
Ken menggendong Aira sampai di apartemen dan membaringkannya di ranjang. Dengan telaten ia melepas sepatu yang dipakai istrinya dan menyelimuti tubuh mungil itu sebatas perut.
"Arigatou.." bisik Ken lalu mencium kening istrinya penuh kasih. Ia mengamati wajah ayu Aira yang tengah terlelap dan mencium kedua matanya bergantian, berharap tidak akan melihat sorot kesedihan lagi di sana. Tak lama kemudian ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
(Terima kasih)
Aira membuka mata dan mengerjap beberapa kali. Ia merasa sedikit pusing dan lehernya pegal. Gadis berjilbab itu memijat tengkuknya sendiri berharap keluhannya segera membaik.
Perlahan Aira bangun dari tidurnya dan menempelkan punggungnya ke kepala ranjang yang berwarna hitam. Netranya menyapu sekeliling dan merasa asing. Selimut beludru abu-abu yang menutupi kakinya, dinding hitam dengan ornamen batu bata, dinding kedap suara di belakang tubuhnya, dan 5 buah lampu gantung di sisi kanan kirinya, semua bernuansa gelap. Sangat identik dengan Ken, gelap dan misterius.
'Dimana Ken? Apa ini di apartemennya?' batin Aira.
Ia turun dari ranjang, melangkahkan kakinya mendekat ke dinding dan meraba beberapa buku tentang bisnis yang bertengger dengan rapi disana. Tak ada debu sedikitpun, sepertinya seseorang sering membersihkannya.
Hening
Tak ada siapapun dan tak terdengar suara apapun selain deru air conditioner yang tertanam di dinding. Aira duduk di sebuah kursi panjang di depan ranjang, ia mengurut pelipisnya dan mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ya, mereka pulang ke Indonesia dan sempat makan di restoran padang sebelumnya.
Aira beranjak pergi meninggalkan kamar bernuansa dark itu. Memaksanya membuka pintu berwarna hitam yang ada di depannya. Hitam, hitam, hitam. Apa tidak ada warna lain yang lebih menarik dibandingkan hitam?
(dark : gelap)
Aira menghentikan langkahnya dengan paksa, seolah terhipnotis dengan pemandangan di depannya. Sebuah ruangan santai dengan sepasang kursi sofa abu-abu gelap lengkap dengan meja berwarna silver. Sebuah televisi berdiri kokoh dengan beberapa miniatur yang terbuat dari kayu di sekitarnya. Titik-titik cahaya yang muncul di dinding dan plafon saat lampu dipadamkan benar-benar terlihat cantik. Ah, jangan lupakan pemandangan malam di luar sana. Aira bisa melihat kerlip lampu melalui dinding kaca transparan, seperti kunang-kunang yang bertebaran di seluruh kota.
'Apa ada tempat seperti ini di Jakarta? Ah, atau dia masih ada di Jepang?' Aira menggelengkan kepala menepis pemikirannya yang kedua. Jelas-jelas mereka makan masakan Padang, tentu saja ini di Indonesia.
Langkah kakinya berlanjut menyusuri ruangan lain yang terhubung melalui pintu kaca yang bergeser otomatis saat ia melewatinya. Tampak sebuah mini bar dengan dominan warna gelap. Tiga buah kursi bundar berdiri di depan meja kayu berwarna hitam dan sebuah lampu LED violet berpendar di atasnya. Apa Aira sedang bermimpi sekarang?
Hap
Sebuah tangan merengkuh Aira dalam pelukan membuat sebuah jalinan di depan perutnya yang masih rata. Gerakan tangan kokoh yang melingkupi tubuhnya itu menimbulkan geleyar aneh di hatinya. Wangi lavender menyeruak di belakangnya bersamaan dengan tetes-tetes air yang berjatuhan di samping badan membuat nafas Aira tercekat. Jantungnya berdegup 2x lebih kencang dari sebelumnya. Berbagai prasangka buruk muncul dalam pikirannya, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Apa yang kamu lakukan disini, my little girl?" tanya Ken sembari mengelus pipi Aira dengan gerakan seduktif/menggoda.
__ADS_1
(my little girl : gadis kecilku)
Aira menghembuskan nafas beratnya dan meraih sebelah tangan Ken yang masih bersemayam di perutnya. Bibirnya menyunggingkan senyum karena pikiran buruknya seketika sirna begitu mendengar suara khas yang menjadi candu untuknya. Ya, baik Aira maupun Ken keduanya sedang dimabuk cinta. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Ken.." Aira berbalik menatap manik mata suaminya yang memakai kimono mandi berwarna hitam. Ah, hitam lagi?
"Hmm?" gumam Ken seolah berucap 'apa?'. Kedua tangannya melekat di pinggang Aira, menjaganya agar tak terjatuh. Atau lebih tepatnya mengunci pergerakan istrinya agar tidak pergi menjauh dari jangkauannya.
"Rambutmu basah." Aira mengulurkan tangannya, memegang pundak suaminya yang berdiri sedikit membungkuk agar jarak mereka tak terlalu jauh. Ya, Aira hanya 153 cm sedangkan Ken 178 cm. Jika Ken tidak membungkuk, Aira pasti kesulitan memegang kepalanya seperti yang ia lakukan sekarang.
Ken memeluk Aira dan menggendongnya ala bridal style detik itu juga membuat mata bulat Aira terbelalak karena terkejut. Otomatis ia mengalungkan tangannya di leher Ken agar tak terjatuh.
"Ken ?!" suara Aira tertahan karena melihat Ken hanya tersenyum mendapati keterkejutan istrinya. Seolah pria itu memang sengaja menggoda wanita 25 tahun yang kini ada dalam gendongannya.
Ken mendudukkan diri di atas sofa dan mengecup pipi Aira yang kini duduk di atas pangkuannya. Wajah wanita di depannya memerah seperti tomat, membuat Ken tak bisa berhenti tersenyum.
"Berhenti menggodaku !" Aira melepaskan diri dari jerat suaminya dan beranjak pergi ke dapur. Mengambil segelas air putih dan meminumnya dalam sekali teguk. Ia merasa marah dan kesal dalam waktu yang bersamaan. Akhir-akhir ini Ken semakin jahil padanya.
"Hey..." Ken mendekat bersiap menarik tangan Aira saat tiba-tiba...
"Hhmmpp..." Aira berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya. Wajahnya memerah dan perutnya terasa bergejolak seolah baru saja menaiki wahana roller coaster. Mulutnya penuh oleh sesuatu yang naik dari lambungnya.
"Ai-chan.. Daijoubu?" Ken mendekat dan memeriksa keadaan istrinya.
(daijoubu : apa kau baik-baik saja?)
"Uekk..." belum sempat Aira menjawab, ia merasakan mual yang tak tertahan lagi dan kembali menundukkan kepalanya ke arah wastafel. Kepalanya pusing dan kakinya terasa lemas tak bertenaga. Hanya cengkeraman tangannya di sisi keramik berwarna hitam yang menjaga tubuhnya agar tak luruh ke lantai. Sebelah tangannya meraup air dari kran dengan sensor otomatis di depannya untuk membersihkan mulutnya.
Ken kembali dengan tisu di tangannya dan segera membersihkan wajah istrinya. Ia membantu Aira melepas jilbabnya yang basah.
"Ayo ke dokter" ajak Ken yang dijawab anggukan oleh Aira.
*******
Di sebuah klinik kandungan,
"Tidak hanya perkembangan secara fisik, organ-orang vital janin pun juga mengalami perkembangan pesat. Jantung janin sudah berdenyut dengan irama sekitar 150 kali per menit." jelas seorang dokter wanita dengan kacamata bulat bertengger di atas hidungnya.
Ken menggenggam jemari Aira sambil tersenyum, ikut mengelus perut istrinya yang masih terbaring di atas ranjang untuk diperiksa.
__ADS_1
"Pada perkembangan janin di usia 6 minggu ini, perubahan pada bagian perut ibu mungkin masih belum terlihat karena ukuran janin di dalam rahim masih begitu kecil. Meski begitu, di dalam tubuh ibu sebenarnya sedang terjadi perubahan hormon yang cukup drastis. Pada minggu keenam usia kehamilan, hormon estrogen, progesteron, dan hCG (hormon pemberi tanda kehamilan), serta HPL (human placental lactogen) akan mengalami peningkatan."
Aira beranjak bangun dibantu oleh Ken. Keduanya berpindah ke kursi di depan meja dokter.
"Perubahan hormon ini akan menyebabkan munculnya reaksi tubuh, baik secara fisik maupun secara emosional. Hal ini menyebabkan ibu mengalami suasana hati yang naik turun secara drastis atau yang disebut juga dengan mood swing."
Ken tersenyum mendengar penjelasan dokter. Pantas saja akhir-akhir ini tingkah Aira sedikit aneh, tidak seperti wanita yang ia kenal 6 bulan ini.
"Ibu hamil juga akan mudah merasa lelah dan lesu. Kondisi ini cukup wajar. Sebab tubuhnya sedang bekerja keras untuk memastikan janin berkembang dengan baik."
Kali ini Aira yang menyadari kenapa ia mudah sekali lelah beberapa hari terakhir.
"Ada mualnya bu Aira?" tanya dokter Tara sambil menulis resep obat di mejanya, Aira hanya mengangguk pelan.
"Gejala kehamilan lainnya yang umum terjadi di usia kehamilan minggu ke-6 adalah mual dan muntah yang lebih dikenal juga dengan morning sickness. Meski namanya morning sickness, sebagian wanita bisa mengalami mual sepanjang hari."
"Payudara ibu juga akan mengalami perubahan sebagai persiapan untuk menyusui. Aliran darah ke payudara akan meningkat, sehingga menyebabkan daerah tersebut menjadi lebih sensitif dan terasa nyeri." jelas dokter Tara. Ia menyerahkan resep obat anti mual, susu ibu hamil dan beberapa vitamin pada Ken.
"Terima kasih dok." ucap Ken yang dibalas dengan senyuman oleh wanita 45 tahun itu.
"Usahakan tetap ada makanan yang masuk ya bu meskipun sedikit." pesannya sambil menyalami Aira dan Ken bergantian.
"Iya dok." jawab Aira mencoba tersenyum.
Pasangan suami istri itu meninggalkan klinik setelah menebus obat di apotik yang ada di sebelah ruang periksa. Beberapa orang menatap mereka dengan kagum, wajah Aira yang ayu khas Indonesia bersanding dengan wajah sipit Ken yang rupawan. Pasti anak-anaknya kelak sangat menggemaskan.
"Kita langsung pulang?" tanya Ken seraya membuka pintu taksi online di depannya. Aira tak menjawab, ia masih menahan mual terlihat dari gerakannya yang seolah ingin muntah tapi urung ia lakukan. Sebenarnya Ken bisa saja mengendarai mobilnya sendiri, tapi Aira tidak mengizinkannya. Perjalanan jauh mereka dari bandara Narita ke Jakarta membutuhkan waktu lebih dari 6 jam, pasti membuat Ken lelah. Aira tak ingin membahayakan keselamatan mereka berdua.
Tunggu, berdua? bukankah mereka bertiga, atau bahkan berempat?
*******
Hai minna-san, author kembali 😍😍
Oh iya hampir kelupaan, ini tentang istilah bridal style sewaktu Ken ngangkat Aira. Disini author bener-bener blank, bridal style : menggendong di depan badan dengan 2 tangan seperti pengantin baru *ini apaan sii, author ngga ngerti deh 😅
Ya gitu deh yaa 🤗🤗
Ok see you next part,
__ADS_1
Hanazawa easzy ^^