
Ken memberikan hadiah seekor kucing Persia untuk Aira, tapi hal itu justru memicu pertengkaran keduanya. Kucing adalah binatang kesukaan Erina, juga wallpaper ponsel Ken yang bergambar kucing ternyata Erina yang memasangnya.
Aira menanyakan beberapa hal, tapi bukannya menjawab pertanyaan yang ia ajukan, Ken justru balik bertanya. Ia cemburu dan mulai membandingkan dirinya dengan Erina di dalam hati. Surat perjanjian yang hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan keturunan, membuat Aira semakin merasa tidak pantas bersanding dengan Ken.
"Aku masih marah padamu !" Aira berdiri dengan paksa membuat tautan lengan Ken terlepas dari badannya.
"Aku marah karena kamu masih menyukai Erina. Seberapa sulit mengganti gambar latar di ponselmu? Dan sekarang kamu mengirimkan hewan kesukaannya untukku, kamu masih belum bisa melupakannya, benar 'kan?" Aira menatap suaminya dengan wajah memerah. Emosinya tersulut karena Ken mengakui bahwa ia masih menyukai mantan pacarnya itu.
Bukannya membujuk Aira, Ken justru bangkit dan menjauh dari istrinya. Ia mendekat ke arah dinding kaca dan mulai memperhatikan jalanan di bawahnya yang terlihat padat. Lalu lalang mobil di bawah sana tak ubahnya seperti semut yang berjalan mencari makanan jika dilihat dari atas ketinggian seperti sekarang. Apartemennya ada di lantai 7, sama seperti saat di Tokyo.
"Apa kamu bisa sepenuhnya melupakan Yudha?"
Deg
Hati Aira mencelos mendengar pertanyaan Ken. Ia memang sempat memikirkan cinta pertamanya itu saat Ken mengatakan ia memasak sup bayam. Selain Yudha, tidak ada yang tahu makanan favoritnya.
'Tapi kenapa tiba-tiba menyebutkan nama orang itu?' batin Aira.
"Kamu cemburu pada Erina, apa aku juga boleh cemburu pada cinta pertamamu? Kamu bahkan masih memakai kalung liontin bertuliskan nama kalian berdua." Ken menatap Aira dari kejauhan dengan wajah datarnya. Matanya menyiratkan bahwa ia terluka, membuat Aira merasa bersalah.
Aira meraba kalungnya dan terkejut saat tidak mendapati benda itu di lehernya.
"Kamu menjatuhkannya di kamar mandi." Ken mendekat dan menunjukkan kalung dengan liontin berbentuk lingkaran yang menyerupai planet saturnus itu. Ia membaliknya dan terlihatlah ukiran huruf A dan Y.
Ken pertama kali melihat kalung itu ketika mereka menghabiskan malam bersama saat di akademi, sehari sebelum ujian akhir kelulusan Aira. Kalung miniatur planet ke enam dalam tata surya itu terlihat bercahaya terkena bias lampu, sangat kontras dengan kaos turtle neck berwarna hijau lumut yang saat itu Aira kenakan.
Pagi ini, Ken tidak sengaja menemukan kalung itu tergeletak di lantai, di bawah wastafel. Pengaitnya rusak dan menyebabkan benda pipih berwarna silver itu luruh ke lantai tanpa pemiliknya sadari. Tanpa sengaja, Ken melihat inisial A ♡ Y di belakangnya dan segera menyadari siapa Y di sana. Yang pasti bukan Yamazaki. Sama sekali bukan, karena Aira sudah mengenakan kalung itu sebelum mereka bertemu.
Bagaimana mungkin Ken tahu? Ya, Ken melihat foto-foto Aira dan Yudha yang tersimpan di laptopnya. Disana tampak Aira yang mengenakan seragam putih abu-abu tengah berangkulan bersama Yudha sambil tersenyum. Rambut hitam dengan ujung sedikit ikal menambah kecantikannya. Itu foto 8 tahun yang lalu, saat Aira belum berhijab. Kalung berbentuk planet saturnus itu tampak menggantung di lehernya. Itulah yang membuatnya cemburu dan melontarkan pertanyaan 'Apa kamu bisa sepenuhnya melupakan Yudha?' pada istrinya.
Katakanlah Ken seorang suami yang pencemburu dan posesif. Ia mem-back up semua foto dan data yang ada di ponsel Aira tanpa pemiliknya ketahui. Bahkan ia juga memasang alat penyadap di ponsel istrinya untuk mengetahui siapa saja yang Aira hubungi. Saat Aira mengirim pesan pada orang lain, otomatis akan muncul notifikasi di ponsel Ken yang menampilkan percakapan keduanya. Mengerikan.
(back up : menyalin)
"Ken.." gumaman Aira membuyarkan lamunan suaminya, "Maaf.." lirihnya dengan suara tertahan di tenggorokan. Lidahnya begitu kelu untuk melanjutkan kalimat berikutnya. Ia menyadari kesalahannya yang masih memakai kalung pemberian dari cinta pertamanya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tidak mengkhianati Ken, sampai kemudian...
"Hmm.." Aira menutup mulutnya dengan telapak tangan dan segera berlari menuju wastafel.
"Uekk.." tangan kanan Aira mencengkeram sisi wastafel dengan erat, sementara tangan kirinya menahan jilbab segi empatnya agar tidak menjuntai ke arah bak kecil berwarna putih di depannya.
__ADS_1
Ken segera menyusul Aira dan membantunya dengan memijat tengkuknya perlahan agar istrinya merasa lebih nyaman. Lagi-lagi tak ada yang Aira keluarkan dari mulutnya. Ia belum makan apapun sejak pagi, jadi perutnya kosong dan tidak memuntahkan apapun. Meski begitu ia masih saja mual seolah ada sesuatu yang salah dengan perutnya, tentu ia tahu itu adalah morning sickness pada trimester pertama kehamilannya.
"Ai-chan.." panggil Ken sambil menangkap tubuh istrinya yang bersiap luruh ke lantai. Kaki Aira terasa lemah, tak sanggup menyangga badannya sendiri.
Ken menggendong Aira dan membaringkannya di ranjang berwarna putih di kamar mereka. Ia melepas jilbab Aira yang basah terkena air di wastafel tadi. Wajah di depannya terlihat pucat dengan kantung mata yang terlihat menghitam. Mungkinkah Aira tidak bisa tidur beberapa malam ini? Tapi Ken tak menyadari keadaan istrinya itu.
"Aku akan panggilkan dokter untukmu.." Ken beranjak pergi, mengambil ponselnya yang masih tergeletak di meja ruang tengah. Ia membuka pola kunci ponselnya dan melihat gambar kucing lucu sebagai wallpaper gawainya.
(gawai : ponsel)
Bukannya menghubungi dokter, ia justru membuka menu pengaturan wallpaper dan menggantinya dengan foto Aira saat kencan di Disneysea. Ia tersenyum menyadari betapa imutnya ekspresi Aira, ia terlihat malu-malu dan menutup wajahnya saat Ken bersiap mengambil gambarnya.
Ken ingin mengabadikan momen kencan mereka. Terlebih dekorasi restoran yang bernuansa klasik namun terasa hangat dengan lampu tumbler di sekeliling dinding, membuat kesan yang tak terlupakan di hatinya.
Ting
Sebuah pemberitahuan muncul di status bar ponselnya, membuat Ken kembali sadar akan situasinya saat ini. Terlihat notifikasi Aira baru saja mengirim pesan pada Ria, 'Kak Ria, aku di Indonesia sekarang. Kakak ada waktu?'
Ya, semua aktivitas di ponsel Aira akan muncul otomatis di ponsel Ken tanpa Aira ketahui. Entah sistem apa yang Ken tanam dalam ponsel istrinya itu, hanya ia dan Kosuke yang tahu. Awalnya Kosuke juga enggan melakukannya, tapi tatapan dingin atasannya itu tak bisa Kosuke lawan atau kehidupannya dalam bahaya.
Ken bisa saja memecatnya saat itu juga dan memblokir semua akses pekerjaan untuknya jika ia membuat bossnya marah. Sejak peristiwa memilukan yang terjadi pada Aira, Kosuke sering mengabaikan perintah Ken demi melindungi Aira. Dan kini ia tidak bisa bertindak seperti itu lagi karena Aira ada di sisi Ken, ia harus kembali patuh pada Ken from A to Z jika ingin kehidupan damainya tetap berlanjut. Terlebih sekarang ada kebahagiaan baru yang ingin ia lukiskan bersama Minami.
Ria : "Aira... Ada apa? Kapan kamu pulang?" 😍
Aira : "Beberapa hari yang lalu."
Ria : "Kita bertemu di Cafe Orange nanti sore ya, sepulang kerja."
Aira : "Aku tidak bisa pergi. Bisakah kakak yang datang ke rumah?"
Ria : "Ada apa? Apa kamu sakit?"
Aira : "Hanya sedikit pusing."
Ken memijat pelipisnya perlahan, ia bertanya-tanya ada kepentingan apa Aira ingin bertemu dengan Ria. Apa itu tentang Yudha? Sifat posesifnya kembali muncul, ia tidak ingin Aira bertemu dengan cinta pertamanya. Benar-benar kekanakan. Sebuah pesan dari Ria kembali masuk ke ponsel Aira, dan Ken segera membacanya.
Ria : "Aku akan datang bersama Yudha. Berikan alamatmu."
Aira : "Kak... Jangan mengajaknya. Datanglah sendiri, aku tidak ingin bertemu dengannya."
__ADS_1
Mata Ken membulat melihat permintaan Aira pada Ria. Istrinya itu tidak ingin menemui Yudha? Bukankah ia masih menyukainya? Lalu kenapa Aira justru mengatakan tidak ingin bertemu dengannya?
Ken menutup aplikasi 'pengintai' yang sedari tadi ia lihat dan beralih menghubungi dokter yang ia kunjungi kemarin. Ia menanyakan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi morning sickness, atau minimal meringankan kondisinya.
*******
Di lantai 20 sebuah gedung pencakar langit di Tokyo, seorang pria keluar dari ruangan steril dengan membawa tabung reaksi dengan cairan berwarna biru di dalamnya. Ia duduk di kursinya dan membuka laman yang menampilkan laporan penelitian asistennya tentang bisa ular.
Bisa ular dikeluarkan lewat kedua taringnya. Karena ketajamannya, taring ini bisa menancap begitu dalam ke tubuh mangsanya dan menyalurkan racun. Menurut Panduan Mengelola Gigitan Ular yang dikeluarkan WHO, secara umum, lebih dari 90 persen venom atau racun ular tak lain berupa protein. Ada juga kandungan non-protein seperti karbohidrat, lipid atau lemak, free amino acids, nukleosida, dan amina biogenik seperti serotonin dan acetylcholine.
Untuk enzimnya, sebagian besar bisa ular mengandung L-amino acid oxidase (salah satunya mengandung riboflavin yang menyebabkan mayoritas bisa ular berwarna kuning). Namun Anda perlu tahu bahwa masing-masing enzim dalam bisa ular juga memiliki efek tersendiri terhadap mangsanya ketika masuk ke tubuh.
Semisal enzim yang bernama zinc metalloproteinase/metalloproteases. Enzim ini dapat merusak komponen dasar dari membran tubuh bahkan hingga ke sel dan mengakibatkan pendarahan sistemik secara spontan.
Ada juga enzim Phospholipases A2 (lecithinase) yang hampir dimiliki semua jenis ular. Enzim ini dapat merusak mitokondria, sel-sel darah, baik merah maupun putih, otot, pembuluh darah dan membran lain, termasuk di antaranya pendarahan internal. Hyaluronidase adalah enzim lain dalam bisa ular yang membantu mempercepat persebaran serta meningkatkan penyerapan racun dalam jaringan tubuh mangsanya, yang kemudian memicu kerusakan jaringan.
Yang tak kalah seram, ada enzim proteolytic yang dapat meningkatkan penyerapan racun dalam pembuluh darah sehingga memicu edema, luka melepuh dan nekrosis (kematian jaringan) pada bagian tubuh yang digigit.
Sebenarnya masih banyak lagi jenis enzim yang terkandung dalam racun ular, namun rata-rata dapat menyebabkan kerusakan hingga ke tingkat seluler.
(Artikel di atas author ambil dari Detik Health)
Pria itu ingat telepon Ken sebelumnya yang mengatakan bahwa Aira mengalami kelumpuhan indera perasa setelah makan jamur enoki yang ia masak, jadi disinilah ia sekarang. Membuat ekstrak jamur enoki yang akan ia uji dengan bisa ular, dan melihat reaksinya.
BRAKK
Pintu terbuka dengan paksa menampilkan seorang lelaki dengan nafas terengah-engah. Tampaknya ia baru saja berlari dan masuk dengan tergesa, ia bahkan tak sempat mengetuk pintu di depannya.
"Ebisawa-san, pria itu kabur." lapornya setelah tiba di depan meja Yoshiro.
"Siapa?" tanya Yoshiro dengan tatapan dinginnya. Ia paling tidak menyukai sikap bawahannya yang tidak sopan.
"Pria dengan tato di belakang lehernya. Ia kabur dari rumah sakit dan Yu sedang mengejarnya sekarang."
"Sial !! Tutup semua akses keluar kota ini, periksa CCTV ! Aku akan menyusul Yu." Yoshiro melepas jas putih yang sedari tadi dipakainya dan membuangnya sembarang. Ia berlari keluar dari ruangannya tanpa melihat seringai yang muncul di wajah pria yang datang melapor padanya.
"Semudah itu menipu kalian." gumamnya lirih.
*******
Hai readers, author kembali. Maaf yaa belum bisa produktif nulis lagi jadi masih slow update sampai beberapa hari ke depan.
__ADS_1
Big love for you all 😗💙
Hanazawa easzy ^^