Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Cerebral Palsy


__ADS_3

Mentari terbit di ufuk timur melukiskan semburat merah di langit yang nampak cerah. Beberapa burung gereja beterbangan di taman, hinggap dari dahan satu ke yang lainnya. Seolah pohon rindang yang menjadi ikon salah satu ormas besar di lingkaran perpolitikan negeri ini adalah rumah untuk mereka.


Di seberang taman itu suara klakson bersahut-sahutan, sepertinya lalu lintas mulai padat. Orang-orang berangkat ke kantor sedikit lebih awal agar tidak macet, tapi kenyataannya justru mereka terjebak di tengah jalan yang padat. Semua orang memiliki anggapan yang sama, jadi mereka bukannya menghindari macet melainkan membuat jalanan padat lebih awal, berbeda 10 menit dari biasanya.


Aira menatapnya sambil tersenyum, ia juga pernah menjadi salah satu penumpang bus atau ojek online yang ikut andil mengisi kemacetan di jalan. 7 bulan yang lalu. Ya, sebelum ia bertemu dengan Ken dan jalan hidupnya seketika berubah haluan. Naik turun layaknya roller coaster. Membuatnya harus siap menghadapi dinamika kehidupan yang lebih kompleks, dimana nyawanya bisa melayang kapan saja. Hatinya sedikit ngilu mengingat kembali hari-harinya yang kelam dan memilukan.


"Apa yang kamu pikirkan?" suara Ken menyela atensi Aira dari jalanan. Ia tersenyum sembari meraih jemari Ken yang bersemayam di bahunya.


Keduanya duduk di sebuah bangku panjang di taman, berseberangan langsung dengan jalan raya. Meski tak begitu dekat, tapi masih terlihat dengan jelas kepadatan kendaraan roda empat yang mendominasi.


"Aku di sana." tunjuk Aira pada jalanan 500 meter di depannya.


"Hmm?" Ken tak mengerti maksud istrinya. Jelas-jelas mereka baru saja selesai olahraga, mengitari taman yang menjadi ikon ibukota ini dengan bersepeda. Lalu, apa yang Aira bicarakan?


"7 bulan yang lalu, aku adalah bagian dari kemacetan di sana." jawab Aira masih dengan senyum di wajahnya seolah sedang bernostalgia dengan kenangan manis yang tak terlupakan.


"Jika aku tidak bertemu denganmu pagi itu, mungkin aku masih ada disana sekarang." pandangan Aira beralih pada rahang kokoh di depannya, 'Meskipun harus bertaruh nyawa untuk ada di sisimu sekarang.' lanjutnya dalam hati.


"Apa kamu menyesal?" tanya Ken sembari menarik tangan istrinya ke dalam genggaman.


"No." jawab Aira sambil menggeleng, "Terima kasih untuk semuanya."


Ken hendak mencium punggung tangan istrinya saat sebuah suara menyela,


"Khumaira..." panggil seorang wanita yang tengah mendorong kursi roda di depannya, membuat Aira menoleh ke sumber suara.


"Ya?" jawab wanita berjilbab marun itu dengan kening bertaut. Ia sedikit heran, siapa wanita yang menyapanya ini. Rasa-rasanya ia tidak mengenalnya atau memiliki teman dekat selama ini.


"Ya ampun, kamu kok jadi kecil Ra?" tanya wanita itu sembari mendekat ke Aira dan Ken.


"Eh?" Aira terkejut karena tiba-tiba wanita itu meraih tangannya, membuat genggaman Ken terlepas. 'Apa kita sedekat itu?' batin Aira semakin bertanya-tanya.


"Mutia. Aku Mutia Dewi, kita ketemu waktu seleksi masuk Miracle. Inget kan?" wanita yang mengaku bernama Mutia itu tampak antusias, berbeda dengan Aira yang masih belum mengingat siapa wanita ini.


"Miracle ya?" Aira melirik Ken, seolah memintanya untuk pergi sejenak agar ia bisa leluasa berbincang dengan temannya ini, "Mutia bagian keuangan?" tebak Aira, lupa-lupa ingat.


"Aku cari minum," pamit Ken sebelum pergi. Aira hanya mengangguk mengiyakan.


"Iya, yang resign padahal baru kerja seminggu." jawabnya, "Gimana kabar kamu Ra? Wah ngga nyangka bisa ketemu kamu disini. Udah 5 tahun yaa kita ngga ketemu. Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Mutia sembari membenarkan tangan seorang gadis kecil di kursi roda yang dibawanya.


"Aku baik." jawab Aira singkat, pandangannya tertuju pada gadis kecil di depannya yang nampak pucat. Dilihat dari tubuhnya, mungkin usianya sekitar 5 atau 6 tahun. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh.


"Cerebral palsy " ucap Mutia menyadari atensi Aira tertuju pada putrinya.


"Eh, oh maaf." Aira merasa tak enak hati karena hilang fokus beberapa saat setelah Mutia menanyakan sesuatu padanya yang belum sempat ia jawab. Aira seperti pernah mendengar istilah yang Mutia ucapkan, tapi ia tidak yakin dimana pernah mendengarnya. Yang pasti, itu istilah medis. Aira yakin itu.

__ADS_1


"Ini putriku, Ayu." Mutia memperkenalkan gadis yang ia akui sebagai putrinya.


"Hai Ayu, apa kabar?" sapa Aira dengan canggung.


"Ma, ini minum kakak.." tiba-tiba seorang gadis berkuncir menyerahkan sebuah botol berisi susu pada Mutia. Ia kembali berlari menuju teman-temannya yang sedang asik bersepeda di sisi lain taman.


"Itu Cahaya, adik kembarnya Ayu." jelas Mutia tanpa diminta.


"Kembar?" Aira agak terkejut melihat perbedaan kedua gadis yang Mutia akui sebagai anaknya. Cahaya seperti anak lain pada umumnya, tapi Ayu...


"Dia sakit ?" tanya Aira penasaran. Dalam hati kecilnya merasa khawatir karena ada kemungkinan anaknya juga kembar jika yang dikatakan biksu itu benar.


"Bukan sakit, cuma sedikit istimewa." jawab Mutia sambil tersenyum, "Eh, boleh minta nomor ponsel kamu? Nanti kita lanjut yaa." Mutia menyerahkan ponselnya, meminta Aira menyimpannya sendiri.


"Udah." Aira menyerahkan ponsel itu kembali ke pemiliknya.


"Ok, makasih ya Ra. Aku pulang dulu, bentar lagi suami berangkat kerja." pamitnya sambil melambaikan tangan. Mendorong kursi roda dengan sedikit tergesa setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Sudah?" tanya Ken yang mendapati Aira hanya seorang diri di tempat duduknya.


"Ayo pulang." pinta Aira tanpa memandang Ken. Ia takut Ken akan bertanya apa yang sedang ia pikirkan. Entah suaminya itu memiliki bakat menjadi cenayang atau apa, pasti tahu jika Aira menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ada apa?" tanya Ken menahan lengan Aira yang berjalan mendahuluinya. Tubuh mereka saling berhadapan namun Aira menundukkan wajahnya, tak berani menatap manik hitam di depannya.


"Huuhh..." Ken menghembuskan nafas dengan kasar, ia tahu pasti Aira menyembunyikan sesuatu darinya, "Akan ku cari tahu sendiri." Ken beranjak pergi meninggalkan Aira yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Aira hanya bingung bagaimana mengatakan kekhawatirannya pada Ken. Banyak hal yang bisa terjadi dengan kandungannya ke depan, bagaimana jika...


Aira segera menggelengkan kepalanya mengusir berbagai pikiran buruk yang menghantuinya. Kekhawatirannya ini tak beralasan. Ia bahkan belum memahami apa arti cerebral palsy. Ia harus mencari tahu, tapi siapa yang bisa ia tanyai sekarang?


Drrtt drrtt


Ponsel Aira bergetar menandakan ada telepon masuk. Ia mengerutkan kening saat melihat siapa yang menghubunginya, dokter Kaori. Dokter wanita yang merawatnya setelah menjadi korban kebrutalan Ken saat itu.


"Moshi-moshi.." sapa Aira lebih dulu.


(FYI : moshi-moshi adalah sapaan yang sering digunakan oleh orang Jepang saat menerima telepon. Sama seperti kita mengucapkan 'halo')


"Ohayou Aira-chan. Bagaimana keadaanmu?"


(Ohayou : selamat pagi)


*******


Jam dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi saat Aira masuk ke apartemen Ken. Ia sempat berbincang dengan beberapa wanita yang tengah menunggui anak-anaknya bermain di taman. Mereka heran karena belum pernah melihat Aira sebelumnya. Aira mengaku baru pindah kemarin.

__ADS_1


"Tadaima..." ucap Aira seraya berganti alas kaki. Ia mencium aroma sup saat memasuki apartemen elit ini.


(Tadaima : aku pulang. Diucapkan oleh orang Jepang saat memasuki rumah setelah bepergian)


"Okaeri..." jawab Ken dari arah dapur. Ia tengah memasak sarapan untuk istrinya.


(Okaeri : selamat datang kembali. Jawaban orang yang ada di dalam rumah)


Aira melirik Ken sekilas sebelum masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya di atas ranjang. Ia masih memikirkan penjelasan dokter Kaori beberapa saat yang lalu sambil memandang langit yang terlihat dari jendela kaca di depannya.


Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan perkembangan otak, yang biasanya terjadi saat anak masih di dalam kandungan. Gangguan perkembangan otak ini juga dapat terjadi ketika proses persalinan atau dua tahun pertama setelah kelahiran.


Belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan perkembangan tersebut, namun kondisi ini diduga dipicu oleh sejumlah faktor misalnya infeksi saat hamil yang menular pada janin. Contohnya cacar air, rubella, sifilis, infeksi toksoplasma, dan infeksi cytomegalovirus.


Bisa juga terjadi pada bayi kembar dua atau lebih. Risiko terjadinya cerebral palsy akan meningkat pada salah satu bayi yang selamat, apabila bayi yang lain meninggal saat lahir. Selain itu kelahiran prematur, yaitu lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu bisa menjadi salah satu penyebabnya.


"Apa yang dokter Kaori katakan?" tanya Ken sembari mengelus kepala Aira perlahan, menyadarkan istrinya dari lamunan.


"Dokter Kaori? Apa mungkin ..." Aira menahan jemari Ken.


"Aku yang memintanya menghubungimu." jawab Ken, "Kamu enggan mengatakannya padaku, jadi tidak ada cara lain."


Aira beranjak duduk, menyejajarkan posisinya dengan Ken yang duduk di tepi ranjang.


"Kamu mengkhawatirkan mereka?" tanya Ken sembari mengelus perut rata istrinya. Aira hanya mengangguk pelan, sejujurnya ia takut jika racun bisa ular itu masih ada di tubuhnya. Lidahnya mati rasa sekarang, tapi lagi-lagi ia masih enggan mengatakan itu pada Ken. Ia takut Ken marah dan membuat perhitungan lagi dengan pria bertato yang menculiknya waktu itu.


"Mereka kuat dan tangguh, setangguh ayah dan ibunya." Ken coba menenangkan Aira, meskipun ia sendiri memiliki ketakutan yang sama. Yamaken memiliki kelainan lemah jantung, hal itu mungkin juga terjadi pada anaknya. Mereka kembar identik, jadi apa yang Yamaken alami bisa saja menurun pada anaknya kelak karena 99% gen mereka sama.


"Semoga saja." lirih Aira.


"Apa kamu lapar? Aku buat sup bayam kesukaanmu."


"Sup bayam?" Aira heran darimana Ken tahu rahasianya. Selama di Jepang, ia tak pernah makan sup bayam. Dan tak ada seorangpun yang tahu makanan favoritnya itu kecuali... Yudha.


'Bagaimana kabarnya sekarang?' batin Aira.


Ia beranjak mengikuti langkah Ken yang membawanya ke dapur. Menikmati masakan yang dibuat oleh seorang pemegang saham terbanyak Miracle Cosmetics, Yamazaki Kenzo.


*******


Hwaaa.... author laper 😋 ada yang mau masakin buat author? Ah, selain emak, kayaknya belum ada yang mau masakin makanan buat author deh. Percuma juga ya, udah capek-capek dimasakin eh tetep aja kurus kering kaya bocah kurang gizi, padahal makannya banyak 😂😂


Btw, thanks buat semua readers yang mau menyempatkan diri mampir ke sini. See you next day, gomen ya kalo slow update. Author lagi ada tamu nih, si pilek sama batuk lagi main ke rumah. Kalian tetep jaga kesehatan yaa 🤗😍😍😘


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2