
Ken bertemu dengan G di atap apartemen. Pria itu bahkan sempat memukul wajah Ken sebelum jatuh terjerembap di lantai yang terasa dingin. Ia kehilangan kesadaran dan mengigau tidak jelas memanggil-manggil ibunya.
Ken terpaksa membawa G pulang ke rumah. Meskipun dia tahu Aira membenci pria mabuk, namun hati nuraninya merasa kasihan pada pria satu ini. Ia tidak bisa meninggalkan G begitu saja di atap. Tapi, Aira justru tidak marah dengan keadaan G, bahkan berniat merawatnya.
Hal itu tentu saja membuat Ken cemburu. Setelah drama yang cukup menguras emosi, akhirnya Ken dan Aira berdamai satu sama lain. Keduanya berbaring di atas ranjang king size yang ada di kamar mereka.
"Ken," panggil Aira pada suaminya.
"Hmm," gumam Ken. Ia berusaha memejamkan matanya dan masuk ke alam bawah sadarnya untuk istirahat. Hari ini ia merasa lelah, baik fisik maupun mental.
"Apa aku boleh menghubungi Yu?"
Sontak mata Ken membulat mendengar penuturan istrinya. Ia memang minta Aira untuk menjauh dari Yu sementara waktu. Hal itu agar tidak ada orang yang akan mencurigainya, termasuk G.
"Aku mengkhawatirkannya." Aira mengungkapkan alasannya. Jemarinya memainkan kancing piyama yang dipakai suaminya. Ken sudah melepas sweater yang sebelumnya ia gunakan saat menemui G di atap, menyisakan setelan piyama warna hitam, warna kesukaannya.
"Dia baik-baik saja. Aku sudah meminta Kaori memeriksanya. Sampai semuanya membaik, jangan menghubunginya atau menemuinya. Bersembunyilah dengan baik, Sayangku," ucap Ken seraya mengelus pipi istrinya. Ia tahu hubungan istrinya dengan Yu cukup dekat satu sama lain. Tapi terlalu berbahaya jika mereka terlihat bersama, akan lebih aman jika Aira seolah-olah tak pernah terhubung dengan Yu.
"Tapi, ... "
"Sst, sudah hampir pagi. Ayo istirahat." Ken mencium kening istrinya dan menariknya dalam pelukan.
Ratusan kilometer dari keduanya, gadis yang mereka bicarakan sampai di halaman sebuah rumah yang tampak lengang. Hanya beberapa petugas keamanan yang tampak berkeliling memastikan keamanan rumah mewah ini.
"Selamat malam, Nona Ebisawa," sapa seorang pria yang sepertinya bertanggungjawab atas tugas penjagaan ini. Ada pin bintang yang tersemat di dadanya.
"Malam," jawab Yu lirih. Ia mengetatkan syal yang melingkar di lehernya. Hidungnya tampak memerah, ia masih sedikit demam sisa efek alerginya siang ini, "Apa ayah sudah tidur?"
"Tuan saat ini ada di ruang kerja bersama tuan muda Yoshiro."
Deg
__ADS_1
Yu terkejut, "Kakak ada di sini?" tanya Yu. Memang dia meminta Yoshiro pulang, tapi tidak menyangka akan ada kebetulan semacam ini. Ia tiba-tiba merindukan ayahnya, jadi dia memilih untuk pulang ke rumah. Tapi, siapa sangka Yoshiro justru sedang ada di tempat ini.
"Haruskah saya memberitahu beliau tentang kedatangan Anda?" tanya pengawal itu saat melihat Yu hanya terdiam, tak melanjutkan langkahnya ke dalam rumah.
"Tidak. Aku akan kesana sendiri," jawab Yu datar.
"Baik. Saya permisi," pamit pria berpakaian hitam itu. Ia undur diri dari hadapan Yu.
Yu melangkahkan kakinya melewati pintu utama. Ia berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang ada di lantai dua rumah ini. Ia melatih wajahnya untuk tersenyum. Setidaknya ia harus terlihat baik-baik saja di depan dua pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
BRAKK
"Ayah bercanda 'kan?" terdengar suara Yoshiro yang cukup lantang, membuat tangan Yu terhenti di udara. Tadinya ia berniat mengetuk pintu sebelum masuk.
"Itu benar. Maaf karena menyembunyikan semuanya darimu selama ini," kali ini suara ayahnya, tuan Ebisawa yang terdengar, "Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Aku sudah menganggapmu seperti putraku sendiri. Rasanya aku tidak rela jika kamu harus bersanding dengannya."
Yu mengerutkan keningnya, bertanya-tanya apa yang kedua pria itu bahas? Kenapa Yoshiro yang selama ini terlihat tenang dan tak pernah terprovokasi, sampai menggebrak meja? Ya, meski tanpa melihatnya sekalipun, Yu bisa menilai siapa yang tengah dilanda emosi saat ini.
"Kamu bisa mendapatkan gadis lain yang lebih pantas darinya. Ayah akan mencarikannya untukmu," ucap tuan Ebisawa. Beliau beranjak dari kursinya dan kini berdiri menghadap foto keluarga mereka dimana kala itu masih ada mendiang putri sulung dan juga istrinya.
Tampak Yoshiro kecil berambut putih dan Erina yang berdiri berdampingan. Sementara di belakang keduanya, ada tuan dan nyonya Ebisawa yang menggendong Yuzuki balita. Mungkin saat itu usianya masih tiga atau empat tahun. Itu adalah potret yang diambil beberapa bulan setelah Yoshiro resmi menjadi anggota keluarga Ebisawa.
"Adakah orang lain yang lebih pantas dari putrimu sendiri? Bagaimana mungkin seorang ayah mengatakan hal seperti itu?" Yoshiro merasa kesal karena tuan Ebisawa seolah menilai rendah putrinya sendiri.
"Dia memang putriku, tapi bukan darah dagingku."
Deg!
Perkataan tuan Ebisawa membuat jantung Yu maupun Yoshiro berhenti berdetak sepersekian detik. Gadis yang kini berdiri di depan pintu hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, mencegah agar tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari sana. Ia begitu terkejut dengan pernyataan pria yang selama ini ia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri.
"Lelucon apa lagi ini?" tanya Yoshiro tak percaya.
__ADS_1
"Dia dilahirkan oleh istriku, tapi bukan anakku. Aku tinggal di Korea selama beberapa tahun. Karena satu dan lain hal, aku memilih menjalani operasi vasektomi tanpa istriku ketahui." Tuan Ebisawa membuka cerita kelam yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.
*Vasektomi adalah kontrasepsi bedah untuk pria dengan cara memutus saluran sp*rmanya. Lelaki yang melakukan vasektomi secara permanen tidak bisa memiliki anak lagi.
"Tapi kemudian, aku mendengarnya melahirkan. Aku berpura-pura tidak mengetahui hal itu, tapi semua terungkap saat Yuzuki kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah. Saat itu aku melakukan tes DNA dan fakta mengejutkan itu terungkap. Dia tidak memiliki hubungan darah denganku. Itu sebabnya istriku mengakhiri hidupnya. Dia mengakui segalanya dan tidak sanggup menanggung rasa bersalah karena telah mengkhianatiku," jelas tuan Ebisawa dengan menahan pilu, "Seperti drama layar kaca, benar 'kan?" guraunya menertawakan diri sendiri.
Yoshiro tak menjawab. Dia tidak tahu bagaimana harus menyikapi fakta yang tidak bisa ia percaya. Rasanya semua itu mustahil, bagaimana mungkin Yu bukan darah daging ayah angkatnya?
Hal yang sama terjadi pada Yu. Ia tidak menyangka akan mendengar hal ini dari mulut ayahnya. Memang tuan Ebisawa memperlakukannya sedikit berbeda dengan kakaknya, Erina. Ayahnya selalu memanjakan Erina dan bersedia memeluknya setiap saat. Tapi, pria itu tidak pernah sekalipun memeluknya.
Yu tinggal di asrama dan hanya pulang sesekali ke rumah. Itu pun hanya saat liburan sekolah datang dan karena paksaan Erina. Yu merasa enggan tinggal satu atap dengan ayahnya. Dia selalu bersikap lebih tegas padanya, membuatnya menjadi bersikap dingin pada semua orang. Namun, selama ini Yu menganggap perbedaan sikap ayahnya itu karena ingin putri bungsunya lebih mandiri, tapi ternyata ...
Dukk
PRANGG
Yu berlari dengan air mata membasahi pipinya. Gadis itu tidak sengaja menabrak guci yang ada di samping pintu. Ia tidak sanggup mendengar apapun lagi. Bahkan ia merasa sangat malu jika harus bertatap muka dengan tuan Ebisawa. Bagaimana bisa ia memanggil pria yang telah dikhianati oleh ibunya dengan sebutan ayah? Keberadaannya di dunia ini sudah salah sejak awal. Hatinya hancur tak berbentuk sekarang. Dunia ini begitu kejam mempermainkan garis takdirnya.
Yoshiro terkejut saat mendengar bunyi gaduh di luar pintu. Ia segera berlari dan mendapati bayangan seorang gadis yang menghilang di ujung koridor.
"Yu ... " panggil Yoshiro dengan panik. Ia segera berlari menyusul gadis itu dan menenangkannya. Ia sangat terkejut dengan fakta yang ayah angkatnya ungkapkan, apalagi Yu sendiri? Dia pasti begitu kecewa dan sakit hati mendengar rahasia ini. Penyebab kematian ibunya selalu disembunyikan dengan baik. Bahkan tuan Ebisawa melarang Erina dan Yoshiro mengatakannya pada siapa pun, termasuk Yu.
Kasus bunuh diri di Jepang tergolong tinggi dibandingkan negara lain di sekitarnya. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti kehilangan pekerjaan, jam kerja yang berkurang, perubahan gaya hidup, tekanan uang, dan menjaga jarak dari orang yang dicintai akan membuat banyak orang mengalami tingkat depresi dan kecemasan yang tinggi.
Dari semua kasus bunuh diri, mayoritas berasal dari gender perempuan. Dan dalam kasus ini, nyonya Ebisawa tidak bisa menahan rasa malu karena telah mengkhianati suaminya. Hal itu membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup saat Yu masih berusia lima tahun.
...****************...
Poor Yuzuki 😢😭😭😭😭
See you next day, gomen kalo masih ada typo 😔
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💔