Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Adik Pengecut


__ADS_3

Ken berjalan dengan cepat, meninggalkan ruanan VIP yang dipesan oleh ibu mertuanya. Dia merasa canggung setelah kegiatan panasnya dengan Aira tertangkap basah oleh wanita paruh baya itu.


"Hampir saja aku lepas kendali," keluh Ken, menyeka peluh yang membasahi pelipisnya. Saking terburu-burunya meninggalkan tempat itu, sampai membuat napasnya tersengal.


Ken segera membasuh wajahnya, menyapukan air dingin dari kran di hadapannya ke wajah putih mempesona yang menjadi salah satu kelebihannya. Dia harus segera mendinginkan kepala agar bisa berpikir yang semestinya. Tujuan kedatangannya dengan Aira ke sini adalah untuk makan bersama setelah menjemput Anita, bukan yang lain.


Detik berikutnya, kepala Ken terangkat, menatap cermin besar di hadapannya. Bayangan wajah Aira kembali terbayang di pelupuk matanya. Bagaimana wanita itu tersenyum, tertawa, bahkan merajuk. Ken bisa mengingat semuanya dengan mudah.


"Benar-benar yaa!" Ken menggelengkan kepala sebelum membasuh wajahnya lagi sampai berkali-kali, menyingkirkan pikiran aneh yang mulai menghantui kepalanya. Jika saja ibu mertuanya tidak datang, mungkin tangannya sudah mulai bergerilya, meraba tubuh Aira.


"Shit!" umpatnya, merasa bodoh karena tidak bisa mengendalikan nafsunya hanya karena sapaan pria tua tadi. Dia cemburu pada orang yang usianya sudah enam puluhan? Astaga!


'Bukankah semua orang Indonesia memang ramah? Kenapa aku cemburu?' Ken memutar bola matanya, heran dengan responnya. Dia bersikap impulsif, seolah Aira akan berpaling ke laki-laki lain dengan mudahnya. Jelas-jelas wanita itu hanya miliknya. Dan lagi, yang menyapa itu aki-aki, mungkin sepantaran kakek Aira, jika masih ada.


Plakk


"Astaga! Kenapa aku tiba-tiba jadi bodoh seperti ini?" Ken menepuk keningnya sendiri, merasa tidak puas dengan isi kepala yang tidak bisa berpikir jernih. Dia menyesali perbuatannya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Semua sudah terlambat.


"Apa Ai-chan akan marah padaku?" gumam Ken, menatap pantulan wajah tampannya di depan sana. Meski kacanya terlihat sedikit buram, tapi tidak bisa menyembunyikan pesona wajah bak seorang dewa yang dimilikinya.


BAMM


Ken terperanjat saat mendengar debaman pintu dari ruang sebelahnya. Siapa yang marah-marah tidak jelas di tempat umum seperti ini?


Drrtt ddrrtt


Getaran ponsel di saku membuat Ken mengurungkan niatannya untuk melangkah pergi. Ia mengambil benda pipih itu dan mendapati nama Sang Adik tampak di layarnya.


"Untuk apa menghubungiku?" lirih Ken sebelum menggeser ikon telepon warna hijauh ke samping kanan. Dia tidak begitu dekat dengan Yamaken. Mereka jarang sekali berkomunikasi.


"Ken," panggil Yamaken, lirih dan dalam seolah pria itu merasa terbebani

__ADS_1


"Apa?" tanya Ken to the point. Dia tahu pasti ada hal yang penting. Jika tidak, Yamaken tidak akan menghubunginya.


"Dimana kakak ipar? Aku butuh bantuannya."


"Dia tidak ada." Ken menjawab dengan nada ketus dan super singkat


Bip!


Ken mematikan sambungan dua arah itu secara sepihak, membuat Yamaken yang ada di seberang menjadi kesal. Dia memiliki pertanyaan penting untuk Aira tapi tidak bisa menghubunginya. Dan Ken dengan seenak jidat mematikan sambungan telepon sebelum pria rupawan itu mengungkapkan pertanyaannya.


"Ada apa? Ai-chan ti--"


"Jangan matikan teleponnya!" ketus Yamaken dari kejauhan setelah Ken mengangkat teleponnya. "Aku ingin tanya, apa kalian tahu kedatangan Maria?"


Kening Ken berkerut dalam. Dia yakin adiknya yang super tampan itu sudah tahu duduk permasalahan yang tengah mereka hadapi ini. Jika tidak, untuk apa bertanya tentang seorang wanita Rusia bernama Maria.


"Ada masalah?"


"Apa kalian akan segera kembali untuk menyelesaikan permasalahan ini?" Bukannya menjawab pertanyaan kakak kembarnya, Yamaken justru menanyakan hal lainnya. Entah kenapa dia lebih yakin Anna akan bisa dikalahkan jika Ken dan Aira ikut campur tangan mengurusnya.


Ken terkekeh. Dia keluar dari dalam kamar mandi pria dan berdiri di depan pintu, menghadap taman luas. Tampak ada beberapa hewan yang dibiarkan terlepas. Pagar yang terbuat dari besi setinggi setengah badan menjadi pembatas untuk menjaga agar hewan itu tidak mengganggu pengunjung restoran, begitu pun sebaliknya.


"Untuk apa kami kembali?" sarkas Ken, menatap arloji di pergelangan tangannya. Ia meninggalkan ruang makan lima menit yang lalu, sudah waktunya untuk kembali.


"Giliranmu beraksi. Apa gunanya berlaga di depan kamera saja? Sekarang saatnya kamu menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya, Gangster Boy!"


Yamaken meneguk ludahnya dengan paksa. Semangatnya membara mendengar titah kakaknya. Tapi, itu hanya sekilas saja. Rasa tidak percaya diri kembali datang. Pria ini merasa insecure atau minder jika mengingat kemampuan Mone sebagai seorang Black Diamong. Kemampuannya tidak ada apa-apanya dibandingkan iblis wanita itu.


"Kenapa diam?" Ken menaikkan sudut bibirnya, tahu bahwa Yamaken meragu. Dia tidak percaya diri dengan kemampuannya seolah semua yang ada di hadapannya menjadi begitu sulit.


"Dia ahli segalanya. Dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri." Suara Yamaken terdengar lirih, tidak bersemangat sama sekali. Kemampuan Mone yang begitu luar biasa membuat pria ini berpikir bahwa keberadaannya tak mungkin dibutuhkan di sisi wanitanya.

__ADS_1


"Dasar pengecut!" cemooh Ken pada adik kandungnya sendiri. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Yamaken yang seolah menyerah dengan mudah. Padahal dunia bawah tanah tidak begitu mengerikan seperti apa yang ada dalam bayangan pria 28 tahun itu. Hanya saja adiknya itu belum pernah terjun langsung, terlalu asik bermain peran.


"Lakukan saja apa yang hatimu katakan. Tidak perlu takut terluka. Ada ratusan atau bahkan ribuah dokter di kota yang bersedia mengobati cideramu nanti."


"Kamu mendoakanku agar terluka?"


Ken terkekeh. "Bagaimana bisa? Aku bersyukur jika kamu terluka. Itu artinya kamu masih hidup."


Yamaken tidak berkomentar. Dia sibuk menimang-nimang, jalan mana yang akan ia ambil. Dengan kemampuan yang seadanya, bisakah dia membantu Mone mempertahankan hidupnya? Entah lawan seperti apa yang akan mereka hadapi.


Yamaken mengambil napas dalam. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Ken tak lantas menjawab. Dia ingat bahwa permasalahan dengn Maria tidak sesederhana yang terlihat.


"Kamu punya earpiece? Aku akan memandumu, stand by untukmu 24 jam."


"Aku akan memintanya pada Kosuke nanti." Yamaken tersenyum. "Ini baru kakakku," pujinya.


Lagi-lagi Ken terkekeh sambil berdecih. "Cih. Aku malu punya adik pengecut sepertimu."


"Setidaknya adik pengecutmu ini cukup tampan untuk dijadikan pajangan."


Dua bersaudara itu terus berbincang, membahas Anna dan juga Maria.Ken mengingatkan agar Yamaken selalu membawa senjata api bersamanya.


Ken tidak menyadari, ada sepasang mata milik seorang wanita yang tengah menatapnya dengan pandangan membunuh. Jelas terlihat dia menyimpan dendam kesumat yang amat sangat.


"Masih bisa tersenyum, heh?" gumamnya sambil mengepalkan tangan. Kakinya melangkah tanpa suara, mendekat ke arah Yamazaki Kenzo yang masih asik berkutat dengan ponsel di tangannya.


Siapakah dia? Kawan atau lawan? Nantikan di bab berikutnya. See you,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2