Gangster Boy

Gangster Boy
Rumah Sakit


__ADS_3

Bunga sakura berjatuhan memenuhi taman menjadikannya hamparan berwarna putih kemerahan. Beberapa helai jatuh ke dalam kolam ikan koi yang ada di tengah area berbentuk hexagonal itu.


Seorang gadis berlarian tanpa alas kaki, rambut panjangnya beriak seperti ombak di tepi lautan. Bajunya yang berwarna putih terbang dihembus angin kearah yang berlawanan dari langkah kecilnya.


"Ken, kemari. Ayo kita tangkap ikannya," ajak Erina sambil melambaikan tangannya. Yang dipanggil menghampirinya dengan enggan. Sebelah tangan gadis itu masuk ke dalam kolam dan mulai mengaduk airnya.


"Ken, bantu aku.." gadis itu kembali merajuk.


"Tidak mau," jawab Ken sambil membaringkan tubuhnya di atas rerumputan dengan kedua tangan di belakang kepala. Netranya menghadap ke atas, melihat langit biru berhiaskan awan putih yang berarak perlahan.


"Aku ingin memindahkannya ke..."


"Aku akan pergi ke Amerika." ucap Ken lirih. Matanya terpejam seolah menikmati aroma sakura yang akan ia tinggalkan beberapa hari lagi.


"Eh?"


Erina mendekat dan ikut membaringkan diri di samping Ken. Ia sudah mendengar kabar burung itu, bagaimanapun juga ia berharap Ken mengatakannya langsung. Setidaknya ia bisa mengucapkan selamat tinggal.


"Mau ikut denganku?" Ken menoleh ke samping kiri dan mengunci mata gadis pujaannya.


"Pergi ya pergi saja. Untuk apa mengajakku," jawabnya berpura-pura acuh.


"Jika kamu memintaku tinggal, aku akan mempertimbangkannya. Sayang sekali," Ken duduk menekuk lutut, pandangannya terpaku pada pokok bunga sakura beberapa meter di depannya.


Erina menatap punggung Ken, ia cukup sadar diri akan posisinya. Ken adalah cucu seorang gangster yang disegani di seluruh Jepang, sementara ia hanya gadis biasa. Meskipun ayahnya adalah rekan bisnis ayah Ken, itu tidak akan mengubah apapun. Ia tidak akan bisa menyamai Ken, dalam segala hal. Ia merasa tidak pantas berharap, menjadi teman Ken saja sudah cukup. Tangannya terulur ingin meraih punggung datar itu, tapi Ken berdiri dan mulai berjalan menjauh.


"Aku lapar, ayo pulang."


Punggung itu semakin menjauh, meninggalkan Erina sendiri. Tanpa keduanya sadari, Yoshiro melihatnya dari kejauhan. Putra sulung keluarga Ebisawa itu mengerti perasaan adiknya tapi tak bisa melakukan apapun.


FLASHBACK END


Yoshiro menatap pantulan wajahnya di cermin, kejadian 9 tahun yang lalu kembali berputar di otaknya. Semalam ia melihat Erina menangis dalam mimpi, memintanya melepaskan Ken. Dan malam ini ia juga yakin akan kesulitan tidur seperti sebelumnya. Setiap ia terlelap sekejap saja, Erina selalu datang dan memintanya melepaskan 2 orang itu.


Praangg


Yoshiro meninju cermin di depannya, membuatnya retak dan punggung tangannya berdarah. Ia tidak bisa memaafkan Ken begitu saja. Karena dia, Erina pergi dari dunia ini untuk selamanya. Bagaimana bisa ia memaafkan pembunuh adiknya sendiri?


"Tuan, mobilnya sudah siap" lapor asisten sekaligus supir pribadinya.


"Bagaimana keadaannya?"

__ADS_1


"Dia sudah sadar pagi ini, tapi..."


"Ada apa?" Yoshiro berbalik menatap orang kepercayaannya.


"Obatnya tidak bekerja maksimal, dia hanya kehilangan kemampuan kedua kakinya saja. Semua organ yang lain dalam keadaan baik. Sepertinya seseorang memberikan obat penawarnya sebelum obat itu menyebar. Tapi saat ini dia seperti mayat hidup. Tidak menangis, tidak makan dan juga..., tidak mau bicara"


Yoshiro tampak terkejut mendengar penjelasan itu. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil seperti dia tidak menangis padahal ia lumpuh sekarang. Detik berikutnya, sebuah smirk terukir di wajah dengan rahang tajam itu.


"Menarik, kita kesana sekarang."


"Haruskah saya mencari pengkhianat itu?" ucap pria bermarga Yamada itu ragu.


"Jangan menyebut adikku sebagai pengkhianat, dia hanya ingin menolong temannya. Biarkan saja" Yoshiro tersenyum lebar.


"Tuan, tolong berhati-hatilah. Meskipun mereka belum mendapatkan informasi apapun, mungkin saja gadis itu mengungkapkan identitas anda. Ini cukup berbahaya,"


"Dia tidak akan mengatakan apapun. Aku yakin 100%. Aku hanya ingin mengembalikan ini" Yoshiro melenggang dengan mantap menuju mobil yang terparkir di halaman sambil terus mengamati gelang milik Erina yang sempat ia ambil waktu itu.


Sementara di rumah sakit, seorang perawat keluar dengan wajah murung membawa nampan berisi makanan pasien. Ini ketiga kalinya Aira menolak makan. Sejak siuman pagi tadi, belum ada sesuap makanan pun yang masuk ke perutnya. Pandangannya kosong tak ada gairah hidup sama sekali.


Ken berlari dengan tergesa-gesa sampai menabrak beberapa perawat yang ada di koridor. Ia berlalu setelah menunduk tanda minta maaf. Langkahnya terhenti begitu melihat wajah pucat istrinya di atas brangkar berwarna putih itu.


Ia baru saja pulang dari Indonesia untuk menjemput ibu Aira. Seorang wanita berjilbab menyusul Ken memasuki ruangan berbau antiseptik itu.


"Ibu, Aira masih harus istirahat," cegah Ken agar ibu mertuanya berhenti mengusap luka di punggung istrinya. Aira menatap Ken sekilas sebelum kembali menatap ibunya.


"Ibu,..." Aira memanggil wanita yang telah melahirkannya 25 tahun yang lalu dengan suara serak. Ia bahkan kesulitan mengucapkannya. Hatinya kebas, berbagai penderitaannya sewaktu kecil teringat kembali, "Datanglah besok." ucapnya lirih.


"Ya?" Anita tak memahami maksud putrinya.


"Kondisi Aira masih lemah, jadi masih harus banyak istirahat," jelas seorang dokter muda yang kebetulan sedang melakukan pemeriksaan rutin.


"Mari saya antar ke ruang istirahat." ajak seorang wanita berpakaian hitam, salah satu pengawal yang diutus oleh keluarga Ken untuk mendampingi ibu Aira. Wanita itu bisa berbahasa Indonesia, tugasnya sekaligus menjadi translator saat Anita ingin menyampaikan sesuatu.


"Aira, ibu akan datang lagi esok," ucapnya setelah mencium kedua pipi putrinya.


Seorang perawat masuk membawa kotak obat, bersiap mengobati punggung Aira. Ia meminta semua orang pergi tapi Ken bersikeras akan tetap mengawasi istrinya.


"Tuan, tolong tunggulah di depan. Saya akan mengoleskan obat di punggung istri Anda sekarang." untuk kesekian kalinya perawat itu mencoba membujuk Ken keluar, berusaha bersikap seramah mungkin.


"Kamu sadar apa artinya?" tanya Ken memandangnya tajam.

__ADS_1


"Apa maksud Anda?" perawat berambut ikal itu tidak mengerti, terlihat dari alisnya yang bertaut.


"Dia istriku, bagian mana dari tubuhnya yang belum aku lihat?"


Krik krik krik


Suasana berubah jadi canggung. Bagaimana pun pernyataan pria 178 cm itu ada benarnya, tapi kenapa harus mengatakan sevulgar itu.


"Ta.. Tapi ini tanggung jawab saya," perawat itu membawa kotak obatnya ke sisi Aira dengan gugup. Ia bisa dipecat jika tidak melakukan tugasnya dengan baik, "Nona, saya akan mengoleskan obat ke punggung anda."


"Hmm.." jawab Aira menundukkan kepalanya sekali. Ia tidak ingin mempermasalahkan suaminya yang seringkali membuatnya geleng-geleng kepala.


"Berikan padaku," Ken mengulurkan tangannya meminta obat oles di tangan wanita 30 tahunan itu.


"Nona..." perawat itu mencoba meminta pendapat Aira, takut Aira keberatan.


"Tidak masalah. Kembalilah ke ruangan anda."


"Terima kasih," ucapnya sebelum pergi.


Ken duduk di ranjang perawatan istrinya dan mulai membuka ikatan di sisi belakang baju hijau yang Aira pakai sejak masuk ke rumah sakit beberapa hari yang lalu. Terlihat luka bekas cambukan di punggung putihnya, sama seperti beberapa bulan lalu saat ia melakukan hal yang sama.


"Masih sakit?" tanya Ken sembari mengoleskan obat anti memar dengan jarinya.


Hening. Aira tak ingin menjawabnya, ia sebal dengan sikap Ken yang suka semaunya sendiri. Ken menyadari Aira enggan meladeninya. Dengan sengaja Ken menusuk luka Aira yang masih memerah dengan jarinya.


"Sakit.." lirih Aira, tangannya menangkap jemari Ken di belakang tubuhnya dan segera berbalik menatapnya tajam.


Cup


Ken mencium pipi Aira yang membuat wajahnya memerah seketika.


"Ah, maaf aku datang di saat yang tidak tepat," terdengar suara yang tidak asing untuk Aira.


Gadis pipi chubby itu menoleh ke sumber suara dan matanya otomatis membulat melihat siapa yang datang.


*******


Hai hai hai... Author muncul lagi. Ada yang kangen engga? 😂😂


Kalo author sii kangen banget sama bang Yamazaki Kento 😍😘😘 ada fans yamaken juga ngga? Skuy nghaluu berjamaah 😁

__ADS_1


Btw, hontou ni arigatou buat readers semuwaah yang masih stay di halaman saya 🤗🤗 tunggu next episode yaa.


__ADS_2