Gangster Boy

Gangster Boy
Promise


__ADS_3

Angin dingin beraroma salju pegunungan berhembus menerbangkan tirai, meliuk cantik layaknya sedang menari. Aira melangkahkan kakinya menutup jendela yang menghubungkan ruangan ini dengan bagian belakang rumah yang tampak asri. Ya, sebuah taman yang biasa digunakan sebagai arena berlatih memanah.


Aira menerawang jauh pada peristiwa 5 bulan yang lalu saat pertama kalinya dia memegang busur panah dan berkali-kali harus mendapat teguran karena tangannya terus turun. Busur panah itu terlalu berat karena dibuat khusus untuk Ken.


Tok tok


"Ini obat yang anda minta, nona." ucap Minami dari depan pintu membuyarkan lamunan Aira, membuatnya berbalik dan menatap wanita dengan pakaian hitam di depannya.


"Arigatou, Minami-san. Istirahatlah." pinta Aira sembari menerima kotak obat yang ia minta beberapa saat lalu.


(Terima kasih)


Minami undur diri kemudian menutup pintu di depannya dan membiarkan tuan dan nona-nya hanya berdua. Ken duduk di salah satu kursi rotan yang ada di sebelah pintu, menatap istrinya dari samping. Senyumnya tertahan melihat wajah Aira yang tampak murung dan sedikit pucat.


"Berbaringlah." ucap Aira dengan canggung. Ia tidak nyaman dengan keadaan ini, tapi ia juga merasa bertanggung jawab harus mengobati luka suaminya.


Ken menurut dan menelungkupkan badannya di atas ranjang. Aira melepas sarung tangannya, kemudian bersimpuh dan mulai mengoleskan salep/gel yang mengandung heparin sodium pada luka yang tampak menyedihkan di betis suaminya. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan bekas yang memerah. Ah, orang gila ini bahkan tak mengaduh sekalipun.


"Arigatou, Ai-chan.."


(Terima kasih, Ai-chan)


Aira melirik suaminya sekilas dan berlanjut mengoleskan obat berwarna bening itu. Tangannya gemetar, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya namun ia tahan sampai selesai mengobati Ken. Kepalanya terasa berat dan matanya terasa panas.


"Ai-chan, daijoubu desu ka?" Ken tampak khawatir dengan keadaan istrinya yang semakin pucat.


(Apa kamu baik-baik saja?)


Aira tak menjawab, ia mencengkeram seprai di depannya dengan kuat dan memaksakan untuk berdiri. Berusaha terlihat baik-baik saja, namun kakinya terlalu lemah untuk menopang tubuh mungilnya. Aira luruh, terduduk di lantai membelakangi Ken.


"Ai-chan..." panggil Ken panik. Ia bangun dan meraih jemari istrinya yang tertahan di tepi ranjang. Detik berikutnya Ken duduk di samping Aira dan mengarahkan kepala istrinya itu ke bahu bidangnya.


"Apa kamu bahagia?" tanya Aira dengan suara yang melemah. Tangannya terasa dingin.


"Gomen ne.." sesal Ken. Ia tahu Aira terpaksa membakar surat pengajuan perceraian itu demi menolongnya.


(Maaf)


"Aku ingin pulang." lirihnya sebelum memejamkan mata.


"Hmm, kita akan pulang ke Indonesia seperti keinginanmu." Ken meraih kepala istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Saat itulah matanya terbelalak menyadari bahwa Aira demam. Dengan cekatan, Ken membaringkannya di ranjang.


Dengan langkah tertatih, ia masuk ke kamar mandi di pojok ruangan dan menyiapkan kompres untuk istrinya.

__ADS_1


Sesaat Ken ragu saat akan melepas jilbab yang istrinya kenakan, ia ingat teriakan histeris Aira ketika ia menariknya dengan paksa malam itu. Akhirnya Ken hanya melepas peniti di bawah dagu Aira agar jilbabnya sedikit longgar dan menempelkan kain yang telah ia basahi di dahi istrinya itu.


Ken berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membuat istrinya menangis lagi.


'I promise' lirih Ken dalam hati sembari mencium punggung tangan istrinya.


(Aku janji)


*******


Langit berbintang terlihat cerah. Butiran salju yang turun semakin menambah indahnya karunia Tuhan Yang Maha Esa. Seorang wanita berjalan di beranda kediaman keluarga Yamazaki dengan membawa nampan di kedua tangannya. Wajahnya terlihat tidak senang, tapi detik berikutnya ia menampilkan senyum kepura-puraannya. Ia menyimpan sebuah pisau lipat di sakunya. Angin berhembus perlahan menerbangkan poni wanita itu, membuat bekas luka di dahinya terlihat sekilas.


Tok tok...


"Masuk." terdengar suara Ken dari dalam.


"Permisi, saya mengantarkan makan malam untuk nona Aira." ucapnya lembut.


Tepat saat itu ponsel Ken berbunyi dan ia beranjak keluar ruangan, membiarkan pelayan itu mendekati Aira yang masih terpejam.


"Selamat malam nona," sapanya ramah, "Apa tidur anda nyenyak?"


Hening. Tak ada jawaban. Sebuah smirk muncul di wajah menyeramkan itu. Sekilas ia memandang ke kanan dan kiri, tak ada orang. Ken juga tak terlihat, pintunya tertutup rapat. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Tanpa dia sadari, sepasang mata menatapnya tajam dari kegelapan.


Tangannya masuk ke dalam saku dan mengambil pisau lipat berwarna silver.


"Selamat jalan, nona.." Ia mengacungkan pisau itu di atas dada Aira, bersiap menusuknya dengan sekuat tenaga.


Dor


Sebuah tembakan menembus tautan jemarinya dan membuat pisau yang dipegangnya jatuh ke lantai. Darah menetes ke pipi Aira yang baru saja membuka kelopak matanya.


Wanita itu terkapar di lantai. Seseorang mengunci pergerakannya bahkan sebelum ia menyadari apa yang terjadi. Ken masuk dan mendekati Aira yang terlihat kebingungan. Ia terbangun saat terdengar bunyi tembakan yang Minami lesatkan. Ya, pengawalnya bersembunyi di ruangan sebelah mengantisipasi kejadian tak terduga seperti saat ini.


"Bawa dia pergi." perintah Ken sembari membersihkan pipi istrinya dengan tisu.


Minami mengangguk dan menarik wanita itu untuk berdiri.


"Tunggu." pinta Aira membuat Minami menghentikan langkahnya.


"Apa aku bersalah padamu?" tanya Aira lembut, ia iba melihat wanita yang ia kira seorang cenayang karena melihat garis tangannya waktu itu. Dia juga yang memintanya untuk menjauhi Ken.

__ADS_1


Tak ada jawaban, ia mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan yang dituturkan Aira.


"Tanyakan itu pada suamimu." ucapnya sarkas, ia melirik pisau buah di atas nampan yang ia bawa beberapa saat lalu.


"Minami-san, lepaskan dia." perintah Aira.


Minami tampak ragu dan meminta pendapat Ken. Dengan anggukan kecil dari tuan muda Yamazaki itu, Minami melepaskan buruannya.


"Apa Ken berhutang sesuatu padamu?" Aira memandang wanita yang sekarang bersimpuh di hadapannya. Minami berdiri di sampingnya dan tak melepaskan pandangan sedetikpun darinya. Berjaga-jaga jika saja wanita itu berontak menyerang Aira. Ken duduk di sofa beberapa meter dari ketiganya, memberikan kebebasan pada Aira untuk menanyai wanita itu.


"Hutang? Dia berhutang nyawa suamiku." jawabnya dingin.


"Aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah," kilah Ken, "Kamu tahu dengan pasti siapa suamimu." lanjutnya.


"Dia hanya meminjam namamu dan kau membunuhnya?"


"Hanya meminjam namaku?" Ken tersenyum, namun kemudian sisi iblisnya bangkit terlihat dari tatapan matanya yang berkilat seolah ingin menghabisi nyawa wanita ini dengan segera, "Menyelundupkan 400 kg narkoba ke China, itu yang kamu pahami dengan istilah meminjam namaku? Aku tidak pernah berbisnis dengan psikotropika."


Wanita itu tak berkutik, ia tidak bisa membela diri lagi. Ia melirik ke arah pisau di atas nakas, kemudian melirik Minami yang berdiri satu meter di darinya. Masih ada kesempatan.


Tanpa berpikir panjang, wanita itu bangkit meraih pisau buah yang ada di meja dan bersiap menikam Aira di depannya.


Dor


Lagi-lagi terdengar suara tembakan. Wanita dengan tangan berdarah itu jatuh di pangkuan Aira, sebuah peluru bersarang di dada kirinya. Ia tewas seketika membuat Aira menjerit histeris dan pingsan saat itu juga. Ken menangkapnya dan membuang pistol yang ada di tangannya ke sembarang arah.


Minami dan beberapa pelayan yang lain segera menyingkirkan jenazah wanita itu. Kakek masuk dan melihat kondisi Aira yang terkulai lemah tak berdaya di ranjangnya.


*******


2 jam berlalu,


Aira membuka matanya dan melihat Ken berbaring di sisinya. Kilatan kejadian beberapa saat lalu kembali menghantuinya dan membuat Aira ketakutan. Ia keluar dari kamar dan melihat Kakek yang sedang duduk meditasi di sebuah bilik tanpa dinding.


"Kakek..." panggil Aira saat ia hanya berjarak beberapa langkah, membiarkan beberapa butir salju mendarat di jilbab nya.


"Kemarilah," ucapnya setelah membuka mata, "Apa yang membawamu kemari?"


"Bolehkah aku meminta bantuanmu?" tanya Aira, ia duduk berpangku lutut di depan pria 70 tahun itu.


*******


Yosh, akhirnya kelar ini episode. Nantikan kejutan berikutnya dari Aira dan Ken 😉

__ADS_1


Jaa,


Hanazawaeaszy ^^


__ADS_2