
"Aira-chan, apa yang terjadi dengan Harada Yuki?" Kali ini suara Shun yang terdengar. Instingnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada pria itu. Meski tidak menyukai keberadaannya, nyatanya dia tetap tidak suka jika Anna menyasar orang yang tidak bersalah seperti Harada Yuki.
Terlihat jelas ia mengepalkan tangan, menahan emosi yang mulai memuncak. Jika saja bukan karena larangan Aira, mungkin dia sudah langsung mencari Anna dan berduel maut dengannya. Permasalahan pokok ini adalah Anna sakit hati dan ingin balas dendam padanya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yuki maupun Kaori.
Tujuan utamanya kemungkinan besar adalah ingin menyingkirkan Shun dan merekrut Mone kembali ke sisinya, bukan yang lain. Dia yakin itu.
"Tenanglah, Oguri-san." Aira mengambil napas dalam-dalam, menata hatinya untuk mengungkapkan fakta yang ada. "Aku akan mengirimkan kode akses pada kalian. Kita lihat bersama apa yang Anna lihat dari monitor di rumahnya."
Jemari tangan Aira kembali berselancar di atas tuts, menghubungkan 'silent' untuk dilihat semua rekan-rekannya.
Empat pasang mata itu terus menatap waspada. Menantikan tampilan layar mereka yang sedang beralih melihat apa yang Aira lihat dari monitor di hadapannya.
Di saat yang sama, ketegangan tampak semakin menyergap orang-orang di pelabuhan.
"TAKAHIRO-SAN, KELUAR DARI SANA SEKARANG!" Yuki berteriak, meminta operator alat berat itu untuk segera meninggalkan pos kerjanya.
"SEMUANYA MENYINGKIR! PERGI DARI TEMPAT INI SECEPATNYA!" Yuki tidak tahu bagaimana harus mengamankan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya ini selain mengatakan hal yang sebenarnya.
"Meledak?"
"Apa ada bom di sini?" Orang-orang ini saling sahut menyahut, berbincang tanpa tahu resiko besar yang mengancam nyawa mereka.
"Lihat itu!" Seseorang menunjuk ke atas crane dimana asap pekat warna putih semakin kental, menyelimuti palang-palang besi warna putih dan kuning di atas sana.
Krakk krakkk krakkk
Terdengar suara yang berasal dari atas crane, membuat orang-orang itu menoleh seketika ke
sumber suara.
"SELAMATKAN DIRI KALIAN. TEMPAT INI AKAN MELEDAK!" teriaknya putus asa.
Seketika kepanikan luar biasa terjadi di sana. Orang-orang yang semula ingin tahu, kini hanya memiliki satu tujuan di dalam kepalanya. Menyelamatkan diri.
__ADS_1
Yuki tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Dia menggiring orang-orang ini untuk pergi. Entah berapa detik yang tersisa sampai lalat-lalat itu meledak. Dia tidak sempat menghitungnya.
Ctakk ctakk
Lalat itu menghampiri satu sama lain, membentuk satu bulatan besar yang menyeramkan. Seketika instring Yuki bekerja memberi perintah. Tidak ada waktu lagi.
"TIARAPP!" teriaknya sepersekian detik sebelum terjadi ledakan.
DDUUAARRRR!!!
Krakk kraakkk
KLANG KLANGG
Besi panjang ratusan meter itu patah seketika, meleleh akibat ledakan dahsyat yang terjadi. Kepulan asap seketika mengudara, diikuti kobaran api yang ada. Entah dari mana api itu muncul, seperti ada yang sengaja menyulutnya.
DUUAAARRRR!!!
Tak cukup sampai di sana, ledakan lainnya terjadi selang dua detik dari ledakan tadi. Itu berasal dari dalam kontainer yang sebelumnya dihinggapi robot lalat tadi. Api menyambar kabel listrik yang ada di sekitarnya, menimbulkan percik api seperti kembang api saat perayaan festival musim panas.
Yuki melindungi kepalanya dengan tangan. Dia terpental saat ledakan kedua terjadi. Tubuhnya terhempas cukup keras, menghantam box kontainer dua ratus meter dari tempatnya berada.
DUUAARRR!!!
DUUAARRR!!!
Dua ledakan kembali terjadi, membuat sebuah pipa besi terjatuh dari atas dan menyasar ke arah Yuki, menghantam tubuhnya yang terkapar tak berdaya.
"Uhuukk uhukk." Darah segar keluar dari mulut pria ini saat terbatuk. Kepalanya terasa semakin berat, dengan mata yang tak sanggup lagi terbuka.
"Uhukk hukk." Dengan susah payah Yuki mengambil napas dari hidungnya. Bau anyir darah tak terelakkan dari indera penciumannya. Kemeja putih yang sedari pagi tadi melekat di tubuhnya kini berubah warna menjadi merah.
Mengumpulkan tenaga yang tersisa, pria 31 tahun ini berusaha menyingkirkan pipa besi yang menindih tubuhnya. Dia masih harus melihat kondisi para karyawan yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi agaknya itu hanya jadi angan semata. Jangankan menyingkirkan balok besi ini, membuka matanya saja ia merasa kesulitan.
__ADS_1
Tak ingin menyerah, Yuki mengambil ponsel yang tergeletak satu langkah dari tangannya dengan sekuat tenaga. Ia merayap, menggapai gawai itu dan mengaktifkan sinyal GPS yang ada di sana.
Bahkan, dengan sisa kesadaran yang ada, Yuki berharap Ken akan datang menolongnya. Meski ia tidak lagi selamat dari maut, setidaknya seseorang bisa menemukan mayatnya untuk dimakamkan dengan layak.
Ngiiiinnggg
Dengingan hebat seketika terdengar di telinga Yuki. Kepalanya terasa semakin berat. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang tak lagi bertenaga. Pandangan terakhir yang ia tangkap adalah simbol bulatan kecil warna biru sudah ia aktifkan dari layar ponselnya. Itu artinya Ken akan bisa membaca posisinya jika ia mencari keberadaan sinyal dari ponselnya.
"Ta... su... ke...te..." Suara Yuki semakin lemah di akhir kata. Permintaan tolong yang ia ucapkan dengan susah payah nyatanya tak pernah terdengar oleh siapapun. Orang-orang yang bersamanya tadi juga terhempas ke berbagai arah setelah ledakan kedua, ketiga, dan keempat terjadi.
Dan semua berubah menjadi gelap. Pria dengan wajah dan tubuh berlumur darah ini tak bisa mempertahankan kesadarannya. Dia memejamkan mata, dengan sisa napas yang menghela semakin lemah.
Di sisi yang lain, orang-orang semakin panik. Mereka yang masih bisa menyelamatkan diri, segera pergi dari area 36 ini. Mereka takut akan terjadi ledakan berikutnya yang lebih dahsyat. Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk menyelamatkan orang lain. Waktunya mengamankan diri sendiri.
Puluhan kilometer dari sana, tampak Shun membulatkan mata. Dia sontak berdiri, tidak menyangka akan ada ledakan hebat dan kekacauan besar yang terjadi di pelabuhan. Kemarin lusa ia datang ke sana bersama Kosuke. Mungkinkah saat itu kontainer itu juga sudah disabotase oleh Anna? Kenapa dia tidak menyadarinya?
Hal yang berbeda terjadi pada Anna dan Maria. Gelak tawa terdengar menggema memenuhi ruangan.
"Bibi lihat itu?" Anna berkata dengan wajah sumringah. "Lalat-lalat itu berhasil mengacaukan pelabuhan. Hahahahaa."
Lagi-lagi Maria tersenyum miring. "Aku salut padamu, Ann. Benar-benar jenius."
Mereka tertawa bahagia menyaksikan misi membuat keributan itu berjalan lancar tidak ada halangan sama sekali. Dia tahu Yuki tidak mendapat pengawalan dari kakek tua Yamazaki itu. Dan setelah ledakan besar ini, skenario kedua yang akan ia mainkan berikutnya.
Di tempat yang lain, Aira hanya bisa memejamkan mata. Dia tidak tega melihat tubuh bergelimpangan yang ada di sana. Kobaran api yang terus membumbung tinggi belum dipadamkan, menunjukkan bahwa belum adanya antisipasi untuk situasi darurat seperti sekarang.
Aira menggenggam tangan Ken dengan sangat erat. Dia tidak bisa melakukan apapun selain mengigit bibir bawahnya. Sebulir bening hangat keluar dari mata indahnya. Dia sedih karena merasa gagal menghadang Anna. Wanita itu dengan tega melakukan hal besar demi ambisinya, mengorbankan nyawa orang-orang yang tak bersalah.
"Kita akan segera mengatasinya, Sayang. Kuatkan dirimu." Ken segera mendekap Aira, memberikan dukungan moril pada wanita yang sangat disayanginya ini.
Dia tahu Aira merasa bersalah, hal itu juga terjadi padanya. Pria ini merasa tertampar. Jika saja ia tidak membawa Aira kabur ke Indonesia dan mengawasi Anna dari dekat, mungkin mereka tidak akan kecolongan seperti sekarang ini. Setidaknya, bisa meminimalisir efek yang ditimbulkan.
Mungkinkah Yuki akan selamat? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana Ken dan Aira mengatasi situasi yang ada?
__ADS_1
Nantikan di bab berikutnya.
Hanazawa Easzy