
"Nona... Buka matamu. Anda bisa mendengarku?"
Tak ada respon.
"Nona... Nona..." Minami memeriksa keadaan Aira yang sepertinya muntah darah beberapa saat yang lalu. Denyut nadinya juga semakin melemah. Dengan cekatan ia membawa Aira ke rumah sakit dibantu seorang rekannya.
Sepanjang perjalanan ia berusaha menghubungi Ken tapi tak ada jawaban. Sepertinya tuannya itu tidak membawa ponsel, atau ia sedang dalam perjalanan. Tak ada jalan lain, Minami menghubungi kediaman tuan besar, Tsuguri-sama.
1 jam berlalu
"Bagaimana keadaan menantuku?" Sumari berlari menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.
"Mari bicarakan di ruangan saya. Ah, dimana suaminya?"
Sementara di tempat lain, seorang pria berdiri di pinggir danau dalam kegelapan. Ya, siapa lagi kalau bukan Ken. Motornya yang berwarna merah terparkir di trotoar, beberapa meter di belakangnya.
Ken melemparkan batu ke air membuat riak berbentuk bulatan yang semakin membesar dan perlahan menghilang. Ia melakukannya sejak 30 menit yang lalu. Tak ada lagi batu di sekitarnya, membuatnya terduduk di rerumputan yang basah oleh embun. Semburat merah perlahan muncul di ufuk timur. Memberikan kesan hangat dan membuat penglihatan semakin terang.
Emosinya mereda. Entah kenapa ia marah saat Aira membicarakan surat perjanjian kakeknya yang sudah dibatalkan. Apa ia benar-benar akan kehilangan Aira? Begitu burukkah ia menjadi seorang suami? Jika Aira memilih untuk pergi, akankah dia menahannya atau justru lepaskan saja? Ken sendiri masih bingung dengan perasaannya pada Aira.
Seorang pria berbaju hitam berjalan mendekat dan berhenti 50 cm dari tempat Ken duduk.
"Ada apa?" tanya Ken datar. Ia tahu dia salah satu pengawal yang ia tempatkan di rumahnya.
"Setelah Anda pergi, Nona tidak sadarkan diri" lapornya.
"Apa katamu?" Ken mendekat dan mencengkeram kerah baju pengawalnya, meminta kejelasan pernyataannya barusan.
"Nona muntah darah. Minami membawanya ke rumah sakit."
Ken berlari ke arah motornya dan meninggalkan tempat itu dalam hitungan detik. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi sembari berharap istrinya baik-baik saja.
***
"Muntah darah juga dapat disebabkan kondisi-kondisi lain, seperti konsumsi aspirin, kelainan pada pembuluh darah saluran pencernaan, tukak lambung, kanker atau peradangan pada pankreas, dan juga konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAID). Kami harus memastikan dulu apa penyebabnya." dokter senior itu menjelaskan keadaan pasiennya pada Sumari dan Ken yang tiba beberapa menit yang lalu. Minami berdiri beberapa langkah di belakang keduanya.
"Pasien memerlukan pemeriksaan fisik, tes darah dan endoskopi. Pemeriksaan dilakukan untuk mengonfirmasi apakah darah berasal dari dalam lambung, kerongkongan, atau dari saluran napas, karena keduanya akan merujuk ke penyebab yang berbeda."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ken khawatir.
"Kondisinya sudah stabil, hanya saja luka di punggungnya mengalami infeksi. Sepertinya racun bisa ular waktu itu belum hilang sepenuhnya. Ia harus mendapat obat penawar yang sama seperti sebelumnya."
__ADS_1
"Infeksi?" Ken menautkan kedua alisnya.
"Apa dia tidak pernah mengatakannya? Atau kamu tidak memperhatikannya?" dokter Hugo menatap Ken tak percaya, bagaimana mungkin dia tidak tahu keadaan istrinya. Terhitung mereka masih pengantin baru, seharusnya keduanya cukup dekat.
"Dia selalu memakai pakaian tertutup." jawab Ken lemah.
"Dia tahu lukanya semakin memburuk, dia bahkan membalutnya dengan perban setiap hari. Bagaimana mungkin dia menyembunyikan itu dengan sempurna sementara dia ada di kursi roda?" dokter dengan rambut memutih itu menatap Minami seolah meminta penjelasan.
"Itu kesalahan saya. Setiap hari nona meminta saya membawakan perban yang baru, tapi ia tidak pernah mengizinkan saya membantunya. Nona melakukan semuanya sendiri di dalam kamar mandi dan keluar dengan pakaian lengkap. Dia tidak mengatakan apapun." Minami menjelaskan dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka kondisinya separah ini. Jika saja ia lebih memperhatikannya, mungkin kondisi Aira tidak akan seburuk ini.
"Tentang obat penawar racun itu, bisakah kamu mendapatkannya?" dokter itu kembali memandang Ken.
"Saya akan segera mendapatkannya."
Ken berjalan gontai menghampiri Aira yang terbaring menghadap ke samping. Luka di punggung itu menyebabkannya tak bisa tidur terlentang. Selama ini Aira juga melakukan hal yang sama setiap malam, hanya saja Ken tidak menyadarinya karena mereka tinggal di kamar yang terpisah. Lagi-lagi Ken hanya bisa merutuki kebodohannya. Jika saja ia di samping Aira sepanjang malam, kejadian ini tak akan terjadi.
"Maaf..." ucapnya sambil mengecup puncak kepala Aira, membuat gadis chubby itu terbangun. Ken duduk di samping brangkar dan menciumi tangan Aira penuh penyesalan.
"Jangan katakan pada ibuku lagi," ucapnya lirih mengingat beberapa waktu yang lalu Ken sengaja membawa ibunya ke Jepang demi melihatnya yang terkapar tak berdaya. Ken hanya bisa mengangguk dan menatap manik mata istrinya.
"Di masa depan, apapun yang terjadi katakan padaku. Aku suamimu, hmm?" pinta Ken. Aira tak menjawabnya. Ia justru menarik tangannya dari genggaman Ken.
"Biarkan aku sendiri."
*******
Seorang pria dan wanita keluar dari bandara membawa koper berwarna hitam. Mereka masuk ke sebuah taksi yang membawanya menyusuri jalanan kota Tokyo yang cukup lengang.
"Kamu sudah menghubungi Aira?" tanya Ria pada adiknya. Yudha hanya menggeleng dan kembali menikmati pemandangan di luar mobil.
"Kalau begitu hubungi saja Ken."
"Dia tahu aku akan datang." jawabnya singkat.
Ria memutar bola matanya tanda jengah. Adiknya selalu saja seperti itu, membuatnya tidak bisa dekat dengan gadis manapun.
"Moshi-moshi Aira-chan.." sapa Ria begitu mendengar teleponnya terhubung.
Ken menatap tak percaya pada kakaknya. Bagaimana mungkin kemarin ia bisa menyetujui ide kakaknya yang bersikeras ikut ke Jepang dengan alasan ingin bertemu Aira.
"Kak Ria?" jawab Aira bingung.
__ADS_1
"Aku sekarang di Jepang. Kita baru keluar dari bandara, kamu dimana? Kita meet up yuk." ajak Ria dengan semangat 55.
"......." Aira tak bisa menjawabnya. Seorang perawat yang sedang mengambil darahnya menatap Aira yang tiba-tiba terdiam.
"Saya sudah selesai mengambil darah Anda. Silahkan lanjutkan istirahatmu, Nona." pamit perawat itu sopan.
"Kamu sakit Ra?" tanya Ria yang mengerti ucapan perawat itu meski menggunakan bahasa Jepang.
"Iya." jawabnya dengan nada sebisa mungkin, "Mungkin kurang tidur." lanjutnya.
"Jangan begadang terus dong. Eh, btw kamu dimana sekarang biar kita yang kesitu."
"Kita?" tanya Aira heran.
"Aku sama Yudha. Dia ada urusan dari kantor, jadi aku ikut sekalian mau ketemu kamu." celotehnya sambil tersenyum.
Tepat saat itu Ken masuk membawa nampan berisi makan siang untuk Aira. Ia mendekat tanpa bersuara takut mengganggu percakapan istrinya di telepon.
"Udah makan belum? Makan bareng yuk,"
"Eh, emm... Aku lagi makan sama Ken. Nanti aku hubungi lagi ya kak." Aira buru-buru mematikan hubungan 2 arah itu.
"Halo Ra... Ra...." Ria menimang-nimang ponselnya berharap masih terhubung dengan Aira, nyatanya nihil.
Di ruang perawatan Aira, Ken melepas jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Ia pergi ke kantor untuk menemui klien dan segera kembali ke rumah sakit sebelum waktu makan siang tiba. Khusus untuk menemani istrinya.
"Yudha baru keluar dari bandara. Kak Ria juga ikut." terang Aira saat Ken berdiri di depannya, menarik papan kayu dari samping brangkar dan menyiapkan makan siang untuk istrinya.
"Aku tahu. Jadi, mau bertemu mereka?" tanya Ken.
"Aku bisa makan sendiri." Aira mengambil sendok yang Ken sodorkan padanya. Ken menggeleng cepat dan bersikeras tetap menyuapi istri mungilnya itu.
"Biarkan aku menebus kesalahanku selama ini." pinta Ken, ia mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang. Aira terdiam dan menatap Ken dengan bimbang. Sampai saat ini ia belum tahu perasaannya pada Ken, semua terasa hambar.
*******
Selamat membaca. Author lagi ngga mood cuap-cuap pribadi. Gomen ne 😥
Hontou ni arigatou buat kalian yang setia membaca cerita ini. Secepatnya author akan up ceritanya. Tinggalkan jejak yaa biar bisa tambah semangat lagi.
Jaa mata ne,
__ADS_1
With love,
Hanazawaeaszy 😊