
Matahari bersinar cerah saat Aira dan Ken membawa ketiga bayi mereka ke halaman belakang. Sakura dengan sigap membantu tuan dan puannya mendorong box besar tempat baby triplet berbaring nanti. Satu dua kelopak bunga sakura tersisa di dahan, hampir tertutup oleh kuncup daun yang mulai bermunculan.
"Time flies so fast...." gumam Aira sambil menengadahkan kepala. Ia memperhatikan langit yang hari ini terlihat begitu cerah. Awan putih berarak perlahan, sangat kontras dengan langit yang berwarna biru di belakangnya.
(Waktu begitu cepat berlalu)
"Benar. Kita bahkan tidak sempat menikmati hanami bersama anak-anak." Ken menimpali pernyataan istrinya.
Hanami adalah kegiatan menikmati keindahan bunga sakura. Beberapa orang sengaja piknik di taman sambil menggelar tikar. Mereka duduk santai di atasnya, mengobrol dengan sanak saudara atau pasangan tentang keindahan bunga musim semi ini.
Hanami muncul selama periode Heian (794-1185). Festival ini merupakan kesempatan untuk mengagumi keindahan bunga sakura yang bermekaran. Selain diadakan untuk dapat dinikmati keindahannya, ternyata hanami sendiri memiliki filosofi yang cukup dalam.
Berdasarkan filosofi “mono no oware” atau mengapresiasi keindahan yang fana, hanami atau lebih tepatnya bunga sakura itu sendiri ditujukan kepada manusia agar mereka dapat lebih mengintrospeksi diri sendiri. Layaknya bunga sakura yang indah, mungil, dan hidupnya singkat, manusia diharapkan dapat melakukan yang terbaik selama hidup di kehidupan yang singkat ini.
Dan karena mengurus kekacauan yang disebabkan oleh tuan Harada dan nyonya Hanako, membuat Ken maupun Aira tak sempat menikmati keindahan bunga berbagai warna ini.
"Sayang sekali ya. Padahal ini sakura keduaku di sini. Dulu aku begitu sibuk berlatih demi masuk ke akademi, dan tahun ini harus membereskan tikus pengerat yang menyebalkan itu." Aira mengembuskan napas beratnya. "Ah, omong-omong bagaimana perkembangannya? Kamu sudah menemukan jejak tuan Harada?" tanya Aira antusias. Ia lebih bersemangat membahas buronan mereka, seolah siap menjadi eksekutor saat orang itu ditemukan nanti.
"Dia terlihat di salah satu klinik kesehatan beberapa hari yang lalu." Ken meletakkan Akari ke dalam box dan membantu membuka penutup kepalanya. Hal yang sama ia lakukan pada kedua putra putrinya yang lain.
"Bagaimana keadaannya?" Aira khawatir orang itu akan kembali lagi setelah lukanya sembuh.
"Lukanya belum sembuh, bahkan sekarang mulai membusuk. Dia tidak berani datang ke rumah sakit, takut orang-orang suruhan kakek menangkapnya lagi." Ken menaikkan sebelah bibirnya, meremehkan pengkhianat itu. "Dia tidak akan sembuh dengan mudah. Racun itu sudah menyebar ke dalam tubuhnya. Dia akan mati perlahan-lahan."
"Racun?" Kening Aira berkerut dalam. "Aku tidak tahu kakek akan meracuninya."
"Bukan kakek, tapi kamu." Ken tersenyum pada istrinya.
"Heih? Aku?" Aira menunjuk hidungnya sendiri, tidak menyangka akan mendengar pernyataan aneh dari suaminya.
"Benar. Belati yang kakek berikan padamu mengandung racun. Jika mata pisaunya menggores tubuh seseorang, maka racunnya akan masuk melalui pembuluh darah yang terbuka. Itu tidak akan membunuh mereka, tapi akan membuat darahnya sulit membeku dan pada akhirnya mereka mengalami infeksi lain yang lebih mengerikan. Terlebih lagu, pisau mungil itu tak hanya menggores tuan Harada, bahkan menancap di bahunya selama beberapa jam. Aku yakin lukanya itu tidak akan sembuh dengan mudah. Dia akan mati, paling lama dua bulan ke depan."
Deg!
"Apa aku yang membunuhnya?" Hati nurani Aira memberontak. Ia tidak bermaksud membunuh pria paruh baya itu. Sama sekali tidak. Itulah sebabnya ia menyasar bahunya saat melemparkan belati itu. Jika saja Aira ingin membunuhnya, akan lebih baik jika mengarahkan senjata khusus itu tepat di keningnya.
Ken mendekat ke arah istrinya, mencengkeram puncak lengannya erat-erat. Ia bisa merasakan tubuh Aira yang sedikit gemetar sejak beberapa detik yang lalu.
"Tenanglah. Semua ini sama sekali bukan salahmu. Pengkhianat sepertinya pantas mendapat hukuman seperti itu." Ken membawa Aira ke dalam pelukan, berusaha meredakan gemuruh di dalam hati istrinya.
Aira membalas pelukan Ken dengan erat. Ia melingkarkan tangannya di belakang pinggang laki-laki yang sudah membawanya pergi dari Indonesia setahun yang lalu. Aroma lavender seketika menyapa indera penciumannya dan membuatnya sedikit lebih tenang. Ya, suaminya itu kini suka memakai parfum favoritnya. Pernah sekali waktu Aira menanyakannya tapi Ken menjawab bahwa aroma lavender membuat Ken terus jatuh cinta padanya. Entah apa alasannya yang sebenarnya, pasti itu hanya sekadar bualan pria genit itu.
"Dia pergi ke Thailand untuk mengobati lukanya. Disana ada organisasi hitam yang mengklaim bahwa mereka bisa menyembuhkan segala jenis luka. Entah itu sungguhan atau hanya bualan orang-orang bodoh itu saja."
"Thailand?" Aira melepaskan dekapan Sang Suami dan menatap tepat di manik matanya yang hitam pekat.
"Umm. Ada apa?" tanya Ken.
"Micro chip yang tertanam di tangannya mungkin tidak bisa terbaca lagi."
"Eh?" Ken terkejut dengan pernyataan istrinya.
"Sakura, tolong ambilkan laptop untukku." Aira menghadap pengasuh putranya yang sekaligus bertugas sebagai asisten pribadi untuk menggantikan Minami.
__ADS_1
"Baik."
Sakura segera melaksanakan perintah puannya. Ia kembali ke tempat itu beberapa detik kemudian.
Ken dan Aira duduk berdampingan, menatap layar pipih yang kini menampilkan pemandangan yang tak biasa. Aira berusaha melacak sinyal GPS yang tersimpan dalam benda seukuran sebutir beras yang tertanam di sela ibu jari dan jari telunjuk tuan Harada.
"Kapan dia meninggalkan Jepang?" tanya Aira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Jemarinya bergerak aktif, menuliskan berbagai kode aneh yang ia hafal di luar kepala.
"Dia sampai di Bangkok pagi ini, sekitar dua jam yang lalu." Ken menatap arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Apa orang-orang kita masih mengikutinya? Aku tidak bisa membaca sinyal GPSnya. Terakhir terbaca di bandara, setelah itu tidak ada jejaknya sama sekali." Aira masih berkutat dengan tuts di depannya, mencoba melacak sinyalnya sekali lagi.
Ken langsung menghubungi asisten pribadinya begitu melihat gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah Sang Istri.
"Sial. Orang-orang kita juga kehilangan jejak." Ken mengungkapkan laporan yang ia minta dari Kosuke, dua detik yang lalu.
"Hubungi senior!" titah Aira.
"Senior?"
"Dia sedang bulan madu di Thailand. Aku akan mengirimkan kode microchip itu padanya. Kamu hubungi dia dan minta dia melacaknya!" Aira berpikir cepat. Hanya itu jalan pintas yang mereka miliki.
"Umm." Ken segera menjauh dari ketiga anaknya dan mulai menghubungi Shun.
"Ada apa?" tanya Shun enggan. Dia sedang menikmati bulan madunya bersama Kaori. Ada begitu banyak tempat yang belum mereka kunjungi di negeri Gajah Putih itu.
Shun merasa saat pewaris yakuza satu ini menghubunginya, pasti tidak ada hal baik yang akan ia dengar. Pria 28 tahun itu pasti ingin meminta bantuannya. Dia akan memberikan imbalan yang besar, tapi untuk saat ini Shun benar-benar tidak menginginkannya. Dia ingin menikmati liburan ini bersama istrinya.
"Orang-orangku mengatakan bahwa 'dia' kabur ke Thailand. Jangkauan GPS yang aku tanamkan di tubuhnya sedikit sulit dibaca dari sini. Aku akan merepotkanmu lagi kali ini." Ken langsung mengucapkan perintahnya begitu Shun menjawab panggilan telepon darinya.
"Aku akan membiarkanmu menggunakan orang itu sebagai kelinci percobaan. Microchip yang tertanam di tangannya, itu adalah inovasi terbaru dari Miracle. Aku akan kirimkan datanya lewat email. Aku harap itu tidak akan mengganggu liburan kalian. Sampai jumpa."
Tut tut tut
Ken memutuskan secara sepihak sambungan dua arah itu. Dia tidak menerima penolakan sama sekali. Sebelum Shun melawannya, lebih baik ia matikan teleponnya.
"Bagaimana?" tanya Aira.
"Dia pasti akan melakukannya. Tenanglah." Ken berdiri di sambing Aira dan mengelus puncak kepalanya untuk menenangkan.
"Apa ini sungguh baik-baik saja?"
"Umm." Ken menutup laptop di pangkuan Aira dan membawanya ke sisi badan. "Kamu jaga anak-anak dengan baik. Urusan ini, biar aku yang menyelesaikannya. Percayalah padaku, Sayang."
Cup
Ken mencium kening Aira selama beberapa detik, membuat ibu tiga anak itu memejamkan matanya sejenak. Kekhawatirannya sedikit mereda, meski tak bisa hilang seluruhnya.
"Aku berangkat ya. Sampai jumpa nanti malam."
Cup
Ken kembali mengecup kening Aira, namun hanya sepersekian detik saja. Itu adalah ritual rutin sebelum ia pergi bekerja. Tak lupa ia mendaratkan kecupan hangat pada tiga jagoannya secara bergantian. Dan selalu menghujani Aya dengan ciuman di seluruh wajahnya. Tampaknya anak gadisnya itu yang akan menjadi kesayangan Ken kedepannya.
__ADS_1
"Daddy pergi dulu. Kalian baik-baik di rumah. Tunggu samlai daddy pulang, kita main bersama." Ken melambaikan tangannya pada ketiga bayi merah yang kini semakin aktif bergerak, membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas.
Ken sedikit berlari menuju pintu keluar dimana Kosuke sudah ada di sana. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh kembali ke belakang dan melambaikan tangannya pada Aira.
"Aishiteru," ucap Ken tanpa suara. Ia hanya menggerakkan bibirnya dari kejauhan, namun Aira tahu apa yang suaminya itu ucapkan.
(Aku cinta padamu)
Aira mengangguk mantap, menerima pernyataan manis dari suaminya. Ya, selama ini selalu Ken yang berinisiatif mengucapkan kata-kata seperti itu. Aira merasa beruntung karena mendapat suami yang begitu mencintainya, tentu saja terlepas dari sifat buruknya sebagai serigala liar yang terkadang muncul tiba-tiba seperti semalam. Ah, sudahlah.
Aira mendekat ke arah ketiga buah cintanya dengan Ken dan mendapati tubuh mereka sudah hangat.
"Sakura, ayo bawa mereka masuk," ajak Aira pada pengawal kepercayaan ibunya ini.
"Baik, Nyonya." Sakura segera melaksanakan perintah puannya, membawa mereka kembali ke dalam ruangan. Sementara Aira masih belum beranjak dari duduknya. Ia masih ingin ada di sini beberapa menit kedepan, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk membuat pikirannya semakin tenang.
Sepeminuman teh kemudian, seorang asisten rumah tangga berlari mendekat ke arah Aira. Napasnya terengah-engah dengan dada yang naik turun, menandakan bahwa ia begitu tergesa-gesa untuk datang kemari.
"Maaf, Nyonya. Ada telepon untuk Anda," ucapnya setelah mengambil napas sejenak.
Aira menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati salah satu asisten kepercayaannya di sana. Ia berdiri dua langkah di belakangnya sambil menundukkan kepala. Tangannya terulur, menyerahkan ponsel miliknya yang ia tinggalkan di dalam kamar.
"Untukku?" tanya Aira memastikan. Ia menerima benda elektronik itu dan segera memeriksa siapa yang menghubunginya pagi-pagi begini. Yang pasti bukan Ken, karena pria itu baru saja menghilang dari pandangannya dua menit yang lalu.
Tenyata Kaori yang menghubunginya dan menanyakan misi apa yang Ken minta Shun lakukan. Kaori juga mengungkapkan bahwa Shun terlihat marah.
"Ken ingin suamimu melacak keberadaan tawanan kami yang kabur. Aku sudah menanamkan microchip di punggung tangannya." Aira mengungkapkan jawaban yang ingin Kaori dengar.
"Tawanan kalian?" tanya Kaori, tidak yakin dengan dugaannya.
"Ya. Mantan ayah mertuamu, Hayato Harada-san."
Deg!
"Ada apa dengan tuan Harada?" Kaori berusaha bersikap sewajarnya, menyembunyikan dendam yang tersimpan di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, orang itu yang sudah memaksanya berpisah dengan Yuki, suaminya yang tak lain adalah putra sulung keluarga Harada.
"Dia pergi dari Jepang menggunakan penerbangan terakhir semalam. Dan baru sampai di Bangkok pagi ini. Sayangnya, sinyal GPS yang ada di tubuh tuan Harada perlahan menghilang dan tidak bisa dibaca dari sini. Aku harus merepotkan kalian lagi untuk mencari jejaknya sebelum seseorang membantunya melepaskan microchip itu. Maafkan aku," ucap Aira tulus. Ia tak enak hati karena harus mengganggu liburan bulan madu Shun dan Kaori.
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu merasa sungkan pada kami. Bahkan jika suamiku menolak untuk membantumu, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menemukan ayah mertua 'kesayanganku' itu." Kaori menyatakan kesanggupannya dalam misi kali ini.
"Baiklah. Terima kasih." Aira tersenyum.
"Umm. Aku akan mengatakan hasilnya sesegera mungkin. Jangan cemaskan apapun, semua akan baik-baik saja." Kaori berpesan pada ibu menyusui ini.
"Terima kasih, Kaori-san," pungkas Aira.
"Sama-sama."
Panggilan dua arah itu terputus setelahnya. Membuat masing-masing kembali pada aktivitasnya semula.
...****************...
See you next episode,
__ADS_1
Hanazawa Easzy