanya siasatnya saja untuk mengadu domba dia dengan keluarga Yamazaki.
Dengan langkah kaki yang panjang, pria 31 tahun ini melesat cepat menuju mobil hitam yang terparkir di depan pintu. Seorang supir ada di balik kemudi, sementara asisten kepercayaannya juga di sana.
"Saya akan menghubungi sekretaris tuan Yamazaki terlebih dahulu," ucapnya sambil membukakan pintu untuk Yuki. Sejurus kemudian, kendaraan roda empat itu mulai melaju, menyisakan asap tipis di belakangnya.
Tanpa mereka sadari, seorang wanita di balik dinding mengamatinya. Sebuah senyum terkembang, menandakan bahwa suasana hatinya membaik sekarang.
"Nona, kita semakin dekat ke tujuan," gumamnya, menampakkan wajah iblis yang menyeramkan.
Wanita yang tak lain adalah bibi Maria itu, segera bergerak. Dengan langkah gesitnya, dia berhasil naik ke lantai atas tanpa diketahui oleh penjaga. Ada rencana besar yang harus dilakukannya. Dan langkah pertamanya adalah dengan memberikan kejutan untuk Yuki.
Tap tap tap
Dengan langkah tanpa suara, bibi Maria melewati jendela kamar tuan Harada. Dia memegang sebuah kotak di tangannya, kejutan untuk Yuki nantinya.
"Jangan salahkan aku yang mengecohmu, Tuan. Salahkan kebodohanmu yang tidak bisa membedakan mana kawan, mana lawan." Seringai di bibir wanita ini semakin lebar.
Tanpa menunggu waktu lama, bibi Maria berhasil menemukan brangkas rahasia milik mendiang tuan Harada. Dengan kemampuannya, bukan hal yang sulit untuk membobol benda besi itu.
"Harada-san, Anda begitu pintar. Apa putramu juga demikian?" gumaman itu tak didengar oleh siapapun kecuali si pengucap itu sendiri.
Wanita dengan pakaian serba putih ini membuka kotak yang sedari tadi ada di tangannya. Dia mengambil benda yang ada di sana dan meletakkannya ke dalam brangkas, bergabung dengan dokumen penting dan beberapa batang emas.
"Mari kita nantikan pertunjukannya!!"
* * *
Duuhh, ada aja orang jahat yaa. Kezeellll!!!!
Eh tapi kalo ngga ada orang jahatnya, nggak ada baku hantam dong? Bukankah itu yang kalian nantikan? Ahahahaaaa.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian agar author semakin rajin up nya. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1