
Sebuah mobil hitam mengilap terhenti di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Dua orang tampak keluar dari kendaraan roda empat itu. Satu seorang pria dengan pakaian serba hitam, sementara seorang lagi wanita dengan perut yang mulai terlihat membuncit.
"Kamu sudah memastikan nona Mone ada di tempat?" tanya Kosuke, menatap istrinya dari samping. Keduanya jalan bersisian, menuju lobi utama apartemen mewah ini.
"Ya. Nona baru saja kembali setelah kelas berkuda bersama tuan muda Yamaken."
Langkah kaki Kosuke terhenti seketika. "Tuan Yamaken ada bersamanya?"
Minami menoleh, menatap suaminya dengan pandangan selidik. "Ya. Mereka berkuda bersama dan sekarang ada di atas. Ada masalah?"
Sesaat pria itu ragu. Dia tidak tahu jika Yamaken bersama nona muda 21 tahun itu.
"Hey, ada apa?" Minami menyentuh tangan suaminya, menuntut jawab atas pertanyaannya.
Kosuke menggeleng. "Tidak apa. Tuan Ken hanya memintaku untuk memberitahuka nona Mone saja, tidak dengan tuan Yamaken."
Minami ikut berpikir. "Tapi, dia tidak melarangnya, 'kan? Maksudku, tidak ada masalah jika tuan Yamaken tahu masalah ini. Mereka akan segera menikah, tidak ada rahasia lagi diantara keduanya."
Kosuke terdiam. Benar apa yang istrinya katakan ini, seharusnya dua orang itu saling berbagi dan tidak menyembunyikan apapun. Terlebih ini terkait dengan keselamatan keduanya. Jika Mone ada dalam bahaya, pasti Yamaken ikut terluka.
"Ayo!" Minami menarik tangan Kosuke untuk masuk ke dalam kotak besi di hadapan mereka. Pintunya terbuka satu detik yang lalu, siap membawa keduanya menuju lantai dua puluh tempat kediaman Mone dan Shun berada.
Di saat yang sama, Mone tengah membalik omelet telur di atas wajan. Dia merasa sedikit kesulitan. Ini pertama kalinya dia masak sendiri. Selama ini hanya mengandalkan para pelayan ataupun jasa tukang masak panggilan yang sering dipakai oleh Shun. Kalaupun tidak memanggil chef itu ke rumah, dua kakak beradik yang tidak sedarah itu memilih menggunakan layanan pesan antar dari restoran favorit mereka. Benar-benar konsumtif.
"Aku takut." Mone menggerakkan spatula di tangannya dengan takut-takut. Satu kakinya mundur ke belakang, membuat tangannya kembali menjauh dari wajan.
Yamaken terkekeh geli. Dia benar-benar menikmati pemandangan itu. Seorang wanita tangguh seperti Mone, ternyata tidak bisa diandalkan di dapur. Dia mati kutu. Tidak bisa berkutik saat dihadapkan dengan segala perabotan memasak. Padahal, seorang perempuan identik dengan aktivitas masak memasak. Tapi, tidak demikian dengan gadis satu ini.
"Seperti ini caranya." Yamaken berdiri di belakang Mone, membimbing tangan mungilnya mendekat ke arah masakan super simpel itu. Tubuh mereka bersentuhan, dada bidang Yamaken menempel di punggung wanita kesayangannya.
Deg
Mone hilang fokus. Parfum yang Yamaken pakai menyapa indera penciumannya, membuat jantungnya seolah berhenti satu detakan. Dia melirik pria yang kini membantunya, membalik omelet telur yang sudah matang untuk kemudian diletakkan ke atas piring.
"Taraaa.... Mudah 'kan?" Yamaken memamerkan senyum terbaiknya di depan putri semata wayang mendiang tuan Kamishiraishi ini. Dia begitu bahagia karena beberapa hari ini Mone terus ada bersamanya.
Mone diam seribu bahasa. Dia menundukkan wajah, merasa malu karena tidak bisa diandalkan memasak. Padahal, sesuai kesepakatan, harusnya Mone yang menyiapkan makan siang kali ini.
"Hey, ada apa dengan wajahmu?" Yamaken mengangkat dagu wanitanya setelah mereka saling berhadapan. "Kenapa calon istriku ini jelek sekali?" sindir aktor tampan ini, mencubit pipi bulat Mone.
"Maaf," ucapnya lirih.
Hal itu membuat kening Yamaken berkerut dalam. "Maaf? Untuk?"
Mone menundukkan kepalanya semakin dalam. Dia benar-benar malu disandingkan dengan pria multitalenta ini.
"Aku akan mengambil kelas memasak mulai besok."
Senyuman di wajah Yamaken semakin lebar. Dia tidak tahu kenapa Mone begitu imut seperti ini saat tidak bisa mengatasi tantangan yang dia berikan. Perlahan namun pasti, Yamaken meraih jemari Mone dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu melakukannya." Keduanya saling bertatap mata, bertumbuk di titik yang sama.
"Tapi..." Suara Mone terdengar lirih. "Aku tidak bisa memasak untukmu dan anak-anak kita nantinya."
Yamaken kembali tersenyum, kali ini mengelus puncak kepala wanitanya. "Aku menikah denganmu karena aku menyukai semua tentangmu. Bukan hanya kelebihanmu, tapi juga semua kekurangan yang kamu miliki."
Mone menggigit bibirnya, merasa terharu mendengar penuturan Yamaken padanya.
"Aku tidak peduli jika kamu tidak bisa memasak atau mengurus rumah. Aku menikah untuk membahagiakanmu, bukan mencari juru masak ataupun pengurus rumah tangga. Bukan sama sekali."
Bulir-bulir air mata segera berjatuhan, menunjukkan hati gadis 21 tahun ini yang tersanjung mendapati calon suaminya begitu lemah lembut dan sangat menyayanginya.
"Uangku banyak. Kamu tidak perlu khawatir tidak bisa membayar mereka sampai menangis seperti itu." Yamaken menghapus bekas air mata di pipi gadisnya. Pria tampan ini coba berkelakar, tidak ingin melihat wanitanya kembali berderai air mata.
"Lihat wajah jelekmu itu. Aku jadi ingin cepat-cepat menikah denganmu." Ken mencubit hidung Mone, membuat kesedihan gadis ini berganti dengan rasa kesal yang diam-diam mengakar.
"Singkirkan tanganmu!" Mone menepis tangan Yamaken, membuang muka dengan segera.
Cup
Yamaken diam-diam mencuri kecupan dari Mone sebelum berlalu pergi membawa omelet di atas piring ke meja makan. Pria itu bersikap seolah tidak terjadi apapun, duduk di atas meja dan mulai menikmati makan siangnya.
Blush
Wajah Mone merah merona. Dia tidak bisa bergerak leluasa, seolah kakinya tertancap ke lantai yang ada di bawahnya.
"Umm. Oishii." Yamaken semakin lahap menikmati santap siangnya, pura-pura mengabaikan wanita yang kini berdiri dua meter di belakangnya.
Mone diam-diam mendekat dan duduk di seberang Yamaken. Dia menatap semangkuk nasi, sup daging buatan Yamaken, dan olahan telur hasil karyanya di atas meja. Sejujurnya, dia juga lapar, tapi canggung makan bersama dengan pria 28 tahun ini.
"Buka mulutmu." Yamaken menyuapkan satu potong telur goreng itu ke dekat mulut Mone, membuat calon istrinya terhenyak.
"Bukankah kamu lapar? Ayo makan."
Mone membuka mulutnya dan membiarkan makanan berwarna kuning itu masuk ke dalam mulutnya.
"Hmmp." Mone menutup mulutnya dengan tangan. Dia segera berlari ke arah tong sampah dan mengeluarkan makanan di dalam mulutnya.
Lagi-lagi Yamaken terkekeh geli, menyaksikan Mone yang kini kepayahan mencari air minum untuk menetralkan indera perasanya yang kebas seketika. Omelet buatannya terlalu banyak garam. Asin!
Pria dengan sejuta pesona ini melanjutkan makannya, seolah lidahnya mati rasa. Dia tetap memakan olahan telur buatan Mone dengan lahap.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa masih memakannya?" Mone bersiap mengambil piring di atas meja agar Yamaken berhenti memakannya.
Grep
Pria dengan julukan Husbu sejuta umat itu sigap mencengkeram wadah keramik di atas meja, membuat Mone mengerutkan keningnya.
"Sayang, duduk di kursimu sendiri dan nikmati makan siangnya."
__ADS_1
Mone berkeras menarik piring itu dari penguasaan Yamaken, tapi tidak berhasil. Tenaganya tidak sebanding dengan pria ini.
"Duduk atau aku akan menciummu lagi seperti tadi." Yamaken sengaja mengancam wanita ini, membuat nyalinya menciut.
Mau tak mau, Mone melepas cekalan tangannya. "Itu mungkin bisa membunuhmu!" sarkasnya, kesal karena Yamaken tidak mengizinkannya menyingkirkan omelet super asin itu.
Senyuman Yamaken kembali terukir. "Tidak ada orang mati keracunan garam. Kalaupun itu benar terjadi padaku, itu tidak masalah. Namaku akan tercatat di buku rekor dunia dengan penyebab kematian teraneh sepanjang masa. Keracunan garam. Hahahahaa." Tawanya menggema, membuat Mone kesal.
Dia tidak ingin mendebat pria ini, membiarkan argumennya tak terbantahkan. Karena memang belum pernah ada satu pun kasus seperti itu.
Mone menikmati santap siangnya dalam diam. Dia sesekali mengamati Yamaken yang terus memakan omelet buatannya sampai habis.
'Apa yang pria ini rasakan? Apa lidahnya mati rasa?' batin Mone bertanya-tanya.
"Lidahku masih berfungsi dengan baik," cetus Yamaken, menjawab pertanyaan Mone. Meski tak mengungkapkannya, tapi terlihat jelas raut wajahnya penuh pertanyaan. "Tapi, ini adalah makanan pertama yang kamu buatkan untukku. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakannya?"
Lagi-lagi Mone dibuat terharu oleh perhatian Yamaken. Jarang ada pria yang begitu pengertian sepertinya.
"Jangan menangis! Sejak kapan kamu jadi cengeng seperti ini, huh?" Yamaken menoel pipi Mone, menghapus bulir yang terkumpul di sudut matanya. "Sudah. Cepat habiskan makananmu."
Yamaken beranjak, membawa bekas makan miliknya kembali ke dapur. Pria ini sigap mencucinya, tak menunggu Mone melakukan hal sepele ini untuknya.
Mone sekakin terharu. Dia merasa beruntung memiliki seseorang yang begitu pengertian seperti Yamaken. Dia pria paling baik di dunia yang pernah dia temui.
'Aku adalah wanita paling beruntung di dunia,' ucap Mone dalam hati.
Ting tong
Suara bel terdengar nyaring, memecah keheningan sepasang muda mudi yang saling mendamba itu.
"Siapa? Kamu mengundang seseorang?" tanya Yamaken sambil mengeringkan tangannya dengan handuk di samping wastafel.
Mone mengangguk. "Sepertinya Murasawa-san sudah datang."
Kening Yamaken berkerut. "Kosuke?"
Mone mengangguk, mengangkat piring bekasnya ke belakang.
"Untuk apa dia datang kemari?" tanya Yamaken.
Mone mengangkat bahunya. Dia sendiri belum tahu apa yang akan asisten pribadi kakak iparnya itu bicarakan. Pastilah sesuatu yang penting.
* * *
Uwwuuuuu sweet sweetnya udahan dulu, tinggal action-actionnya yaa. See you next episode. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Author miss you all,
Salam sayang dari ayang Ken yang lagi bikin adek buat Aya *ehhh. Ahahahahaaa
Bye bye...
__ADS_1
Hanazawa Easzy