
Aira dan Mone bergandengan tangan keluar dari ruangan dokter Marco. Mereka tampak lebih akrab setelah pernyataan dokter senior itu tentang hasil tes DNA yang menyatakan Mone dan Aira benar-benar memiliki hubungan kekerabatan. Keduanya bercerita banyak hal, melupakan Ken yang kini terabaikan di belakang mereka.
"Kak Aira, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebelum kembali ke Jepang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." ucapnya penuh harap.
"Tanyakan pada Ken, aku akan pergi jika dia mengizinkannya." jawab Aira sambil melirik suaminya yang berwajah masam.
"Kakak ipar..."
"Pergilah. Lakukan yang kalian inginkan." jawab Ken tanpa perlu menunggu kalimat berikutnya dari Mone. Ia sudah tahu apa yang ingin ia katakan.
"Yeeyyy... Ayo." ucap Mone bersemangat.
Gadis dengan kacamata bulat besar itu membukakan pintu mobil bagian belakang, meminta Aira duduk bersamanya. Aira menatap Ken, meminta persetujuannya tanpa harus berucap. Ken mengangguk mengiyakan isyarat mata dari istrinya. Aira terpaksa membiarkan Ken sendirian di kursi depan.
"Kakak ipar, kita pergi ke Red Square Market." seru Mone dengan senang hati. Ia seperti anak kecil yang siap pergi ke taman bermain. Ken menyalakan GPS yang ada di samping kemudi dan mencari tempat yang Mone ucapkan tadi.
Red Square Market
Mereka sampai di salah satu pusat oleh-oleh dan souvenir yang ada di Moskwa. Gemerlap lampu menyinari tempat itu, membuat suasana tampak meriah. Mone dan Aira asik berlarian kesana kemari, meninggalkan Ken yang mengikuti dengan wajah tanpa ekspresi.
Sial!
Lagi-lagi Ken diabaikan. Ken mengurut pelipisnya, pusing dengan istrinya yang begitu atraktif memilih souvenir khas negeri Eropa-Asia ini.
Tempat ini tepat berada di seberang sisi pintu masuk stasiun metro Teatralnaya, terdapat deretan tenda berwarna-warni yang menjual souvenir khas Rusia. Red Square mungkin bukan tempat terbaik untuk membeli suvenir murah, namun jika tak punya banyak waktu, tempat ini cukup recommended untuk berbelanja.
Aira membeli dua buah boneka matryoshka yang menjadi ciri khas negara ini dan menunjukkannya pada Ken.
"Lihat ini. Lucu kan?" tanya Aira dengan wajah bahagianya. Ken terpaksa tersenyum agar istrinya tidak kecewa. Pria ini benar-benar ingin melihat wanitanya bahagia setelah semua hal menyakitkan yang mereka lewati bersama sampai hari ini. Kebahagiaan Aira adalah tujuan utama Ken sekarang.
Aira memasukkan boneka berbahan kain flanel itu ke dalam keranjang belanjaan yang dibawa Mone. Keduanya berhenti di sebuah tenda yang menjual berbagai macam topi karakter.
"Menunduk sedikit." pinta Aira sambil membawa topi berbentuk kelinci ke depan suaminya. Ia memakaikan aksesoris berbulu lembut itu yang membuat Ken terlihat imut, berbanding terbalik dengan sifatnya yang garang dan tak kenal ampun saat menghadapi musuh.
"Kawaii.." puji Mone dengan gembira.
(Lucunya..)
Mone dan Aira tertawa melihat Ken yang begitu lucu seperti anak kecil. Hal sebaliknya terjadi pada pria 27 tahun itu, dia cemberut dan langsung mengembalikan topi berwarna pink itu ke tempatnya. Tanpa menunggu lama, ia berbalik pergi. Menjauh dari dua wanita yang membuatnya kesal. Belum lagi kakinya yang mulai terasa sakit. Menemani wanita berbelanja benar-benar menguras energinya.
Ken menatap arloji di tangannya dan menggelengkan kepala. Terhitung sudah 3 jam mereka bertiga ada di tempat ini, tapi baik Aira ataupun Mone terlihat masih ingin berada di sini. Keduanya mencoba berbagai barang yang dijajakan oleh para penjual berwajah Eropa ini tanpa kenal lelah. Mengerikan. Bahkan berkuda seratus putaran tak selelah ini.
Dan Ken kembali harus mengikuti Aira yang masuk ke dalam sebuah bangunan untuk membayar semua belanjaannya. Kedua wanita beda usia itu menghampiri kasir, sedangkan Ken duduk di kursi yang ada di depan pintu. Rasanya ia tidak sanggup lagi mengikuti istrinya.
__ADS_1
Mone berbisik pada Aira, "Kak, kakak ipar sepertinya kelelahan. Apa kita pulang sekarang?" tanya Mone merasa sedikit bersalah.
Aira menatap Ken yang duduk di sebuah kursi berwarna coklat tua, 5 meter dari tempatnya berdiri. Ia tampak lelah dan tidak bersemangat sama sekali.
"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya Aira ragu, ia tahu Mone masih ingin menghabiskan waktu bersamanya lebih lama lagi.
"Tentu saja belum. Tapi kita bisa melanjutkannya lain kali. Lagi pula tidak baik untuk kesehatan kakak jika terlalu lama di luar kan?" Mone memegang perut Aira dengan sayang.
"Jadi, kita pulang sekarang?" tanya Aira.
"Um.." jawab Mone, mengangguk mantap atas pertanyaan kakak sepupunya itu.
"Baiklah." Aira mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 1000 Rubel untuk membayar souvenir yang sudah ia beli.
*rubel \= mata uang Rusia
"Aku akan mengurusnya. Kakak pergilah," usir Mone agar Aira menemui Ken.
Grep
Ken langsung memeluk perut Aira yang kini berdiri di hadapannya, "Aku lelah. Ayo pulang." ucapnya tanpa mengangkat wajah dari perut istrinya.
"Cup cup cup... Anak manis mau pulang?" canda Aira sambil mengelus kepala suaminya. Ia menirukan suara anak-anak yang menggemaskan membuat Ken mendongakkan kepala, menatap wajah istrinya yang terlihat semakin cantik akhir-akhir ini.
"Pulang." pria itu kembali merajuk seperti anak kecil membuat Mone tersenyum di kejauhan.
Keduanya berjalan menuju mobil warna merah tua yang ada di tempat parkir.
"Berikan kuncinya padaku." pinta Mone sambil menengadahkan tangan pada Ken. Ia berlari menyusul Aira dan berdiri di depan pasangan suami istri itu setelah semua belanjaan selesai dibungkus.
Ken seperti anak kecil, langsung memberikan kunci yang sedari tadi disimpannya dalam saku celana. Ia segera membuka pintu belakang mobil dan menarik Aira untuk masuk ke dalam.
"Ken.." panggil Aira melihat sikap suaminya yang lain dari biasanya. Kedua alisnya bertaut, membuat kerutan halus muncul di keningnya. Meski bukan yang pertama kali Ken bersikap manja seperti ini, tapi Aira masih heran juga. Apa penyebab suaminya jadi seperti ini?
Puk puk
Aira menepuk pahanya, meminta Ken merebahkan kepala di pangkuannya. Itu masih menjadi cara paling ampuh untuk memanjakan suaminya. Semarah apapun pria itu, akhirnya akan luluh juga jika Aira bersikap lembut padanya dan memanjakannya seperti anak kecil. Menggelikan.
Ken segera meletakkan kepalanya di pangkuan Aira dan memejamkan kedua matanya. Ia tidak peduli pada Mone yang menertawakannya di balik kemudi. Hari ini sungguh melelahkan.
Aira mengelus pipi Ken dengan sayang setelah melepas sarung tangannya. Jemarinya bermain di hidung Ken, mencubitnya agar suaminya kesulitan bernafas. Hal itu membuat Ken membuka mulutnya seperti ikan, Aira tertawa dan menarik tangannya dari hidung. Membiarkan Ken bernafas dengan normal lagi menggunakan hidungnya.
Aira kembali memainkan wajah Ken, kali ini jemarinya merayap ke atas sampai alis suaminya yang sedikit lebat, ini adalah aktivitas favoritnya sejak dulu. Cukup lama mereka tidak memiliki waktu sendiri seperti ini. Ia menelusuri bulu halus itu dari kanan ke kiri dan sebaliknya, mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Greg
Ken membuka matanya dan menarik papan pembatas yang ada di belakang kursi Mone, menjadikan aktivitas mereka tak bisa terlihat dari depan. Hal itu membuat Aira membulatkan mata, ia bahkan tak tahu ada penyekat seperti itu di mobil ini.
Cup
__ADS_1
Ken menarik tengkuk istrinya dan segera menghadiahi Aira dengan hukuman manis seperti biasanya. Ia tidak bisa menahannya sampai di rumah, toh itu hak nya sebagai seorang suami kan? Ia berhak melakukan apapun pada istrinya selama tidak membahayakan keselamatan nyawa istri dan bayinya.
"Ken?!" elak Aira saat dirasa Ken semakin berani dengannya. Tangannya menyusup ke dalam baju hangat miliknya membuat Aira terpaksa menggigit lidah Ken agar suaminya itu berhenti. Mereka sudah sampai di depan rumah.
"Aww.." Ken segera melepaskan diri dan beranjak duduk. Entah sejak kapan kendaraan yang mereka tumpangi ini berhenti, ia bahkan tidak menyadarinya karena terlalu larut bermain dengan Aira. Padahal perjalanan dari Red Square Market itu menuju rumah membutuhkan waktu setidaknya satu jam. Ia hanya sekedar mencium istrinya dan mereka sudah sampai? Ken mengangkat sebelah bibirnya, tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
AARGGHH!! Sial!
Ia harus menahan diri lagi sampai ada di kamar nanti. Jika saja tidak ada siapapun di sini, mungkin ia akan dengan mudah menggendong Aira menuju ruangan pribadi mereka. Kenyataannya ada banyak orang di rumah ini, hal itu pasti akan membuat Aira malu dan marah padanya.
BRAKK
Ken membanting pintu mobil di belakangnya dan berjalan masuk ke rumah dengan wajah merah padam. Hal itu membuat Shun mengerutkan keningnya. Mereka berpapasan di pintu masuk.
"Apa yang terjadi?" Shun menahan bahu Ken sejenak, ingin tahu hal apa yang membuat pewaris yakuza ini tidak senang.
"Bukan urusanmu!" Ken menyentak pegangan tangan Shun dengan kasar. Ia meneruskan langkahnya menuju kamar. Kakinya menendang apa saja yang bisa ia jangkau, membuat guci di depan pintu hancur berkeping-keping.
BRAKK
Dan pintu kamarnya kembali menjadi korban kemarahan Ken. Ia merebahkan badannya di ranjang dan menyembunyikan kepalanya dengan bantal. Ia tidak boleh egois.
...****************...
Nanggung? Iya sengaja 😄😆😆
Buat dek adek yang baca tulisan ini, JANGAN TIRU KEN YA!!
Manja-manjaan gitu cuma boleh dilakuin sama yang udah punya suami/istri, bahkan author juga ngga boleh (karena belum punya suami, jyaaaa 😅😅)
Tulis komentar kalian di bawah, kira-kira apa yang bakal Aira lakuin selanjutnya?
A. Biarin Ken sendirian, anak kecil kalo marah nanti juga baikan sendiri.
B. Susul Ken, manjain dia biar ngga marah lagi.
C. Kasih kejutan/hadiah/makanan biar suaminya itu happy lagi
D. (isi sendiri jawaban kalian)
Ah, author kasih bonus piku nya abang Ken sayang 😋😍😍
Author tunggu yaa 🤗
Mata ashita ne, (Sampai jumpa besok)
Hanazawa easzy 💜
__ADS_1