
Ken terpaksa melumpuhkan Aira demi bisa membawanya pergi. Di sisi lain, Yuki mulai bergerak aktif. Dia mendatangi Miracle, demi mengambil data tentang Naga Hitam yang telah Ken siapkan. Selain itu, Yuki sedikit menyinggung tentang wanita Rusia bernama Anna yang datang mengunjunginya, berharap mendapat sedikit petunjuk dari Ken maupun Kosuke.
"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan." Kosuke membatasi topik pembicaraan yang Yuki ungkapkan. "Tugas saya hanya menyampaikan dokumen itu. Silakan Anda baca terlebih dahulu. Jika ada yang ingin ditanyakan, Anda bisa menghubungi saya nanti."
Hening beberapa saat. Baik Kosuke maupun Yuki tak berbicara selama beberapa waktu.
"Apa ada yang lain, Tuan?" Kosuke memastikan tidak ada hal lain yang diinginkan oleh putra mendiang tuan Harada ini.
Yuki menggeleng. "Aku akan membaca dokumen ini dan menghubungimu secepatnya."
Kosuke mengangguk, mengiyakan apa yang pria ini ungkapkan. Dia harus segera mengusir tamunya ini.
"Baik. Mari saya antar."
Yuki cukup tahu diri. Kosuke sudah mempersilakan dia untuk pergi, itu artinya keberadaannya di sini tidak diinginkan lagi. Memang sejak awal ini inisiatifnya sendiri. Ken sama sekali tidak memintanya untuk datang ke Miracle. Tanpa Yuki ketahui, ternyata Ken mendengarkan percakapannya dengan Kosuke.
Kosuke segera melapor pada Ken begitu Yuki menghilang dari pandangan matanya.
"Dia benar-benar masih hidup." Suara Ken terdengar di telinga Kosuke melalui earpiece yang dipakainya.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"
"Berhati-hatiah dan lanjutkan rencana yang kakek perintahkan!"
"Baik, Tuan."
Kosuke kembali berkutat dengan tugasnya, mengurus dokumen yang Ken tinggalkan.
Puluhan kilometer dari Miracle Cosmetics Japan, sebuah pesawat pribadi siap lepas landas. Di dalam burung besi itu, berisi sepasang suami istri bersama tiga buah hati mereka dan beberapa pengawal khusus yang menyertainya.
"Tuan, kita siap berangkat sekarang." Sakura melapor. Dia yang bertanggung jawab atas perjalanan panjang mereka kali ini.
"Umm." Ken mengangguk. Tangannya menggenggam jemari Aira yang masih terlelap. Wanita ini masih belum sadarkan diri meski satu jam telah berlalu.
* * *
Matahari mulai kembali ke peraduannya saat Mone meletakkan senjata api di tangannya ke atas meja. Dia masih ada di tempat latihan menembak bersama Yamaken. Keduanya ada di sana sejak pagi, berlatih tanpa henti.
"Fisikmu tidak bisa bertahan lagi. Kita cukupkan sampai di sini." Mone menatap wajah Yamaken yang mulai tampak sedikit pucat.
"Tunggu. Biarkan aku mencobanya sebentar lagi." Yamaken masih berusaha fokus, membidik target di depannya. Tidak kurang dari lima belas meter, itu yang menjadi jarak antara papan target dengan pria rupawan ini.
Dor
Sebuah peluru kembali melesat, menuju papan kayu dengan lingkaran bulat sebagai porosnya. Tepat sasaran
Mone mengerutkan keningnya. Dari 50 kali percobaan yang Yamaken lakukan, separuh lebih selalu tepat sasaran. Sedangkan sisanya di lingkaran ke dua atau tiga dari dalam. Tidak buruk sama sekali.
__ADS_1
"Apa kamu membodohiku?" tanya Mone dengan penuh keraguan. Dia yakin Yamaken sering berlatih sebelumnya.
"Apanya?" Yamaken memasang wajah polos tanpa dosa andalannya.
"Sejak kapan kamu berlatih menembak?"
'Husbu sejuta umat' ini tersenyum, senang melihat wajah bulat di depannya yang tampak kesal.
"Kamu diam-diam berlatih menembak tanpa kakek ketahui. Benar, 'kan?" Mone masih menuntut penjelasan dari pria yang akan menjadi pendamping hidupnya ini.
"Ada benarnya, tapi ada juga yang salah," jawab Yamaken enteng. Dia membersihkan senjata api di tangannya sebelum memasukkannya lagi ke dalam tempat semula.
"Sudahlah, lupakan saja!" Mone enggan mengungkit hal ini lagi. Melihat kemampuan menembak Yamaken, dia tidak terlalu khawatir jika pria ini ada dalam situasi genting seorang diri. Dan itu artinya, bebannya sebagai seorang pelatih juga jadi sedikit berkurang.
"Tuan, Nona, silakan istirahat. Setelah makan malam nanti, ada latihan berkuda." Suara tuan Kobayashi menyela percakapan antara Mone dengan Yamaken.
Mone berbalik, menatap pria berumur itu dengan pandangan tidak suka.
"Latihan berkuda di malam hari? Yang benar saja?" gumam gadis 20 tahun ini. Dia mengalihkan matanya ke samping, enggan beradu pandang dengan tangan kanan kakek ini. Jika beliau datang, pasti ada berita buruk yang menyertainya. Menyebalkan!
Lain dengan Mone yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya, Yamaken justru terlihat tenang. Dia menatap kandang kuda di kejauhan. Tampak beberapa pegawai tengah sibuk di sana. Mereka lalu lalang di area kandang kuda terbuka, di sebelah kanan arena berlatih menembak ini.
"Tuan Muda," panggil Kobayashi saat Yamaken belum bersuara meski beberapa detik telah berlalu.
"Kami akan segera kembali. Terima kasih, Kobayashi-san." Yamaken segera menarik tangan Mone untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan orang kepercayaan kakek Subaru bersama para pengawal dan maid yang ada.
"Ayo."
"Ini pakaian untuk Anda nanti, Tuan, Nona."
"Hmm." Yamaken bergumam, "Letakkan di kamar."
Yamaken terus melangkah, melewati orang-orang yang bertingkah seperti boneka itu, selalu patuh tanpa pernah membantah sekali pun.
"Kita kemana?" tanya Mone saat langkah kaki mereka terus melaju, melewati aula utama.
Greg
Yamaken menutup pintu di belakangnya, berharap tidak ada satu pun pengawal maupun pelayan yang mengikuti mereka hingga ke tempat ini.
"Ada apa?" Mone menajamkan matanya, berharap melihat maksud tersembunyi dari sikap aneh yang Yamaken tunjukkan ini.
Cup
Tanpa menunggu waktu lama, Yamaken segera mencium bibir ranum di depannya. Mone yang terkejut hanya bisa terbelalak dengan napas tertahan.
Duk!
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Tautan itu terlepas dengan paksa, membuat Yamaken merasa kehilangan. Mone menendang tulang kering calon suaminya.
Mone semakin heran saat melihat kedua mata Yamaken yang berkilat tajam. Dia seperti Yamazaki Kenzo, sama persis. Ada. aura monster di sana. Dan itu terlihat sedikit menyeramkan.
"Yamaken?!"
Cup
Yamaken kembali mencium Mone, membuat gadis itu tak bisa bergerak. Pria ini tiba-tiba saja menjadi liar, buas, dan tak terkendali. Ada apa sebenarnya?
Mone berusaha melepaskan diri untuk yang kedua kalinya. Namun, Yamaken justru semakin mengeratkan tangannya di tengkuk dan pinggang gadis ini.
Tak cukup sampai di sana, jemari Yamaken mulai menyusup ke dalam pakaian Mone, meraba kesana kemari tanpa jeda. Mone hanya bisa menggigit bibirnya saat tautannya dengan Yamaken terlepas. Dia tidak bisa bersuara, ada geleyar aneh yang kini menyerangnya dengan hebat.
Tak hanya kedua tangan Yamaken, bibirnya juga bergerak aktif tanpa ampun. Dia mulai menikmati leher jenjang gadisnya yang sensitif. Dengan gerakan cepat, Yamaken membuka pakaian atas yang Mone kenakan dan membuat tanda cinta di bagian tertutup itu.
Mone menutup mulutnya dengan tangan. Dia hampir saja berteriak saat Yamaken melakukan hal gila ini. Ini pertama kalinya seseorang memperlakukannya dengan tidak sopan, namun dia tidak bisa melawan. Dia sendiri ingin disentuh. Napasnya mulai memburu, sama seperti Yamaken yang semakin berkeringat.
Mone memejamkan matanya. Dia tidak bisa menahan hasrat di dalam dirinya yang ikut bergejolak. Dia tahu perasaan apa ini. Rasa yang belum pernah di dapatkan sebelumnya.
"Cukup sampai di sini!" Tiba-tiba suara Yamaken menyapa indera pendengaran Mone, membuat gadis itu membuka kedua matanya.
"Eh?"
Mone menatap kekasih hatinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia ingin lebih dan lebih lagi. Gairahnya sudah terpancing atas perlakuan seduktif yang Yamaken lakukan padanya.
Di saat Mone mulai menikmati permainan panas ini, Yamaken justru mengakhirinya dengan tiba-tiba. Pria itu kembali terlihat tenang seperti biasa, membenahi pakaian Mone yang sedikit berantakan.
"Ayo kembali." Yamaken kembali menarik tangan Mone, keluar dari gudang senjata yang menjadi saksi bisu keganasan pria yang selalu tersenyum hangat ini.
Mone diam. Dia tidak bisa melawan, hanya menurut saja saat Yamaken membawanya berjalan kembali ke bangunan utama rumah ini. Koridor panjang yang keseluruhannya terbuat dari kayu, tak lagi masuk dalam perhatian Mone. Dia tidak memperhatikan sinar lampu kuning keemasan yang selalu dia kagumi saat menikmati malam di tempat ini. Perhatiannya hanya satu, punggung bidang Yamaken.
'Ada apa ini? Kenapa dia terlihat lain? Apa benar dia Yamaken yang ku kenal? Atau....?' Berbagai pertanyaan dalam hatinya, membuat Mone kehilangan fokus. Dia tidak menyadari bahwa mereka sudah ada di depan ruangan pribadi kakek Yamazaki.
Tok tok tok
"Kakek, ini aku."
Yamaken mengetuk pintu di depannya. Entah apa lagi rencana yang dimiliki pria ini, Mone benar-benar tidak tahu apapun. Dia sendiri masih sedikit linglung, tidak bisa berpikir jernih seperti sebelumnya. Perasaan aneh di dalam hatinya tak kunjung reda, mengalahkan logika yang selalu ia andalkan selama ini.
"Masuk." Terdengar suara kakek dari dalam ruangan.
Bukannya masuk, Yamaken justru membalikkan badannya dan kembali mencium Mone. Dia melakukannya dengan singkat namun penuh perasaan, membuat hati gadis ini semakin lemah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia mempererat tautan jemarinya dengan Yamaken. Perasaan aneh itu muncul lagi. Rasa ingin disentuh lagi dan lagi, membuatnya hilang fokus total. Sama sekali tak bisa berpikir lagi.
...****************...
Duuuhhh si Abang Yamaken kenapa tiba-tiba gitu ya? Apa mungkin dia ini Ken, bukan Yamaken?
__ADS_1
See you next episode.
Hanazawa Easzy